Bersyukur
Mungkin inilah cobaan Eliana, Allah mungkin sedang rindu akan air matanya. Air mata yang entah kapan terakir kali menetes, ia selalu bahagia, hari ini di mana rumah tangganya sedang diuji haruskah ia bertahan apakah harus melepaskannya?
"Non El, pangkling aku kirain siapa tambah cantik saja," ucap Simbok.
"Iya Mbok, Do'ain ya. Biar El kuat jalaninnya."
"Iya, Non tenang saja, pasti Mbok dukung terus kok!"
"Makasih, Mbok."
Sejenak Eliana menghilangkan penat di dalam dadanya, ia begitu grogi jika harus menghadapi sidang perceraiannya. Apa pernikahannya benar-benar akan hancur. Eliana menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang hingga ruhnya berjalan ke alam mimpi.
Udara malam masih begitu dingin, Eliana menarik selimut hingga menutupi tubuhnya hingga azan menggema dari sudut ruangannya. Eliana turun ke bawah membantu si Mbok untuk menyiapkan sarapan pagi juga bersih-bersih rumah.
Terdengar lantunan ayat-ayat Al Qur'an dengan merdunya. Sesaat Eliana terpana, Eliana mendekat ke arah suara dan benar itu suara terdengar dari kamar Reindra, hati Eliana bergetar hebat, bahkan selama ini ia lupa bagaimana caranya bersyukur kepada Allah.
Bulir bening keluar dari sudut matanya.
Ia melangkah dan membantu Mbok Siti memasak, selesai ia menggendong dan memandikan Daffa. Hatinya dirundung duka melihat lelaki yang tak lain adalah sahabatnya begitu sopan juga taat beribadah. Tidak seperti dirinya, Eliana mengusap air mata di pipi, tetapi Eliana juga sadar jika dirinya pun bisa berubah.
Ketika Eliana berbalik dan hendak melangkah ke dalam gazebo, Eliana dikejutkan dengan satu sosok lelaki yang berdiri di depannya
"Mas Rein," ucap Eliana spontan kala lelaki itu berdiri tepat di hadapannya.
"Lo kaget banget El. Kayak ngeliat hantu," kata Reindra yang tak beranjak dari tempatnya berdiri.
"Iya kaget, Mas."
"Hey Daffa sudah ganteng aja, sini Om gendong."
Eliana menyunggingkan sebelah bibirnya. "Serius? Bisa gendong, Mas?" tanyanya
"Bisa lah."
Mendengar jawaban Reindra membuat Eliana tersenyum. Ia mengekori Reindra dari belakang mereka berjalan ke arah taman kota di dekat rumah mereka. Jantung Reindra berdegup sangat kencang. Ini kali pertama mereka jalan-jalan setelah begitu lama mereka terpisah.
Mereka melangkah melewati trotoar di sebelah kiri jalan menuju taman kota. Suara kicau burung terdengar merdu di pepohonan rindang pinggir jalan. Angin pagi, membui mereka dengan perasaannya masing-masing.
Tangan Eliana sedikit bergetar saat tersentuh dengan tangan Reindra. Eliana menatap lekat wajah tampan Reindra, hingga tak mereka sadari sudah sampai di taman kota.
"Kita sudah sampai Daffa, El."
Eliana mengangguk pelan dan tertunduk, lalu melepaskan jabatan tangannya. Detak jantungnya semakin kencang manakala lelaki itu menyebut nama anaknya.
"Terima kasih sudah mengajak jalan-jalan Daffa," ucap Eliana sambil tersenyum
Reindra kembali mengangguk dan melihat wajah Eliana yang cantik tanpa polesan.
Detak jantung Reindra perlahan kembali normal. Sengaja Reindra menggendong Daffa agar Eliana tidak tahu jika dirinya begitu gugup. Merka duduk di taman kota, sambil menikmati lalu lalang sepeda juga anak-anak muda sepak bola, ada yang bermain bola basket juga freestyle. Hari minggu suasana taman jadi ramai anak-anak muda bermain.
Mereka kembali pulang dan berjalan lagi beriringan melewati trotoar sebelah kiri jalan. Berjalan di bawah pepohonan yang rindang, suara burung bersautan berkicau membuat pagi ini begitu cerah secerah hati Eliana.
"Cantik kamu pagi ini El." Ucapan itu membuat Eliana menjadi malu setengah mati.
"Pagi-pagi lo, Mas, bahkan aku belum mandi."
Ada senyum terukir di bibir Reindra "ich bau. Awali setiap harimu dengan hati yang bertaqwa dan selalu berenergi positif Eliana, Insya Allah harimu akan berkah
Di mana saja kamu berada."
Eliana mengangguk, sesaat kemudian semburat merah mulai terlihat jelas di kedua pipinya. Kebahagiaan terpancar di mata polos Eliana.
"Hehe iya, siap diterima motivasinya, Mas."
Reindra menggangguk pelan. "Iya."
Angin pagi mengiringi perjalanan mereka, terlihat beberapa orang menyapa Reindra. Begitulah mereka begitu sopan saat menegur Reindra.
"Entah jika tak ada Mas, aku tak tahu. Makasih untuk perhatianmu untuk Daffa."
Reindra perlahan menarik napas panjang. "Iya ... satu hal El dalam keadaan apapun jangan tinggalkan solat."
"El telah jauh meninggalkan solat?"
"Allah akan mengampuni dosa-dosamu El, berubahlah sebelum terlambat."
Eliana menatap ke arah Reindra."Iya."
Reindra bisa merasakan luka gadis di sampingnya. Eliana sakit meski harus di selingkuhi suaminya, sementara Reindra harus menderita karena seseorang telah meninggalkannya.
-
beberapa keadaan yang telah mereka lalui bersama. Selama ini, Satria memang memperlakukan Eliana sebagai pelampiasan lelah. Jika bukan dengan cara membentuk dan menyuruhnya membersihkan rumah, maka usai melepas hasrat Satria akan berbalik memunggunginya dan tertidur.
Pikiran Satria benar-benar kacau saat bertemu dengan Eliana lagi. Saat ia melamun ada suara ketukan pintu membuyarkan lamunanaya.
"Assalamu'alaikum."
Dengan berat Satria berjalan membuka pintu. "Wa'alaikumsalam."
"Mama."
"Satria, Mama rindu ... mana Daffa kok sepi, Mama sudah rindu sekali?" tanya sang Mama membuat Satria diam seribu bahasa.
"Mana, Dafa dan Eliana, Satria?"
Satria terdiam.
"Satria."
"Eliana dan, Daffa pergi, Ma."
"Apa! maksudnya pergi, Satria?"
"Maaf, Ma, Satria khilaf dan sudah menalak Eliana."
Satria tak berani mendongak melihat ke arah mata Mamanya.
"Astaghfirullah ... keterlaluan kamu Satria, apa kesalahannya? Bagaimana Mama harus bicara pada orang tuanya, 'hah?"
Seketika wanita paruh baya itu duduk tak mengerti apa yang dilakukan anaknya. Sesak dalam dadanya mendapati menantu kesayangannya tak ada lagi di rumah ini.
Akhirnya Satria bercerita dari awal hingga akhir. Satria tahu jika skandalnya hanya akan menambah masalah baru di dalam keluarganya.
"Mama nggak nyangka kalau aku punya anak pecundang. Zein lihatlah kakakmu ini hebat bukan dia. Menambah masalah lagi, orang tua Eliana sudah sedikit meleleh hatinya. Eh, sekarang kelakuan kakakmu ini membuat masalah baru, padahal Mama tidak pernah mendidikmu seperti ini, Satria."
"Sudah jangan nangis lagi. Ma, semua sudah terjadi kan! Ingat kondisi Mama." Kata Zein menenangkan Mamanya.
"Janjimu mana Satria akan memperlakukan Eliana dengan baik, hah."
Wanita paruh baya itu tersenyum di antara tangisnya.
"Mungkin Mama bodoh Satria tapi Mama tahu Eliana gadis yang begitu baik. Mama kecewa ... ayo Zein kita pulang tidak ada gunanya Mama di sini melihat kakakmu persis kayak penjahat."
"Maaf, Satria salah, Ma."
Mereka berdua berdiri. Zein menggandeng Mama keluar dari rumah Satria.
"Mama, maafkan Satria."
Mereka akhirnya meninggalkan rumah Satria.
"Maafkan Satria, Ma."
"Mama maafkan kamu kalau kamu kembalikan, Eliana juga cucu, Mama. Daffa."
Sesaat tubuh Satria beku. Entah harus bagaimana caranya agar Eliana akan memaafkannya. Satria hatus berjuang mendapatkan hati Eliana lagi.
-
Purnama berlalu, Reindra mengajak Eliana belanja bulanan. Mobil berjalan meninggalkan rumah Reindra, Eliana menatap ke arah luar cendela. Ada beberapa lampu penerangan di pinggir jalan yang terlihat terang. Hawa dingin menusuk mulai. Sepanjang perjaterasamereka terdiam tanpa ada percakapan. Eliana memperhatikan jalanan sedangkan Reindra fokus menyetir.
Tak lama mobil berbelok ke halaman parkir di sebuah mall di tengah kota besar. Itulah satu-satunya pusat perbelanjaan yang ada. Mereka masuk dan memilih ke lantai satu. Suasana cukup ramai malam itu, mereka langsung mencari bahan pokok juga sayur mayur ikan, ayam, dan daging. Serta sabun dan pampers untuk Daffa, tak lama dua keranjang kereta telah penuh.
"Mas Rein, El ke toilet sebentar ya?"
"Baiklah nanti aku tunggu di resto, ya." Reindra menunjuk tangannya ke arah resto lantai atas.
Eliana mengamgguk. "Iya."
Eliana berjalan ke arah toilet, selesai ia langsung berjalan ke arah Reindra namun langkahnya terhenti tatkala ada suara yang menaggilnya.
"Eliana ...."
Eliana menghentikan langkah lalu membalikkan badannya.
"Mas Satria."
"El apa kabar?"
"Alhamdulillah, baik."
"Emm, kumohon, Mama menyuruh kita balikan, El."
"Apa, Mama tentang penghianatanmu?" tanya Eliana lirih.
Satria menggeleng.
Apa Satria memang melewatkan banyak hal berharga selama ini? Hingga Eliana begitu membencinya sekarang.
"Lalu!"
"Beri aku kesempatan sekali lagi, El. Aku mohon," ucap Satria.
Eliana terdiam.
"Kita perbaiki dan mulai semuanya dari awal," ucap Satria seolah memohon.
"Apa jaminan kalau, Mas Satria akan berubah? Aku capek tak pernah dianggap ada." Eliana menyeka sudut matanya yang basah.
Hujan yang Satria rindukan akhirnya tumpah di mata Eliana. Satria tahu ia tengah berupaya meredam gemuruh suka cita dalam dadanya. Satria tahu ia masih begitu mencintai Satria hingga tak kuasa menahan haru sebab untuk kesekian kalinya Satria menghiba mengharap Eliana kembali.
"Biarkan aku membuktikannya, El." Satria bicara serius.
"Maaf, Mas. Semua sudah terlambat." Eliana berbalik dan melangkah menjauh, meninggalkan luka yang kembali tergores di relung hati.
"Eliana ...."
Rasanya seperti tengah tertampar, Satria begitu ceroboh hingga skandalnya ketahuan.
Reindra menunggu Eliana, sepertinya tak mungkin jika ke toilet. Jika memang ke toilet pasti ia sudah kembali, Reindra menunggu dengan cemas.
"Maaf, Mas. Lama."
"Minum dulu, keburu dingin teh hangatnya."
Reindra curiga terlihat mata Eliana sembab.
"Iya baiklah. Maaf tadi antre, Mas Rein."
Reindra tahu jika ada yang disembunyikan di balik wajah Eliana yang terlihat begitu gugup dan penuh luka.
