BAB 9
“Wah, seru ya, saat dua orang melarat bersatu. Langsung cocok gitu. Fibesnya itu lho, dapat banget. Ya ‘kan, Bu? Masak yang enak kayak biasanya. Jangan macam-macam kalian!" perintah Indah.
“Benar, kalau kamu sama Nindi cocok sekali Rim, tapi kalau sama menantu Ibu, jauh sekali. Bagaikan langit dan bumi.”
“Jangan sekongkol buat meracuni kami semua, ya?”
‘Oh, jadi seperti ini kelakuan keluarga mas Bambang? Kasihan sekali istri mas Bambang,' gumam Nindi dalam hati.
“Eh Mbak, bisa jaga bicaramu tidak? Jahat sekali kamu, Mbak. Kalau kami melarat, terus situ kaya memangnya kenapa, ya? Sombong sekali!” Nindi kesal dan menyahuti ucapan Indah dengan nada membentak.
“Ya pasti kalian irilah. Kalau iri saingi dong! Hahaha gak mampu, ya? Iya pastinya gak mampulah, orang miskin mana sanggup bersaing sama orang kaya sepertiku?” ucap Indah dengan pongahnya.
“Maaf ya, Mbak? Kami perintis bukan pewaris sepertimu. Iri? Apa yang perlu kami irikan? Cantik juga gak, kaya juga harta punya orang tua, yang belum tentu kekal. Banggakan harta punya orang tua, tapi sombongnya tidak ketolongan,” ujar Nindi kesal.
“Oh iya Bu, tadi saat aku pertama kemari begitu baik, baru hitungan jam sudah berubah ke wujud aslinya. Miris sekali nasib mbak Rima di sini. Hidup berdampingan dengan keluarga toxic.”
“Eh kamu sudah bagus saya kasih tempat tinggal, beraninya kamu, ya? Pokoknya kamu harus jadi pembantu tanpa bayaran di rumah ini selama setahun, baru kamu boleh pergi. Ini akibat kamu berani sama saya,” pelik bu Heni dengan wajah merah padam.
“Sudah Bu. Jangan libatlah mbak Nindi! Biar Rima saja yang menerima akibat dari kemarahan Ibu.”
“Gak usah sok jadi pahlawan deh! Kalian tuh sama saja.”
“Mumpung sudah ada pembantu gratisan, baiknya kita ke salon aja ya, Nak? Biarkan dua perempuan miskin ini yang menyelesaikan semuanya.”
“Iya Bu. Rasanya alergi juga aku kalau lama-lama dekat mereka. Takut ketularan miskin juga Bu nantinya.”
Tangan Nindi terkepal kuat. Jika bukan karena Rima, mungkin tamparan demi tamparan sudah ia layangkan di wajah wanita sombong itu.
******
“Kenapa, Mbak? Aku lagi mandi kok kayak ada yang ribut?” tanya Nanda dengan tubuhnya yang masih berbalut handuk berwarna merah tua.”
“Biasa Dek, ibu dan mbak Indah.”
“Ibu lagi. Mbak Indah lagi. Selalu saja cari masalah. Ya Allah kapan ibuku bertobat?”
“Maaf ya, Mbak, atas ulah ibu dan mbak iparku yang gendeng itu. Semoga Mbak bisa sabar dan betah di rumah ini.”
“Iya Mbak, tidak apa-apa. Ini lebih baik, dari pada saya harus menikah dengan aki-aki bau tanah.”
“Nanti lanjut ya, Mbak? Berat juga beban hidup Mbak. Tunggu aku ganti baju sebentar saja!”
“Ke mana istrinya Mas, Nanda?” Roni bertanya pada adiknya yang baru saja keluar kamar dengan rambutnya yang tergerai basah.
“Mana Nanda tahu, Mas. Situ yang punya istri, kok bertanya ke Nanda.”
“Ih gak guna banget jadi adik, cuma ditanya begitu doang, gak juga ngerti. Iya sudah ah, tidur aja lagi.”
“Kerja sana, Mas! Punya istri gayanya luar biasa, pakai uang suami orang. Biayai sendiri gaya hidup istrimu yang manja itu, Mas.”
“Gak usah mengatur deh! Bambang saja tidak mempermasalahkan membagi uang gajinya pada kami, kok kamu yang repot?”
BRAKK
Roni menutup kembali pintu kamarnya dengan kuat. Laki-laki tak bertanggung jawab. Kerjanya hanya tidur saja. Sungguh memuakkan siapa pun yang melihatnya.
“Ketularan gendeng kamu, Mas. Bojonya gendeng, saiki kowe melu gendeng,” gerutu Nanda sembari melirik pintu yang baru saja tertutup, dengan wajah kesal.
“Mbak lanjut cerita yang tadi! Sambil kita masak ini. Ungkapkan saja semua yang mbak pendam! Siapa tahu bisa mengurangi sedikit beban, yang Mbak tanggung.”
Sembari mengaduk opor ayam dan gulai daging entok, mereka saling bertukar cerita di dapur.
“Ceritanya saya itu pergi dari rumah, karena dipaksa menikah dengan seorang rentenir yang sudah aki-aki, untuk membayar hutang ibu tiri saya. Sejak ibu meninggal dan saya hidup seatap dengan ibu tiri saya, banyak perlakuan buruk yang saya terima. Saya merasa tertekan selama ini.
“Rumah saya yang sudah jadi hak milik saya, dijual karena saya menolak perjodohan itu. Dari pada saya terus menderita seatap dengan ibu tiri saya yang kejam, lebih baik saya pergi.”
“Ternyata cobaan Mbak jauh lebih besar dibanding yang menimpa saya,” sahut Rima saat Nindi selesai bercerita.
“Tidak ada kata lebih untuk sebuah cobaan, tiap orang memiliki cobaannya masing-masing, Mbak,” sahut Nindi.
“Jahat banget ibu tiri Mbak. Dan ayahnya Mbak bisanya hidup di ketiak istrinya? Harusnya dia jadi pelindung untuk anak perempuannya,” seloroh Nanda.
“Saya juga tidak tahu Mbak. Bapak memang dari dulunya kurang perhatian dan kurang dekat dengan saya maupun ibu saya. Bahkan dulu sering main tangan saat ibu masih ada.”
“Ya Allah, yang sabar ya, Mbak? Semoga Allah berikan hidayah pada Beliau.”
“Mbak Rima juga kuat sekali. Mertua dan kakak ipar mbak begitu jahat dan sombong.”
“Ya saya setiap hari sudah mendoakan mereka. Namun entah kapan Allah akan Kabulkan segala doa yang saya panjatkan.”
“Ah yang seperti ini bikin trauma untuk menikah.”
“Cobaan setiap suami istri berbeda-beda dek. Semoga pernikahanmu kelak tidak akan membuatmu trauma. Dapat suami yang sayang sama kamu, dan keluarganya menerimamu dengan baik.”
“Ya Allah, Amiin Mbak. Semoga Allah kabulkan.”
Mereka larut dalam kisah hidupnya masing-masing.
******
“Eh, Ibu mau ngapain?”
“Ibu juga mau keramas dan luluran, Nak.”
“Siapa mau membayarkan, Bu? Indah bawa uang sedikit saja. Ibu ‘kan tahu, mas Bambang belum ngasih Indah uang bulanan lagi.”
“Iya masa kamu saja yang mau perawatan?”
“Iya Ibu sudah tua. Keramas sendiri saja nanti di rumah.”
Bu Heni pun mencebik kesal. Alih-alih bisa mendapatkan perawatan di Salon, justru menantu kesayangannya melarang, alasan tak ada uang lebih untuk membayar.
Nah loh terasa gak tuh, si anak mantu gak sayang sama ibu. Kalau bu Heni peka, harusnya paham.
Sembari menunggu sang menantu kesayangan perawatan, bu Heni menelan ludahnya dengan susah payah karena kehausan.
Tidak membawa uang sepeserpun. Dan anak menantunya tidak pengertian sama sekali.
Jam terus berputar, dua jam sudah bu Heni menunggu di luar Salon. Niat hati ingin meminta uang untuk membeli minuman di kedai minuman, namun ia urungkan takut sang menantu kekurangan uang untuk membayar perawatan di salon.
******
“Pokonya saya tidak mau tahu. Jika anak Anda tidak bersedia menikah dengan saya, maka Anda akan saya jebloskan ke penjara, dengan tuduhan penipuan dan penggelapan,” ancam pria tua pada wanita bergelar ibu tiri itu.
“Bersabarlah Pak! Kami akan berusaha membawa anak kami pulang. Dia kabur entah ke mana? Kami sudah mencarinya ke sana ke mari, belum juga menemukan titik terang,” sahut Parman, suami baru Risa dengan suara bergetar menahan takut.
“Saya kasih waktu selama seminggu. Kalau sampai Nindi tidak ketemu, bersiaplah mendekam di penjara bersama istrimu yang tak tahu diri itu. Berani meminjam uang banyak, tidak bisa membayar. Dasar orang miskin menyusahkan,” makinya dengan rahang mengeras.
