Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 5: Sang Sekretaris

Aku berdiri dari meja makanku segera mungkin setelah kudengar langkah kaki mas Hans keluar dari kamar mandi. Aku buru-buru memasang headset di telingaku dan duduk santai di dalam kamar.

Kudengar mas Hans memanggilku tapi aku tak menghiraukannya. Berpura-pura gak mendengarkan suaranya. Mas Hans melewatiku yang tertunduk menatap ponsel, ia berhenti sebentar sebelum menuju ke meja makan dan mengecek ponselnya.  Aku melirik dan mendapatinya buru-buru memasukkan ponselnya ke saku celana dan pergi ke luar rumah.

Kenapa ia bersikap seperti itu? Pikirku heran.

Kulihat dari jendela kamar,  Mas Hans sedang menelepon seseorang sembari berulang kali menatap ke dalam rumah. Mungkin ia takut kalau-kalau aku datang menghampirinya tanpa ia ketahui kalau aku sedang mengintip di balik jendela kamar.

Aku berpikir sejenak sebelum akhirnya aku memutuskan untuk mendatangi saja mas Hans.  Kupanggil ia yang sedang bertelepon tapi ia semakin menjauh dari rumah. Kupanggil lagi ia dengan langkah cepat-cepat dan saat aku sudah berdiri di ambang pintu, ia telah usai melakukan panggilan tersebut dan tersenyum garing ke arahku.

"Siapa mas?" tanyaku padanya berpura-pura tak tahu.  Ia menoleh ke kanan kiri, raut wajah bingungnya ketara sekali hingga aku sedikit geram kepadanya.

"Anu...  Itu,  si Sam... " katanya gagap.

"Siapa Sam,  mas?" kejarku bertanya.  Dia menoleh ragu ke arahku, lalu berjalan melewatiku dengan wajah bingungnya itu.

"Mandor baru di proyek... " katanya.

"Oh... Kenapa telepon saja sampai keluar rumah segala?" tanyaku selidik.

"Eh?  Apa?" tanyanya ulang dengan sedikit gagap.  "Lagi di lapangan si Samuel jadinya gak begitu dengar,  makanya keluar..." katanya menjelaskan.

"Oh begitu...  Mas Hans kenal dan tahu kan sama suaminya Bu Retno?" pancingku dan ia langsung kaget menatapku lagi.

"Eh iya,  tahu aja kalau lagi salat jamaah di masjid."

"Emang mas Hans pernah jamaah di Masjid? Kapan?" tanyaku heran. Karena saking seringnya ia keluar kota,  aku merasa ia sama sekali gak pernah jamaah di masjid. Ketika aku mengajaknya pun ia selalu mengelak dan mengatakan lelah. Bagaimana mungkin ia bisa tahu dan dekat dengan suami bu Retno kalau begitu?  Ia menatapku bingung.

"Saat idul Fitri." jawabnya garing. Aku nyengir mendengar jawaban yang disertai tawa meledaknya.  Lucu dan benar sih jawabannya.  Kupikir bukan hanya mas Hans seorang saja, diluar sana juga masih banyak orang yang hanya salat jamaah di masjid di hari-hari tertentu saja. Seperti hari jum'at,  Idul Fitri dan Idul Adha.

Mas Hans berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke dalam kamar.

"Menurut mas Hans, apa ya yang membuat suami Bu Retno selingkuh dari Bu Retno?" tanyaku.

"Tumben banget sih kamu ngomongin orang terus?" tanyanya mulai risih.

"Ya gak nyangka aja,  orang sependiem suami bu Retno dan rajin ke masjid bisa khianatin bu Retno gitu... "

"Jangan bicarakan rumah tangga orang lain lagi yuk,  aku bosen dengarnya..." kata Mas Hans. Aku mengangguk pelan.  "Lagian kamu lagi hamil, gak baik ah ikut-ikutan gossip begitu." katanya lagi dan aku mengangguk sekali lagi seraya menatap suamiku lesu.

"Kapan mau ketemuin aku sama sekretarismu,  mas?" tanyaku.

"Kenapa sih hari ini kamu cerewet sekali!" bentaknya tiba-tiba dengan mata yang melotot.  Suara dan kata-katanya barusan itu membuatku kaget hingga perutku terasa nyeri tiba-tiba. Ketika ia menyadari bahwa aku merasa sedikit kesakitan di dalam perut ia buru-buru menghampiriku, tapi entah mengapa tubuhku seketika refleks mundur.

Rasa bersalah karena telah meneriakiku barusan tercetak jelas di wajahnya itu. Ditambah raut wajah khawatirnya tersebut semakin membuatnya terlihat frustasi.

"Marissa,  maafkan aku... Aku tak bermaksud..." kata-katanya menggantung begitu saja. "Besok kita temuin sekretarisku.  Aku gak mau kamu stress mikirin lip gloss nyasar itu!" katanya. Aku sedikit tercengang namun rasa lega di sudut hatiku perlahan menenangkan rasa sakit di perutku.

***

"Kata dokter gimana kondisi kehamilanmu, Marissa?" tanya ibu mertuaku lewat telepon. Ini sudah ketiga kalinya dalam hari ini beliau meneleponku. Sejak mas Hans mengabari beliau bahwa aku hamil, beliau sangat antusias hingga setiap hari beliau menelepon untuk menanyakan kabar dan kondisiku.  Awal-awal aku merasa bahagia karena sejak menikah, baru kali ini beliau sangat memperhatikanku seintens ini. Tetapi lama kelamaan aku mulai merasa jengah, bosan dan malas. Tak jarang aku tak mengangkat telepon darinya karena terlalu melelahkan apalagi setiap kali meneleponku beliau selalu mengucapkan "jaga si ganteng dengan baik ya, ia penerus keluarga kita."

"Belum ketahuan jenis kelaminnya, Bu... " kataku.

"Harus laki-laki!  Buat apa perempuan!" katanya suatu kali. Aku menutup mata karena saking kagetnya mendengar bentakan mertuaku barusan. Aku tahu orangnya keras. Jika sudah kebiasaannya begitu maka akan sangat sulit hilang. "Halo!  Halo!  Sa!" panggilnya di telepon.

"Iya, bu... "

"Maafkan Ibu,  bukannya apa, tetapi lelaki itu akan jadi penerus keturunan nantinya... "

"Iya bu... " tak ingin berdebat jauh. Aku hanga mengiya-iyakan saja semua perkataan ibu mertuaku hanya agar pembicaraan kami di telepon cepat selesai.

Lamunanku buyar seketika saat ibu yang ada di seberang telepon kedatangan pak RW dadakan dan harus mematikan sambungannya denganku.  Sungguh suatu kenikmatan tersendiri jika sudah begitu. Tak perlu lagi aku mendengar beberapa kalimat wejangan seperti biasanya.

"Sudah siap?" tanya suamiku dan aku mengangguk.  Hari ini aku akan ikut ia kerja di lapangan. Di sana ada sekretarisnya dan aku akan dipertemukan dengannya hari ini.

Kami berjalan ke mobil dan melaju sesegera mungkin. Kata mas Hans ia ada rapat nanti dan aku bisa ngobrol puas dengan sekretarisnya tersebut. Aku hanya mengangguk kecil tanpa banyak berkomentar.

Sampai di lokasi,  mas Hans langsung disambut oleh teman kerjanya dan ia pamit untuk meninjau kerja karyawannya, katanya sekretarisnya akan segera menemuiku.  Aku mengerutkan kening mendengar penjelasannya tapi mengangguk saja dari pada kami berdebat lagi.

"Mbak!" seru seseorang. Aku menoleh ke arah dimana suara itu berasal dan mendapati seorang perempuan muda menatapku dengan senyuman khasnya.

"Kamu?  Ngapain di sini?" tanyaku padanya. Ia sepupu suamiku yang kebetulan satu kota denganku. Namanya Jingga.

"Aku kerja! Jadi sekretarisnya mas Hans!" katanya senang.

"Kamu sekretarisnya mas Hans?" tanyaku ulang dan ia mengangguk pasti.  "Kok bisa?"

"Aku PKL di sini, selesai PKL dan lulus aku ngelamar kerja dan keterima deh." katanya menjelaskan. "Kata mas Hans mbak yang nemu lip glossku?" imbuhnya dan aku hanya mengangguk. "Karena pas ke lokasi kayak gini aku ketinggalan dompet di mobil dan saku celanaku rusak. Akhirnya aku nitip lip gloss di saku jas mas Hans mbak. Biar gak ilang. Mahal soalnya." jelasnya, tapi entah mengapa aku merasa ia berbohong atau mengarang cerita belaka.

Aku tersenyum garing mendengar penjelasannya. Sedikit ada rasa malu mengetahui bahwa sebelumnya aku telah cemburu padanya.

"Aku ke toilet dulu, ya... " kataku dan ia mengangguk pasti.

Sebelum aku masuk ke kloset,  aku membasuh mukaku terlebih dahulu di wastafel, mencoba mencari kesegaran di sana. Aku tersenyum geli memikirkan bagaimana mungkin aku bisa cemburu kepada sepupu suamiku sendiri?

Saat telah menutup kloset, terdengar langkah kaki lain memasuki toilet ini.  Suara renyah tawa dua orang wanita itu menggema di toilet kecil ini.

"Cantik juga ya sekretaris barunya pak Hans... " kata salah seorang dari mereka.  Aku mengerutkan alis mendengarnya.

Sekretaris baru?

"Iya,  dari pada yang dulu. Yang dulu resign emang?" tanya yang lain.

"Gue wa si enggak, kata pak Hans ke dia, dia non aktif kerja saja dua bulanan tapi tetap digaji."

"Wahhh enak donk."

"Iya.  Secara sekretaris kesayangan woi!"

Mendengar hal itu darah di dadaku terasa mendidih.  Kebohongan mas Hans semakin menjadi-jadi. Parahnya,  ia menganggapku mudah dikelabui.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel