Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Kemarahan dan Prioritas

"Beraninya kau?" Aruna sangat marah dan menatap keduanya dengan mata merah.

"Kenapa aku tidak berani?" Jawab seorang debkolektor dengan pandangan meremehkan dan mencibir.

Temannya bahkan mulai mulai melihat ke arah Arya dengan pandangan yang sangat meremehkan, dan terkekeh.

"Aku tidak tahu, bagaimana kau bisa memilih pria miskin dan menyedihkan seperti dia sebagai tamumu? Dibandingkan dengan Tuan Muda Danan, bukankah pria ini sama sekali tidak berguna?"

"Jika seandainya kau menerima tawaran Tuan muda Danan untuk menjadikan dirimu sebagai wanitanya, bukan hanya hutang keluargamu yang akan lunas, bahkan kau bisa hidup mewah daripada sebelumnya."

"Tidak perlu lagi hidup di kandang sapi ini untuk membesarkan anak haram, serta menyia-nyiakan hidupmu untuk gadis kecil tak berguna sepanjang waktu! Aku sudah bilang, jual saja anak---"

Sebelum pria itu selesai berbicara, tiba-tiba dia berhenti. Bukan berhenti karena keinginan, melainkan ada seseorang yang mengangkat dan menghentikannya untuk berbicara.

Arya, yang sebelumnya berjarak beberapa meter darinya kini sudah ada di depannya. Memegang lehernya dengan satu tangan, dan mengangkatnya ke udara.

Menatap pria yang baru saja mengatakan adik perempuannya sebagai jalang, dan menghina anak perempuannya sebagai anak haram, wajah Arya menjadi sangat dingin. Kedua matanya yang acuh tak acuh menatap pria di tangannya dengan pandangan dingin seolah-olah sedang melihat sebuah mayat.

"Katakan sekali lagi!"

"Ughh...."

Pria yang berbobot 80 kg dan sedang di angkat di udara layaknya karung sampah itu tampak meronta-ronta, mencoba melepaskan pergelangan tangan Arya. Namun, yang dia merasa bahwa yang menjepit lehernya bukanlah tangan manusia, namun penjepit baja.

Sekeras dan sekuat apapun dia mencoba, mustahil untuk melepaskan cengkraman di lehernya.

"Bajingan! Apa yang kau lakukan!" Teman debkolektor itu berteriak marah ke arah Arya.

Tapi Arya sama sekali tidak melihatnya, dia hanya sedikit menambahkan cengkraman di pergelangan tangannya, dan sekali lagi berkata kepada orang di depannya, "Menghina adikku dan mengutuk putriku, siapa yang memberimu keberanian untuk melakukannya?"

"Ughhh... A-a-ku.. arghh..." Pria di udara itu ingin mengatakan sesuatu, tapi cengkraman Arya menjadi lebih kuat, dan memutuskan pasokan oksigen ke otaknya. Membuatnya tersedak dengan mata melotot, dan meronta-ronta dengan wajah yang membiru.

"Bajingan! Lepaskan dia!" Salah satu debkolektor kali ini tidak hanya berteriak, tapi juga mengeluarkan sebuah pisau dari balik bajunya.

Dengan wajah marah dan ekspresi kejam, dia menerjang ke arah Arya.

"Ahh!!" Mengakibatkan Aruna menjerit ketakutan saat melihatnya.

Tapi ekspresi wajah Arya sama sekali tidak berubah, tetap santai dan dingin, bahkan sama sekali tidak melihat ke arah pria yang menyerangnya dengan pisau. Dia hanya sedikit meliriknya dengan jijik, dan tetap di tempatnya.

Ketika pisau tajam dengan kilatan dingin itu hanya berjarak beberapa sentimeter dari pipinya, akhirnya Arya bergerak. Tangan kirinya yang bebas tampak berkelebat, dan gerakan pisau itu seketika berhenti.

"Kau?" Terkejut, wajah debkolektor itu berubah, dia ingin menarik kembali tangannya agar bisa kembali menyerang.

Namun, pergelangan tangannya di pegang erat oleh tangan Arya. Berapapun dia mencoba untuk menarik atau menggerakkannya, semua usahanya sia-sia.

"Lepas--- arghh!!!"

Jeritan memilukan yang di sertai dengan suara "klik" dari tulang yang patah tiba-tiba terdengar.

"Klik!"

"Argh!!"

Pisau di tangan debkolektor itu jatuh, dan rasa sakit hebat datang dari pergelangan tangannya yang hancur. Bahkan saat Arya melepaskannya, telapak tangannya tidak bisa lagi di gerakan dan rasakan, selain penampakannya yang hancur dan terkulai. Terlihat mengerikan dan menyeramkan.

"Sepertinya kalian berdua ingin mati!"

Tapi itu belum selesai, karena dengan suara dingin Arya yang datang, hantaman keras tiba-tiba datang, menghatam perutnya dengan keras layaknya di tabrak truk, pria yang memiliki bobot tidak kurang dari 80 kg itu terbang keluar rumah melewati pintu rumah.

Lalu menabrak tembok dengan suara "bam" keras, dan tidak lagi bergerak. Entah hidup atau mati.

"Ini..." Wajah Aruna dan debkolektor yang di cekik oleh Arya menjadi pucat saat melihatnya.

Ketakutan dan rasa horor muncul pada debkolektor yang masih menggantung di udara.

Menoleh ke arah Arya, dan menatap tatapannya yang acuh tak acuh, dingin dan tanpa emosi sama sekali, kata "kematian" seketika muncul di otaknya.

"Sekarang--"

"Ayah?" Suara kekanakan-kanakan dan terdengar malas menghentikan kata-kata Arya selanjutnya!

Dan saat dia melihat gadis kecil yang tampak terlihat masih lesu dan mengantuk menggosok-gosok matanya yang terpejam di depan pintu kamar tidur, hatinya seketika menjadi damai. Kemarahan dan niat membunuh di tubuhnya seketika menghilang.

Ekspresinya kembali melembut, tapi dia tidak mengatakan apa-apa, dan hanya menoleh ke arah Aruna yang kini sedang menatap dirinya dengan pandangan kosong.

"Bawa Ara kembali ke kamar!" Perintah Arya ini segera menyadarkan Aruna. Membuat wanita itu langsung berlari ke arah Kiara, dan menggendongnya, membawanya kembali ke dalam kamar.

Sedangkan Arya sendiri, dia kembali menatap orang yang masih gemeter ketakutan di pergelangan tangannya, dan melemparkannya ke pintu luar, layaknya melemparkan sepotong sampah.

Kemudian menghampirinya keduanya, dan menutup pintu, Arya memandang keduanya dengan tatapan mata penuh ancaman nyata.

"Kalian beruntung! Tapi ingat, jika aku melihat atau mendengar kalian berani datang mengganggu keluargaku lagi, kejadiannya tidak hanya patah tulang dan sesak nafas. Apakah kalian mengerti!"

Debkolektor yang sebelumnya di lempar oleh Arya dan sedang duduk di lantai dengan cara menundukkan itu kepalanya buru-buru mengangguk. Sangat memahaminya.

Setelah kejadian barusan, dia sudah benar-benar ketakutan dengan Arya. Jika seandainya gadis kecil yang sebelumnya dia hina tidak datang, mungkin tubuhnya sudah menjadi dingin tak bernyawa sekarang.

Dia tidak ragu bahwa Arya akan membunuhnya, karena dari sorot matanya barusan, dia bisa melihat tatapan ketidakpedulian ekstrem terhadap kehidupan dan kematian. Seolah-olah hidup manusia tidak lebih dari sekedar semut belaka.

"Jika kau paham, segera pergi dari sini!"

Tidak menunggu perintah untuk yang kedua kalinya, pria itu segera segera berdiri, lalu menyeret temannya yang masih tak sadarkan diri, dan berlari menjauh.

Tanpa sedikitpun menoleh ke belakang, dia dengan panik berlari sekencang yang dia bisa sambil menyeret temannya, seolah-olah hidupnya sedang di pertaruhkan.

___

Setelah semua, saat Arya kembali ke dalam rumah, Aruna dan Kiara sedang menunggunya di ruang tamu dengan tatapan yang berbeda.

Terkhusus untuk adik perempuannya, Arya melihat bahwa tatapannya kini menjadi rumit, antara ketakutan, keterkejutan, ketidakpercayaan dan penasaran. Bibirnya tampak bergerak-gerak saat gadis itu melihatnya, seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi pada akhirnya tidak mengatakan apapun.

Arya mungkin bisa menebak apa yang sedang dia pikirkan, tapi dia tidak mengatakan apa-apa dan hanya menoleh ke arah Kiara, yang saat ini sedang menatapnya dengan mata melebar.

"Ayah keren!"

Tanpa rasa takut ataupun canggung, gadis kecil itu berteriak senang dan menghampirinya.

Sambil mengepalkan tinju kecilnya, dia mulai berceloteh, "Ayah hebat sekali! Berhasil mengalahkan pria jahat yang selama ini mengganggu Mama dan Ara! Orang-orang jahat ini terlihat menakutkan, tapi Ayah menghajarnya dengan sangat kuat! Seperti... Seperti pahlawan dalam TV. Sangat keren!"

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel