Pustaka
Bahasa Indonesia

Kenikmatan Surga Dunia

169.0K · Tamat
Pujasera
115
Bab
51.0K
View
9.0
Rating

Ringkasan

Astaga, ternyata di dalam toilet pria ini ada yang sedang bercinta. Tapi aku nggak bisa mengenali suara itu karena mereka cuma berbisik-bisik aja. Penasaran, aku coba tempelkan telingaku ke daun pintu, siapa tau bisa kedengaran lebih jelas. ” Aaahh ahhh paaak pelaan jangan ahh aaakkh.” “Aaakh aku mau keluar sayang, terima cairanku ini yaa.” “Eehmmpp eeeeemmmmpphhh.” ” terima cairanku sayang, telan semuaanyaa.” “Ihhh bapak cairannya kok banyak banget pak, sampe nggak muat ni mulut saya, mana kena kerudung saya lagi kan, ntar kalo ada yang tau gimana pak.” “Hahaha, nggak papa sayang, nggak akan ada yang tau. Bapak horny banget tadi, ngentotin kemem sempit kamu sambil ngebayangin si Ara, cantik banget dia malam ini pake gaun pengantin itu, hahaha.” “Ah bapak, yang dipepew saya yang dibayangin orang lain.” DEGH..!

RomansaFantasiDosenDewasaPerselingkuhanKawin KontrakKampusSweetWanita Cantikplayboy

Bab 1

Pesta malam itu berlangsung cukup meriah. Sebuah pesta pernikahan berkonsep garden party, lokasinya di halaman belakang sebuah gedung pemerintahan di daerah utara Yogyakarta, suasana terasa hangat dan romantis dengan iringan musik jazz. Kedua mempelai terlihat membaur bersama para tamu, mencoba menampakan keakraban mereka. Halaman gedung ini cukup luas, bagian belakang berbatasan dengan lahan persawahan yang dipisahkan oleh pagar bambu setinggi pinggang yang cukup terawat dengan baik. Kalau hari-hari biasa selalu sepi, cuma beberapa lampu taman yang dinyalakan, tapi malam ini terlihat berbeda, terang benderang.

Tri Budi Septianto (Budi, 26), sang mempelai pria sebenarnya ingin pesta yang sederhana saja untuk resepsinya ini, tapi orang tua sang mempelai wanita, Tiara Dharma Saraswati (Ara, 24) jelas tidak setuju. Di keluarga Budi ini adalah pernikahan ketiga setelah kedua kakak perempuannya, tapi di keluarga Ara ini adalah pesta pernikahan pertama dan satu-satunya karena Ara adalah anak tunggal, jadi keluarga itu menginginkan pesta yang meriah. Ayah Ara, Pak Wijaya adalah seorang perwira tinggi di lingkungan kepolisian daerah provinsi itu, tentu dia memiliki kolega yang tidak sedikit untuk diundang ke pesta pernikahan anak semata wayangnya.

Pak Wijaya begitu gampang dekat dengan Budi sejak pertama kali dikenalkan Ara 2 tahun yang lalu. Pria tampan yang sering dipanggil Cacing oleh teman-temannya di kampus ini memberikan kesan yang sangat baik bagi keluarga Wijaya. Pria bersahaja yang mempunyai selera humor tinggi, diimbangi dengan wawasan dan kecerdasan diatas rata-rata membuat siapa saja akan merasa nyaman bila berbincang dengannya. Ditambah lagi kesamaan hobby dengan Pak Wijaya membuat mereka nyambung kalo ngobrolin masalah sepak bola, terutama klub favorit mereka yang kebetulan sama, si setan merah dari Inggris.

Budi sekarang bekerja di salah satu bank BUMN. Agak kurang nyambung dengan latar belakang pendidikannya yang banyak mempelajari bidang programming dan informatika, tapi tak jadi soal, karena sekarang dia sudah di posisi yang nyaman. Dia memiliki rumah serta kendaraan dari hasil pekerjaannya itu. Awal bekerja memang dia kesulitan dengan bidang yang sama sekali baru buat dia, tapi semangatnya serta dukungan rekan kerja dan atasannya membuat dia cepat menguasai bidang barunya itu. Ditambah saat dia pacaran dengan Ara yang basic pendidikannya berkutat di keuangan dan pembukuan banyak sekali membantu Budi.

Setelah 2 tahun berpacaran, Budi berniat untuk melamar pujaan hatinya itu. Dengan berani dia datang ke rumah keluarga Wijaya dan menyampaikan niat baiknya. Keluarga Wijaya yang memang sudah menunggu Budi untuk melamar anaknya langsung saja menyetujuinya karena melihat Budi adalah sosok yang tepat untuk anaknya. Dan akhirnya digelarlah pesta meriah malam hari ini setelah tadi pagi dilakukan upacara sacral ijab qabul di sebuah masjid di dekat rumah Ara.

Pak Wijaya dan istrinya yang kini sudah berkepala 5 terlihat begitu bahagia menyapa tamu dan koleganya. Tak lupa mereka mengajak dan memperkenalkan besannya kepada setiap tamu yang datang. Orang tua Budi yang telah 4 hari berada di Jogja juga begitu bahagia melihat anak bungsunya kini telah berkeluarga. Terlibat perbincangan hangat dengan tamunya, orang tua Budi nampak takjub dengan banyaknya tamu yang datang yang mayoritas adalah kolega dari keluarga Wijaya.

Waktu sudah menunjukkan pukul 20.00, hampir 15 menit Budi menghampiri dan ngobrol dengan tamunya yang tak lain adalah kawan akrabnya semasa kuliah. Ihsan, Dimas dan Sakti bersama Budi adalah 4 sekawan saat itu. Meskipun tidak ada yang satu jurusan, tapi mereka dekat dan akrab karena selama 4 tahun lebih di Jogja tinggal di 1 tempat kost. Tempat yang menjadi saksi bisu suka duka yang mereka alami bersama, hingga sama-sama tahu sifat dan rahasia masing-masing, meskipun tidak semuanya. Budi, Ihsan dan Dimas memang tidak pernah tau sebuah rahasia yang disimpan rapat oleh Sakti, sebuah rahasia yang penuh dengan gairah dan pengkhianatan.

“Wah, gagah kowe saiki Cing, ora koyok mbiyen (wah, gagah kamu sekarang Cing, nggak kayak dulu),” canda Dimas.

“Lha iyo tho Dim, wes makmur makane gagah, hahahaa (Lha iya lah Dim, udah makmur makanya gagah),” jawab Budi.

“Udah nggak bisa dipanggil Cacing lagi dia sekarang Dim, hahaha,” sambung Sakti.

“Halah, sekali Cacing yaa tetep Cacing, hahaha,” Dimas tak mau kalah.

“Tapi makasih banget lho Cing, candaan kita kemarin malah kamu kabulin beneran,” ucap Ihsan mengalihkan pembicaraan mereka.

“Ya buat sahabat yang jauh-jauh datang lagi ke Jogja, itu sih nggak masalah San,” Jawab Budi sambil tersenyum ke mereka bertiga.

Budi memang menyediakan hotel khusus buat teman-temannya itu. Ihsan kini telah bekerja dan tinggal bersama istrinya di Aceh, Dimas juga telah bekerja di sebuah perusahaan tambang di Kalimantan, sedangkan Sakti kembali ke Jakarta untuk meneruskan usaha orang tuanya. Budi sendiri, yang sebenarnya orang Jawa Timur kini telah bekerja dan menetap di Jogja

“Lha mana istrimu Cing? Kamu kok malah nyamperin kita-kita sendirian aja?” Tanya Dimas.

“Nggak tau ya, tadi sih sama temen kantornya, paling lagi nyapa temen-temennya. Lha istrimu sendiri mana?” jawab Budi sambil celingukan mencari istrinya.

“Tadi sih sama istriku Cing. Biasalah emak-emak kalo udah ketemu kayak gimana, hahaha” ucap Ihsan yang kami sambut dengan tawa

“Hahaha, gitu yaa kalo emak-emak?” tanya Sakti.

“Nah kamu ini kapan Sak mau nyusul kita-kita? Biar tau kalo punya istri tu gimana,” todong Ihsan. Yang ditanya cuma cengar-cengir aja.

“Hehehe, ntar lah kalo udah bosen main-mainnya, hahaha,” jawab Sakti sambil tertawa.

“Wooo dasar PK,” sambut ketiga temannya yang sekilas mengundang perhatian orang di sekitar mereka.

Mereka memang mengetahui kalo Sakti suka gonta-ganti cewek, entah sudah berapa cewek yang pernah dibawanya ke kost, sampai tidak tau lagi mana pacar Sakti yang sebenarnya. Sakti sekali lagi hanya nyengir kuda mendengar seloroh ketiga temannya itu, dia teringat kembali saat masa kuliah dulu entah berapa banyak cewek yang sudah dia gagahi di kamar kostnya, termasuk pacar ketiga temannya itu.

***

POV Ara

Tiara Dharma Saraswati

on wedding dress

Waah senang banget aku malam ini, bahagia, haru, pokoknya campur-campur deh, benar-benar jadi ratu semalam. Banyak sekali teman-temanku yang datang, ditambah lagi kolega-kolega ayah dan teman-teman dari mas Budi suamiku. Kulihat suamiku sedang berbincang dengan gengnya yang dia bilang sahabat-sahabatnya waktu kuliah dulu, terlihat dia sedang asyik disana. Aku sendiri juga sedang nemuin tamu-tamu yang tak lain adalah rekan kerja dan teman semasa kuliah dulu.

Pesta malam ini memang konsepnya garden party, jadi setelah acara salam-salaman dan foto bersama selesai kamipun membaur dengan para tamu, diiringi musik jazz kesukaan suamiku menjadikan suasana malam ini begitu hangat. Suamiku awalnya cuma kepingin pesta yang sederhana aja, tapi ayahku nolak karena ini adalah pesta pernikahan anak satu-satunya jadi mau dibuat semeriah mungkin. Kalo aku sih jelas setuju-setuju aja lah, hehehe. Kami sempat kesulitan buat nyari gedung, karena coba menghubungi kesana kemari sudah full booking semua, untung saja aku dapat ijin dari Pak Dede, kepala dinas tempat aku bekerja untuk menggunakan halaman belakang kantor kami sebagai tempat pestanya. Yaa lumayan bisa irit budget, hehehe.

Bersambung...