Pustaka
Bahasa Indonesia

Lu Chen: Kembalinya Sang Hakim Surgawi

12.0K · Baru update
Jonea16
10
Bab
0
View
9.0
Rating

Ringkasan

Dua tahun Lu Chen mendekam di penjara demi orang yang ia cintai. Setelah bebas, ia mengira bisa hidup tenang dan melupakan masa lalu. Namun apa yang ia temukan? Hanya pengkhianatan dan penghinaan belaka. Setelah rela berkorban demi sang kekasih, hanya omong kosong yang Lu Chen terima. Tidak. Kali ini tidak lagi. Lu Chen akan membalas semua dendamnya. Ia akan membuat mereka semua tahu, bahwa kematian jauh lebih baik daripada neraka dan penjara!

ModernTuan MudaPengkhianatanBalas DendamDewasaDinginKeluargaPenjaraTransformasi

1. Kembali ke Dunia Luar

Lu Chen menyeret langkahnya yang berat. Dentang belenggu besi mengiringi setiap pijakannya keluar dari gerbang penjara.

Dari belakang, seorang sipir mendekat lalu melepaskan borgol di tangannya. "Hiduplah dengan benar setelah ini, Nak!" ujar sipir itu sambil menepuk bahu Lu Chen.

Tanpa ekspresi, Lu Chen menoleh ke belakang, menatap bangunan suram tempat ia terkurung selama dua tahun terakhir, "Dasar tua bangkai... Aku pergi dulu. Kalau sempat, aku akan main ke sini lagi."

Secara refleks, Lu Chen mengusap cincin di jari telunjuk kirinya. Cincin berwarna emas gelap itu tampak kusam dan berbintik karat, tak ubahnya perhiasan murah dari lapak pinggir jalan.

Namun, menurut racauan si Orang Tua Gila, benda itu bernama Ordo Raja Surgawi—satu-satunya "hadiah" yang ditinggalkan pria tua itu untuknya.

Seandainya bukan karena gemblengan ilmu medis dan seni bela diri tingkat tinggi dari si Orang Tua Gila selama dua tahun terakhir, Lu Chen mungkin masih hanyalah seorang pemuda biasa tanpa daya.

Setelah melempar pandangan terakhir, Lu Chen akhirnya berbalik. Ia melangkah mantap menyambut dunia luar yang sudah lama ditinggalkannya.

---

Setelah menumpang di mobil bak terbuka yang dia cegat dipinggir jalan, akhirnya pria itu bisa turun di pintu masuk pemukiman dimana dia tumbuh.

Semakin dekat langkahnya ke rumah, semakin kencang debaran di dada Lu Chen. Ketika tangannya mengetuk pintu kayu yang kusam itu, ada sedikit rasa gugup yang menyelusup.

Pintu terbuka perlahan. Sosok wanita tua muncul dari balik pintu, matanya membelalak tak percaya, "Nak... kamu, kamu sudah keluar?!"

Wanita itu adalah ibunya, Nyonya Shen. Usianya baru empat puluhan, tetapi penampilannya tampak seperti wanita yang hampir kepala enam. Punggungnya yang dulu tegak kini bungkuk parah, tertekuk oleh siksaan penyakit yang menggerogoti tubuhnya.

"Bu, apa yang terjadi pada Ibu?"

Sedetik kemudian, kemarahan dan kesedihan meluap di benak Lu Chen. Dengan suara parau, ia bergegas mendekat dan memapah ibunya, "Di mana Ayah? Kenapa aku tidak melihatnya?"

"Ayahmu sedang pergi mengumpulkan barang rongsokan... dia belum pulang," jawab Nyonya Shen pelan, tak berani menatap mata putranya.

Dada Lu Chen bergemuruh hebat, matanya memerah menahan pedih. Apa yang sebenarnya terjadi pada keluarganya selama dua tahun ia mendekam di penjara?

"Di mana Su Ran? Apa yang dia lakukan selama ini?" tuntut Lu Chen dengan nada panik.

Dua tahun lalu, ia hanyalah seorang pekerja kantoran biasa di Kota Ming dengan seorang tunangan tercinta. Hubungan mereka begitu harmonis dan mereka sudah merencanakan pernikahan.

Namun, takdir berputar kejam.

Tepat dua tahun lalu, Su Ran mendatangi Lu Chen sambil menangis histeris. Gadis itu mengaku ayahnya tewas dalam kecelakaan kerja di lokasi konstruksi, dan sang kontraktor menolak memberikan ganti rugi.

Dikuasai amarah, Lu Chen langsung menerobos lokasi konstruksi untuk menuntut keadilan. Di sana, putra sang kontraktor—seorang tuan muda kaya bernama Zhao Tian—malah menggunakan pengaruh kekuasaannya untuk memojokkan dan menghina Lu Chen tanpa henti.

Dalam puncaknya amarah, Lu Chen kehilangan kendali hingga melukai Zhao Tian. Akibatnya, ia dijebloskan ke dalam penjara.

Hari ini ia akhirnya bebas, tetapi kehancuran justru menyambut kepulangannya.

Dari penjelasan sang ibu yang terbata-bata, kebenaran pahit itu akhirnya terungkap.

Setelah Lu Chen melukai Zhao Tian, keluarga Zhao mendatangi rumah mereka dan mengancam serta menuntut ganti rugi dalam jumlah fantastis. Orang tua Lu Chen menghabiskan seluruh tabungan untuk mengurus kasusnya agar ia tak dihukum berat, bahkan terpaksa menjual rumah mereka.

Kini, mereka tidak memiliki apa-apa lagi. Ayahnya harus memulung rongsokan demi sesuap nasi, sementara penyakit kronis sang ibu kambuh karena terus-menerus mengkhawatirkan dirinya. Jangankan untuk berobat, untuk makan sehari-hari pun mereka kesulitan.

Lu Chen mendongakkan kepalanya, membiarkan air mata kepedihan mengalir di pipinya tanpa bisa dibendung.

"Aku meninggalkan uang tabungan 300.000 yuan pada Su Ran. Apa dia tidak memberikan uang itu pada Ibu?"

Nyonya Shen tertegun mendengar angka itu. "Nak... sejak kamu masuk penjara, gadis bernama Su Ran itu tidak pernah sekalipun menjenguk kami. Bahkan... para tetangga bilang, dia akan bertunangan dengan Zhao Tian."

"Apa?!"

Bagaikan disambar petir di siang bolong, Lu Chen berdiri terpaku. Hanya dalam kurun waktu dua tahun, takdir telah mempermainkannya dengan begitu kejam!

Tiba-tiba, hantaman keras mendarat di pintu rumah mereka.

"Buka pintunya! Kapan kalian mau bayar tunggakan sewa?! Kalau tidak punya uang, keluar dari sini!" Suara dari luar melengking kasar penuh ancaman.

Lu Chen mengerutkan kening. "Bu, ada apa lagi ini?"

Nyonya Shen mengulas senyum getir. "Pengadilan menyita rumah kita dan menyerahkannya kepada Zhao Tian. Kita hanya menyewanya sementara, dan hari ini... adalah tenggat pembayaran sewa."

Kemarahan Lu Chen makin meluap mendengarnya.

"Nak, masuk dan bersembunyilah di kamar," bisik Nyonya Shen cemas. "Jika Zhao Tian tahu kamu sudah keluar, dia pasti akan makin menyulitkan kita. Ingat ayahmu, Nak!"

Dengan hati yang mendidih dan dada sesak oleh rasa sesal, Lu Chen terpaksa menuruti ibunya. Ia bersembunyi di balik pintu kamar, memasang telinga baik-baik.

Nyonya Shen menyeret tubuhnya yang lemah ke pintu lalu membukanya perlahan.

Di luar, berdiri seorang pemuda berambut pirang yang merupakan kaki tangan Zhao Tian. Dengan seringai licik di wajahnya, ia berdiri diapit oleh beberapa preman bertubuh kekar.

"Wah, kukira kau sudah mati di dalam!" ejek Si Rambut Pirang kasar. "Tuan Muda Zhao menyuruh kami menagih sewa. Serahkan uangnya sekarang!"

'Zhao Tian...' Lu Chen menggertakkan giginya rapat-rapat di dalam kamar. Ia bersumpah akan membalas semua perbuatan bajingan itu.

Nyonya Shen mengeluarkan kantong plastik lusuh, mengocok berisi tumpukan uang receh, lalu menghitungnya dengan jemari yang gemetar.

"Ini uang sewa bulan lalu... Ini semua yang bisa kami kumpulkan dari hasil menyisihkan uang makan. Tolong terima..."

Si Rambut Pirang bahkan tidak sudi menyentuhnya. Dengan ujung sepatu kulitnya yang runcing, ia menendang tumpukan uang receh itu hingga berserakan di tanah.

Wajah Nyonya Shen seketika memucat.

"Heh! Maaf ya, sewa rumah ini sudah naik bulan ini. Uang sampah begini mana cukup?! Cepat tambah sisanya, atau angkat kaki sekarang juga!" gertak Si Rambut Pirang garang.

Nyonya Shen meraih lengan pemuda itu sambil menangis memohon, "Kutolong... bicaralah pada Tuan Muda Zhao... beri kami sedikit waktu lagi..."

Namun, bukannya luluh, pemuda itu justru mengibaskan tangannya dengan kasar hingga tubuh lemah Nyonya Shen terlempar dan jatuh terjerembap ke tanah. Wanita tua itu terbatuk-batuk hebat sambil memegangi dadanya.

"Kalian semua, masuk! Hancurkan semua barang di rumah ini dan buang keluar!"

Baru saja anak buahnya akan bergerak tiba-tiba terdengar sebuah teriakan dari sudut lain, "Coba saja kalau berani!"

Lu Chen melangkah keluar, aura membunuh terpancar jelas dari matanya.

Si Rambut Pirang dan para pasukannya terkejut sejenak. Namun, begitu mengenali siapa yang berdiri di hadapan mereka, seringai ejekan kembali terpatri di wajah Si Rambut Pirang.

"Cuih! Aku kira siapa, ternyata si mantan narapidana ini sudah keluar! Bagaimana? Melihat rumah dan ibumu seperti sampah begini... apa hatimu terasa sakit, Nak?"

Lu Chen tak menjawab. Pandangannya perlahan menunduk, menatap ibunya yang tersengal di lantai, lalu beralih pada cincin emas gelap di jari telunjuknya yang tiba-tiba berdenyut hangat...