Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 5 Overthinking

Keesokan paginya, Rio gegas bangun dari ranjangnya dan memeriksa ponselnya. Dia merasa jika semalam antara sadar dan tak sadar Ziva memegang ponselnya karena memang Rio sengaja tak memasang password di ponselnya.

Apa Ziva semalam memeriksa ponselku, ya? Tapi, pesan ini sudah beberapa jam lalu masuk dan masih belum dibuka. Berarti dia belum mengecek ponselku? batin Rio tak tenang.

“Pagi, Mas.”

Rio terkejut hampir menjatuhkan ponselnya.

“P-pagi, Sayang,” balasnya.

“Kamu kenapa? Kok kaget banget liat aku.” Ucap Ziva membawakan baki berisi sarapan untuk Rio.

“Eng-enggak, nggak apa-apa. Itu, kenapa kamu bawa ke sini? Kan kita bisa sarapan di bawah, Sayang.” Rio melihat baki yang dibawa sang istri dan diletakkan di nakas dekat ranjang mereka.

“Ga apa-apa, aku kayaknya harus ngantor duluan, deh soalnya klienku minta dalam dua hari ini rancangannya sudah harus dikirim.” Ziva memukul-mukul pelan pundak kirinya.

“Kamu terlalu bekerja keras, Sayang. Istirahatlah, rileks kan pikiranmu.” Rio bantu memijat pundak sang istri.

“Mana boleh kita leha-leha, santai-santai, Mas. Apa kamu lupa ucapan papa yang selalu meremehkan kamu…aku…kita? Mas mau derajat kita rendah di mata papa? Aku nggak mau, Mas! Nggak mau!” Ziva terlihat emosi sampai-sampai urat lehernya terlihat.

“Iya…iya, Mas minta maaf. Udah, pagi-pagi jangan marah-marah, nanti rezekinya seret. Mau berangkat jam berapa? Kuantar, ya?” tawar Rio.

“Nggak usah, Mas. Aku naik mobil online aja. Lagipula, mobilku kayaknya udah mau selesai,” jelas Ziva.

“Oh, habis berapa?” tanya Rio.

“Entahlah, belum kutanya. Kenapa? Mas mau bayarin?” seringai Ziva.

“Iya, nanti aku yang bayar,” jawab Rio.

Ziva hanya diam. Meski sang suami dosen, nyatanya mereka terkadang harus bertengkar perihal gaji Rio yang meleset dari tanggal gajian dan terpaksa menggunakan uang Ziva untuk memenuhi kebutuhan bahkan terkadang memperbaiki kendaraan mereka. Ingin mengeluh, tapi Rio adalah pilihan hatinya, secara sehat dan sadar, jadi apa gunanya mengeluh saat ini?

“Udah aku bayar, kok,” ucap Ziva tiba-tiba.

“Lho, katanya tadi nggak tahu habis berapa, kok sekarang…” Rio geleng-geleng kepala.

Karena aku nggak mau kamu direndahkan lagi oleh papa, Mas. Karena sekarang aku adalah miilkmu dan tanggung jawabmu dan aku menikah denganmu karena kemauanku. Batin Ziva segera bersiap ke kantor.

“Aku mandi dulu, Mas.”

Rio mengangguk. Dia duduk di tepian ranjang King size miliknya sambil memeriksa email, serta pesan juga membaca beberapa berita yang disuka.

Me : Selamat pagi, Sayangku. Udah bangun?

Tiga menit pesan yang dikirim Rio tak kunjung dibalas. Tak lama, Ziva keluar kamar mandi berpakaian piyama, Rio buru-buru mematikan ponselnya.

“Udah selesai? Sekarang gantian aku, ya?” ucap Rio cepat-cepat ke kamar mandi.

“Kamu kenapa, sih Mas? Ane banget deh!” Ziva geleng-geleng kepala.

“Engak apa-apa, cuma udah kebelet,” gurau Rio.

Saat sang suami berada di kamar mandi, diam-diam Ziva mencari ponsel milik Rio. Ia menelusuri tiap sudut ranjang namun nihil.

Di mana ponselnya? Kenapa nggak ada, ya? batin Ziva terus mencari.

Pikirannya dari semalam tak tenang saat ia tak sengaja mengintip Rio memegang ponselnya saat sedang menyetir. Tak biasa-biasanya Rio bersikap seperti itu, hanya dalam keadaan emergency Rio akan memegang ponsel di saat menyetir.

“Mana, sih? Kok nggak ketemu?” gumam Ziva terus menelisik.

Rio keluar kamar mandi, Ziva dengan cepat pergi ke lemari pakaiannya dan mengambil setelan pakaian kantor miliknya.

“Kirain kamu udah selesai, Sayang.” Diam-diam Rio memperhatikan sikap Ziva yang kikuk.

“B-belum, Mas. Tadi lagi cari sesuatu,” jelas Ziva salah tingkah.

“Sesuatu apa?” Rio sangat ingin tahu.

“Itu…ah, udah, sih. Kepo banget kamu Mas. Ganti baju dulu sana, nanti baru aku.” Ujar Ziva menuju pintu kamar mereka.

“Lho, bukannya mau berangkat pagian? Kok malah santai-santai?” Rio melihat Ziva agak bingung.

“Pokoknya Mas dulu yang ganti baju!” Ziva buru-buru keluar kamar agar tak terus ditanya Rio. Pikiran Ziva terus terbayang kejadian semalam, sikap Rio yang tak biasa dan teror papa yang terus menghubunginya. Rasanya, Ziva ingin sekali keluar dari Indonesia, jauh dari orang tuanya, hanya hidup dengan Rio, punya anak, dan bahagia.

Kedua manik coklat Ziva langsung tertuju papan gambar yang cukup besar di ruang kerjanya. Desain bangunan museum yang dijanjikannya selesai hari ini ternyata harus molor sampai dua atau tiga hari ke depan.

“Hah, benar-benar bikin frustasi!” Ucapnya seraya memandangi gambarnya yang belum selesai.

Di tempat lain, Rio mengambil ponsel yang ternyata disimpan di kantong piyamanya. Rio sengaja menyembunyikan benda pipih tersebut saat Ziva keluar dari kamar mandi, menyelipkannya di kantong dalam baju piyamanya.

Kenapa Diani nggak bales pesanku, ya? Apa dia benar-benar marah padaku? batin Rio terus melihat ke layar gawainya.

Me : Aku mau siap-siap jemput kamu, bisa?

Kali ini pesan yang dikirim Rio justru centang satu. Hal ini semakin membuatnya panik, takut jika Diani benar-benar marah padanya.

Hah, kadang aku kesal dengan sikapnya yang seperti anak kecil, tapi kenapa aku bisa sayang dan cinta gila padanya, ya? batin Rio terus memperhatikan layar ponselnya.

“Atau kutelepon sajalah.” Rio hendak menghubungi Diani, tiba-tiba Ziva masuk dan Rio terkejut. Buru-buru ia mematikan ponselnya sebelum mengetahui apakah ponsel Diani aktif atau tidak.

“S-Sayang….” gugup Rio melihat Ziva sudah ada di belakangnya.

Sambil tersenyum, Ziva melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Rio, memeluknya erat dan berkata manja, “Anterin aku ya.”

“K-ke mana?” tanya Rio melirik dengan cepat ponselnya, memeriksa apakah sudah mati atau belum.

“Kantor lah. Mana lagi.” Ziva terus memeluk erat sang suami dengan sikap manja layaknya anak kecil. “Pokoknya anterin aku!” rengek Ziva.

“Iya…iya, aku anterin kok, pasti. Memangnya mobilmu belum jadi? Sudah kamu hubungi bengkelnya?” Rio membalikkan tubuhnya, menghadap tepat ke wajah Ziva, melihat wajah mungil dengan pipi chubby-nya.

“Hari ini akan kuhubungi.” Ziva melepaskan kedua tangannya dan berjalan ke walk-in closet-nya.

“Oh, yasudah. Kalau begitu aku turun dulu, ya.” Rio balik badan hendak menuju pintu kamar mereka.

“Ngapain?” tanya Ziva spontan.

“Manasin mobil dong, Sayang. Nyiap-nyiapin keperluanku,” ujar Rio.

Ziva semakin bingung dengan sikap suaminya. Biasanya Rio akan minta disiapkan dan selalu rewel seperti anak kecil, tapi hari ini….

“Oh, yasudah kalau gitu, Mas. Nah, gitu dong, itu baru namanya suami hebat,” puji Ziva meski pikirannya mulai overthinking.

“Aku nggak mau ngrepotin kamu terus, Sayang. Kan kamu udah capek kerja, bantuin aku cari uang, masa hal-hal sepele mesti kamu juga.” Senyum Rio.

Tapi aku suka direpotin kamu, Mas. Itu tandanya kamu memang butuh aku. Batin Ziva hanya mengangguk mengerti ucapan sang suami.

***

Rio yang telah keluar dan menuju garasi, mengeluarkan ponsel dari kantong celananya. Mengendap-endap, ia menelepon Diani sambil lirik kanan-kiri, jaga-jaga jika Ziva tiba-tiba datang.

“Kenapa nggak diangkat, ya? Apa Diani marah beneran?” Rio menghentakkan satu kakinya.

Tak puas, ia menelepon Diani sekali lagi. Kali ini terdengar suara parau layaknya orang bangun tidur.

“Sayang, kamu baru bangun tidur?

[Hnn] ucap Diani singkat.

“Aku kirim pesan ke kamu, dibaca ya.”

[Ngapain? Buat apa? Palingan juga mau bilang aku mau anter istriku , bla…bla…bla] ucap Diani masih dengan suara bangun tidurnya.

Hmm, memang beda spek ras terkuat di bumi. Instingnya macam bilah pedang, batin Rio.

[Masih ada yang mau dibicarakan? Kalau nggak ada, bye!] Diani ingin menyudahi pembicaraan mereka, namun Rio dengan spontan menahannya.

‘E...nanti dulu dong, Sayang. Aku jemput, ya.”

Seketika, mata Diani yang awalnya masih terasa berat terbuka lebar dan langsung menjawab, “Kau gila, Rio!” dan Diani menyudahi pembicaraan mereka.

“Halo…halo, Sayang! Kok dimatiin, sih?”

“Mas-”

“Astaga!” Rio kembali terkejut dengan kehadiran Ziva yang tiba-tiba. “Kamu tuh, dari tadi ngagetin aja, sih! Kaya hantu tau nggak!” kesal Rio.

“Kok marah? Emang aku salah apa?” tanya Ziva bingung.

“Kamu kaya hantu!” balas Rio mengelus dadanya. “Untung aku nggak punya penyakit jantung, kalau punya mungkin udah kumat, Zivaaaa!” Rio menahan emosinya.

“Kenapa sih, pagi-pagi udah kaya toa polisi,” keluhnya.

“Jadi, berangkat jam berapa?” tanya Rio sembari melihat jam di tangannya.

“Males aku kalau kamu kayak gini!” balas Ziva tak acuh.

“Jangan mulai, Ziv, please. Aku lagi pusing banyak kerjaan. Jadi, mau apa nggak aku anterin?” Rio mulai agak menekan kata-katanya.

Kok, Mas Rio jadi kaya gini sih? batin Ziva.

“Terserah!” Ziva membalikkan tubuhnya, mengambil sepatu yang biasa ia pakai bekerja.

Beberapa detik kemudian, ponsel milik Ziva berdering, Rio yang mulai menyalakan mobilnya tak memperhatikan. Dilihatnya nama montir yang memperbaiki mobilnya di layar ponselnya. Dengan cepat, Ziva mengangkat telepon tersebut berharap ada kabar baik.

“Halo, ya Mas, gimana? Mobil saya udah beres?” tanya Ziva membombardir.

[Halo, iya, selamat pagi Bu Ziva. Saya mau mengabarkan jika mobil Ibu sepertinya belum bisa diambil sekarang karena masih ada sparepart yang belum datang] jelas montir tersebut.

Spontan, ekspresi Ziva langsung mendung. Berharap ia dapat menabung untuk membeli rumah sendiri, ternyata keinginannya harus ditunda.

“Terus kapan mobil saya beres, Mas? Udah sebulan loh mobil saya di bengkel Mas atau jangan-jangan Mas ngapa-ngapain mobil saya, ya?” Ziva tersulut emosi.

[Kalau Bu Ziva nggak percaya, silakan datang dan lihat sendiri kondisi mobil Ibu. Buat apa saya berbuat begitu, Bu. Yang ada usaha saya bakal mati! Kalau Ibu mau ambil mobil Ibu, silakan. Saya tunggu hari ini!]

“Yasudah, kerjakan aja, Mas. Yang penting mobil saya bisa seperti sediakala.” Ziva menyudahi percakapan mereka. Kecewa, pusing, dan bingung segera menggelayut di pikirannya. Memang pekerjaannya sebagai arsitek sangat menjanjikan, tapi hal itu berlaku jika ia telah banyak makan asam garam. Ziva baru saja lulus dari kuliahnya di Teknik Sipil, memang dia keluaran universitas luar negeri, tapi pengalamannya yang minim ditambah atmosfer serta budaya kerja Indonesia dan tempatnya dulu magang sangat jauh berbeda membuatnya agak kesusahan beradaptasi, ditambah dia mendapat klien yang baru akan melakukan pembayaran saat gambar rancangan yang diinginkan sang klien selesai.

“Ya Tuhan, mimpi apa aku semalam? Kenapa hidupku malah jadi begini?” gumam Ziva melihat sang suami yang masih ada di dalam mobil dan lagi-lagi sibuk dengan ponselnya.

Sebenarnya kamu sibuk dengan siapa sih Mas? Kenapa kamu nggak mau tahu apa yang kurasakan? batin Ziva, dengan langkah lunglai menghampiri Rio.

“Mas…” ucapnya membuka pintu mobil.

“Ada apa? Kulihat kamu tadi lagi terima telepon. Dari siapa?” selidik Rio.

Oh, ternyata kamu perhatiin juga, Ziva membatin.

“Dari montir yang benerin mobilku,” jelas Ziva.

“Terus apa katanya? Kapan mobilmu selesai?” tanya Rio beruntun.

“Entahlah,” jawab Ziva sekenanya.

“Maksudnya?” Rio menyimpan ponsel di saku kemejanya, Ziva melirik sekilas.

“Ya, nggak tahu kapan selesainya, Mas. Montirnya bilang sih belum bisa diambil hari ini karena ada sparepart yang belum datang,” jelas Ziva lemas.

“Halah, alasan aja tuh biar kamu nanti bayar mahal! Coba kamu cek ke bengkelnya, bener nggak apa yang dia bilang atau jangan-jangan mobil kamu dipretelin, terus dijual. Siapa yang tahu?” ucap Rio menambah pusing pikiran Ziva.

“Aku juga tadi bilang gitu, Mas ke montirnya. Tapi dia bilang mobilku baik-baik dan masih aman, malahan dia menyuruhku ambil mobilnya aja kalau nggak percaya,” Ziva mencoba sabar dan bersahabat dengan mood-nya yang sudah terlanjur jelek.

“Terus, mau kamu ambil nggak?”

“Enggak, Mas,” sahut Ziva.

“Kenapa? Kamu percaya sama ucapan itu montir?” Rio seolah menguji kesabaran dan menyulut emosi Ziva.

“Mas!” seru Ziva. “Kenapa kamu sangat membesar-besarkan masalah mobil, sih? Toh aku yang bayar, bukan kamu! Itu pakai uangku, selama ini juga kalau ada yang rusak atau aku ingin beli sesuatu selalu pakai uangku, kenapa kamu segitunya mempermasalahkan? Mana gajimu? Berapa besarannya? Apa aku pernah tahu?” Ziva seketika emosi hingga membuat Rio membulatkan matanya.

“Ziva! Lancang omonganmu! Aku ini suami kamu, pantes kamu ngomong kaya tadi?” Rio pun tersulut emosi.

“Udahlah, Mas! Nggak usah anterin aku. Mood-ku udah jelek sejak semalam!” Ziva keluar dari mobil dan berjalan cepat keluar garasi menuju depan rumahnya.

Sejak semalam? Maksudnya apa Ziva ngomong gitu, ya? Apa jangan-jangan …

Rio keluar dari mobil dan segera mengejar Ziva.

“Ziv…Ziv…Sayang, tunggu dulu. Jelaskan ucapanmu itu.” Rio menahan kepergian Ziva.

“Ucapan apa? Nggak jelas kalau ngomong!” balas Ziva tak acuh.

“Yang tadi kamu bilang, kalau mood kamu udah jelek sejak semalam. Bukannya semalam kita baik-baik aja? Kita kan makan malam romantis, ketawa-ketawa, terus kenapa kamu bisa bilang mood kamu jelek sejak semalam?” Rio berusaha menata kalimatnya yang dia sendiri bingung harus memulai dari mana agar Ziva tidak curiga.

Ziva hanya diam memandang ke jalanan yang mulai ramai laju kendaraan karena rumah yang mereka tempati memang tak jauh dari jalan raya utama.

“Sayang…ngomong dong, kenapa sih? A-aku minta maaf atas ucapanku tadi. Aku benar-benar menyesal, tolong maafin aku, ya.” Rio menggenggam dan mengangkat kedua tangan Ziva, mencium punggung tangan istrinya dengan tatapan sendu.

“Seharusnya tanpa aku beritahu, Mas sudah tahu,” dingin Ziva menjawab.

“Aku bukan cenayang, Ziv. Mana aku tahu apa yang ada di pikiranmu,” jawab Rio berusaha hati-hati bicara.

Ziva melihat sebuah mobil warna abu-abu mengarah padanya.

“Nggak jadi aku anter?” tanya Rio melihat ekspresi Ziva mulai tak bersahabat.

“NGGAK PERLU!” tegas Ziva melihat mobil abu-abu tersebut mulai mendekat.

“Sayang, maafin aku…aku anter, ya.” Rio menahan tangan Ziva yang hendak membuka pintu.

Dengan napas panjang dan desahan kasar, Ziva membalas ucapan sang suami, “Seharusnya nggak perlu aku kasih tahu, kamu udah tahu jawabnya, Mas!” Ziva masuk ke mobil dan meninggalkan Rio.

Apa jangan-jangan Ziva bad mood karena dia tahu hubunganku dan Diani? Gawat!

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel