Arya Mabuk
Arya membawa mobil begitu laju sambil meneguk botol minuman beralkohol, sepanjang perjalanan Arya selalu memikirkan Siska yang berubah kepadanya akhir akhir ini, ditambah lagi pernikahan paksa yang Ia lakukan bersama Dinda menjadikan beban pikirannya.
"Arrrgggghhhh" teriak Arya sambil memukul stir mobilnya.
Tak lama kemudian Arya sampai dirumahnya, Ia menuruni mobilnya dengan keadaan setengah mabuk, Ia pun masuk ke dalan rumah lalu berteriak memanggil nama Siska.
"SISKAAAA" teriak Arya penuh emosi,
"SISKAAAA" teriak Arya lagi.
Sementara Dinda sedang asik memainkan gawainya yang baru diatas kasur, tiba tiba Ia terkejut mendengar suara Arya yang memanggil nama Siska.
"Hmmm perasaan tadi pagi Mbak Siska sudah kasih tau Mas Arya ,kalau Mbak siska akan pergi ke Jogja, apa dia lupa yah? atau mungkin mas Arya sudah pikun karena umurnya sudah tua hihihi" gumam Dinda terkekeh sendiri.
"DINDAAAA" panggil Arya membuat Dinda tersentak kaget.
"Duhhh kenapa dia panggil aku sih.. hmm"
Dinda langsung beranjak dari tempat tidurnya lalu keluar dari kamarnya. Perlahan Dinda menuruni anak tangga, dan Dinda melihat Arya yang sedang duduk di Sofa,
"Kenapa Mas memanggilku?" tanya Dinda menghampiri Arya.
Mendengar suara Dinda, Arya mendongakkan kepalanya menatap Dinda, dengan wajah dan mata yang merah akibat mabuk, yang membuat Dinda tampak ketakutan.
Arya langsung berdiri menghampiri Dinda dengan emosi, Ia langsung memegang kedua lengan Dinda dengan kuat.
"Gara gara kamu istriku berubah,sebenarnya apa maumu Dinda? berapa uang yang kamu butuhkan dariku? berapa? berapa?" teriak Arya sambil memberikan beberapa pertanyaan, lalumengguncangkan badan Dinda dengan kuat.
Sedang Dinda hanya menggelengkan kepala tak berani mengatakan apa apa.
"kenapa kamu tidak menjawabnya Dinda?" tanya Arya sekali lagi ,lalu ia melepaskan tangan Dinda.
Sejenak mereka terdiam tiba tiba Arya menarik Dinda.
"Baiklah kalau kamu tidak mau menjawabnya, maka ikutlah denganku" ucap Arya meraih tangan Dinda lalu menggenggamnya dengan kuat.
"Kita mau kemana mas? lepasin tangan Dinda, sakit mas!!" Ucap Dinda berusaha melepaskan tangan kecilnya dari genggaman Arya.
namun Arya tak memperdulikan teriakan Dinda yang kesakitan.
Parlahan Arya dan Dinda menaiki anak tangga, Dinda berusaha beronta tapi tak bisa, karena merasa ketakutan Dinda langsung berteriak meminta tolong.
"Tolooong" teriak Dinda
"Too... ehmpp ehmmp" Belum sempat Dinda berteriak Arya sudah membekap mulut Dinda lalu membawanya sampai ke atas.
Setelah sampai diatas, Arya menarik Dinda masuk ke dalam kamarnya lalu menghempaskan Dinda ke kasur. kemudian Arya mengunci pintu kamarnya agar Dinda tak bisa keluar.
"Dinda minta ampun Mas, jangan sakiti Dinda hiks hiks" pinta Dinda menangis tersendu sendu sambil memundurkan tubuhnya ke belakang saat Arya ingin mendekatinya.
Arya sudah kalang kabut, pikirannya sudah tak stabil, derai amarahnya kian membara sehingga semuanya ingin Ia luapkan kepada Dinda
"Aku tidak bisa memaafkanmu Dinda, kamu sudah menghancurkan hidupku" teriak Arya
menatap Dinda tajam.
Perlahan Arya naik ke atas tubuh Dinda, lalu memegang kedua tangan Dinda. Kemudian Arya menurunkan kepalanya lalu membekap bibir Dinda dengan ganas, Dinda berusaha memberontak melepaskan ciuman Arya tapi tak bisa, karena Arya begitu kuat menahan Dinda. Setelah puas Arya melepaskan ciumannya. sedang Dinda hanya tersengal sengal akibat ciuman Arya.
"Ini kan yang kamu inginkan Dinda? katamu kamu siap memberikan aku anak, jadi kita akan melakukannya sekarang, dan kamu tenang saja aku akan membayarmu lebih jika kamu berhasil memberikan aku anak" kata Arya seolah olah merendahkan Dinda.
"Tidak Mas, Dinda minta ampun, Dinda minta maaf, tolong jangan lakukan ini" Dinda menggelengkan kepalanya memohon kapada Arya.
"Tidak Dinda, aku tak akan mengampunimu sebelum aku bisa mendapatkan apa yang aku mau" ucap Arya menatap tubuh Dinda penuh gairah,
Perlahan Arya membuka satu persatu baju Dinda secara paksa, hingga tak ada sehelai benangpun yang menutupi tubuh Dinda.
Setelah berhasil membuka Pakaian Dinda, kini giliran Arya melepas semua pakaian yang ia kenakan. kemudian Ia kembali mendekati Dinda.
Diatas ranjang Dinda hanya bisa bergerak mundur menghindari Arya, namun dengan kasar Arya langsung menarik kedua kaki Dinda hingga mereka saling menatap satu sama lain. Melihat Arya yang sudah berada dihadapannya membuat ia semakin takut dan gemetar, Ia menangis sejadi jadinya meratapi nasibnya jika malam ini adalah hari terakhir ia menjaga harta satu satunya yang ia miliki, Tubuh Dinda mulai lemah karena tenaganya sudah terkuras habis setelah tadi memberontak melawan Arya.
Arya pun mulai membuka paksa kedua kaki Dinda, kemudian tubuh Arya masuk diantara kaki Dinda, perlahan milik Arya menyentuh milik Dinda yang masih perawan. sedang Dinda hanya memekik tertahan saat milik Arya mulai memaksa masuk miliknya, perasaan Dinda mulai tak menentu, Dinda mulai mencengkram seprei polos berwarna pink itu saat Arya mulai menggerakkan tubuhnya.
"Aaaww" tanpa sadar Dinda berteriak karena merasakan sakit perih akibat hantaman Arya, mendengar suara Dinda, bukannya kasihan, Arya malah semakin ganas Melakukannnya.
Arya menelungkupkan kepalanya, bermain main diantara dada Dinda sambil menggerakkan tubuhnya.
Sedang Dinda hanya menutup matanya sambil menangis, Ia tak mampu menatap wajah arya yang telah begitu kejam memperlakukannya, tubuhnya yang kecil mungil hanya tersentak mengikuti gerakan tubuh Arya. peluh diwajah Arya mulai menetes diwajah Dinda, deru nafas mereka sama sama tak beraturan.
Tiba tiba Dinda mulai merasakan sesuatu yang ingin Ia keluarkan, namun Ia tak mengerti perasaan itu apa, Ia hanya bisa mendesah merasakan setiap hantaman yang diberikan Arya.
Perlahan Arya mulai mendekap Dinda, karena tak tahan Ia mulai mempercepat gerakannya hingga akhirnya mereka bersama sama mengerang dan merasakan puncak yang di nanti itu.
Arya mendongakkan kepalanya lalu menghantam tubuh Dinda lalu menahannya dengan kuat saat menyemburkan sesuatu kedalam milik Dinda.
Sementara Dinda merasakan miliknya sedang meledak ledak mengeluarkan sesuatu disertai semburan hangat dari Arya.
Setelah selesai Arya langsung terkulai lemas diatas tubuh Dinda merasakan detik detik terakhir kenikmatan itu, kemudian Ia menyingkirkan tubuhnya dari Dinda lalu berbaring disebelahnya, perlahan Arya mengatur nafasnya yang naik turun, hingga akhirnya Ia tertidur pulas.
Sementara Dinda hanya terdiam menangisi dirinya yang telah ternoda oleh suaminya sendiri, hatinya begitu sakit saat Ia harus mengingat perlakuan Arya padanya barusan. Ingin rasanya Ia berteriak tapi tak bisa, perlahan Ia bangkit dari tidurnya ,lalu turun dari ranjang , Ia memungut bajunya yang sudah berserakan kesana kemari lalu mengenakannya.
Setelah Dinda mengenakan bajunya ,Ia berlari keluar dari kamar Arya, dan kembali ke kamarnya dalam keadaan menahan rasa sakit ditubuhnya.
***
Arya mulai terbangun dari tidurnya, kepalanya masih pusing akibat mabuk semalam. perlahan Ia membuka matanya melihat seluruh isi ruangan itu, dan ternyata dirinya sudah berada didalam kamarnya sendiri, seketika Ia langsung bangkit dari tidurnya lalu mengatur lehernya yang sakit, kemudian menghembuskan nafasnya.
Namun saat Arya duduk, Ia merasa aneh saat melihat tubuhnya tidak memakai apapun dibalik selimutnya, dan pakaian yang Ia kenakan kemarin berserakan dilantai.
"kenapa aku bisa disini? dan apa yang aku lakukan semalam? kenapa aku tidur dalam keadaan seperti ini?" gumam Arya bertanya tanya.
Sejenak Arya berusaha mengingat kejadian semalam, dan samar samar ia mengingat wajah Dinda ada bersamanya semalam. seketika mata Arya langsung terbuka, matanya tertuju pada ranjang yang Ia tiduri itu, Ia pun langsung menyingkap selimutnya. dan apa yang ia lihat benar benar membuatnya tak percaya.
"Astaga, apa yang telah aku lakukan semalam? Arrrggggghhhh" teriak Arya saat melihat bekas darah berceceran diseprei miliknya.
Ia baru menyadari ternyata dirinya sudah memerawani Dinda semalam. Aryapun segera turun dari ranjang, Ia langsung membongkar semua seprei dan selimutnya lalu membuangnya dilantai karena emosi
"Arrrggggh" teriak Arya meremas rambutnya dengan kedua tangannya.
Seketia Ia terkulai dilantai lalu bersandar ditepi ranjangnya, Arya mulai menitihkan Air matanya, mengingat perbuatannya semalam.
"Ya Tuhan ampuni aku, telah menghianati Siska, aku benar benar menyesal, maafkan aku Siska hiks hiks" , gumam Arya sambil menangis meratapi penyesalannnya.
---
Arya turun menuruni tangga sambil memperbaiki dasinya, kamudian Ia pergi menuju ruang makan untuk sarapan.
Saat Arya duduk Ia melihat ruangan tampak begitu sepi, tak ada siapa pun disana termasuk Dinda.
"Bi Ijah" panggil Arya.
"Iya Tuan" sahut Bi Ijah bergegas menghampiri Arya.
"Dinda dimana Bi?" tanya Arya.
"Non Dinda ada dikamarnya Tuan?" jawab Bi Ijah
"Apa dia sudah sarapan Bi?"
"Belum Tuan, tapi tadi Non Dinda sempat bantuin Bibi dibelakang" ujar Bi Ijah.
Mendengar ucapan Bi Ijah, Arya langsung menundukkan wajahnya, Ia tahu mungkin saat Ini Dinda sedang terpukul atas apa yang telah Ia perbuat semalam, segudang rasa bersalah terhadap Dinda membuat Arya sangat menyesali perbuatannya.
Tak lama kemudian Arya mengeluarkan Dompetnya lalu memberikan 3 lembar uang berwarna merah kepada Bi Ijah.
"Ini uang Bi, nanti Bibi belikan apa yang ingin Dinda makan atau masakkan dia makanan yang enak yah Bi" perintah Arya.
"Baik Tuan" sahut Bi Ijah sambil menerima uang dari Arya.
"Oh iya Bi ,nanti minta tolong bersihkan kamarku yah" perintah Arya.
"Baik Tuan" Sahut Bi Ijah kemudian pamit kepada Arya dan berlalu pergi.
Setelah Bi ijah pergi, Arya segera menghabisi sarapan Rotinya lalu bersiap untuk pergi ke kantor.
