Putri kecil yang menggemaskan
"Anak... Haram...?"
Senyum Arya berhenti, dan seketika itu juga, lorong kontrakan yang sebelumnya terasa pengap dan panas mulai mendingin.
"Siapa yang bilang Ara adalah anak haram?"
Saat bertanya, Arya masih tersenyum lembut dan penuh kasih sayang kepada Kiara. Namun, Aruna yang tak jauh darinya merasa jika suhu di ruangan itu seketika menjadi dingin, layaknya berada di gudang es raksasa. Bahkan jika ia sedang menggunakan pakaian tebal dan jaket.
"Itu..." Kiara ragu-ragu selama beberapa waktu sebelum akhirnya menjawab, "teman-temanku di sekolah dan orang-orang di sekitar Mama seringkali bilang begitu. Mengatakan bahwa Ara adalah anak haram yang tidak seharusnya dilahirkan. Ayah, apakah Ara adalah anak haram?"
"Ini..."
Selesai Kiara berbicara, Aruna merasakan bahwa hawa dingin yang dia rasakan sekarang hampir membekukan dirinya. Membuatnya menggigil kedinginan, dan tidak tahu apa yang terjadi.
Hanya Arya yang tahu, bahwa sejak mendengar bahwa ada seseorang yang mengatakan bahwa putrinya adalah anak haram, kemarahan mulai menyebar ke sekelilingnya.
Kemarahan dari seorang yang telah melewati gunungan mayat dan lautan darah bukanlah sesuatu yang bisa di tahan oleh manusia biasa.
Bagi Arya sekarang, beraninya mereka semua mengatakan bahwa putrinya adalah anak haram? Beraninya mereka mengutuk putri dari seorang Kaisar Abadi? Pewaris satu-satunya dari Kaisar di Surga?
"Kakak..." Sebelum Arya sempat memproses apa yang akan dilakukan, Aruna mulai berbicara dengan wajah yang pucat.
"Disini sangat dingin. Ayo masuk ke dalam rumah dulu! Jangan sampai nanti Ara masuk angin!"
"Oh..." Arya segera tersadar saat mendengar kata-kata itu, dan buru-buru masuk ke dalam rumah, takut jika telat sedikit, putrinya akan masuk angin. Walaupun sebenarnya Kiara tidak merasakan apapun.
Tapi sebagai seorang ayah untuk pertama kalinya, bagaimana mungkin Arya peduli dengan hal lain, selain kesehatan putrinya sendiri?
Setelah masuk ke dalam, dan mengunci pintu, Aruna langsung menghela nafas lega saat merasakan bahwa hawa dingin sebelumnya telah menghilang, tapi perasaan panas dan mencekik mulai membuatnya kepanasan.
"Ini... Apa sih yang sebenarnya terjadi?" Aruna bertanya-tanya, ada apa dengan hari ini.
Pertama kemunculan kakaknya yang sudah lama menghilang, dan kemudian hawa dingin dan panas yang tiba-tiba datang dan pergi. Hari ini, apakah akan ada sesuatu yang buruk?
Aruna tidak tahu, tapi saat melihat kakaknya yang mulai melihat seluruh ruangan, dia tiba-tiba merasa bahwa sepertinya semua ini karena kemunculannya yang tiba-tiba? Tapi, kenapa bisa begitu?
Aruna menggelengkan kepalanya, mencoba menghilangkan semua pikiran di kepalanya, dan berkata kepada Arya, "Kakak, aku akan membersihkan diri dulu. Tolong jaga Ara untukku."
Arya mengangguk pelan, tidak menjawab, dan mulai melihat ruang kontrakan ini dengan perasaan campur aduk.
Dulu, keluarganya adalah orang yang serba berkecukupan, memiliki rumah, mobil, dan penghasilan yang relatif banyak. Tapi semenjak dirinya pergi, keadaannya sudah seperti ini.
Lihatlah keadaan kontrakan ini, yang hanya memiliki luas tidak seberapa. Ruangan sempit yang hanya memiliki kamar tamu kecil, satu kamar tidur, satu kamar mandi, dan dapur yang terlihat dari ruang tamu. Tanpa perabotan mewah, dan elektrolit yang layak, satu-satunya yang bisa membuat semuanya lebih baik adalah kipas angin. Selebihnya, semuanya serba biasa saja.
Tinggal di tempat seperti ini, sekalipun Arya sudah lama pergi, dia tahu bahwa tempat ini tidak cocok untuk di tinggali oleh lebih dari satu orang. Terlebih dengan Kiara, gadis kecil aktif yang membutuhkan ruang gerak.
"Ayah ayah!"
Kiara tidak tahu apa yang sedang Arya pikirkan, tapi saat turun dari gendongannya, dia segera berkata, "Ara memiliki teman yang bernama Sasa, apakah kau ingin melihatnya?"
Arya langsung tersenyum lembut saat mendengarnya, dengan nada penuh kasih, dia mengangguk dan menjawab, "Coba lihat, dan kenalkan pada ayah."
Kiara tersenyum manis, dan segera berlari ke kamar tidur. Dan tak lama kemudian, gadis kecil itu kembali sambil membawa boneka beruang coklat yang dia sembunyikan di punggungnya. Namun, dengan ukuran beruang yang lebih besar darinya, sulit untuk dikatakan sebagai "menyembunyikan".
"Ayah, lihat!" Ara menunjukkan boneka Teddy bear seukuran satu meter, yang terlihat jauh lebih besar dan gemuk daripada dirinya kepada Arya.
"Ini namanya Sasa. Dia adalah teman bermainku selama ini. Dia juga yang selalu menemani Ara saat mama pergi bekerja! Sasa juga sangat baik, lihat... Dia tersenyum sekarang. Sasa, ini ayahku... Namanya... Uh..." Kiara berhenti dan bertanya, "Ayah, siapa namamu?"
Reaksi Arya sedikit melambat saat ini, karena saat mendengar kata-kata putrinya, hatinya terasa sakit dan sedih.
Seorang putri yang tidak tahu nama ayahnya? Betapa menyedihkannya itu baginya sekarang? Lima tahun tanpa mengetahui bahkan nama ayahnya sendiri, bagaimana gadis kecil ini bisa melalui hari-harinya?
Dan boneka Teddy bear ini, apakah itu bisa di sebut boneka? Meskipun terlihat baik-baik saja, Arya bisa melihat betapa lamanya boneka ini telah menemaninya. Penuh dengan tambalan dan jahitan, serta perbaikan di sana-sini.
Ini putrinya sendiri, yang sejak lahir sampai sekarang, sebenarnya tidak pernah tahu namanya sendiri. Bahkan mainan yang dia mainkan sudah tidak layak lagi.
Mata Arya sedikit basah, dan dengan nafas yang tertahan, dia menjawab, "Arya Ananta. Namaku dan nama ayahmu adalah Arya Ananta."
"Oh, jadi Arya!" Kiara mengangguk, dan kemudian menjelaskan kepada temannya, "Ingat, Sasa!? Itu ayahku, namanya Arya. Mulai sekarang, kamu harus mengingatnya! Jika kamu bersikap baik, kamu juga bisa memanggilnya ayah nanti. Sama sepertiku! Jadi kita sama-sama punya ayah!"
"Ohh..." Tidak tahan lagi dengan kata-kata dan tindakan putrinya, Arya segera mengambilnya dan kembali menggendongnya.
Dengan perasaan bersalah dan menyesal, dia mulai menggodanya, "Jika begitu, kenapa tidak sekarang aja temanmu memanggilku ayah juga? Bukankah itu lebih baik?"
"Apakah boleh?" Tanya Kiara dengan penuh harap.
"Tentu saja boleh!" Jawab Arya tegas, dan tersenyum lembut. "Memang apa yang tidak buat Ara?"
"Hahah... Ayah sangat baik! Hore..." Gadis itu tertawa senang, dan bahkan mulai mencium pipi Arya.
Mengakibatkan Kaisar Abadi yang selama ribuan tahun tak tergoyahkan langsung melunak dan sangat senang, bahkan jika dibandingkan dengan semua kekayaan dan kekuatannya di masa lalu.
Melihat gadis kecil di pelukannya tersenyum dan tertawa lepas, Arya merasa bahwa keputusannya kembali ke bumi dengan mengorbankan kekuatan, kekayaan dan kehormatan adalah keputusan yang paling tepat sepanjang hidupnya!
Dengan adanya Kiara, Arya merasa bahwa semuanya tidak lagi penting selain kebahagiaan putri kecilnya.
Di saat Aruna keluar dari kamar mandi, dan melihat Kiara yang terus tertawa dan tersenyum lebar saat bermain dengan Arya, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak merasa terharu.
Sejak kapan dia bisa melihat gadis kecil itu bisa tertawa lepas dan sebahagia ini? Sebagai seseorang yang telah merawat Kiara sejak dia bayi, ini adalah pertama kalinya dia melihat gadis kecil itu terlihat sangat senang dan bahagia!
Namun, saat dia melihat Arya yang kini sedang menatapnya, kebahagiaan yang dia rasakan sebelumnya segera lenyap. Senyum di wajahnya menghilang, digantikan oleh kesedihan, kemarahan, dan ketidakpercayaan di wajahnya.
Pada akhirnya, meskipun enggan, dia harus menjelaskan semuanya!
