Bab 7
“Cieee yang dilamar.”
Robi menghampiri Dara yang saat itu sedang bertamu ke rumahnya. Gadis itu memegangi cincin yang diberikan oleh Gio kepadanya. Ekspresi Robi juga tidak bisa berbohong setelah lihat sepupunya akan menikah sebentar lagi. Mereka memang sudah lama sekali pacaran, sudah waktunya untuk mengikat hubungan itu bukan?
Robi hanya bisa mendukung apa pun yang jadi keputusannya Dara setelah memilih Gio yang akan jadi suaminya. Hingga dia tidak bisa menolak lagi kalau yang akan jadi suaminya Dara ternyata pria yang sangat menyebalkan selama ini yang sudah berusaha membuat Dara mati rasa dengan pria lain.
Banyak pria tampan dan kaya yang menginginkan Dara, tapi entah kenapa Gio yang selalu berhasil meluluhkan hatinya Dara apa pun yang terjadi. Hanya bisa mendukung tanpa mau menghakimi Gio itu seperti apa.
Tatapan Dara tidak bisa dibohongi lagi, kalau dia sangat bahagia pulang dari kantor, dijemput oleh Gio untuk makan malam bersama. Lalu pulang ke rumah Robi dengan cincin bertengger di jari manisnya. Sungguh itu momen yang pasti membuat Dara sangat bahagia.
Gio menjanjikan pernikahan sebentar lagi. Jadi Robi juga dukung itu kalau memang mereka berdua akan menikah sebentar lagi.
Tatapan wanita itu sangat ramah sekali. “Kak, nanti datang bawa pasangan, ya!”
“Ya kapan pastinya aja dulu. Kan itu bisa diurus nanti. Kamu sama Gio sudah tentukan tanggal?”
Dara mengangguk dengan cepat. “Sudah, dua bulan dari sekarang mau nikah.”
Robi menjepit kepalanya Dara di ketiaknya. “Aku dilangkahi makhluk kecil ini.”
Arga lihat keponakannya sangat bahagia yang sebentar lagi akan menikah dengan kekasihnya. Ketidaksukaan Arga terhadap Gio tidak bisa dilawan. Pria itu akan menikahi keponakan yang paling disayanginya. Hubungannya dengan Leta tidak baik sampai saat ini. Karena orangtuanya tidak pernah meminta Leta untuk berkunjung ke sini pastinya.
Arga juga tidak berharap banyak dari keponakannya satu itu. Meski dia melakukan banyak pengorbanan, keponakannya tetap tidak menganggap dia sebagai seorang paman yang layak dihargai. Leta dari dulu memang memiliki sikap yang sedikit menyebalkan.
Rasa pedulinya Arga juga kian menyusut kepada satu keponakan yang tidak mau dianggapnya berlebihan itu. Suara gelak tawa Dara dan Robi yang bercanda sedikit menyadarkan dia bahwa mengikhlaskan keponakannya menikah dengan pria yang dipilihnya akan jadi pilihan terbaik juga bagi Dara, harus diterima oleh Arga apa pun yang terjadi.
“Nanti Om kasih hadiah bulan madu kamu sama, Gio,” hanya itu yang bisa dikatakan oleh Arga pasca dia mendengar kalau keponakannya dilamar oleh Gio.
Biarkan saja mereka berdua akan menikah. Nanti juga akan tahu bagaimana cara selesaikan masalah itu sendiri. Dara menolehkan kepala ke arahnya. “Yang benar, Om?”
“Ya, Om akan lakukan itu. Kamu mau ke mana?”
Robi melepaskan jepitan kepalanya Dara di ketiaknya barusan lalu berkata. “Tuh dikasih hadiah bulan madu. Nanti kalau bulan madu, pulangnya bawa berita garis dua.”
Dara menyengir malu mendengar ucapan dari Robi, keinginan Dara yang selama ini akhirnya bisa terwujud dengan pernikahan bersama orang yang paling disayanginya. “Akhirnya, Om. Dia mau diajak nikah. Beberapa kali Om ragukan dia karena tidak ada kepastian, dia buktikan juga, ya.”
Arga tidak pernah meragukan Gio tapi merasa kalau pria itu memang tidak ada niat untuk menikahi Dara dari dulu. “Ya, Om salah waktu itu,” dia berkilah karena merasa bahwa dirinya juga tidak mau terlihat sangat benci kepada Gio. Itu adalah haknya Dara mau apa pun juga bersama dengan Gio.
Kalau pernikahan itu bisa membuat Dara jauh lebih bahagia. Maka dia akan biarkan keponakannya menikah dengan Gio dan memulai hubungan rumah tangga yang memang akan dimulai berdua nanti.
Meskipun dengan melangkahi Leta.
Dara sangat sayang sekali pada Leta, tapi tidak pernah dia ungkapkan bagaimana sayangnya kepada sang kakak. Tapi juga tidak pernah mampu dia ungkapkan bagaimana dirinya itu bisa sayang kepada Leta, mereka selalu punya perbedaan. Mereka sering bertengkar untuk hal yang tidak perlu lagi mereka pertengkarkan saat dewasa. Leta selalu jadi pemenang, karena Dara tidak akan pernah jadi pemenang dalam pertengkaran itu.
Gadis itu menyentuh cincinnya yang terlihat indah sekali. Meskipun Gio mengatakan itu tidak mahal, tapi tidak apa-apa. Yang penting Dara bahagia dengan pemberian Gio usai makan malam mereka. Lalu kemudian tiba-tiba saja Gio mengatakan dia ingin menikah lebih cepat. Jadi, Dara juga yang mendapatkan kabar itu senang sekali dengan pertanyaan Gio.
Oh ini rasanya dilamar, seperti sebuah bunga teratai yang ada pada sebuah danau yang tetap berada pada permukaan dan tetap indah. Suasana hatinya Dara yang juga seperti sedang mengapung lantaran dilamar tadi.
“Dampak bahagia kamu nular sekali, Dara,” Robi memberitahu dengan jujur bahwa semua orang yang ada di rumah ini pasti bahagia mendengar kabar baik soal pernikahan Dara yang sebentar lagi akan terlaksana.
Menerima lamaran dari Gio tidak perlu lagi ada keraguan yang dirasakan oleh Dara kala itu. “Aku juga senang kok, Kak. Karena itu sudah lama sekali aku tungguin,” suara Dara terdengar juga sangat ceria untuk kali ini.
Dia tersenyum bahagia waktu dia melihat lagi cincinnya. Oh suasana hatinya sudah baik sekali untuk kali ini. Tidak akan mungkin bisa dia perlihatkan lagi kalau dia tidak bahagia.
Biarpun dia bertengkar dengan Gio beberapa kali, pria itu sudah punya tujuan untuk menikahi dirinya tanpa mau menunda lagi pernikahan mereka berdua. Bagi seorang Dara yang selama ini menjalin hubungan penuh kesabaran, berbuah manis dengan kenyataan sekarang.
Yang saat itu tentang bekas ciuman di lehernya Gio juga sudah dijelaskan oleh Gio bahwa itu tidak disengaja waktu dia sedang mabuk. Gio memikirkan soal pernikahan mereka. Dara tidak terlalu ambil pusing selama dia bisa dapatkan Gio dengan pernikahan itu.
Kelembutan tatapan gadis itu memancarkan aura yang menular ke yang lainnya bahwa dia bisa bahagia seperti sekarang.
Wanita itu tersenyum. “Tante sama Om dulu bulan madu ke mana?”
“Nggak ada bulan madu, Dara. Om kamu sibuknya luar biasa. Bahkan Robi pun lahirnya di rumah. Bantuan bidan sih. Tapi emang nggak sempat ke rumah sakit. Rumah Tante sama Om dulu dekat klinik, jadi bidannya yang ke rumah.” Wanita itu tertawa sambil menjelaskan.
Robi berdehem melirik orangtuanya. “Dar, kamu tahu? Aku ngerasa anak istimewa sekali dengan ini. Kenapa malah bidannya yang ke rumah coba? Harusnya mereka yang ke sana, kan?”
“Halaaah, sama saja. Toh nggak ada yang perlu diributkan dulu. Kamu ya lahirnya emang di rumah. Mau bilang apalagi coba? Tapi kalau Dara nanti, rencanakan soal anak dengan baik sama Gio. Kalau kamu mau lahiran, usahakan dia bisa ambil cuti.”
Dara juga sudah sampai bahas itu dengan Gio tadi, Gio juga sudah sanggupi itu. Ia akan berada di rumah.
“Ya sudah, kamu istirahat saja. Besok kita ada pertemuan sama Arvin. Ingat ya, kamu harus bisa jaga sikap sama dia. Orangtuanya itu adalah pelanggan paling utama kita. Dia yang bakalan wakili orangtuanya besok.”
“Arvin?” tanya Dara soal pria yang dimaksud.
Robi mengangguk. “Ya Arvin, penerusnya perusahaan PT. Khansa Indonesia.”
“Ya tapi maksud aku dia itu siapa, Kak?”
Arga menghela napasnya. “Anaknya Pak Khadafi, Dara. Kamu nggak ingat? Yang beberapa bulan lalu sampai undang kita ke rumahnya. Kamu nggak ikutan, kebetulan anaknya baru pulang dari luar negeri.”
“Oh jadi penerus?”
“Ya, tapi ya kamu harus tahu. Anaknya ini penggila belajar. Dia S2 sudah beberapa kali, lebih tua dari Robi. Tapi kalau soal belajar dia berpendidikan tinggi sekaligus ya bisa dikatakan enggak bakalan masuk di nalar kita kalau bahas dia. Soalnya beda sekali,” Arga mengingatkan soal pertemuan yang tidak dihadiri oleh Dara.
“Nggak pantes sama cewek biasa dong, Om?”
“Ya gitu deh, pasti nyari yang setara juga. Tapi serius, ya. Dia itu pendidikannya tinggi sekali, Dara. Om sama Pak Khadafi juga sampai nggak bisa komentar. Katanya anaknya ini sudah berusaha dijodohkan. Anaknya nolak sama dokter.”
“Sama dokter aja nggak mau, apalagi sama yang lain, Om.”
“Nggak gitu juga, Dara. Dia pasti mau istrinya itu di rumah. Dokter itu berkarier, dia akan di rumah sakit, takut kalau nanti nggak ada waktu. Alasan Arvin sih begitu, lebih suka wanita di rumah.”
“Hilliiih, alasan doang paling. Kalau nanti istrinya di rumah dia selingkuh. Sama dokter itu bagus lho sebenarnya.”
“Beda orang beda cara pandang, Dara. Robi juga nggak mau sama yang berkarier kok, kamu tanya saja dia. Apa pernah dia kenalin ceweknya itu seorang wanita yang sibuk? Nggak ada malah. Intinya seorang pria kalau sudah sama wanita yang bekerja, harus siap dengan berbagai sisi. Istrinya sibuk, dia nggak boleh nuntut. Terkadang ada juga pria yang mau istrinya bekerja biar bantu nafkah, kan. Ada juga yang malah malas-malasan kalau istrinya kerja. Itu parah sekali, Dara.”
Pria itu mengangkat jempolnya. “Ya, nggak semua, Dara. Nggak semua orang juga bisa diatur.”
“Arvin juga menolak karena dia punya alasan. Pasti juga sama-sama memiliki pemikiran sendiri. Kamu nggak bisa simpulkan begitu saja soal dia. Kan kita nggak tahu, mungkin dia nolak juga karena punya alasan sendiri. Mau dia dokter, mau jabatannya apa kek, kalau sudah nggak cocok ya susah, Dara. Ini kan kita bicara bukan soal materi, ya. Mungkin juga Arvinnya nggak mau kalau misal dia bekerja terus perusahaan dalam keadaan terpuruk terus dia nggak kerja, istrinya yang kerja. Dia pasti mikirin matang-matang.”
“Aku juga nggak bakalan kerja kalau nikah sama Gio, Om.”
“Ya itu kesepakatan kalian berdua. Tapi ya udahlah, biarin aja. Kamu istirahat sekarang. Besok ingat pertemuan sama dia itu harus sopan, dia utamakan etika soalnya.”
