Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 11. Kamu Tidak Becus

SUAMI MENOLAK MEMBERIKU NAFKAH BATIN BAG 11

Aku mengerutkan dahiku melihat Bu Arum pingsan. Ibu Mas Prabu itu terkejut mungkin melihat berbagai bukti anaknya yang berselingkuh dan lebih parah lagi dia tak terima rumah menjadi milikku. 

"Mbak, kok malah bengong. Tolongin Ibu!" kata Sila adik iparku, aku menyuruh Mbok Jum membawakan air dan minyak angin. Pembantu paruh baya ku itu dengan cekatan membantu Bu Arum. 

"Kalau ibu kenapa-napa gimana, Mbak. Mbak bisa dituntut karena ibu seperti ini!" kata Sila tak terima, aku mendengkus kearahnya. Bisa bisanya dia menyalahkan aku dalam situasi seperti ini. 

"Kok kamu malah nyalahin aku. Ibu kamu gak percaya dan aku kasih bukti terus dia pingsan sendiri. Ya nggak ada sangkut paut sama sekali sama aku," kataku ketus kearahnya. 

"Kenapa bisa Mas Prabu selingkuh. Mbak juga yang salah karena nggak bisa ngasih pelayanan sama suami yang terbaik. Makanya kalau punya suami itu dijaga baik-baik biar gak direbut pelakor." Aku meradang mendengar tutur kata adik iparku itu, dia masih SMA yang sebentar lagi lulus namun bicaranya seakan sudah sangat dewasa. Kebanyakan nonton drama ikan terbang nih adik iparku. 

"Sila, Mas mu itu ke-gatal-an. Udah tahu ada yang halal dan masih cari yang haram. Apa otak nya cuma seputar selangkang*n aja. Sekarang udah kejadian gini kalian semua nyalahkan aku. Seharusnya dia ada otak jadi suami, istri baru melahirkan kok tidur sama perempuan lain." 

Wajah Sila jadi merah mendengar hinaan ku. Salah nya sendiri ngapain dia mancing-mancing ke-mararahan ku. 

"Mbak, aku sebentar lagi mau masuk kuliah kalau seperti ini terus dan Mas Prabu nggak ngirim uang buat kuliahku gimana. Kok sekarang jadi ribet gini sih," kata Sila lagi frustasi. Aku menyeringai kearahnya. 

"Kenapa kamu ngadu sama aku. Asal kamu tahu Mas mu itu pelit sama Mbak. Dia itu uangnya disembunyikan sendiri buat pelakor sehingga aku juga harus ikat pinggang buat kebutuhan anakku. Kalian bawa lah Mas Prabu, kerjanya juga cuma nyusahin aku doang," cibirku lagi. Beberapa saat kami adu mulut, Bu Arum tersadar. Dia memegang kepalanya yang pusing karena habis pingsan. 

"Ibu, gak apa-apa kan?" Sila terlihat senang sang Ibu baik-baik saja. Wanita paruh baya itu seakan meradang dia menatap aku sengit. 

"Vania, kamu ngedit photo pintar amat. Kamu menuduh anakku supaya rumah mewah berlantai tiga hasil jerih payah anakku jatuh ke tangan kamu, gitu." 

Aku mendesah lagi baru sadar saja sudah menyerang ku seperti ini. 

"Siapa yang menjerat, anakmu memang selingkuh Ibu. Kalian jangan nyalahin aku tanyakan sama anakmu, Bu," ucapku kesal padanya.

"Lagian enak sekali kamu ngusir anakku dari sini. Ini kan dia yang membangun." 

"Tetapi kami sudah ada perjanjian. Dan rumah yang kalian injak ini tanah warisan Bapakku. Anggaplah rumah ini akan menjadi milik Fauzan nantinya," kataku tak terima. 

"Udah hubungi saja Prabu, Sila. Ibu gak terima kalau seperti ini." 

Aku tak suka Ibu seenaknya seperti ini. Selalu saja seperti ini, mertua ku memang suka ikut campur urusanku, ditambah Sila si anak ingusan yang julid. 

"Kenapa kalian suruh dia datang. Ini rumahku dan dia juga sudah aku usir dari sini. Tidakkah kalian jijik melihat bukti itu. Melihatnya akan mengingatkanku pada dirinya yang sedang tidur dengan simpanan nya." 

"Diam, kamu. Kami perlu dia menjawab langsung. Apa alasan dia selingkuh!" sentak Bu Arum geram padaku. Tidak bisa seperti ini, bila Sila sudah menghubungi Mas nya. Maka aku juga butuh bantuan. 

Aku kebelakang dan ku tekan nomor Bang Sinaga. Setelah tersambung.

"Bang, apa udah ada Satpam yang aku cari kemarin?" 

"Udah, kapan mau kerja," katanya diujung telepon. 

"Dia sesuai yang aku mau kan?" 

"Iya, dia teman Abang. Tahun ini gagal masuk prajurit. Hanya gagal di akhir aja dan dia rencana tahun depan gabung lagi. Dia bisa dipercaya karena abang kenal sama dia." 

"Ok, hari ini dia bisa kerja. Aku juga ada tamu disini!" 

"Siapa? Suami kamu lagi?" 

"Ya gitu deh, dari pada dia buat gaduh. Makanya suruh teman abang yang akan jadi satpam ku datang ya." 

"Ok, dia meluncur kesana," kata Bang Sinaga mengakhiri panggilan. Aku bernapas lega setidaknya aku memang memerlukan Satpam untuk menjaga rumah mewah ini dari berbagai gangguan terutama Mas Prabu dan keluarganya. 

"Ngapain kamu?" tanya Bu Arum saat aku kembali ke depan. Aku menggendong anakku untuk duduk bersamaku. 

"Lihat cucumu, Bu. Kasihan sekali nasibnya, diusia balita sudah kehilangan ayah yang lebih memilih berselingkuh," kataku padanya, Bu Arum terlihat sinis namun tak ada sedikitpun niat dia untuk mengambil Fauzan dan membelainya seperti layaknya seorang nenek. 

??

Beberapa saat menunggu, akhirnya Mas Prabu datang juga. Dia langsung masuk saja kedalam dan mendapati Ibu dan adiknya sudah disana. 

"Ibu." Mas Prabu menatap nanar Ibunya. Dia dengan ragu duduk juga. Pandangan nyalang diberikan sepasang mata itu padaku. 

"Vania, apa yang sudah kamu katakan pada Ibu dan Sila!" katanya menunjuk wajahku. Sama sekali tak ada kasih sayang nya ketika melihat Fauzan anak nya sendiri. Aku merasa jengah, ku panggil Asih agar membawa Fauzan. Dia bisa menangis jika mendengar keributan yang terjadi diantara kami. 

Asih datang dan bersegera membawa Fauzan kedalam buat ditidurkan. 

"Mas Prabu, aku memberitahu apa adanya kalau kamu punya affair di belakangku dengan mahasiswa mu sendiri," kataku menjawab pertanyaannya. Mas Prabu diam, dia dari rautnya berusaha mencari perkataan tepat karena Ibunya butuh jawaban atas pertanyannya. 

"Jangan percaya, Bu. Vania ini memang licik. Dia berhasil menjebak ku untuk keluar dari rumah ini!" dustanya pada Ibunya, inilah yang membuat aku muak berhadapan dengannya. Dia selalu menyangkal terhadap apa yang telah dilakukannya. 

"Prabu, mana yang benar. Ibu sudah melihat bukti perselingkuhan kamu dan bukti bahwa rumah ini menjadi milik Vania." 

"Iya, tetapi Vania sendiri yang membuat aku seperti ini, Bu," ucap Mas Prabu membela diri. Aku ter-sentil karena dia menyalahkan aku.

"Kenapa kamu nyalahin aku, sebaiknya kalian pulang saja. Keluar dari rumahku!" desak ku tak suka melihat sikap dan tingkah laku Mas Prabu. 

"Vania, jadi benar Prabu selingkuh karena kamu?" tanya Ibu keras padaku, aku hanya mencibir padanya. 

"Aku gak suka kalian semua nyalahkan aku kayak gini, dia yang selingkuh aku yang kena getahnya." 

"Iya, Bu. Vania tidak menjalankan tugasnya sebagai istri. Dia terlihat kucal, kumal dan tidak merawat diri. Padahal dia tahu kebutuhanku seperti apa. Sekujur tubuhnya juga dipenuhi daki dan hitam-hitam mulai dari leher, ketiak, pahanya dan banyak lagi yang membuat aku tak selera menyentuhnya," ujar Mas Prabu menatapku dengan seringainya. Sila adik iparku justru tertawa mendengar penuturan Mas nya. 

"Vania, kamu emang gak becus jadi wanita. Kamu menuntut anakku namun kamu sendiri gak ngasih pelayanan maksimal sama anakku!" Bu Arum membela Mas Prabu, hatiku rasanya marah dan lahar panas dari dalam diriku sudah ingin ku muntah kan. 

"Harusnya anakmu punya otak, Bu. Aku seperti ini karena melahirkan. Lagian anakmu juga pelit. Dia mau aku cantik tetapi uang yang diberikan padaku itu kecil. Alasan membangun rumah dan buat kalian juga Ibu dan adiknya. Aku mengalah selama ini, dia yang tak bisa jaga diri dan sekarang rumah sudah menjadi milikku setelah dia selingkuh. Itu wajar, aku rasa Tuhan memberinya padaku sebagai buah ke pelitan nya selama ini. Rumah ini menjadi milikku dan anakku." 

Ibu dan yang lainnya diam. Wajah Mas Prabu sudah memerah akibat marah. 

"Udahlah sebaiknya kalian pergi dari sini dan semua juga sudah jelas. Ini rumahku dan putera mu tidak ada hak disini," ucapku dengan penekanan. Mereka diam sesaat. 

"Vania, jika Prabu salah. Sebaiknya maafkan dia dan kembali padanya karena Fauzan yang kasihan dia akan tumbuh tanpa ayah disisinya," kata Bu Arum tiba-tiba dengan suara parau, Mas Prabu tersentak mendengar Ibunya. Aku hanya diam.

"Prabu, kamu mau kembali pada Vania, yang penting kalian bersama dahulu. Sayang rumah mewah yang kamu bangun harus jatuh begitu saja ke Vania, Ibu dan Sila seharusnya tinggal disini seperti yang kamu janjikan kalau Sila tamat sekolah. Sekarang bagaimana, kami mau tinggal dimana, Prabu," lanjut Ibu memaksa Mas Prabu, 

"Aku sama sekali gak keberatan kalau harus kembali pada Vania, Bu. Cuma dia harus berubah lebih cantik agar aku lebih bergairah padanya!" seru Mas Prabu menatapku, aku tersenyum hambar pada mereka. 

"Udah selesai kalian ngehalu, aku muak sekali pada kalian semua. Sekarang kalian pergi dari sini atau aku ..." 

"Atau apa, kalau kami gak mau pergi bagaimana!" sentak Mas Prabu menyela bicaraku. Aku menarik napasku berusaha bersabar atas sikap mereka, kemudian sebuah suara terdengar.

"Assalamualaikum." Mereka bertiga menoleh ke sumber suara.

Bersambung.

TBC.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel