Part 07
Kubuat Kau Dan Selingkuhanmu Menyesal
Part 07: Tabungan Santi dikuras Aryo
"Apakah kamu mau membantu aku," tanya Meli kembali. Sorot matanya sayu mengharap uluran tangan Santi agar membantu dirinya.
Santi masih berpikir menentukan pilihan yang amat berat.
"Jikalau kamu tidak mau, nggak apa-apa. Mungkin wanita seperti aku tidak pantas dan tidak layak di tolong oleh wanita yang aku sakiti," ucap Meli. Matanya berkaca-kaca, lalu dia pergi melangkah. Rasa sakit yang terlahir di perutnya sudah mulai hilang.
Ayu mengikuti langkah Meli menuju mobil. Sepatah kata pun tidak ada yang keluar dari tepi bibirnya. Apalagi mau meminta tolong kembali kepada Santi, dia sudah sungkan.
Santi masih berusaha melawan antara perasaan dan kata hatinya. Ia memejamkan mata sejenak mencoba menenangkan hati dan pikirannya. Tiba-tiba, Aryo membuyarkan lamunannya.
"Ngapain lagi kamu berdiri si situ?"
Santi terkejut mendengar perkataan mantan suaminya.
"Pergi sana! Jangan pernah kau datang kembali ke dalam kehidupanku. Dhea, buah hati kita silahkan urus saja sendiri! Jangan pernah menelponku untuk minta tolong masalah dia," ancam Aryo.
"Dhea itu anak kamu juga, Mas! Darah dagingmu sendiri. Masa kamu membencinya, padahal dia nggak ada sama sekali berbuat salah padamu."
Dhea buah hati Santi dan Aryo, kehadirannya membuat Santi untuk berusaha kerja keras agar suatu saat buah hatinya tidak merasakan seperti apa yang dia rasakan. Selama ini kehidupan rumah tangga Santi dan Aryo selalu bahan gunjingan saudara dari mantan suaminya juga tetangganya. Sejak itulah, Santi membuktikan kalau dia bisa sukses dan tidak bergantung kepada keluarga suaminya.
"Mas! Walau bagaimanapun, Dhea itu anak kandungmu. Buah cintamu bersama Santi. Kalau kamu membenci Santi, jangan kamu membenci Dhea," nasihat Alia.
Santi tidak menyangka kalau Alia bijak menasihati Aryo.
"Sayang! Duluan saja kamu masuk ke dalam. Jangan pernah ikut campur masalah aku dan mantan istriku," seru Aryo.
Alia mengikuti perintah Aryo. Dia takut kalau Aryo curiga pada dirinya.
"Aku kasih perhitungan sama kamu, jika tidak mau, silahkan angkat kaki dari rumahku ini dalam hitungan tiga. Apabila tidak mau, aku teriak kamu sebagai maling atau kuseret paksa agar kamu keluar dari sini."
Aryo melangkah mengelilingi Santi sambil memberi waktu kepada mantan istrinya.
"Lebih baik aku pergi secara terhormat daripada kau usir paksa. Sebelum aku pergi, jika esok, ada rasa sesal yang mendera hatimu, jangan pernah datang kembali padaku.
Santi melangkah pergi dengan dada sesak. Kehadirannya ke rumah Aryo untuk menyampaikan pesan Dhea kalau dua minggu lagi buah hatinya ulang tahun. Mendengar jawaban Aryo, dia mengurungkan niatnya untuk menyampaikan pesan Dhea.
Di pojok tepat garasi mobil, "Meli! Jangan paksa dirimu menyetir," larang Ayu.
Meli masuk ke dalam mobil miliknya. Mau tidak mau dia terpaksa menyetir. Meskipun sudah dilarang keras mbaknya. Ayu tidak mau kalau Meli mengambil resiko yang fatal karena pikirannya belum stabil.
"Aku bisa kok, Mbak," balas Meli keras kepala.
Santi bingung mau naik apa pulang ke rumahnya. Dari tadi dia mengotak-atik ponselnya untuk pesan transportasi online, sudah dua menit tidak ada sama sekali ditemukan. Akhirnya dia luluh juga untuk membantu Meli, walaupun dalam keadaan pasrah, tapi tidak rela.
"Mbak, aku mau membantu menyetir mobil milik Meli," ucap Santi.
Ayu berhenti dan mengarahkan tubuhnya ke asal suara itu.
"Se-serius?" tanya Ayu terbata. Dia laksana mendapat mukjizat yang tak disangka-sangka.
Santi mengangguk dan mengulas senyum.
"Bu-bukan bohong 'kan?" tanya Ayu meyakinkan.
"Aku serius, Mbak."
Sementara Meli sudah menekan pedal gas untuk melaju pergi.
"Meli," teriak Ayu dan Santi serentak.
Ayu dan Santi berlari menghentikan Meli, agar tidak menyetir mobil itu.
"Meli jangan lalukan itu! Jangan pernah mencelakai dirimu kedua kalinya," ucap Ayu sambil menggedor-gedor kaca mobil tepat di samping Meli.
Meli sama sekali tidak menghiraukan apa yang dikatakan Ayu. Dia menyetir mobil yang sudah siap melaju. Netranya melahirkan mendung. Membuat pandangannya tidak jelas. Genangan air matanya luruh laksana anak sungai.
"Mbak! Ayo kita kejar Meli," ucap Santi.
Meskipun rasa sakit hati yang ditorehkan Meli sangat pilu, dia tidak menaruh dendam sama sekali. Tidak ada haknya untuk membenci ataupun menghardiknya.
"Iya, Mbak," balas Ayu.
Ayu dan Santi bergerak cepat masuk ke dalam mobil. Tidak lupa memasang seat belt, setelah semua sudah aman, Ayu menstarter mobil dan menginjak tuas gas. Tidak membuang waktu, Ayu menyetir mobil mengejar Meli dengan kecepatan tinggi.
"Akhirnya para toxic pergi juga dari rumahku ini," ucap Aryo.
Dia menutup pagar dan kembali masuk ke dalam rumah.
"Sayang, kamu nggak boleh bersikap seperti itu," ucap Alia memulai pembicaraan di ruang tamu.
Alia memberanikan diri untuk menasihati Aryo. Meskipun hasilnya tidak diterima Aryo.
"Sudahlah! Nggak usah dibahas lagi. Lebih baik membicarakan masa depan kita."
Aryo mendengus kesal. Dia melangkah menuju kamar. Tubuhnya sudah merasa gerah meladeni mantan istrinya. Sementara Alia sibuk memainkan gawainya di ruang tengah.
[Mbak! Langkah apa yang harus aku lakukan untuk menguras harta Mas Aryo.] Alia mengirim pesan chatt kepada Santi.
Dari tadi Alia memperhatikan pesan chatt nya kepada Santi, tidak ada sama sekali centang biru. Akhirnya dia memutuskan untuk memikirkan rencana lain sesuai perjanjian dengan Santi.
"Sayang! Kenapa melamun?" tanya Aryo. Dia tiba-tiba datang laksana jelangkung.
"Mas, buat kaget saja." Alia mengukir wajah cemberut.
Aryo mengukir senyum sambil mengusap kepalanya dengan handuk. Tubuhnya dibalut handuk kimono.
"Gitu saja kaget!"
Aryo semakin suka melihat wajah Alia yang cemberut. 'Wajah seperti itu saja masih cantik, apalagi di usia senjanya nanti,' ucap Aryo dalam hati.
Aryo melandingkan bobotnya di atas sopa dekat Alia. Dia tidak bisa jauh dari Alia. Tanpa basa-basi, Aryo mencubit hidung mancung Alia.
"Sakit, Mas!" ucap Alia manja.
"Bagaimana kalau kita pergi beli mobil?" tanya Aryo spontan.
Tidak ada hujan tidak ada angin, tiba-tiba Aryo mengajak Alia pergi beli mobil.
"Sayang! Nggak boleh boros loh. Lebih baik beli motor saja."
Aryo mengulas senyum, dia tidak menyangka wanita di depannya sangat rendah hati.
"Aku nggak mau calon istriku kena sinar matahari kalau pergi ke sana kemari. Aku takut wajah anggunmu luntur."
Alia bergeming, berpikir sejenak untuk melarang Aryo agar tidak membeli mobil.
"Kok diam, sayang," tanya Aryo. Dia merebahkan kepalanya di atas paha Alia.
"Ntar tabunganmu habis! Aku nggak mau hidup miskin kalau sudah menikah denganmu," jawab Alia.
Aryo semakin jatuh cinta sama Alia. Kehadiran Alia membuat hatinya nyaman dan tenang.
"Pokoknya kamu tenang saja! Uang tabungan mantan istriku masih banyak. Aku sudah menarik semuanya dari ATM-nya dan menyimpan uang itu ke ATM baruku tanpa sepengetahuan Santi."
Alia mengangaga dan terkejut mendengar penuturan Aryo.
"Serius?" tanya Alia
"Iya! Kamu nggak percaya?" tanya Aryo.
"Kalau begitu aku mau beli mobil, tapi harus namaku. Bolehkah, sayang?" ucap Alia.
"Lebih dari mobil aku berikan kepadamu, asalkan kamu mau menjadi istri ketigaku," tanya Aryo.
Aryo menatap lekat kedua bola mata Alia. Pandangannya membuat dirinya kasat mata dan tidak sadar diri.
Bersambung ....
Next?
