Bab 2. Bayang-bayang Aurora
Malam semakin larut, menyisakan keheningan pekat di kamar loteng yang sempit.
Aurora memeluk tubuhnya sendiri, merasakan dingin yang bukan sekadar sisa hujan di luar sana, melainkan hampa yang tiba-tiba merayap di dada.
Pintu kamar berderit pelan, dan sebelum ia sempat menoleh, sepasang lengan kekar telah melingkar erat di pinggangnya dari belakang, menyalurkan kehangatan yang selama ini menjadi satu-satunya tempat ia pulang.
"Kael... kau kembali?" bisik Aurora tertahan, air mata haru seketika lolos membasahi pipinya.
Arkael tidak menjawab dengan kata, ia membalikkan tubuh Aurora perlahan, menenggelamkan wajahnya di leher jenjang wanita itu, menghirup aroma melati yang selalu berhasil menenangkan badai di kepalanya.
Ciuman lembut mendarat di pelipis, turun ke kelopak mata yang basah, lalu merayap perlahan ke bibir yang gemetar.
Sentuhan itu bukan lagi tentang pelarian dari dunia malam yang kejam, melainkan sebuah ibadah kerinduan yang disucikan oleh air mata perpisahan.
Mereka rebah di atas ranjang usang berseprai katun tipis yang berderit pelan.
Di bawah temaram lampu bohlam kuning yang bergoyang pelan, jemari Arkael menelusuri lekuk tubuh Aurora dengan kelembutan luar biasa, seolah wanita di hadapannya adalah porselen paling rapuh di muka bumi.
Setiap sentuhan adalah bahasa cinta yang tak mampu diucapkan oleh bibir mereka yang kelu.
Aurora memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam dekap hangat dada bidang Arkael, merasakan degup jantung yang berirama sama di bawah kulit yang bersentuhan langsung tanpa jarak.
Baju-baju yang melekat seakan menjadi beban tak berguna yang harus ditanggalkan demi menyatukan dua jiwa yang dihantam ketidakpastian.
Di atas kain ranjang yang sederhana itu, mereka merajut malam dalam keheningan yang syahdu.
Nafas yang menderu beradu dalam satu irama, menyapu dinginnya kamar kumuh dengan kehangatan tubuh yang saling mencari.
Tiap belaian tangan Arkael di kulit halus Aurora bagaikan tinta emas yang menuliskan janji abadi, sementara rintihan tertahan Aurora di bahu pria itu menjadi kidung penenang di tengah badai takdir yang mengancam.
Mereka melebur dalam dekap erat, menyatukan seluruh sisa tenaga dan cinta yang tersisa, seolah fajar esok hari tidak akan pernah diizinkan datang untuk memisahkan mereka berdua.
Di ruang sempit itu, dunia luar seolah lenyap, menyisakan dua raga yang bernapas dalam satu debar yang sama.
***
"Jangan pernah lupakan aku, Arkael. Sekaya apapun tempat yang membawamu nanti." Suara bergetar Aurora menahan isak tangis di pelukan terakhir mereka di bawah lampu jalan yang berkedip.
Lampu neon toko kelontong di sudut gang sempit itu berdengung lemah, memantulkan bayangan mereka berdua di atas genangan air hujan yang belum sepenuhnya kering.
Arkael mendekap tubuh mungil Aurora erat-erat, seolah takut jika ia melonggarkan sedikit saja pelukan itu, wanita di hadapannya akan lenyap dibawa angin malam.
Aroma sabun melati yang selalu melekat di tubuh Aurora kini terasa begitu menusuk dada, bercampur dengan getir kenyataan yang harus mereka hadapi.
"Aku tidak akan pernah melupakanmu, Aurora," bisik Arkael serak, menahan bongkahan panas yang mendesak tenggorokannya. "Aku pergi bukan untuk meninggalkanmu, tapi untuk mencari masa depan kita."
Aurora mendongak, menatap mata hitam Arkael yang menyembunyikan sejuta rahasia kelam.
Air mata membasahi pipinya yang pucat. "Kenapa tiba-tiba sekali, Kael? Perusahaan luar kota itu... kenapa rasanya janggal? Kenapa aku merasa kita tidak akan pernah bisa kembali seperti ini lagi?"
Arkael menelan ludah susah payah. Ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya.
Arkael tidak sanggup melihat jijik atau takut terpancar di mata wanita yang paling dicintainya itu jika Aurora tahu bahwa ia selama ini bertahan hidup dengan menjual tubuh kepada para wanita kaya raya di klub malam.
Kebohongan tentang pekerjaan besar di luar kota adalah satu-satunya perisai untuk melindungi Aurora dari kejaran dunia hitam yang kini mulai menyeret lehernya.
"Aku pekerja kontrak, Aurora. Tawaran ini datang tiba-tiba karena mereka butuh tenaga fisik di sana. Gaji di sana cukup untuk membuat kita keluar dari gang kumuh ini selamanya," ucap Arkael berbohong, membelai pipi Aurora dengan jemarinya yang kasar.
"Aku tidak peduli uang, Kael! Aku hanya peduli padamu!" Aurora mencengkeram erat kerah jaket kulit Arkael. "Jangan pergi. Kita bisa bertahan di sini bersama seperti biasa."
"Aku harus pergi, Aurora. Ini demi kita," potong Arkael tegas meski hatinya tercabik-cabik.
Konflik batin menghantam dadanya tanpa ampun, di satu sisi ia ingin tinggal dan membuang jauh-jauh warisan darah Mozaus, namun di sisi lain, ancaman Jenar Baskara tentang keselamatan nyawa mereka membuatnya tidak punya pilihan lain.
Dengan tangan bergetar, Arkael merogoh saku jaketnya.
Arkael mengeluarkan sebuah kalung perak murah berliontin baut kecil yang dibelinya di pasar kaget tiga tahun lalu.
Benda sederhana itu ia pakaikan perlahan ke leher jenjang Aurora.
"Simpan ini," kata Arkael lembut. "Ini janji ku. Begitu semua urusanku selesai di sana, aku akan kembali dan menjemputmu. Kita akan hidup layak, jauh dari tempat kotor ini."
Aurora menggenggam liontin perak itu erat-erat di telapak tangannya, mencoba mencari kekuatan dari logam dingin tersebut.
"Janji?"
"Janji," jawab Arkael mantap, meski ia sendiri tidak tahu apakah dirinya bisa keluar hidup-hidup dari sarang singa keluarga Mozaus.
Tanpa menunggu lebih lama lagi sebelum pertahankannya runtuh, Arkael melepaskan genggaman tangan Aurora secara perlahan.
Arkael membalikkan badan, melangkah cepat menuju mobil sedan hitam berlogo singa emas yang sudah menanti di ujung gang.
Suara mesin mobil yang menderu halus memecah kesunyian malam, meninggalkan Aurora yang berdiri seorang diri di bawah temaram lampu jalan.
Wanita itu terus menatap kepergian kendaraan mewah tersebut hingga bayangannya hilang di tikungan jalan raya.
Sambil memeluk kedua lengannya yang kedinginan, Aurora berbalik hendak melangkah masuk ke dalam rumah kosnya.
Tiba-tiba, suara dering ponsel murahan di dalam saku mantelnya memecah keheningan.
Aurora merogoh benda tersebut dengan tergesa-gesa, mengira Arkael meneleponnya kembali untuk mengucapkan selamat tinggal sekali lagi.
Layar ponsel menyala terang di tengah kegelapan malam, menampilkan deretan angka asing tanpa nama yang menghubungi nomor pribadinya.
Dengan jantung yang berdegup kencang karena perasaan tidak enak, Aurora mendekatkan layar ponsel itu ke telinganya.
"Halo?" ucap Aurora ragu.
Tak ada suara jawaban manusia dari seberang sana. Yang terdengar hanya desisan napas kosong yang berat, perlahan dan konstan, seolah seseorang sedang berdiri tepat di balik pintu kamarnya dan mendengarkan setiap detak jantungnya.
Aurora membeku di tempat, darahnya terasa berhenti mengalir saat sambungan telepon itu mendadak terputus secara sepihak.
