6. Kurir Cinta
Melihat sikap sahabatnya, Ode berdiri untuk mengambil segelas air minum dari gallon mineral yang ada di dekat meja.
”Minum dulu.” Aryo memandang Ode sejenak. Tanpa pikir panjang lagi dengan tawaran tersebut, Aryo langsung meraih gelas yang ada di tangan Ode dan meminumnya segera. Setelah itu ia menaruh gelas plastik bermotif biola tersebut di atas meja.
Ode memperhatikan wajah Aryo, emosinya mulai berkurang.
”Kamu kenapa? Ada masalah dengan Dona?” Aryo mengusap wajahnya seakan ingin meluapkan kekesalannya.
”Nggak ngertilah De ... aku juga mangkel! Akhir-akhir ini dia juga sering marah. Aku tanya kenapa? Jawabnya selalu nggak jelas!” katanya gusar
Emosi Aryo mulai naik lagi, bahkan ia bersikap seperti orang yang ingin memukul tapi kedua tangannya hanya mengepal kejang penuh tenaga dan tak terluapkan, sedangkan wajahnya memerah. Ia juga merapatkan rahang atas dan bawah hingga gigi-giginya saling bertemu dan menimbulkan sedikit bunyi.
Timbul rasa penasaran dalam diri Ode terhadap persoalan yang terjadi pada kawan dekatnya. Setahu Ode, hubungan antara Aryo dan Dona kelihatannya selalu adem ayem saja. Tidak ada percekcokan atau perselisihan. Apalagi seminggu sebelumnya ketika mereka datang bermain ke kampus, nampak mesra dan harmonis. Tapi kenapa ia tiba-tiba jadi begitu emosi seperti orang yang menghadapi musuh bebuyutan dalam waktu lama.
”Tenang Yo, jangan terbawa emosimu.” Ode berusaha membujuknya.
”Kamu nggak ngerti! Lama-lama dia tuh bikin kesal! Aku sudah nggak tahan. Kalau begini terus, lebih baik putus saja pertunangan ini! Nggak usah nikah. Bikin pusing aja!” katanya lagi spontan dan emosi.
”Apaa? Putus?!”
Ode terkejut mendengar perkataan Aryo. Sama sekali tidak diduganya jika kata-kata itu akan keluar dari mulut Aryo. Begitu mudahkah Aryo mengatakan ingin memutuskan pertunangannya? Kenapa ia ingin memutuskan pertunangannya? Pikir Ode. Padahal dulu ketika Aryo dan Dona memilih untuk bertunangan di akhir semester empat, sangat dipenuhi dengan semangat yang menggebu tanpa ingin terpisah lagi meskipun mereka berdua masih kuliah. Bahkan Ode dan Dido juga punya peran penting dalam terjalinnya hubungan cinta Aryo dan Dona. Sampai Ode dan Dido sempat mendapat julukan dari beberapa teman dekatnya sebagai “Kurir Cinta” karena demi membantu sahabat dekatnya mereka rela mejadi delegasi yang mengantarkan surat cinta, atau membuatkan puisi, dan juga mendamaikan jika terjadi pertengkaran antara Aryo dan Dona. Bahkan kadang mereka terpaksa bolos kuliah demi membantu sahabat dekatnya itu dalam urusan asmara.
Sekarang, dengan mudahnya ia akan putus? Ode tidak habis pikir dan sempat terbawa rasa jengkel. Ia tidak mau upaya mereka dulu jadi sia-sia begitu saja. “Apakah dia lupa jika dulu Aryo dan Dona telah berjuang mati-matian meyakinkan pihak keluarganya, terutama ayahnya masing-masing agar mendapatkan restu segera bertunangan? Lalu sekarang dengan mudahnya dia mengatakan ingin memutuskan pertunangan itu?!” Ode tampak serius berpikir.
Apakah Aryo juga lupa bahwa saat itu banyak sekali gadis-gadis dan pria-pria di kampus yang selama dua minggu tidak hadir mengikuti kuliah karena patah hati setelah pujaannya menjalin pertunangan? Ode kaget sekali dengan pernyataan sahabatnya dan ingin rasanya ia protes langsung.
Tapi Ode masih berusaha untuk tetap tenang dan tidak terbawa emosinya tanpa memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi. Walaupun Ode sadar dirinya termasuk orang yang juga akan merasa sangat kecewa jika sahabat dekatnya itu sampai putus. Apalagi wanita yang ingin diputuskannya itu adalah seseorang yang pernah menjadi idola kampus, bahkan pernah singgah dalam hatinya. Ode tidak tahu pasti apa alasan kekecewaannya, namun yang jelas ia merasa sangat menyayangkan jika nanti kisah cinta Aryo dan Dona berakhir seperti itu.
”Yo, kamu jangan emosi begitu. Sabar, lebih baik kamu istirahat dulu dan tenangkan dirimu. Tidur saja dulu di kosku, nanti sore baru balik. Gimana?” Aryo terdiam sejenak mendengar kata-kata Ode. Ia hanya mengusap-usap wajahnya yang masih tampak gusar.
”Nggak ah, malas. Ya uweislah. Aku jalan-jalan dulu. Pusing. Pulang ke rumah juga hanya tambah mumet!” Aryo langsung mengambil jaket dan memakainya.
Mendengar perkataan Aryo, Ode diam saja dan tidak lagi melanjutkan pembicaraan. Sekarang ia paham bahwa ternyata Aryo memang sedang mencari teman untuk menumpahkan sedikit kekesalan atas persoalan yang dihadapinya. Dan orang yang dianggapnya bisa membantu, yang seusia dengannya, hanyalah Ode dan Dido. Kepada mereka berdualah Aryo sering datang berkunjung, karena mereka bertiga telah bersahabat sejak pertama kali masuk kuliah. Sebenarnya Aryo tidak sering melakukan hal itu. Biasanya jika ada masalah-masalah sepele, Aryo akan langsung meluapkan amarah dan kekesalannya saat itu juga. Tapi ternyata kali ini Aryo memang sedang ada masalah serius.
Setelah selesai memakai jaket kulit berwarna hitam dan tebal, seperti pakaian para rider kelas dunia, Aryo langsung bergegas menuju motor ninja kegemarannya yang diparkir di halaman kos, tidak jauh dari pintu kamar Ode.
”De, aku balik dulu ya,” kata Aryo sambil menoleh pada Ode yang sedang berdiri di depan pintu kamar kos, ketika Aryo sedang membunyikan motornya yang berwarna hitam metalik.
Ode masih memperhatikan kawan dekatnya yang hendak berlalu tersebut. Penampilan Aryo saat ini memang sangat keren layaknya eksekutif muda. Maklum, pekerjaannya adalah salah satu assistant manager, pada sebuah perusahaan multinasional di Surabaya.
Sejak akhir semester lima, Aryo memang telah mulai belajar bekerja di perusahaan tersebut. Perjuangannya untuk tes bekerja di sana hingga mencapai posisi itu cukup gampang dan tanpa hambatan berarti, karena ayah Aryo termasuk salah seorang pemilik saham terbesar dari perusahaan itu. Awalnya ayah Aryo tidak setuju dan ingin agar Aryo menuntaskan saja sampai lulus baru bekerja. Tapi Aryo memaksa dan penasaran ingin mulai mencoba, alasan lainnya juga karena mata kuliahnya sudah tidak terlalu banyak. Akhirnya ayahnya setuju Aryo bekerja.
Pertama kali menjabat, Aryo pernah mendapat tawaran sebuah mobil sedan dari ayahnya untuk dipakai bekerja. Tetapi Aryo belum ingin menggunakannya karena kebiasaan lama sejak SMA yang sering mengendarai motor balap belum bisa dihilangkannya. Gelora jiwa anak muda masih membakar semangatnya.
Ode mengiringi sampai parkiran. Ia masih kepikiran dengan kejadian yang dialami sahabatnya. Ia ingin coba membantu dan bicarakan hal tersebut pada Dido. Apalagi selama ini mereka berdua yang selalu mendamaikan atau menjaga agar hubungan asmara Aryo dan Dona baik. Menjadi Kurir Cinta yang selalu mengantarkan surat cinta, lebih tepatnya kabar baik yang dapat meningkatkan keromantisan di antara Aryo dan Dona.
“Masalah apa sih yang kamu hadapi, Yo?” batin Ode. Perasaannya gelisah, dan ia jadi tidak sabar untuk segera bertemu Dido dan membahas masalah penting tersebut. Selama ini mereka sudah cukup sering saling membantu, tidak bisa diam membiarkan sahabat dekat dalam masalah.
