Bab 2. Ibu Mertua
"Suster! Tunggu!"
Suster Yulia menghentikan langkah dan membalikkan badannya. Raisa yang baru saja memanggilnya tampak berjalan tergesa-gesa menghampirinya.
"Jangan bawa anak itu ke panti asuhan!" ucap Raisa setelah berada tepat di depan suster Yulia.
"Maaf Bu, kalau memang nggak ada yang mau merawatnya, jalan satu-satunya harus kami serahkan ke panti asuhan!" kata suster Yulia dengan nada tegas.
"Serahkan pada saya Sus!" ucap Raisa sambil mengulurkan kedua tangannya hendak mengambil alih bedongan yang masih berada dalam dekapan suster Yulia.
"Ibu yakin mau merawatnya? Bukankah ini bukan anak ibu?" suster Yulia sengaja mengetes Raisa.
"Dia anak suami saya Sus, saya yang harus bertanggung jawab terhadap anak ini!" Raisa berkata dengan tegas.
Mendengar ucapan Raisa suster Yulia menghela nafas lega, lalu dengan hati-hati wanita berseragam putih itu menyerahkan Ziana kepada Raisa dengan senyum ramahnya
Sudah tujuh hari Azizur meninggal dan selama tujuh hari itu ibu mertua Raisa dan kakak iparnya berada di rumah Raisa, mereka membantu acara tahlil almarhum Azizur sampai selesai.
"Punya dua menantu, tapi dua-duanya nggak becus ngasih cucu laki-laki, huh!" celetuk bu Lasmini ketus, ibu mertua Raisa, wanita separuh baya itu mencibir sinis ke arah Raisa.
"Sudahlah Bu, semua sudah kehendak Allah," sahut Salina pelan, matanya melirik ke arah Raisa, adik iparnya.
"Kamu juga Sal, hidup cuma mikir kerja dan uang, sampai lupa ngurus suami, sekarang suami kabur tanpa ninggal harta atau anak," cecar bu Lasmini, kali ini Salina yang jadi sasaran omelannya.
Salina, kakak Azizur, wanita berusia 30 tahun itu menikah dengan Rudi sepuluh tahun yang lalu. Di usia pernikahan kedua tahun, Rudi meninggalkan Salina demi Tania, cinta pertama Rudi, dan tak pernah ada kabarnya sampai sekarang.
"Semua sudah ada yang atur Bu, kita tinggal jalani saja dengan ikhlas," Salina menyahut kata-kata ibunya dengan santai, tangannya sibuk mengganti popok Ziana.
Sejak kepulangannya dari rumah sakit, Salina yang mengurus bayi itu, karena Raisa tak mau mendekat apalagi menyentuhnya. Sakit hati karena dikhianati mengalahkan naluri keibuannya.
"Lebih baik kamu nikah lagi Sal, dan kasih ibu cucu laki-laki," usul bu Lasmini, wanita paruh baya berperawakan gemuk itu berdiri dan mengambil ponselnya di atas meja setelah mendengar bunyi notifikasi.
"Kalau aku nikah dan ternyata melahirkan anak perempuan, apa yang akan ibu lakukan?" tanya Salina dengan nada datar, bu Lasmini mendengus kesal mendengar pertanyaan anaknya.
"Itu artinya kamu sama dengan kedua menantu ibu, nggak becus!" cecar bu Lasmini menanggapi pertanyaan anak perempuannya.
Salina tersenyum tipis mendengar ucapan ibunya yang ketus, sama sekali tak ada rasa tersinggung atau sakit hati walau ucapan ibunya itu cenderung kasar dan sinis.
"Sebaiknya kita cari pengasuh untuk Ziana Dek, karena mbak kerja, nggak bisa tiap hari bantu ngurus Ziana," ujar Salina yang ditujukan kepada adik iparnya, Raisa yang dari tadi duduk di sofa memangku Wilma hanya mengangguk menyetujui saran kakak iparnya.
Dari awal memang Raisa sudah memikirkan hal itu,dia akan mencari pengasuh untuk anak tirinya, rasanya tak sanggup kalau tangannya harus menyentuh dan merawat anak dari hasil pengkhianatan suaminya.
"Ibu nggak setuju!" seru bu Lasmini menentang ucapan Salina. Raisa dan Salina serentak menatap bu Lasmini.
"Nggak usah buang-buang uang untuk bayar pengasuh!" ujar bu Lasmini lagi dengan suara lantang, kedua matanya menatap ke arah Raisa dengan tatapan tak suka.
"Lalu siapa yang mau merawatnya, kita nggak bisa mengandalkan mbak Nur, dia sudah repot dengan Wilma dan pekerjaan lainnya," tukas Salina mewakili Raisa, dia paham adik iparnya masih berduka dan kecewa dengan situasinya saat ini.
"Raisa kan bisa, dia bisa membawanya ke toko, di toko juga nggak mengerjakan apa-apa to, hanya mengawasi karyawannya saja," ujar bu Lasmini dengan santai, tanpa memikirkan perasaan menantunya.
Raisa memang memiliki beberapa toko besar yang bisa dibilang minimarket di kota tempat tinggalnya.
Karena kesibukannya mengurus minimarket-minimarket miliknya, Raisa menyerahkan urusan pekerjaan rumahnya kepada Nur, gadis berusia 23 tahun, gadis jujur yang awalnya bekerja di salah satu minimarketnya, entah apa alasannya Nur merasa lebih nyaman bekerja di rumah Raisa.
"Kalau begitu gimana kalau ibu saja yang merawatnya?" usul Salina, dia ingin tahu apa tanggapan ibunya atas usulannya itu. Mata Raisa terbeliak mendengar ucapan kakak iparnya.
"Sssttt, jangan Kak, jangan bikin repot ibu!" ucap Raisa pelan sambil memberi isyarat gelengan kepalanya.
"Kalau bayi itu laki-laki, tanpa kalian minta juga ibu akan merawatnya, ibu carikan sepuluh pengasuh sekalian!" ujar bu Lasmini dengan ketus, dia merasa kesal dan geram terhadap Salina yang menurutnya sengaja mencemo'ohnya.
"Laki-laki atau perempuan kan sama juga cucu ibu, darah daging ibu!" tukas Salina, diletakkannya Ziana ke dalam box bayi yang berada di dekatnya.
Bu Lasmini yang duduk di sofa dekat box bayi itu mengerling Ziana dengan sinis, bibirnya mencibir.
"Ya jelas beda, punya cucu laki- laki itu suatu kehormatan dan kebanggaan, nggak seperti mereka itu, yang ada nanti malah jadi beban!" ujar bu Lasmini ketus sambil menunjuk ke arah Wilma dan Ziana.
"Ini si Hesti juga nggak becus bikin anak laki-laki, kalau tahu anak dia perempuan, nggak bakalan ibu nikahkan dia dengan Azizur," tambah bu Lasmini, kali ini yang jadi sasaran adalah Hesti, ibu kandung Ziana.
"Semua ini takdir Bu, kita nggak bisa menentang dan mengubahnya!" Salina menyahut perkataan ibunya.
"Jadi ibu tahu tentang pengkhianatan mas Azizur?" tanya Raisa dengan nada ditekankan.
"Jaga bicaramu Raisa! Anakku nggak berkhianat, dia berusaha untuk menunjukkan bakti kepada aku, ibunya!" sahut bu Lasmini dengan keras, tampak kemarahan di wajahnya
yang tak pernah manis di hadapan Raisa.
"Bakti?" tanya Raisa dan Salina serentak, mereka saling pandang dan kemudian mengalihkan pandangannya ke arah bu Lasmini.
"Azizur berusaha memenuhi keinginan ibu, dia menikah dengan Hesti karena ingin memberikan cucu laki-laki untuk ibu!" kata bu Lasmini dengan suara lantang, sedikit pun dia tak merasa bersalah dan tak peduli bahwa tindakannya itu telah menyakiti hati Raisa dan Wilma.
"Lalu, ibu dapat cucu laki-laki dari mereka?" tanya Raisa dengan sinis, luka di hatinya semakin menganga mendengar kata-kata ibu mertuanya.
"Berani-beraninya kamu mencemooh ibu!" seru bu Lasmini marah. "Itu semua gara- gara Hesti, dan sampai kapanpun ibu nggak akan mengakui bayi itu sebagai cucu!" kata bu Lasmini ketus sambil berdiri dan kaki kirinya menyepak box bayi itu dengan sengaja.
"Ibu!" tanpa sadar Raisa dan Salina menghardik bu Lasmini serentak.
"Oh, gara-gara bayi tak berguna ini kalian berani membentak ibumu?" bu Lasmini membalikkan badannya, tangannya memegang box bayi itu dan menggoncangnya dengan kasar, wajahnya tampak merah menahan marah.
"Kalau memang ibu nggak mau mengakui Ziana sebagai cucu ibu nggak apa-apa, tapi jangan menyakitinya, dia nggak berdosa!" tukas Salina, diambilnya Ziana dari box itu dan mendekapnya dengan penuh kasih sayang.
"Dek, malam ini biar Ziana mbak bawa pulang. Mbak paham kamu belum bisa menerima kehadirannya, besok mbak carikan pengasuh untuknya," tutur Salina, dia memutuskan untuk pulang karena khawatir tak bisa mengontrol emosinya kalau lama-lama bersama ibunya.
"Dasar menantu manja, semua minta dilayani. Wilma kan sudah besar, sudah bisa mengurus dirinya sendiri, urusin saja bayi itu, nggak usah hambur-hamburkan uang!" bu Lasmini yang sudah berada di ruang makan masih saja menyahut perkataan Salina.
"Raisa masih berduka karena kehilangan suami, dan ditambah lagi berita tentang pengkhianatan almarhum hingga hadir Ziana, sebagai seorang wanita harusnya ibu paham bagaimana perasaannya," Salina yang tadinya sudah tak mau menanggapi ibunya terpaksa bersuara lagi.
"Siapa bilang Azizur berkhianat, dia menikah secara sah!" seru bu Lasmini dengan nada penuh emosi, dia kembali lagi ke ruang depan karena merasa jengkel terhadap Salina yang dianggapnya selalu menentang semua perkataannya.
"Apa ibu nggak memikirkan perasaan saya waktu meminta mas Azizur untuk menikah dengan perempuan lain?" tanya Raisa sambil menatap ibu mertuanya dengan tajam.
"Apanya yang harus dipikir? Toh Azizur nggak mengabaikan kalian, dan asal kamu tahu, laki- laki itu berkuasa, mereka bebas menentukan dan melakukan apa saja, makanya ibu hanya mau cucu laki-laki,titik!" kata bu Lasmini sambil meraih tas kecil yang berada di atas meja kaca, lalu melangkah keluar.
"Sudahlah Bu, Azizur sudah tenang di sana, kita doakan yang terbaik saja," ujar Salina, lalu pandangannya beralih ke arah adik iparnya." Kamu yang tabah dan sabar Dek, mbak akan selalu membantumu."
"Ibu mau ke mana?" tanya Salina dari jendela ketika melihat bu Lasmini berdiri di pintu pagar rumah Raisa. Melihat raut wajah ibunya yang yang masam, Salina paham pasti ibunya sedang marah.
"Bukan urusanmu!" jawab bu Lasmini dengan suara keras, tanpa menoleh ke arah Salina. Tak berapa lama sebuah motor datang dan berhenti tepat di depan bu Lasmini berdiri. Ternyata bu Lasmini tadi memanggil ojek untuk mengantarkannya pulang.
Salina bergegas berdiri dan bersiap-siap untuk pulang. Walau bagaimanapun dia tak sampai hati membiarkan ibunya pulang sendiri.
"Dek, mbak pulang ya, lihat itu ibu ngambek manggil ojek," ujar Salina sambil menghela nafas dalam-dalam.
"Itu ditinggal saja mbak, nanti biar dijaga mbak Nur," kata Raisa.
"Maksudmu Ziana?" tanya Salina, dahinya berkerut sambil berusaha mencerna ucapan adik iparnya. Salina bingung dengan sebutan kata 'ITU' karena banyak barang yang berada di ruangan itu.
"Iya mbak, nanti biar tidur dengan mbak Nur," ujar Raisa datar, wajahnya tanpa ekspresi dan tangannya asyik mengusap rambut Wilma.
"Asyiiikkk, aku punya teman!" Wilma yang tidur di pangkuan ibunya tiba-tiba bangun dan merosot turun, gadis kecil itu dengan riang hendak menghampiri box bayi, tapi dengan sigap Raisa menarik tubuh mungilnya dan mendudukkan di pangkuannya.
"Wilma! Itu bukan adikmu, ingat!" kata Raisa tegas sambil menggoyang- goyangkan telunjuknya ke kiri dan ke kanan.
"Tapi Bu?" Wilma berusaha protes dan memasang wajah cemberut.
"Wilma, jangan membantah!" tanpa sadar Raisa menghardik putrinya. Wilma menundukkan wajahnya, mukanya memerah menahan tangis.
"Dek, Wilma nggak tahu apa-apa, jangan libatkan dia dengan masalahmu," ujar Salina lembut, dia berusaha membujuk Raisa.
"Saya nggak akan membiarkan anak saya menyentuh anak itu, saya benci anak itu!" Raisa berkata dengan keras.
"Ziana itu terlahir suci Dek, dia sama sekali nggak tahu apa-apa, dia hanya bisa menangis saat lapar dan haus, dia sama sekali nggak ngerti apa itu dendam dan sakit hati, jadi nggak ada gunanya kalau kamu membencinya!" tutur Salina dengan pelan, dia tak berhenti berusaha untuk membuka hati Raisa agar menerima Ziana.
"Mbak nggak merasakan apa yang saya rasa, jadi Mbak bisa bilang begitu, coba Mbak berada di posisi saya!" sahut Raisa lirih, matanya berkaca-kaca, dan dalam matanya yang berembun terpancar kebencian yang entah ditujukan kepada siapa.
"Kamu lupa Dek? Mbak juga pernah dikhianati, mbak masih..."
"Tapi situasinya berbeda dengan apa yang saya alami Mbak!" Raisa memotong kalimat Salina dengan cepat.
"Ya sudahlah Dek, mbak mau pulang dulu," karena tak mau berlarut-larut, Salina memutuskan untuk segera pulang.
Raisa tak menanggapi ucapan kakak iparnya, hanya tatapan matanya yang mengikuti kepergian kakak iparnya yang sangat sabar dan selalu membantunya.
"Mbak Nuuurr!" Raisa berteriak memanggil asistennya. Nur yang baru saja mau ke dapur terkejut mendengar majikannya memanggil dengan keras. Biasanya Raisa selalu bersikap lembut kepada siapa saja.
"Ya Bu, ada apa?" tanya Nur gugup, gadis lugu itu membalikkan badannya dan tergopoh-gopoh menghampiri majikannya.
"Bawa dia ke kamarmu, semua keperluannya ambil di kamar depan, pindahkan ke kamarmu!" titah Raisa tegas dan lantang.
"Tapi Bu?" Nur menatap majikannya dengan heran. Dia heran Ziana anak majikannya kenapa disuruh tidur di kamar ART.
"Jangan membantah!" tukas Raisa sambil berdiri dan menarik tangan Wilma masuk ke kamarnya.
"Ba-baik Bu," kata Nur lirih.
"Zi cayang, Zi cantik, kita mandi yuukkk," ucap Nur dengan gemas sambil membuka lilitan kain bedongan Ziana.
"Jangan sentuh bayi itu!" Nur terkejut, sontak gadis berkulit kuning langsat itu menarik tangannya, lalu menoleh ke arah asal suara.
"Si-si-siapa kamu?"
"Sssstttt...!"
