Bab 1: Dikhianatin Mentah-Mentah
Jessy susah payah dorong kursi rodanya sampai depan kamar. Di tangannya ada kado yang dia siapin pake hati banget — cangkir keramik buatan tangannya sendiri. Dari dulu dia percaya, kado terbaik itu yang dibikin sendiri. Semua perasaan tulusnya dia tuangin ke cangkir itu.
Hari ini ulang tahun Jeft. Dia mau kasih kejutan.
Cowok itu tiap hari kerja banting tulang, mungkin masih tidur. Udah setengah bulan mereka nggak ketemu. Dia cuma pengen lihat muka tidurnya sebentar aja.
Tapi baru nyampe depan pintu kamar, dia denger suara cewek dari dalam.
“Mas Jeft, kamu beneran mau nikah sama Jessy? Dia kan cewek buntung sebelah…”
Jessy langsung nge-freeze. Ngintip lewat celah pintu, dia lihat tunangannya, Jeft, lagi rebahan mesra di ranjang bareng adik tirinya sendiri, Jenny.
“Nikah? Ya jelas nikah. Hanya kalau Aku nikahin dia, dia bakal rela kasih cincin warisan Ibunya ke saya.” Jeft nyengir dingin.
“Kalau barangnya udah dapet, kamu ceraiin dia ya?” Jenny nengadah, matanya penuh harap.
Jeft ketawa sinis. “Dalam hidup Aku cuma ada jadi duda. Nggak ada tuh kata cerai.”
Jenny cekikikan manja. “Kamu jahat banget sih…”
“Kamu suka nggak?” suara cowok itu serak.
“Suka…”
Habis itu lanjut lagi mereka mesra-mesraan.
“Plak!”
Cangkir di tangan Jessy jatuh dan pecah berantakan.
Dia panik dorong kursi roda, tapi rodanya nyangkut, nggak bisa gerak.
“Siapa tuh?” suara dari dalam kaget.
Jeft loncat dari kasur, cuma pake handuk nutupin bawahnya, terus keluar. Begitu lihat Jessy, dia bengong.
“Jes… kamu kok tiba-tiba pulang?”
Jessy ketawa pahit. “Kalau Aku nggak pulang, mana bisa nonton drama murahan ini?”
“Jes, dengerin Aku jelasin dulu…”
Dia udah atur semuanya. Nggak mungkin bebek matang terbang gitu aja.
Dia narik kursi roda Jessy kenceng banget. Jessy cuma punya satu kaki, tenaganya lemah. Dia nggak bisa ngelawan.
Jenny juga keluar, cuma balut sprei, pura-pura nangis sambil pegang tangan Jessy.
“Kak, maafin aku. Ini salahku. Jangan salahin Mas Jeft. Aku cuma pengen jadi ceweknya… tapi aku nggak bakal ngerusak pernikahan kalian. Kakak tetep bisa nikah kok.”
Denger itu, Jessy rasanya mau gila.
“Lepasin aku! Dasar anjing-anjing nggak tau malu!”
Dia angkat tangan, tampar Jenny keras banget. Bekas lima jari langsung nongol di pipinya.
“Jen, kamu nggak apa-apa?” Jeft panik ngecek mukanya.
Jenny cuma geleng.
Tiba-tiba Jeft berubah dingin.
“Jessy, jangan sok jual mahal. Kamu pikir Aku nikahin Kamu karena cinta? Kalau bukan karena barang warisan Ibu kamu, Aku mau nikah sama kamu? Ngaca dong! Kamu cuma punya satu kaki! Kalau kita nikah, Kamu pikir Aku mau nyentuh kamu? Aku jijik, tau nggak? Kaki yang harusnya jenjang malah tinggal bekas luka segede mangkok!”
Badan Jessy gemeteran. “Kaki Aku cacat gara-gara nyelametin kamu! Sekarang Kamu bilang jijik?”
“Kalau Kamu nggak pernah nyelametin aku, Aku juga nggak bakal lirik lo!” suara Jeft makin dingin.
Jessy ketawa. Ketawa sambil nangis.
Cuma Tuhan yang tau apa aja yang udah dia korbankan demi cowok itu.
“Kakak ipar, kamu pergi aja dulu. Biar aku yang jelasin ke kakak. Tiga hari lagi kalian nikah, undangan udah disebar. Jangan gara-gara aku jadi ribut. Aku mundur kok, biar aku yang ngomong.”
Denger kata “kakak ipar” sambil inget barusan mereka mesra-mesraan, Jessy pengen muntah.
Jeft cuma mendengus lalu pergi.
Jenny berdiri di belakang Jessy, dorong kursi rodanya ke balkon.
“Jenny, jangan sentuh aku!”
Kursi roda berhenti di balkon. Jenny berdiri di depan jendela kaca gede, suaranya santai banget.
“Kak, kamu tau nggak siapa yang nabrak kaki kamu?”
Jessy langsung ngangkat kepala.
Jenny senyum manis — topengnya selalu rapi.
“Aku. Hahaha… Kamu pasti mau nanya kenapa aku mau nabrak Mas Jeft, kan?”
“Kamu bego banget. Ngapain aku nabrak dia? Aku tau kamu cinta mati sama dia. Pasti kamu yang bakal lompat nolongin dia.”
Jessy ngerasa lagi lihat iblis.
“Segitu banget Kamu benci aku?”
“Iya! Aku benci kamu! Harusnya Aku yang jadi Nona Besar keluarga Ye! Ayah sama Ibu Aku pacaran duluan! Tapi Ibu Kamu nyelonong masuk! Ibu Kamu jadi istri sah, Ibu Aku cuma jadi istri kedua! Aku dari anak bangsawan turun jadi anak haram!”
Dia makin emosi.
“Semua yang Kamu punya harusnya punya aku! Vila itu, perusahaan itu, Jeft juga harusnya milik aku! Aku cuma ambil yang jadi hak aku!”
Jessy suaranya dingin.
“Hak kamu? Vila itu milik Ibu aku. Perusahaan itu milik kakek aku. Kalau Ibu Aku nggak nikah sama Ayah, Ayah juga cuma orang nggak punya. Dari awal Kamu nggak pernah jadi nona besar.”
“Dan satu lagi. Ayah yang ngejar Ibu aku. Ibu Aku nggak tau dia punya pacar.”
“DIAM!” Jenny histeris nutup mulut Jessy.
Dia benci banget ekspresi Jessy yang dingin dan nggak peduli itu. Seolah semua yang dia rebut mati-matian cuma sampah di mata Jessy.
Tiba-tiba Jenny ketawa lagi, suaranya genit.
“Oh iya, kamu tau nggak? Setelah kecelakaan, kaki kamu sebenernya masih bisa diselametin. Tapi Ibu Aku yang tanda tangan buat amputasi.”
“Dan habis itu, tiap hari Ibu Aku campur sesuatu ke makanan kamu. Makanya badan kamu makin lemes. Ngerasa tenaga kamu makin habis kan? Hahaha!”
Dia ketawa kayak orang gila.
Akhirnya ekspresi Jessy berubah. Tubuhnya gemetar.
“Kalian ibu-anak emang nggak tau malu. Tapi mau cincin warisan Ibu aku? Mimpi.”
“Jessy, kalau Kamu pinter, kasih itu cincin. Aku mungkin bakal biarin Kamu hidup.”
Jessy senyum tipis.
“Mi-mpi.”
Begitu ngomong, tangannya dorong kursi roda kuat-kuat.
Kursi roda meluncur dari balkon.
Di detik jatuh itu, dia lihat muka Jenny pucat pasi.
Dia ambil cincin giok merah dari saku, masukin ke mulut, terus ditelen.
Jenny.
Jeft.
Kalian mati-matian pengen cincin itu, kan?
Sekarang ada di perut aku.
Sampai mati pun, kalian nggak bakal dapet.
---
Reborn
Gelap.
Seluruh badan rasanya remuk kayak habis digilas truk.
Alisnya sedikit bergerak, Jessy pelan-pelan buka mata.
Yang pertama dia lihat adalah lampu kristal mewah di langit-langit. Cahayanya terang banget sampai bikin silau.
Dia nengok kiri kanan.
Kamar ini… familiar tapi juga asing.
Ini… Hotel Y.
Dulu, pertama kali dia kehilangan kesuciannya, ya di sini.
Sejak kejadian itu, dia nggak pernah lagi mau nginjek tempat ini. Jadi kenapa sekarang dia ada di sini?
Jessy duduk di kasur, otaknya muter pelan, nginget kejadian terakhir.
Dia loncat dari balkon…
Dia nggak mati?
Nggak mungkin. Setinggi itu. Dengan kondisi cuma punya satu kaki. Mana mungkin dia selamat?
Dia coba bangun, siap-siap nahan sakit seperti biasanya.
Tapi—
Nggak ada rasa berat. Nggak ada rasa susah.
Dia duduk dengan gampang banget.
Jessy bengong. Refleks, tangannya nyari kaki kanan.
Ada.
Kakinya… ada.
Dengan napas gemetar dia buka selimut.
Dua kaki utuh.
Lengkap.
Normal.
Air matanya hampir jatuh saking nggak percayanya.
Dia sadar tubuhnya telanjang. Cepat-cepat narik seprai buat nutup badan, lalu turun dari kasur.
Dia loncat-loncat kecil di lantai.
Nggak ada sakit. Nggak ada rasa aneh.
Ini bukan kaki palsu.
Ini kaki aslinya.
Dia lari ke depan cermin.
Di sana berdiri seorang gadis dengan wajah muda banget. Mata besar yang jernih. Kulitnya masih penuh kolagen.
Sejak kehilangan satu kaki, dia hampir nggak pernah senyum. Jarang keluar rumah. Bahkan nggak berani tatap mata orang.
Sekarang—
Gadis di cermin masih bersih. Masih polos.
Tangannya gemetar menyentuh wajah sendiri.
Lalu buru-buru ambil ponsel dan cek tanggal.
Lima tahun lalu.
Dia… kembali ke lima tahun lalu.
Tuhan masih sayang padanya.
Dia pernah baca novel-novel reinkarnasi penuh drama murahan. Nggak pernah nyangka hal kayak gini bakal kejadian ke dirinya sendiri.
Di kehidupan ini—
Dia bakal hidup baik-baik.
Cinta diri sendiri.
Lindungi warisan ibunya.
Dan bikin si bajingan sama si cewek murahan itu bayar semuanya.
Kalau Tuhan kasih dia kesempatan kedua, pasti bukan tanpa alasan.
Tapi kenapa nggak dikasih lebih awal? Bahkan sehari lebih cepat pun cukup buat ngehindarin kejadian ini.
Karena di cermin, selain wajah muda itu…
Ada bekas-bekas memalukan.
Dia memang lolos dari jebakan pria yang diatur Jenny.
Tapi dia malah nyasar ke kamar orang asing.
Dan tetap kehilangan kesuciannya.
Sampai mati pun dia nggak pernah tahu siapa pria pertama dalam hidupnya.
Malam itu dia dibius. Setengah sadar. Waktu bangun, pria itu sudah pergi.
“Klik.”
Tiba-tiba pintu kamar mandi kebuka.
Jessy kaget dan langsung nengok.
Uap air masih tebal.
Dari dalam, samar-samar terlihat sosok pria.
Sepasang kaki panjang dan kuat melangkah keluar, menapak lantai basah.
Akhirnya dia keluar sepenuhnya.
Rambutnya masih sedikit basah. Tangan memegang handuk, lagi lap rambut. Pinggangnya cuma dililit handuk putih.
Tubuhnya tinggi, proporsinya nyaris sempurna.
Wajahnya… kayak pahatan es dan giok. Indah, tapi bikin merinding.
Tatapannya dingin, sedikit menilai.
“Udah bangun?” suaranya rendah, agak serak habis mandi. Serak yang justru… terdengar seksi.
Jessy mengatupkan bibir, nggak jawab. Matanya waspada.
Kenapa ada orang di sini?
Di kehidupan sebelumnya, waktu dia bangun, kamar ini kosong.
