Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 4. Syarat Wasiat Beracun

"Kau boleh memegang seluruh saham perusahaan, tapi syaratnya mutlak, kau harus menikah dalam waktu satu bulan." Paman Dhandra tersenyum licik di balik kepulan asap cerutunya.

Cahaya lampu meja kerja mahoni memantulkan bayangan asap kelabu yang mengepul di udara ruang baca perpustakaan pribadi kakek.

Arkael berdiri tegak di hadapan meja besar tersebut, menatap lembaran dokumen hukum yang dibentangkan oleh Jenar dengan tangan sedikit gemetar menahan amarah.

Di sekeliling ruangan, Dhandra Mozaus dan istrinya, Kalandra, berdiri berdampingan dengan senyum kemenangan yang sulit disembunyikan di wajah mereka.

"Syarat menikah?" Arkael menyipitkan mata, menatap tajam ke arah sang paman. "Apa hubungannya kepemilikan saham pengendali dengan status pernikahan?"

"Kakekmu ingin memastikan bahwa pewaris takhta Mozaus bukan hanya seorang berandalan jalanan yang tidak tahu aturan, melainkan kepala keluarga yang mapan secara sosial," jawab Dhandra santai, menjentikkan abu cerutunya ke asbak kristal. "Dan, klausul tambahan di halaman tiga menyatakan dengan jelas, jika dalam waktu tepat tiga puluh hari terhitung sejak hari ini kau gagal melangsungkan pernikahan sah, seluruh hak suara mayoritas dan sahammu akan otomatis hangus dan berpindah tangan kepada dewan keluarga."

Arkael membalik lembaran kertas tebal itu dengan cepat, membaca setiap butir pasal hukum yang tertera di sana.

Darahnya mendidih seketika.

Klausul itu dirancang bukan sekadar sebagai syarat formal, melainkan sebuah jebakan maut yang dipersiapkan matang-matang agar ia gagal total dalam batasan waktu yang sangat sempit.

Dhandra sengaja menjebaknya di sudut ring, berharap ia akan menyerah atau salah mengambil langkah hukum.

"Ini jebakan murahan," seru Arkael dingin, suaranya menghantam dinding perpustakaan dengan penuh tekanan. "Kau sengaja memasukkan klausul ini di detik-detik terakhir agar aku tidak punya waktu bernapas!"

"Jebakan atau bukan, hukum adalah hukum, Tuan Muda," potong Jenar Baskara dengan nada penyesuaian yang hati-hati, mencoba meredam ketegangan. "Dokumen ini ditandatangani langsung oleh mendiang Kakek Anda di hadapan notaris publik sebelum beliau wafat. Tidak ada celah hukum untuk membatalkannya secara sepihak."

Kalandra melangkah maju, melipat tangan di depan dadanya sambil menatap rendah dari ujung kepala hingga ujung kaki Arkael. "Kau pikir menjadi bagian dari keluarga Mozaus semudah membalikkan telapak tangan, bocah? Kami sudah menyiapkan solusinya agar kau tidak perlu pusing mencari wanita dari jalanan."

Dhandra mengibaskan tangannya ke udara, dan seorang sekretaris pribadi di sudut ruangan langsung menyerahkan map putih tebal ke atas meja.

Dhandra mendorong map tersebut tepat di hadapan Arkael dengan seringai sinis.

"Pilih salah satu dari mereka," ucap Dhandra memerintah. "Putri dari kolega bisnis kita di Jenewa, atau cucu direktur bank sentral nasional. Mereka adalah wanita-wanita terhormat dari kalangan elite yang pantas duduk di samping pewaris Mozaus."

Arkael melirik map tersebut sekilas tanpa sedikit pun berniat menyentuhnya.

Arkael mendengus pelan, menatap lurus mata Dhandra dengan sorot penuh tantangan.

"Wanita-wanita pilihan kalian? Jangan buat aku tertawa. Mereka bukan calon istri, melainkan mata-mata busuk yang akan kalian pasang untuk mengawasiku setiap detik."

"Jaga mulutmu, Arkael!" bentak Dhandra, meja kerjanya sedikit bergetar akibat hantaman kepalan tangannya. "Kau tidak punya hak untuk menolak! Tanpa persetujuan kami, kau tidak akan pernah bisa menemukan wanita dari kalangan atas yang mau bersuamikan mantan pesuruh jalanan!"

"Aku tidak butuh wanita dari kalangan kalian," balas Arkael tegas, suaranya dingin tanpa keraguan sedikit pun. "Syaratnya hanya menikah dalam waktu satu bulan, bukan? Aku akan mencari jalanku sendiri untuk memenuhi syarat itu, tanpa bantuan dari para serigala busuk di ruangan ini."

Dhandra terdiam sejenak, lalu tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan arogan Arkael. "Mencari jalan sendiri? Di kota besar ini? Kau bahkan tidak tahu dunia sosial kelas atas, Arkael. Siapa yang mau menerimamu?!"

Kalandra ikut tertawa sinis, menatap Arkael dengan tatapan penuh penghinaan yang teramat sangat. "Silakan cari kalau begitu, keponakan malangku. Lihat apakah ada wanita suci di luar sana yang mau pada mantan pesuruh jalanan sepertimu.”

Tawa Kalandra menggema di sudut ruangan perpustakaan yang megah, menciptakan resonansi yang menusuk telinga.

Wanita itu menggelengkan kepala perlahan, menatap Arkael seolah pemuda di hadapannya hanyalah badut jalanan yang nyasar ke panggung opera.

"Kau benar-benar naif, Arkael," ucap Kalandra dengan nada suara yang merendahkan, bibirnya menyunggingkan senyum kemenangan mutlak. "Dunia elite tidak beroperasi atas dasar cinta atau drama murahan seperti di film-film televisi kelas bawah. Di sini, pernikahan adalah aliansi strategis, pertukaran saham, dan perluasan kekuasaan. Wanita mana dari kalangan terhormat yang sudi melirik pria tanpa latar belakang keluarga, tanpa silsilah terpandang, dan yang hidupnya hanya diwarisi bau amis jalanan?"

Arkael tidak bergeming. Ia tetap berdiri tegak, kedua tangannya mengepal di dalam saku celana kain hitamnya untuk menyembunyikan jemari yang menegang akibat amarah yang mendidih di dada.

"Kalian boleh meremehkan darimana aku berasal. Tapi ingat, sejarah keluarga Mozaus sendiri dibangun di atas lumpur dan darah, bukan di atas karpet merah istana ini."

Dhandra menyipitkan mata, tatapannya menajam mendengar sindiran telak yang menghantam titik nadir masa lalu pendiri dinasti mereka.

Wajah paman tua itu mengeras, garis-garis keriput di sekitar mulutnya tertarik membentuk seringai benci.

"Jangan samakan kerja keras kakekmu membangun imperium dengan nasib sialmu yang kebetulan diakui sebagai darah daging keluarga. Kau hanyalah kecelakaan sejarah yang kebetulan lolos dari lubang jarum."

"Kecelakaan atau bukan, kenyataannya aku berdiri di sini sekarang, memegang hak suara mayoritas yang membuat kalian gemetar ketakutan di balik jas mahal itu," balas Arkael tajam, suaranya menghantam kesunyian ruangan dengan beban psikologis yang membuat Kalandra spontan mundur satu langkah.

Jenar berdeham pelan, mencoba mencairkan suasana yang kian membara di antara anggota keluarga tersebut sebelum pertumpahan darah sungguhan terjadi di dalam ruang kerja mendiang kakek.

Pengacara tua itu merapikan kacamata berbingkai emas di batang hidungnya, lalu menatap Arkael dengan pandangan memperingatkan.

"Tuan Muda Arkael ada benarnya, Tuan Dhandra," ujar Jenar hati-hati, memilih kata dengan sangat cermat. "Wasiat Tuan Besar tidak mensyaratkan bahwa istri Tuan Arkael harus berasal dari kalangan aristokrasi atau dewan direksi. Syaratnya mutlak dan sederhana secara hukum, pernikahan yang sah secara pencatatan sipil dan agama dalam kurun waktu tiga puluh hari terhitung sejak hari ini."

Dhandra mendengus kasar, memalingkan wajahnya ke arah jendela besar yang memperlihatkan kegelapan malam di luar halaman istana.

"Silakan saja cari gadis jalanan mana yang mau kau jadikan nyonya muda di istana ini, Jenar. Tapi, begitu batas waktu tiga puluh hari itu lewat dan dokumen pernikahannya tidak sah di mata hukum, aku pastikan seluruh aset perusahaan disita tanpa ampun."

"Waktu saya baru dimulai," ucap Arkael tenang, membalikkan badan tanpa menunggu izin atau basa-basi lagi. "Simpan tenaga kalian untuk meratap saat aku merebut kursi direktur utama dari tangan kalian."

Arkael melangkah keluar dari perpustakaan pribadi, membanting pintu kayu jati berukir itu hingga suaranya berdentum keras menggema di sepanjang koridor sepi lantai dua.

Langkah kakinya membawa kembali ke kamar utamanya yang luas dan dingin.

Di dalam ruangan temaram tersebut, ia langsung menyambar ponsel pribadinya dari atas meja samping tempat tidur.

Jari-jarinya menekan tombol panggil dengan cepat, mendengarkan nada dering sambung yang berputar di seberang sana dalam keheningan malam yang mencekam.

Beberapa detik berlalu sebelum suara lembut bercampur napas lega terdengar menyapa telinganya.

"Arkael? Kau baik-baik saja? Kenapa suaramu terdengar tegang?"

Mendengar suara Aurora di ujung telepon seketika meredakan sebagian badai amarah di kepala Arkael.

Namun, bayangan klausul pernikahan tiga puluh hari itu kembali menghantam kesadarannya, membawa dilema baru yang jauh lebih berbahaya daripada ancaman fisik para pengawal Paman Dhandra.

Aurora adalah satu-satunya wanita di dunia ini yang ia inginkan untuk mendampingi sisa hidupnya, namun menyeret wanita itu ke dalam lingkaran darah dan intrik busuk keluarga Mozaus sama saja dengan melemparkannya ke sarang singa yang kelaparan.

"Aurora... dengarkan aku," ucap Arkael pelan, suaranya berubah drastis menjadi sangat lembut dan penuh kehangatan. "Aku butuh kau percaya padaku, apa pun yang terjadi dalam beberapa hari ke depan."

"Aku selalu percaya padamu, Arkael," jawab Aurora di seberang sana tanpa ragu sedikit pun. "Ada apa sebenarnya di tempat kerja barumu itu? Suaramu membuatku cemas."

Arkael memejamkan mata sejenak, menelan ludah pahit yang mendesak tenggorokannya.

Arkael tahu waktu terus berjalan cepat, dan musuh-musuhnya di istana sedang menghitung mundur detik-detik kejatuhannya.

Pilihannya kini hanya ada satu, melindungi Aurora dengan cara membawanya masuk ke dalam benteng istana sebagai seorang istri sah, atau membiarkan wanita itu menjadi sandera empuk bagi kelicikan Paman Dhandra.

"Kemasi barang-barangmu secukupnya, Aurora," perintah Arkael dengan nada mutlak yang tidak bisa dibantah. "Besok pagi, aku akan mengirim mobil khusus untuk menjemputmu ke istana.”

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel