Bab 2 Tangan Mana yang Memukul Ayahku?
Di dalam ruang pribadi, Hugo berteriak kesakitan.
Semua orang yang hadir gemetar saat mereka menatap Kinan dengan kaget.
Pria itu telah mematahkan kaki Hugo!
Apakah dia sudah gila?
"Bagaimana keadaanmu, Hugo? Apakah kamu baik-baik saja?"
Selena berlari mendekat dengan gugup.
"Tolong! Seseorang, tolong!"
Hugo meraung kesakitan.
Tidak lama kemudian, manajer restoran bergegas memasuki ruang pribadi itu dengan beberapa satpam.
Hugo adalah pelanggan tetap restoran itu, jadi wajar jika manajer mengenalinya.
"Tuan Hugo, apa yang terjadi pada Anda?"
Ekspresi manajer restoran berubah ketika dia melihat keadaan Hugo.
"Bajingan itu mematahkan kakiku," kata Hugo. "Cepat tangkap dia."
Hugo menunjuk ke arah Kinan dengan kesal.
Manajer restoran memberi perintah tanpa ragu-ragu. "Tunggu apa lagi? Cepat tangkap dia."
Beberapa satpam langsung bergegas mendekati Kinan.
Untuk sesaat, semua orang memandang Kinan dengan tatapan iba.
Mereka tahu watak Hugo dengan sangat baik. Kinan telah mematahkan kaki Hugo hari ini. Hugo akan membuat Kinan membayar dengan nyawanya.
Buk! Buk! Buk!
Namun, sebelum ada yang bisa melihat apa yang terjadi, satpam yang menyerang Kinan terpental semua.
Semua orang langsung tersentak.
Kinan berkata dengan acuh tak acuh, "Hugo, jangan terlalu bersemangat untuk membalas dendam. Karena selanjutnya, aku akan meluangkan waktu untuk bersenang-senang denganmu."
Setelah itu, Kinan pun pergi.
Kali ini, tidak ada yang berani menghentikannya.
"Bajingan! Aku akan memastikan kamu mati dengan mengerikan!"
Sorot mata Hugo dipenuhi dengan kebencian.
Setelah meninggalkan restoran, Kinan meminta Bayangan untuk mengantarnya ke area bernama Bintang Property.
Ayah dan kakak perempuannya menyewa apartemen di sana.
Tok, tok.
Kinan mengetuk pintu untuk waktu yang lama, tetapi tidak ada yang menjawab.
Bayangan menebak, "Komandan Grayadi, ayah Anda mungkin sudah pergi menjemput keponakan Anda. Jarak TK cukup jauh dari sini. Butuh lebih dari dua puluh menit naik sepeda ke sana, jadi dia pasti sudah pergi ke sana lebih awal. Mengapa kita tidak menunggu di sini saja?"
"Naik sepeda?"
Kinan mengerutkan kening. "Kaki ayahku patah. Pasti repot naik sepeda. Bayangan, kita pergi ke TK sekarang."
"Ya!"
Mereka berdua langsung bergegas menuju TK.
Di luar gerbang TK Timur Baru.
Sekelompok orang tua berbaris dengan tertib untuk menjemput anak-anak mereka. Di belakang satu barisan berdiri seorang pria tua dengan kaki pincang.
Rambutnya penuh uban dan punggungnya bungkuk. Ekspresinya tampak agak muram dan dia tampak setidaknya tujuh puluh.
Namun kenyataannya, usianya bahkan belum mencapai enam puluh tahun.
"Kakek!"
Tak lama, seorang gadis kecil dengan rambut kucir kuda yang tampak seperti boneka porselen berlari ke arahnya.
"Sonia!"
Ketika melihat cucunya, wajah tua Juan tampak tersenyum. Dia bertanya, "Apakah kamu patuh di sekolah hari ini? Apakah kamu mendengarkan guru?"
"Tentu saja aku patuh. Aku yang paling patuh!"
Sonia tersenyum saat dia berbicara.
Namun, sorot mata kecilnya dipenuhi dengan rasa bersalah.
"Hmm?"
Juan terkejut.
"Ibu, itu Sonia. Dia yang mencakar wajahku hari ini."
Pada saat itu, seorang teman sekelas laki-laki bertubuh gemuk datang bersama ibunya dan menunjuk Sonia sambil mengeluh.
"Anak nakal! Beraninya kamu memukul putraku?" tanya si ibu dengan kasar.
Si ibu langsung memelototi Sonia dan berkecak pinggang.
Tubuhnya gemuk dan penuh dengan perhiasan. Kehadirannya langsung menonjol dan menarik perhatian banyak orang yang ada di situ.
Mereka yang mengenali wanita itu memandang Sonia dan kakeknya Juan dengan penuh simpati.
"Karlo Linton memukulku lebih dulu, dan dia menyebutku anak liar tanpa ayah. Dia tampan tapi tidak berguna. Semua otot di tubuhnya tidak berguna. Dia bahkan tidak bisa mengalahkan gadis sepertiku."
Sonia tak kenal takut dan sama sekali tidak gentar dengan kehadiran pihak lain yang mengintimidasi.
"Sonia, hentikan!"
Ekspresi Juan sedikit berubah. Dengan cepat dia menarik Sonia dan berkata kepada ibu Karlo, Nyonya Rani, "Nyonya, saya sangat menyesal. Saya ... "
Plak!
Namun, sebelum Juan bisa menyelesaikan kalimatnya, Nyonya Rani menampar wajahnya dengan keras.
Kekuatan tamparan itu sangat kuat. Selain itu, satu kaki Juan Grayadi pincang sehingga dia terhuyung dan jatuh ke tanah.
"Dasar bajingan! Beraninya kamu menghinaku dengan memanggilku 'Nyonya'?"
Nyonya Rani berkata dengan marah, "Cepat suruh anak nakal ini meminta maaf kepada putraku yang berharga. Kalau tidak, jangan salahkan aku karena bersikap kasar."
Banyak orang di sekitar situ yang merasa sangat kasihan, tetapi tidak ada yang berani menengahi.
Bahkan para guru di TK pura-pura tidak melihatnya.
Nyonya Rani ini tidak bisa dianggap remeh.
"Kamu orang jahat! Kamu memukul kakekku. Huhuhu!"
Sonia sangat marah. Dia segera membantu Juan berdiri. Pada saat yang sama, hatinya sangat sakit sehingga dia mulai menangis.
"Dasar anak nakal, cepat minta maaf kepada putraku," kata Nyonya Rani.
Nyonya Rani mulai tidak sabar.
Sonia berkata dengan keras kepala, "Aku tidak akan meminta maaf kepada Karlo. Seharusnya kamu yang meminta maaf. Kakekku tidak melakukan apa-apa, tapi kamu memukulnya. Sikapmu sama sekali tidak masuk akal."
"Hah! Bagaimana kamu bisa menceramahi orang lain ketika kamu melakukan kesalahan? Sepertinya anak tanpa ayah ini tidak punya sopan santun. Kalau begitu, aku akan mengajarimu bagaimana harus bersikap."
Nyonya Rani tertawa marah. Dia menyingsingkan lengan bajunya dan berjalan mendekati Sonia. Dia mengangkat tangannya ke arah wajah Sonia untuk menamparnya.
"Berhenti!"
Juan terkejut dan marah.
Wajah Sonia Tanjaya menjadi pucat karena ketakutan.
Telapak tangan Nyonya Rani hendak mendarat di pipi Sonia Tanjaya.
Namun pada saat itu, sebuah telapak tangan yang kuat meraih pergelangan tangan Nyonya Rani.
"Siapa kamu? Lepaskan atau aku akan memberimu pelajaran."
Nyonya Rani memelototi pemuda di depannya.
Plak!
Namun, meskipun pemuda itu melepaskan Nyonya Rani, dia tetap menampar wajah wanita itu.
Tamparan itu sangat keras. Suaranya menggema ke segala arah.
Semua orang tercengang. Mereka sangat terkejut.
Pemuda ini terlalu berani. Bagaimana dia bisa berani memukul Nyonya Rani? Apakah dia cari mati?
Kinan Grayadi tidak peduli dengan semua itu.
"Sonia, kamu baik-baik saja?" Dia berjongkok dan menatap Sonia Tanjaya dengan prihatin.
"Paman, terima kasih. Tapi sepertinya aku tidak mengenalmu, 'kan? Bagaimana kamu tahu namaku Sonia?"
Sonia Tanjaya bingung.
"Jangan panggil aku Paman," jawab Kinan Grayadi. "Kamu harus memanggilku Paman Kinan."
Kinan Grayadi tersenyum, kemudian menatap Juan Grayadi. Suaranya serak. "Ayah, aku pulang!"
Melihat lelaki tua di depannya, Kinan Grayadi tampak sedih.
Ayahnya tidak hanya kehilangan satu kaki, tetapi dia terlihat sangat tua.
Dia mungkin telah sangat menderita selama bertahun-tahun.
"Kinan, kamu pulang?"
Juan Grayadi menggosok matanya dan menatap Kinan Grayadi dengan tak percaya.
Ketika dia mengunjungi Kinan Grayadi di penjara sebelumnya, dia diberi tahu bahwa putranya telah dipindahkan ke penjara lain dan tidak tahu apa-apa lagi. Kinan Grayadi juga tidak pernah menghubungi keluarganya.
Juan Grayadi mengira sesuatu telah terjadi pada Kinan Grayadi.
Sekarang Kinan Grayadi tiba-tiba muncul di hadapannya, tentu saja Juan Grayadi sangat gembira.
"Ayah, aku bukan putra yang baik. Aku membiarkan Ayah menderita selama lima tahun terakhir!"
Kinan Grayadi berlutut di depan Juan Grayadi.
Tidak jauh dari situ, Bayangan terkejut.
Kinan Grayadi sang komandan tidak pernah membungkuk sekali pun, bahkan di hadapan raja.
Ini menunjukkan betapa pentingnya keluarga di hati Kinan Grayadi.
"Bangun, cepat bangun. Syukurlah kamu sudah pulang. Syukurlah kamu sudah pulang."
Juan Grayadi sangat bersemangat. Dia membantu Kinan Grayadi berdiri, kemudian menarik Sonia Tanjaya. "Sonia, ini Paman Kinan yang telah Kakek ceritakan kepadamu," kata Juan Grayadi. "Kemarilah dan sapa Paman Kinan. Omong-omong, Kinan, ini putri kakakmu, Sonia Tanjaya."
"Paman Kinan!"
Sonia Tanjaya berteriak gembira.
"Sonia adalah gadis yang baik!"
Kinan Grayadi mengelus kepala Sonia Tanjaya.
"Dasar bajingan. Apakah kamu tahu siapa aku? Beraninya kamu memukulku?"
Pada saat itu, suara marah Nyonya Rani terdengar lagi. "Jika kamu tidak berlutut di depanku dan meminta maaf, aku akan menyuruh tanganmu dipotong dan menjadikannya makanan anjing-anjing."
"Paman Kinan. Wanita ini sangat jahat. Dia baru saja memukul Kakek."
Sonia cepat-cepat bersembunyi di belakang Kinan Grayadi dan memandang Nyonya Rani dengan ketakutan.
"Apa? Dia memukul Kakek?"
Kinan Grayadi memandang Juan Grayadi dan melihat bekas telapak tangan di wajahnya.
Grrr!
Dalam sekejap, semua orang merasakan suhu turun di sekitar mereka. Banyak orang tiba-tiba menggigil.
"Tangan mana yang kamu gunakan untuk memukul ayahku tadi?" tanya Kinan Grayadi.
Dia mendekati Nyonya Rani, suaranya dingin.