Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 2: Lip Gloss Di Saku Jas Suamiku

Ponsel Mas Hans berdering ketika aku bercerita bagaimana bu Retno marah kepadaku atas ucapanku.  Belum selesai aku menceritakan soal pertengkaran kami tersebut yang membuat bu Retno menjambak rambutku, Mas Hans berdiri dari kursinya dan berjalan menjauh dariku seraya mengangkat ponselnya. Aku merengut kecewa dan memasukkan satu sendok suapan besar ke mulutku sebelum menyudahi makanku segera. Kulihat suamiku itu tengah berbicara soal bisnisnya.  Beberapa kata seperti investasi,  akuisisi,  merger,  laporan keuangan mewarnai percakapannya dengan rekannya hampir sejam lamanya hingga makanan yang belum sempat ia habiskan menjadi bubur dan tak sedap dipandang oleh mata.

"Suruh saja suami kamu gak usah sering-sering ke luar kota, biar cepet jadi baby... " ucap Ibuku suatu kali aku bercerita tentang semua keluh kesahku atas nyinyiran orang-orang kompleks perumahan tempatku tinggal.

"Kalau suamimu berhenti kerja, apa iya dia bisa dapatkan pekerjaan di kota kecil kalian?" kata mertuaku suatu hari.  "Di keluarga kami tidak ada keturunan mandul,  tenang saja anakku pasti sehat kok.  Kalaupun ada masalah soal keturunan itu asalnya pasti bukan dari anakku." omongan pedas imbuhan itu benar-benar menusuk hatiku sangat-sangat dalam. Lukanya bahkan masih menganga sampai sekarang.  Jika mas Hans sehat berarti yang bermasalah menurut mertuaku itu aku? Pikirku kesal.

"Aww!" aku menjerit kecil kala betadine yang kuobatkan pada luka dibibirku akibat serangan bu Retno terasa sedikit perih.

"Ada apa?" tanya mas Hans cemas padaku, ia bahkan buru-buru menyudahi percakapannya di ponsel dan memfokuskan diri pada luka kecil di bibirku.  Ia manatap sangat hati-hati dengan dahi yang berkerut sedikit. "Bagaimana bisa ada luka seperti ini di bibirmu?" tanyanya.  Berarti benar ia tak mendengarkan ceritaku tentang pertengkaranku dan Bu Retno tadi sore saat PKK.

Mas Hans mendudukkanku di atas kasur seraya mengobati luka kecilku.  Ah,  aku jadi ingat bagaimana dulu kami bertemu di halte bis dan akhirnya ia dengan segera memutuskan meminangku dengan cepat-cepat.  Ketika kutanya alasannya buru-buru meminangku ia hanya menjawab "Aku tak ingin kehilanganmu." sebuah kalimat manis yang membuatku melayang hingga mabuk kepayang dan aku suka dibuatnya terbuai oleh semua hal-hal manja yang diperbuatnya kepadaku. Aku merasa dihargai dan sangat disayang olehnya.

"Bagaiman jika ternyata aku tak bisa memberimu keturunan?" tanyaku tiba-tiba.  Ia kaget mendengar pertanyaanku, sama sepertiku yang juga berdebar-debar saat menanyakan hal ini kepadanya.  Aku benar-benar takut ia akan menjawab bahwa ia tak sanggup lagi bersamaku dan lebih memilih berpisah dariku.

"Ya memang kenapa? Kita masih bisa hidup tanpa itu semua.  Sayang, kamu di sampingku saja sudah cukup buatku." ujarnya lagi.

"Tapi aku ingin membuatmu bahagia."

"Aku sudah bahagia."

"Maksudku dengan hadirnya anak."

"Aku sudah punya anak." katanya seraya menutup kotak P3k.  Dahiku berkerut mendengar pernyataannya barusan.

"Sudah punya anak, mas?"tanyaku dan ia mengangkat wajahnya dan menatapku bingung.

"Apa?" tanyanya heran.  Ia seolah pria linglung yang lupa dengan apa yang dikatakannya barusan.

"Kamu sudah punya anak?" tanyaku lagi. Ekspresinya kaget dan bingung.

"Maksudmu?" tanyanya dengan dahi yang berkeringat hebat.  Aku heran dengan reaksinya.

"Lah tadi kamu bilang sudah punya anak." jawabku datar.

"Oh... Itu...  Maksudku itu...Anak buah di perusahaan." jawabnya sedikit gugup.  Aku rasa mas Hans menyembunyikan sesuatu.

"Ada apa sih mas?  Kok kamu sampai berkeringat begini?" tanyaku seraya berusaha menyeka keringatnya di dahi.  Ia refleks menghindariku dan sedikit terkejut yang membuatku kaget lagi.  Kami diam cukup lama dengan wajah mas Hans yang aneh di mataku.  Tak lama kemudian ia berdiri dan berjalan menjauh dari kamarku.

Anak?

Anak buah perusahaan?

Aku masih penasaran tapi aku tak menanyakannya kepada mas Hans.

"Aku mandi dulu ya... " katanya padaku dan aku mengangguk ke arahnya. Aku berdiri dari tempatku duduk dan berpura-pura membersihkan meja tempat kami makan tadi.  Ia menatapku canggung sejenak sebelum akhirnya dengan handuk yang ia kalungkan ke leher, ia berjalan ke arahku.

Ketika pintu kamar mandi bersuara tertutup, aku bergegas lari ke arah ruang tengah dan mengambil ponselnya. Aku berlayar ke ponselnya, memeriksa chat masuk dan beberapa panggilan.  Tak ada yang mencurigakan, semuanya bersih dan rata-rata isi chatnya tentang pekerjaannya. Bahkan foto profil wa-nya saja adalah foto pernikahan kami.

Astaghfirulloh.  Bagaimana mungkin aku bisa menuduh suamiku sendiri selingkuh dariku?

Kukembalikan ponselnya lagi ke tempat semula dan berjalan ke arah jas kerjanya yang terlempar begitu saja ke kursi.  Aku membawanya ke mesin cuci dan melemparnya ke dalam sana.

"Klotak!" suara itu terdengat jelas, dahiku berkerut mendengarnya. Perlahan kuraih kembali jas kerja suamiku dan memeriksa sskunya satu per satu. Saku atas dan samping bawah kanan  sama, kosong tak berisi.  Ketika tanganku sampai di saku kiri barulah aku menemukan sesuatu yang mengganjal tanganku.  Aku menarik keluar perlahan tanganku dan cukup tercengang dengan apa yang kutemukan.

Sebuah lip gloss perempuan.

Bersamaan dengan itu,  pintu kamar mandi terbuka dan keluarlah suamiku dengan handuk yang ia kalungkan ke lehernya. Ia menatapku datar dan tak heran sama sekali dengan lip gloss di tanganku.  Sedangkan aku sudah berapi-api dengan benda di tanganku.

Mas Hans santai saja melewatiku,  seolah tak terjadi sesuatu denganku sama sekali.

"Punya siapa ini,  mas?" tanyaku menghadang dirinya dan menunjukkan lip gloss itu ke arah wajahnya.

"Punya mama, kan?" tanyanya polos.  Aku meringis mendengar jawabannya.

"Kalau punyaku seharusnya ada di meja rias bukan di saku jas kerjamu." kataku berusaha setenang mungkin.  Kini wajahnya kaget dan menatapku tak percaya.

"Tidak mungkin!" serunya kaget dan menatapku tak percaya.

"Aku menemukannya di saku bajumu,  bagaimana bisa tidak mungkin?" kataku sedikit berteriak padanya.

Ia meraih lip gloss di tanganku dan berjalan menuju kamar kami. Ia menatap meja riasku, seolah-olah ia sedang mencari-cari sesuatu.  Berulang kali ia mencocokkan barang yang dipegangnya.  Ia menatapku bingung.

"Tapi ini bukan milikku!" katanya.

"Ya memang itu bukan milikmu! Itu milk selingkuhanmu!" seruku.

Mataku panas sekali. Entah mengapa luka di hatiku terasa perih.  Belum sembuh luka di hatiku atas ucapan bu Retno,  kini aku harus menerima kenyataan lain bahwa suamiku berselingkuh dengan perempuan lain.

"Siapa? Siapa perempuan itu?" tanyaku berteriak padanya. Ia diam dan bungkam sangat erat.  "Katakan!" teriakku lagi.

"Marissa aku sungguh-sungguh tak ada perempuan lain di hatiku,  hanya kamu!"

"Omong kosong!" seruku kesal sedikit berteriak.

Lalu entah dari mana datangnya, perutku terasa sangat sakit sekali. Seperti dililit ular dan terasa sangat nyeri.

"Risa! Risa!  Marissa!  Sadarlah!" kata suamiku yang terdengar lamban di telingaku.

Rasa sakit di perut lebih kuat dari ucapan-ucapannya. Detik berikutnya, ia menaruhku di punggungnya ketika aku benar-benar sangat lemas.  Ia membawaku berlari ke mobilnya. Rasa sakit perut dan pikirkan suamiku berselingkuh membuatku hilang semangat hidup.

Milik siapa lig gloss itu sebenarnya?

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel