Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

7. Gadis Polos

Sesuatu apa yang sudah seharusnya terjadi, maka sebesar apapun usaha kita untuk berhati-hati pasti akan terjadi. Apapun itu, baik hal baik atau hal buruk sekaslipun, tak akan bisa kita menghindari yang namanya takdir.

Selama aku mengerjakan tugasku, pikiranku terpecah pada ucapan seniorku tadi. Baru kutahu dari bajunya, jika ia bernama Ardi. Mungkin karna kau terlalu sibuk dengan fikiranku sendiri, sampai aku ditegur customerku.

"Mbak. . .Halloooo!," seru customeku.

"I-iya Mbak, ada apa ya?," tanyaku tergagap.

"Pijatannya enak banget, aku ngantuk nih kalau nanti udah selesai bangunin ya, aku mau tidur dulu." ucapnya padaku.

Aku hanya mengangguk dan tersenyum sungkan. Bagaimana tidak ini customer pertamaku, namun aku udah ke-gep sibuk dengan fikiranku sendiri. Aku buru-buru fokus dan terus melakukan pijatan.

Beruntungnya ia suka dengan pijatanku. Sehingga aku merasa mendapat semangat lebih dalam bekerja. Setelah hampir 2 jam aku melakukan tugas treatmen ini, akhirnya selesai juga perkerjaanku. 

"Peemisi Mbak, udah selesai ini. Maaf, silahkan duduk sebentar ya!," pintaku membangunkannya.

"Hoammm. . .aku tertidur lama ya Mbak, maaf ya habis pijatannya enak banget." ucapnya tersipu.

Aku hanya tersenyum dan beegegas membilas kembali kakinya yang terkena minyak. Selepas itu kukeringkan kembali kaki mulus itu dengan handuk yang telah aku siapkan sebelumnya.

"Bagaimana Mbak, pijatanku?," tanyaku keminta komentarnya.

"Enak Mbak pas banget buat aku, tapi lain kali jangan melamun ya. Kalau ketemu customer yang bawel bisa kena omel loh nanti." tuturnya padaku.

"I-iya Mbak, makasih sarannya. Oh iya mau minum apa teh, jahe apa air putih, ada lagi nih free soft drinknya mau diambil tidak ya?," tanyaku padanya.

"Jahe aja Mbak biar hangat ini badan. Soft drinknya buat Mbaknya aja, terserah deh mau ambil apa." jawabnya padaku.

"Baik Mbak, tunggu sebentar ya!. Sebelumnya makasih buat soft drinknya," ucapku.

Aku bergegas menuju pantri untuk membuatkan secangkir jahe hangat untuk kostomerku. Ada perasaan lega tersendiri saat bisa menyelesaikan treatmen ini dengan lancar, apalagi tanpa komplain dari customer.

Setelah minuman jadi aku bergegas menyajikannya. Aku sangat senang sekali saat mendapat tambahan tips khusus dari cutomerku. Kata para senior jika beruntung kita akan banyak mendapatkan uang tips tambahan ini.

Semua sudah beres, bahkan aku juga sudah membersihkan bekas tempatku bekerja tadi. Saat aku naik menuju lantai 3, di tangga tak sengaja aku bertemu senior Ardi kembali.

"Sudah bereskah kerjaanmu?," tanyanya penuh selidik.

"Sudah Mas." jawabku ragu.

"Ikuti aku?," pintanya.

Bak kerbau dicucuk hidungnya, aku hanya diam dan menututi ucapannya. Entah mengapa rasa engan yang dari tadi hadir seolah hilang begitu saja.

"Kita mau kemana Kak, nanti kalau ada yang nyariin bagaimana?," tanyaku penuh selidik.

"Nggak usah khawatir, aku ini senior terlama disini. Sudah sepatutnya kamu mengikuti kemauanku!." serunya, ia terus menarik tanganku dan membawaku ke lantai 4.

Rasa takut dan khawatir tiba-tiba saja mengingapiku. Apalagi aku tadi belum sempat bilang sama Zuzun juga, takut jika nanti ia mencariku. Terlebih lagi jika nanti ia malah meninggalkanku pulang sendiri ke penginapan traning center.

"Ma-mau ngomong apa ya Kak?," tanyaku gugup.

Ia tak menjawab pertanyaanku, bahkan matanya terus saja menatapku dengan tatapan tajam. Hatiku sangat gemetar dan takut jika terjadi sesuatu padaku.

"KAK ARDI!" seruku memanggilnya.

"Nggak usah keras-keras begitu kali, aku juga belum bud*g kali!," jawabnya, sontak saja membuatku sangat terkejut.

"Iya maaf, habisnya dari tadi Kakak cuma diam. Jangan lama-lama Kak, takut jika Zuzun nanti mencariku," ucapku padanya.

"Ya udah, sini tulis nomer ponselmu!," pintanya. Ia menyerahkan ponsel miliknya padaku.

Biar urusan cepat kelar, tanpa rasa curiga aku tulis begitu saja nomer kontakku. Aku berharap secepatnya bisa pergi dari tempat ini. Apalagi disini kami hanya berdua, takut terjadi fitnah yang muncul kemudian.

Setelah urusan beres aku bergegas turun ke lantai 3 tanpa menunggu persetujuannya. Kebetualan jam kerja juga sudah habis, jadi aku dan Zuzun bersiap untuk kembali ke traning center.

Sesamapainya dipenginapan, seperti biasa kami harus memberisihkan lingkungan traning center ini. Tak apalah dari pada aku harus sewa kost, hitung-hitung menghemat pengeluaranku.

"Mit, kamu tadi dari mana sih sehabis kerja, tak cariin lama banget enggak ada?," tanya Zuzun padaku.

"A-aku tadi diajak ngobrol sama Mas Ardi. Meski agak takut mau gimana lagi, sungkan juga mau menolak." jawabku ragu.

"Hah. . .Ardi, cowok pendiam dan misterius itu Mit. Emang ngobrolin apa tadi?," tanya Zuzun penuh selidik.

"Biasa sih Mak, basa-basi dan minta nomer ponselku." jawabku santai.

"Hati-hati loh kamu Mit, jangan-jangan kamu mau dijadiin gebetannya. Besok-besok jangan mau deh diajak berduaan lagi dengannya!," ucap Zuzun mengingatkanku.

"Iya-iya Mak, aku taku kok. Tujuanku kesini kan juga kerja, tak mungkin aku macam-macam." jawabku menenangkannya.

Setelah ngobrol panjang lebar dengan Zuzun, kami bergegas gantian mandi dan mencari makan malam. Beruntungnya, di solo ini ada warung makan atau HIK yang buka sampai dini hari. Apalagi disini harganya juga cukup murah, jadi sangat membantuku dalam penghematan.

Makan malam sudah lewat. Waktunya kami berdua rebahan dengan dunia masing-masing. Aku membuka aplikasi biru yang berada dalam ponselku. Ternyata disana ada permintaan pertemanan. Saat kulihat siapa orang itu, ia adalah Ardi senior yang mengajakku ngobrol tadi.

[Haii, Mita], sapanya saat petemanannya sudah aku terima. Kebetulan dia juga lagi online.

[Haii juga, ini Mas Ardi ya?.] balasku kemudian.

[Iya, udah tau pake nanya segala. Basa basi nggak penting banget!].

balasnya ketus. Melihat balasannya, aku hanya terdiam bingung mau balas apa lagi.

[Btw, kamu ini kok cantik banget ya Mit.] tulisnya lagi.

Pesannya hanya kubaca saja, tanpa ada niat untuk membalasnya. Aku malah kepo dengan akunya, kubuka setiap beranda bahkan album fotonya. Aku sangat terkejut, ternyata ia telah memiliki anak dan juga istri.

Kulihat ternyata anaknya baru saja lahir. Hal yang membuatku heran, mengapa ia malah mendekatiku?. Bukankah seharusnya ia tengah sibuk dengan buah hatinya.

[Kok nggak balas pesanku sih, marah ya?]. Tanyanya padaku.

Entah kenapa aku menjadi ilfil padanya. Takut juga jika nanti diketahui oleh istrinya, bisa-bisa aku dituduh palakor. Lebih parahnya lagi aku bisa saja dilabrak dan diviralkan oleh istri sahnya, hih. . . Membayangkannya saja aku sudah begidig ngeri sendiri.

[Ya udah selamat malam, met tidur. . . Moga bisa mimpiin aku ya]. Tulisnya lagi.

Meski kesal, entah mengapa aku masih saja bisa tersipu malu seperti orang yang sedang jatuh cinta. Masak iya aku jatuh cinta pada suami orang. Hadeh, jangan sampai deh.

[Thanks]. Balasku singkat.

Pikiranku mulai mengembara kemana-mana. Apa sih sebenarnya yang aku inginkan?. Aku secepatnya harus bertanya secara langsung apa sebenarnya yang ia mau.

[Mit, aku tuh suka sama kamu]. Pesannya lagi.

DEG.

Bagai disambar petir, aku sangat terkejut membaca pesan darinya. Aku harus balas apa, takut juga jika menyinggung perasaannya. Apalagi ia merupakan senior disini, takut juga jika berpengaruh dengan kerjaanku.

Ada yang bisa bantu aku, aku harus balas apa pesan Mas Ardi, gimana rasanya disukaii suami orang??.

bersambung

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel