4. Kebaikan Ibu
4. Kebaikan ibu
Hati manusia tak ada seorangpun yang bisa menerka dan menebaknya. Terkadang orang yang selalu kita anggap baik, suatu saat juga berbuat jahat kepada kita. Begitupun sebaliknya orang yang jahat tak selamanya akan jahat, terkadang ada sisi baik yang sering kali muncul tanpa bisa kita duga.
Aku sungguh tak menyangka jika ibu bisa berubah menjadi baik padaku. Pagi ini aku sangat bahagia sekali, mengingat hari ini ibu akan mengajakku ke toko membeli beberapa helai baju untukku.
Tak biasanya ia bersikap baik seperti ini, tapi sungguh hati ini sangat bersyukur. Apalagi seharian kemarin aku tak mendengar lagi omelan yang keluar dari mulut ibu, apakah ia benar-benar telah berubah menjadi baik padaku?.
"Mit, MITA!," teriak ibu memanggilku.
"Iya-iya Bu, sebentar," jawabku, aku segera keluar dari kamar dan menemui ibu yang tengah duduk santai didepan Tv.
"Kok belum siap-siap sih, kita kan mau beli baju, sana buruan!," pinta ibu padaku.
"Iya Bu sabar, aku ganti baju dulu ya," jawabku, aku bergegas kembali ke kamar dan memakai baju terbaik yang aku punya selama ini.
Aku sangat tidak sabar untuk memebeli baju, apalagi ibu yang membelikan baju. Sangat jarang sekali ia mau berbaik hati padaku, tiap hari ada aja kesalahan yang kulakukan dimatanya.
Setelah mematut diri didepan cermin sederhana kamarku, aku tak lupa menyemprotkan parfum pada baju ini. Yah, meski tidak baru tapi kalau harum kan akan membuat orang lain merasa nyaman dekat dengan kita.
Tap. . .
Tappp. . .
"Bu, aku udah siap." ucapku saat tiba didekat ibu.
"Nah gini kan cantik kamu Mit, yuk berangakat!," ajaknya padaku.
"Iya Bu, kita ke pasar aja ya Bu biar harganya bisa kita tawar," ucapku menimpali.
"Kita beli ke toko donk, biar dapat barang yang berkualitas. . .sekalian kita beli ponsel buat kamu," sahut ibu antusias.
"Be-beli ponsel Bu, nggak usah deh kan Mahal," tolakku halus.
Bukannya aku tak mau, tapi takut juga jika dibilang nglunjak oleh Ibu. Dibelikan baju dan ibu bersikap baik padaku aja udah Alhamdullilah sekali buatku. Apalagi ini dibelikan ponsel, betapa senangnya hati ini.
"Ponsel itu penting banget Mit, apalagi kita kan bakal jarang bertemu. . .makanya harus bisa komunikasi lewat ponsel, tolong jangan ditolak!," pintanya padaku.
Aku hanya tersenyum dan mengiyakan permintaan ibu. Semoga saja ibu benar-benar tulus berubah baik padaku. Aku berjanji tak akan mengecewakan beliau sedikitpun.
Aku dan Ibu akhirnya berangkat ke toko yang jaraknya lumayan jauh dari rumahku. Meski harus naik angkot sampai dua kali ibu terlihat begitu antusias. Senyum manis selalu tersungging disudut bibirnya.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, akhirnya kami sampai juga dipusat pertokoan yang lumayan terkenal di daerahku. Ibu langsung menuntunku kesebuah toko yang katanya langganan beliau sejak dulu.
"Mit, kita kesana yuk. . .harganya lebih murah dan barangnya bagus-bagus juga!," ajak ibu padaku.
"Iya Bu, aku ngikut maunya ibu aja." jawabku singkat.
Bagaimana aku nggak mau ngikut beliau, aku teramat asing dengan tempat ini. Maklum saja aku terbilang jarang bisa masuk ketoko ini, bahkan bisa terhitung dengan jari.
Sesampainya didalam toko ibu bergegas memilih aneka baju remaja kekinian yang katanya biar pas untukku pakai nanti. Aku hanya bisa diam dan mengikuti setiap gerak geriknya.
"Eh Ibu, mau cari apa?, ini anaknya ya," tebak ibu pemilik toko.
"Iya nih Jeng, mau nyariin baju yang pas untuk anakku," jawab ibu antusias. Tangannya begitu lihai memilih setiap helai baju yang terpajang.
"Oh, iya Bu. . .silahkan dipilih semoga ada yang disukai ya." ucap pemilik toko antusias.
Setelah cukup lama berkutat dengan aneka baju. Ibu memilihkan lima helai baju untukku, katanya biar aku bisa beganti-ganti ditempat kerja nanti.
Aku begitu bahagia, apalagi pemilik toko juga memberiku dua potong baju sebagai hadiah untukku. Dengan senang hati aku menerima pemberian itu.
Selepas membeli baju, ibu bergegas mengajakku kesebuah konter yang berada disamping toko. Disini menyediakan ponsel baru dan juga bekas layak pakai.
"Mit, ponselnya bekas saja tak apa kan ?," tanya ibu padaku.
"I-iya Bu, yang penting bisa buat komunikasi kita dulu ntar kalau aku udah punya uang, aku bakal beli sendiri kok." jawbaku kemudian.
Akhirnya setelah cukup lama memilih aneka ponsel, ibu membelikanku ponsel bekas yang masih layak untuk kupakai. Dari segi tampilannya pun aku juga suka, karna seperti milik teman-temanku.
Semua yang aku butuhkan sudah aku dapat, akhirnya kami kembali pulang ke rumah. Yah meski harus naik angkot nyampe dua kali tak apalah.
Tap. . .
Tap. . .
Langkah kaki kami sampai juga didalam rumah. Aku bergegas menjatuhkan bobot tubuh ini pada kursi tamu sederhana milik kami. Begitupun dengan ibu, rasa lelah tergambar jelas pada raut wajahnya.
"Bu, makasih ya udah mau membelikan semua ini buatku," ucapku pada ibu.
"Iya sama-sama, ini kan juga penting buatmu besok. . .jangan sampai kamu malu memakai pakaian jadul yang kamu miliki selama ini!." jawab ibu.
Aku hanya bisa terdiam dan memaksakan bibir ini untuk tetap tersenyum. Benar juga kata ibu, banyak sekali bajuku yang wudah ketinggalan jaman. Aku jarang sekali dibelikan pakaian oleh ibu, kalau pun beliau mau membelikan pasti pakaian bekas pakai.
"Eh. . .Mit, klinik apa sih sebenarnya tempat kerjamu itu?," tanya ibu penasaran.
Deg.
Aku hanya bisa terdiam tak tau harus jawab apa. Aku saja belum tau pasti nantinya seperti apa kerjaanku. Sedang ibu telah memberondongku dengan kerjaanku nanti.
"Mit, jawab donk. . . Jangan diam aja!," pinta ibu padaku.
"Kemarin kan belum dijelasin Bu, jadi aku belum tau pastinya." jawabku ragu.
"Bagaimana sih kamu ini Mit?, harusnya kamu tanya secara mendetail jangan malah tak tau apa-apa, kalau salah kerja kamu nggak nyesel!," seru ibu padaku.
Benar juga apa yang dikatakan ibu, aku harusnya tanya lebih detail dengan pekerjaanku nantinya. Bagaimana pun juga ini juga menyangkut masa depanku nanti. Klinik apa sebenarnya tempat kerjaku ini.
bersambung
