Puas tapi Menegangkan NSFW
Arga sama sekali tidak merasa bersalah. Ia hanya tersenyum tipis penuh kemenangan, perlahan mundur menjauh dari posisi tidurnya. Arga menegakkan tubuhnya, berdiri dari atas ranjang jati yang megah itu tanpa menimbulkan suara sekecil apa pun. Langkah kakinya bergerak taktis, berjalan santai menuju sebuah sofa kulit hitam yang terletak di sudut kamar, berjarak beberapa meter menghadap langsung ke arah lemari pakaian besar tepat di samping kepala ranjang tempat Pak Deni masih mendengkur halus.
Arga mendudukkan diri di atas sofa dengan posisi santai, menyandarkan punggungnya yang tegap. Ia kemudian tersenyum menoleh ke arah kanan, menatap lurus ke arah ranjang di mana Hj. Ningrum masih terkapar lemas. Dengan gerakan yang sangat menggoda, Arga mengangkat tangan kanannya, melambaikan jarinya memberi isyarat agar wanita matang itu mendekat ke arahnya.
Hj. Ningrum yang melihat kelakuan nakal sang asisten suaminya itu langsung melotot tajam. Dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya, ia memaksakan diri untuk bangun dan duduk di atas ranjang. Rambutnya yang wangi melati kini tampak sedikit acak-acakan, daster sutra hijaunya berantakan tersingkap tinggi, dan napasnya masih memburu hebat, memompa naik-turun gumpalan dada besarnya yang luar biasa menonjol.
"Arga... uhhhhh... jahat kamu, Sayanghhhh," bisik Bu Haji lirih dengan suara yang sangat parau, matanya sesekali melirik panik ke arah suaminya yang mendengkur di sebelah sebelum kembali menatap Arga dengan damba yang membara. "Pindah sekarang... ayo kita ke kamar kamu aja... aku udah nggak tahan di sini... ahhhh."
Arga perlahan menggelengkan kepalanya secara mantap, senyumannya kian melebar penuh arti provokasi mental.
"Nggak mau, Sayang. Kita tuntasin dulu di sini," balas Arga dengan bisikan pelan yang sangat luwes namun tegas. Ia melirik senjata besarnya yang masih tegang berurat di atas pangkuannya, berkilau oleh cairan kehangatan Bu Haji. "Lagian... kasian kan kamu, Bu Kades yang terhormat, udah mau keluar tadi tapi digantung kayak begini. Sini samperin aku kalau mau keluar."
Mendengar tantangan yang begitu nakal dari sang berondong, runtuh sudah seluruh sisa harga diri yang dimiliki oleh istri kepala desa tersebut. Hasrat binal yang sudah membakar perut bagian bawahnya membuat Hj. Ningrum tidak memikirkan hal lain lagi. Dengan gerakan yang sangat hati-hati agar tidak menimbulkan guncangan pada kasur, Bu Haji menurunkan kedua kakinya ke lantai.
Ia berjalan ke arah sofa tempat Arga duduk dengan langkah yang agak gemetar, menahan lemas yang luar biasa pada sepasang paha montoknya akibat dua kali klimaks beruntun sebelumnya. Setiap langkah yang diambilnya terasa begitu berat namun dipenuhi gairah yang meluap-luap. Begitu sampai tepat di depan Arga yang sedang menatapnya dengan pandangan lapar, Hj. Ningrum tidak membuang waktu lagi.
Ia langsung mengangkat tubuh bahenolnya yang padat, mengangkangi kedua paha Arga yang terbuka lebar, dan bersiap untuk duduk tepat di atas pangkuan kokoh anak muda tersebut. Dengan perlahan namun pasti, pinggul Bu Haji merendah, menyelaraskan posisinya hingga pusat kehangatannya yang sudah banjir air surga kembali menelan bulat-bulat seluruh panjang senjata besar Arga yang masih basah karena cairan kehangatannya sendiri dari sesi di ranjang tadi.
"AAAHHHH... OHHHHH... YESHHHHHH... ARGAAAHHH!"
Hj. Ningrum kembali meloloskan erangan yang sangat panjang namun luar biasa tertahan di dalam tenggorokannya. Matanya memejam rapat, wajah cantiknya mendongak ke atas dengan ekspresi merem melek menahan sensasi penuh dan meregang yang kembali merobek rongga intimnya hingga ke batas terdalam. Kedua tangannya secara refleks meremas kuat bahu bidang Arga, mencari tumpuan karena gelombang kenikmatan gila langsung menyengat pusat sarafnya begitu mereka kembali menyatu sempurna di atas sofa.
"Ssshhhh... ahhhh... masuk semua, Sayanghhhh... dalem banget... ohhhhh..." desis Bu Haji dengan tubuh yang bergetar hebat di atas pangkuan Arga, merasakan denyutan berurat dari kejantanan yang tertanam kokoh di dalam dirinya.
Hj. Ningrum menurunkan wajahnya yang basah oleh peluh gairah, menatap lekat-lekat mata Arga dengan pandangan mata yang sayu namun binal penuh tuntutan.
"Kamu... kamu sengaja banget ya bikin aku gagal keluar tadi... ahhhh... ohhhhh... nakal banget sih kamu sama aku, Sayanghhhh," bisik Bu Haji binal dengan suara yang terengah-engah di depan bibir Arga.
Arga tersenyum sangat tampan dan tenang menerima protes manja dari wanita paruh baya di atas pangkuannya. Kedua tangannya yang besar merayap naik menyusuri pinggang montok Bu Haji, menuju ke depan dada untuk mencengkeram dan meremas gumpalan dada besar milik sang Ibu Kades dengan remasan yang sangat mesra namun penuh gairah, merasakan tekstur kenyal yang naik-turun seiring napas mereka yang berpadu panas.
"Habisnya kamu binal banget malam ini, Bu Haji," bisik Arga nakal tepat di depan bibir seksi Ningrum yang merekah. "Sekarang, karena kamu yang mau keluar, kamu harus usaha sendiri. Masa dari tadi aku terus yang kerja keras? Sekarang giliran Bu Kades kesayangan aku yang tunjukin keahliannya di atas pangkuan aku."
"Ahhhh... kamu bener-bener... ohhhhh... pinter banget kalau ngomong, Sayanghhhh," balas Bu Haji binal dengan desahan yang kian memburu.
Hj. Ningrum tidak ingin membuang waktu lagi dalam perdebatan kata-kata. Tanpa melepaskan pandangannya, ia langsung memajukan wajahnya, melumat habis bibir Arga dalam sebuah pagutan yang sangat dalam, liar, dan rakus, meluapkan seluruh rasa lapar khas wanita paruh baya yang mendambakan kepuasan mutlak. Sembari mulut mereka saling bertautan erat mengunci suara erangan masing-masing, pinggul bahenol Hj. Ningrum mulai bergerak dinamis, naik-turun dengan ritme yang lambat namun sangat bertenaga di atas pangkuan Arga.
Chwukkk... mmmphhh... slurrrpph...
Suara pagutan bibir yang basah memenuhi sudut sofa kulit tersebut, berpadu dengan bunyi gesekan intim di bawah sana yang kian malam kian banjir oleh cairan pelumas alami. Hj. Ningrum memacu tubuhnya sendiri dengan penuh penghayatan; setiap kali tubuhnya bergerak turun, ia menekan pinggulnya dalam-dalam hingga senjata Arga menghantam mentok ke dasar rahimnya, menciptakan sensasi gesekan dinding intim yang luar biasa memabukkan bagi mereka berdua.
"Mmmphhh... ahhhh... ohhhhh... yeshhhhhh... Sayanghhhh..."
Erangan-erangan nikmat Bu Kades meredam sempurna di dalam lumatan bibir Arga, menciptakan sebuah harmoni tabu yang luar biasa panas. Arga hanya perlu duduk diam menikmati goyangan binal dari tubuh matang berbobot yang sedang bekerja keras di atas pangkuannya, sementara tangannya terus meremas gemas dada besar Bu Haji, membimbing wanita terhormat itu menuju puncak kepuasan yang sesungguhnya di bawah remangnya kamar utama villa suaminya sendiri.
Suara pagutan bibir yang basah kian meredam di sudut sofa kulit hitam yang terletak tepat di sebelah kiri ranjang megah tersebut. Posisi sofa yang sejajar dengan pintu keluar kamar utama ini memberikan keuntungan taktis yang luar biasa bagi Arga, namun di sisi lain menciptakan tekanan psikologis yang sangat mencekam bagi Hj. Ningrum. Dari atas pangkuan kokoh sang berondong, setiap kali Bu Haji menggerakkan pinggul bahenolnya naik dan turun, pandangan matanya secara refleks akan langsung menyapu ke arah kanan—tepat ke arah suaminya, Pak Deni, yang masih terlelap pulas dengan jarak yang hanya terpaut beberapa jengkal saja dari tempat mereka menyatu.
Arga perlahan-lahan merenggangkan tautan bibir mereka, menyisakan seutas benang saliva yang halus di kegelapan malam. Napasnya berembus panas, memburu tepat di depan wajah Hj. Ningrum yang sudah memerah padam dengan peluh gairah yang membeser di kening dan lehernya. Kedua tangan kekar Arga yang sejak tadi meremas gemas sepasang dada besar Bu Kades dari balik daster sutra hijau zamrudnya, kini berpindah turun. Telapak tangan Arga mencengkeram erat pinggul yang semok nan padat tersebut, mengunci pergerakan naik-turun Bu Haji untuk sejenak.
"Ahhhh... ohhhhh... Argaaa... kenapa berhenti, Sayanghhhh? Uhhhhh... jangan digantung lagi... aku udah mau sampai... ahhhh," keluh Bu Haji dengan suara yang sangat parau, terengah-engah manja sembari tangannya meremas kuat pundak bidang Arga.
Arga meloloskan sebuah geraman rendah dari tenggorokannya, napasnya ikut memburu karena jepitan lubang depan Bu Haji yang luar biasa mencengkeram. "Ahhh... ohhhhh... ketat banget punya kamu, Bu Haji... yeshhhhhh... ssshhhh... bentar, Sayang," desis Arga keenakan sembari menahan pinggulnya agar tidak langsung meledak.
Arga menyatukan tatapannya, pandangan matanya berkilat penuh rencana nakal yang jauh lebih beringas. Ia mendekatkan bibirnya ke daun telinga Bu Kades, lalu membisikkan sebuah perintah yang sangat provokatif.
"Coba kamu liat ke kiri kamu sekarang, Sayang. Liat ke arah suami kamu," bisik Arga sangat lirih, suaranya yang berat bergetar merayap masuk ke indra pendengaran Bu Haji. "Dan sekarang... aku minta kamu condongin badan kamu ke depan. Peluk leher aku, terus kamu desah di telinga aku tiap kali kamu gerak naik-turun. Aku mau denger seberapa binalnya suara istri kepala desa kalau lagi minta dipuasin sama berondongnya tepat di samping suaminya sendiri."
Hj. Ningrum seketika membelalakkan mata. Matanya yang melotot menatap Arga menyiratkan keterkejutan yang luar biasa atas ide gila tersebut. Menatap suaminya secara langsung dari jarak sedekat ini sambil memacu syahwat sudah cukup membuat jantungnya berdegub kencang bagai mau copot, dan sekarang Arga justru memintanya melakukan monolog nakal yang sangat tabu di tengah keheningan kamar.
"Nngghhh... nggak mau, Arga... ahhhh... itu bahaya banget... ohhhhh... kalau Mas Deni bangun gimana, Sayanghhhh... uhhhhh," bisik Bu Haji mencoba menolak, namun tubuh bahenolnya yang sudah terlanjur terbakar gairah ekstrem tidak bisa berbohong. Bagian bawah tubuhnya justru semakin terasa berdengan ketat, menjepit mati senjata besar Arga yang tertanam kokoh di dalam dirinya.
"Ahhhh... ohhhhh... jepitan kamu gila, Sayanghhhh... ssshhhh... kalau kamu nggak mau ikutin kata aku, punya aku nggak bakal gerak lagi dari bawah, Bu Haji. Biar aja kamu gantung terus sampai pagi," ancam Arga nakal sembari sengaja menahan pinggulnya tetap diam membeku di dalam kehangatan depan Bu Kades, menahan erangan nikmatnya sendiri yang hampir jebol.
Rasa gemas dan damba yang sudah berada di ubun-ubun akhirnya meruntuhkan seluruh sisa benteng pertahanan sang wanita terhormat. Hj. Ningrum meringis tertahan, matanya melotot pasrah menatap Arga sebelum akhirnya menyerah kalah pada dominasi sang pemuda. Dengan perlahan, tubuh semok nan padat berbobot itu condong maju ke depan, menempelkan gumpalan dada besarnya yang kenyal tepat di dada bidang Arga tanpa sela. Kedua lengan matangnya melingkar erat di sekeliling leher kekar Arga, menyembunyikan wajah cantiknya di ceruk leher sang berondong.
Hj. Ningrum mulai menggerakkan kembali pinggul bahenolnya. Kali ini dengan ritme yang jauh lebih lambat, dalam, dan penuh penekanan. Setiap kali tubuh semoknya merendah menelan habis seluruh panjang kejantanan Arga hingga mentok ke rahim, Bu Haji meloloskan erangan binal yang sangat parau, langsung dibisikkan tepat di lumbung telinga Arga seolah-olah itu adalah sebuah rahasia paling berdosa malam ini.
"Ahhhh... ohhhhh... yeshhhhhh... kamu puas, Arga? Uhhhhh... liat aku sekarang... ahhhh... aku lagi goyang di atas pangkuan kamu, Sayanghhhh... ohhhhh... dalem banget... punya berondong aku bener-bener mantap... ssshhhh... ampun, Sayanghhhh..."
Mendengar monolog binal dan runtutan desahan manja yang keluar langsung dari mulut sang Ibu Kades, gairah Arga pun ikut tersulut hingga ke titik tertinggi. Ia tidak lagi sekadar diam menerima goyangan dari atas. Dari posisi bawah sofa, Arga mulai menyentakkan pinggulnya ke atas secara dinamis, menyambut setiap gerak turun tubuh semok Bu Haji dengan hantaman-hantaman dalam yang sangat bertenaga.
"Ahhhh! Ohhhhh! Yeshhhhhh... gila, Bu Haji... ssshhhh... sempit banget punya kamu, Sayanghhhh... ahhhh... remes leher aku yang kencang... ohhhhh... nikmat banget, uuhhhhh!" Arga balas mengerang nakal, suaranya parau tertahan menahan sensasi jepitan dinding rahim Bu Kades yang seolah menyedot habis kejantanannya tanpa membiarkan pertahanannya runtuh.
"Ahhhh! Ohhhhh! Argaaa... yeshhhhhh... ssshhhh... cepet banget... ohhhhh... dalem banget kamu nembus rahim aku... ahhhh... Sayanghhhh!"
Hj. Ningrum kian mempererat pelukannya di leher Arga, tubuh semoknya tersentak-hentak liar di atas pangkuan seiring dengan meningkatnya tempo gempuran dari bawah. Air mata nikmat mengalir deras membasahi pipinya yang merona merah padam. Sensasi gesekan intim yang kian basah di bawah sana, berpadu dengan bisikan serta erangan bersahut-sahutan yang terus mereka pertukarkan, membawa saraf intim Bu Kades bergulung dengan sangat cepat menuju tepi jurang klimaks yang ketiga kalinya.
Namun, tepat ketika Bu Haji sudah berada di puncak kepuasan dan bersiap untuk meledakkan seluruh cairannya, sebuah pergerakan mendadak kembali terjadi dari arah ranjang kayu jati di sebelah kanan mereka.
Krieeek...
Pak Deni mendadak membalikkan tubuhnya dengan sangat kasar. Kali ini gerakannya tidak hanya sekadar mengigau kecil; kedua kaki sang kepala desa tersentak di atas kasur, membuat selimut tebalnya tersingkap ke bawah. Wajah baritonnya yang berat tampak berkerut, dan salah satu tangannya bergerak meraba-raba area sprei di sampingnya—mencari keberadaan tubuh istrinya yang kosong.
"Ma... hmmm... air... haus..." gumam Pak Deni dengan suara serak yang cukup jelas di keheningan kamar.
Seketika itu juga, atmosfer di dalam ruangan berubah menjadi sangat horor dan mencekam hingga ke titik tertinggi. Detak jantung Hj. Ningrum seolah berhenti seketika. Tubuh semok yang sedang asyik memacu gairah di atas pangkuan Arga itu mendadak mematung kaku bagai batu. Matanya membelalak melotot horor menatap lurus ke arah wajah suaminya yang perlahan bergerak gelisah. Ketakutan setengah mati jika suaminya akan membuka mata sepenuhnya dan melihat langsung perselingkuhan binal ini membuat seluruh otot intim Bu Kades korsleting parah.
Akibat rasa panik yang ekstrem yang bercampur aduk dengan gairah tabu, lorong kehangatan depan Bu Haji otomatis menjepit, memeras, dan mengunci senjata besar Arga dengan kekuatan alami yang luar biasa menjepit ketat—jauh lebih kencang dari dua klimaks sebelumnya.
"Uhhhhhh... ssshhhh... ahhh..." Arga ikut mendesah tertahan, matanya terpejam sesaat merasakan jepitan maut yang mendadak mengencang gila-gilaan akibat rasa takut Bu Haji. Walaupun kepunyaannya diperas habis oleh dinding intim yang menjepit ketat, Arga tetap mampu menahan dorongan klimaksnya dan mengontrol gairahnya dengan sangat kokoh. Ia menahan napasnya, menghentikan seluruh gerakan pinggulnya dari bawah.
Tangan kanan Arga dengan sigap langsung bergerak naik, membekap kembali mulut seksi Hj. Ningrum yang sudah menganga ketakutan agar tidak ada satu pun suara pekikan panik yang lolos dari celah bibirnya. Mereka berdua membeku di atas sofa, menatap tajam ke arah Pak Deni yang berada tepat di samping mereka.
Selama hampir satu menit yang terasa bagai neraka jahanam, Pak Deni hanya meraba-raba bantal sejenak, menelan ludahnya yang kering, lalu karena pengaruh obat penenang dosis kopi sore tadi masih terlalu kuat mengikat kesadarannya, kepala desa itu akhirnya mendengus berat dan kembali menjatuhkan kepalanya ke bantal, mendengkur halus kembali. Situasi kembali aman.
Melihat suaminya kembali terlelap, Hj. Ningrum meloloskan napas lega yang luar biasa panjang di balik bekapan tangan Arga. Namun, ketakutan ekstrem yang baru saja lewat justru memicu sisa-saing energi birahinya yang tertahan untuk meledak secara berantakan. Jepitan super ketat akibat rasa takut tadi justru menjadi pemicu utama yang mendorong rahimnya masuk ke dalam fase pelepasan yang paling dahsyat malam ini.
Arga yang merasakan denyutan luar biasa kencang dari dalam dinding intim Bu Haji langsung memanfaatkan momentum emas ini. Meskipun dirinya sendiri menahan pelepasan dan tetap kokoh bertahan, ia memilih untuk memberikan kepuasan total bagi wanita di atas pangkuannya. Ia melepaskan bekapan tangannya dari mulut Bu Kades, lalu menyusupkan jari-jarinya ke rambut wangi melati wanita paruh baya itu, menarik wajah cantiknya kian dekat hingga bibir mereka kembali berjarak sangat tipis.
"Ahhhh... ohhhhh... gila... kamu tegang banget ya, Sayang? ssshhhh..." geram Arga nakal dengan napas naik-turun sembari menikmati jepitan rahim yang luar biasa nikmat. "Tapi liat ini, gara-gara Pak Kades gerak dan minta air, lubang kamu malah meluk punya aku kencang banget. Kamu emang binal banget, Bu Haji. Ketakutan tapi malah pengen cepet-cepet keluar lagi di atas pangkuan aku, kan? Ambil ini semuanya, Sayang! Ahhhh... ohhhhh... rasain ini!"
Tanpa memberikan kesempatan bagi Bu Haji untuk menata napasnya yang berantakan, Arga dari bawah langsung melakukan tiga sentakan pinggul ke atas yang sangat keras, dalam, dan menghujam lurus tepat di titik paling sensitif rahim Bu Kades.
Plakkk! Plakkk! Plakkk!
"AAAHHH... OHHHHH... YESHHHHHH... ARGAAAHHH! AKU SAMPAI... SSSHHHH... SAYANGHHHH... UHUUUHHH!"
Srrrrrrrrrrr....srrrrrrrrrrr.....srrrrrrrrrrrr.....srrrrrrrrrr...
Hj. Ningrum akhirnya didera oleh badai klimaks ketiga yang berkali-kali lipat lebih dahsyat dan berantakan dari sebelumnya. Tubuh semok nan padat itu mengejang hebat di atas pangkuan Arga. Pinggul bahenolnya tersentak-hentak liar ke bawah secara refleks, menyambut keperkasaan sang berondong sembari seluruh dinding intimnya berkedut-kedut kencang memeras habis setiap inci kejantanan Arga yang masih kokoh tegak di dalam sana.
Bibirnya meloloskan erangan-erangan ekstasi yang sangat parau, panjang, namun teredam sempurna saat ia kembali melumat rakus bibir Arga demi menyembunyikan suara puncaknya dari pendengaran sang suami. Cairan kehangatan depan Bu Kades menyembur deras untuk ketiga kalinya, membanjiri seluruh area pangkal paha mereka di atas sofa beludru hitam tersebut, sementara Arga tetap bertahan dengan senjatanya yang masih mengeras sempurna tanpa ikut keluar sedikit pun.
Setelah beberapa detik kejang ekstasi itu menguasai seluruh tubuhnya, Hj. Ningrum akhirnya ambruk sepenuhnya. Tubuh semok nan bahenol itu terkulai lemas tanpa daya sama sekali, bersandar pasrah pada dada bidang Arga dengan napas yang tersengal-sengal pendek lewat mulut yang terbuka kecil. Seluruh tenaganya benar-benar telah habis diperas habis-habisan lewat tiga kali klimaks beruntun malam ini. Matanya terpejam rapat, membiarkan Arga yang masih menyimpan seluruh energinya mengambil alih kendali penuh atas langkah selanjutnya.