Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 5

"……"

Feng Changye menarik napas panjang dan dalam.

Andai sejak kecil tidak belajar dari Taifu bagaimana mengendalikan ekspresi wajah, mungkin ia sudah beberapa kali gagal menahan emosi karena ulah perempuan lancang ini!

Sampai di pintu kamar istana, ia menoleh ke belakang dan melirik sekilas.

“Masih belum bergerak? Ataukah kamu ingin aku memerintahkan pengawal istana menggotongmu keluar?”

Ia berseru ke luar, “Pengawal!”

“Jangan! Jangan! Hamba segera bergerak! Bergerak sekarang juga!”

Zhu Wuhuan melihat dia benar- benar hendak memanggil orang, buru -buru memungut jubah permaisuri yang tergeletak di lantai dan cepat- cepat mengenakannya!

Ia tidak ingin digotong keluar oleh pengawal istana seperti seekor babi guling yang terikat ketat!

Di masa depan, ia akan menjadi seorang permaisuri agung. Kalau sampai punya catatan hitam seperti itu, betapa memalukannya!

Feng Changye hampir saja tertawa karena suara hatinya.

Melirik tubuhnya yang ramping, ia berbalik dan melangkah keluar.

Babi guling apanya, kamu itu lebih mirip tongkat bambu kering.

……

Feng Changye tiba di Balairung Wuji satu perempat jam lebih awal, barulah Zhu Wuhuan datang dengan langkah terkesan malas.

Sebenarnya bukan karena Zhu Wuhuan sengaja mengulur waktu, hanya saja…

Ia melirik jubah phoenix itu dengan murung!

Tidak habis pikir, kenapa satu set pakaian bisa begitu rumit cara memakainya?

Butuh waktu cukup lama sebelum, dengan petunjuk sistem, ia berhasil mengikat semua tali, mengencangkan ikat pinggang berpermata, dan menggantungkan semua hiasan emas, giok, dan batu mulia di pinggangnya!

Dengan kedua tangan mengangkat rok panjang yang terlalu menjuntai, ia dengan susah payah melangkah melewati ambang pintu yang tinggi, diam -diam melotot ke arah Feng Changye.

Semuanya salah tiran ini!

Begitu berita ayah kandung permaisuri berkhianat tersebar, dia langsung mengirim semua pelayan perempuan dan kasim dari istana permaisuri ke Kantor Investigasi Kriminal. Akibatnya, sekarang ia bahkan tak punya satu orang pun untuk membantunya berpakaian!

Satu pelayan saja sudah cukup! Apa perlu ia bersusah payah seperti ini hanya untuk mengenakan pakaian?

"……"

Feng Changye yang tengah menunduk membaca memorial kenegaraan, tanpa suara mengangkat kepalanya untuk melihat Zhu Wuhuan.

Tak bisa memakai pakaian, masih juga menyalahkan orang lain?

Lagipula, bukankah pakaian seribu tahun di masa depan berbeda dengan zaman sekarang? Mengapa tidak tahu cara memakainya?

Namun Feng Changye pun mempertimbangkan sebentar.

Kalau memang tidak akan membunuhnya untuk sementara waktu, maka tidak bisa dibiarkan ia tidak memiliki pelayan sama sekali.

Nanti, kirimkan saja pelayan dari keluarga Zhu, Siu Qiu, kembali ke Istana Changle.

Karena bagaimanapun, ia tak akan lepas dari urusan dengan keluarga Zhu. Jika tak ada pelayan yang akrab untuk memberi arahan, nanti saat bertemu keluarga sendiri, siapa saudara ipar dan siapa kakak sendiri saja mungkin ia tidak tahu…

Masih banyak hal yang ingin ia pastikan melalui dirinya. Ia belum boleh mati.

"Xiao Yuanzi, berikan tempat duduk."

Melihat Zhu Wuhuan, Feng Changye memberi perintah ringan kepada kasim di sisinya.

“Baik.”

Xiao Yuanzi memberi hormat, lalu memerintahkan orang mengangkat sebuah kursi bersulam untuk dibawa masuk dan disediakan dengan penuh hormat untuk Zhu Wuhuan.

Rasa kesal Zhu Wuhuan saat harus ke Balairung Taiji langsung lenyap saat mendengar Feng Changye memanggil “Xiao Yuanzi”!

Ia seketika menoleh, matanya bersinar terang menatap kasim muda itu!

Wah!

Ini dia, Kasim Yuan yang begitu terkenal dalam sejarah itu?

Benar -benar berwajah tampan dan lembut, nyaris seperti gadis cantik!

Sambil mengamati, ia pun duduk anggun di atas kursi. Bahkan saat Xiao Yuanzi berbalik mengambilkan teh, matanya belum mau lepas dari sosoknya.

Di balik meja kerja—

Begitu mendengar suara hatinya, Feng Changye menghentikan gerakannya dalam membalik dokumen.

Hah?

Kasim Yuan yang begitu terkenal?

Ia sedikit mengangkat kepala, menatap Xiao Yuanzi secara tersamar.

Kasim yang telah mengikutinya sejak usia delapan tahun ini, apa ada sesuatu yang mencurigakan?

Jika tidak, bagaimana mungkin seorang kasim biasa bisa tercatat dalam sejarah sebagai sosok yang “begitu terkenal”?

“Yang Mulia Permaisuri, teh Anda.”

Xiao Yuanzi membawa secangkir teh hangat, menyuguhkannya dengan hormat kepada Zhu Wuhuan.

Zhu Wuhuan tersenyum manis dan menyambutnya dengan tangan terbuka.

Saat Xiao Yuanzi membungkuk mendekat untuk menyerahkan teh, dalam hati Zhu Wuhuan ada suara yang berteriak- teriak kegirangan—

Aaaah, Kasim Yuan ini bukan hanya tampan! Suaranya juga sangat merdu!

Tak heran dalam catatan sejarah alternatif disebutkan bahwa daya tariknya tak tertandingi di dalam istana. Bukan hanya banyak menteri yang jatuh hati padanya, bahkan Feng Changye si tiran ini pun sampai tergila- gila padanya!

Dalam catatan itu juga tertulis, Feng Changye demi mengungkapkan cintanya bahkan membunuh semua selir di istana dan hanya memanjakan Kasim Yuan seorang!

Wajah secantik dan sikap sehangat ini, kalau aku yang jadi kaisar pun pasti jatuh cinta!

Mengingat hal itu, ia pun melirik Feng Changye diam- diam, matanya yang cantik berkilau memancarkan cahaya penuh niat buruk.

Ngomong- ngomong, dulu waktu SMA, ia juga pernah membaca banyak novel boys love yang terinspirasi dari Feng Changye dan Kasim Yuan sebagai model karakternya, sampai sekarang pun masih membekas!

Cinta posesif sang tiran, kasim kecil, meskipun kau punya sayap, tetap tak bisa kabur, betul- betul sangat memikat!

Dulu cuma bisa membayangkan kisah itu lewat novel dan berkhayal tentang pasangan idola, sekarang malah bisa melihat langsung adegan sang tiran dingin jatuh cinta pada kasim cantik nan lembut. Mendadak, menyeberang waktu rasanya jadi bukan hal yang buruk!

"……"

Feng Changye mendengarkan suara hatinya, tubuhnya perlahan- lahan menjadi kaku.

Butuh beberapa detik sebelum ia bisa mencerna!

Dengan kepala tertunduk, sorot matanya menggelap.

Jari- jarinya yang tersembunyi di balik lengan baju mengepal kencang, sampai buku -bukunya memutih!

Zhu. Wu. Huan!

Apa yang sebenarnya kamu pikirkan di dalam kepala itu?

Apa maksudnya aku tergila -gila pada Xiao Yuanzi?

Dia itu lelaki! Aku tergila- gila padanya?

Kepalamu yang bermasalah atau kepalaku yang rusak?!

Dan lagi! Sejarah alternatif mana yang berani mencatat kisah tak senonoh seperti itu antara aku dan Xiao Yuanzi?!

Berani menuduh aku suka sesama jenis, akan kubasmi seluruh keluarganya!

Crack —

Saat Feng Changye hendak melempar meja karena marah, tiba- tiba terdengar suara retakan yang jernih di dalam balairung!

Ia langsung menengadah.

Ternyata cangkir teh di tangan Zhu Wuhuan pecah.

Ia melihat Zhu Wuhuan memegang pecahan cangkir dengan wajah kebingungan, tampaknya kaget. Air teh panas menyiram tangan, tapi ia hanya terdiam seolah tak merasa.

Padahal sebenarnya, ia jelas -jelas mendengar suara Zhu Wuhuan yang begitu bersemangat meneriaki sistem dalam hati—

【Aaaah sistem, sistem! Apakah ini efek dari pil kekuatan besar? Barusan aku terlalu fokus menatap Xiao Yuanzi, sampai tak sadar kekuatanku, hanya dengan sedikit tekanan, cangkir ini langsung hancur di tanganku!】

Sistem menjawab dengan tenang.

【Tubuh host ini sejak kecil dilatih karena merupakan anak seorang jenderal perang. Kekuatan fisiknya dua kali lipat dari perempuan biasa dan bisa mengangkat benda seberat ratusan kati dengan mudah. Sekarang dengan tambahan kekuatan dari pil, kekuatannya meningkat tiga kali lipat. Mengangkat senjata berat tiga-empat ratus kati pun bisa, apalagi hanya memecahkan secangkir teh. Itu wajar.】

Zhu Wuhuan begitu senang sampai nyaris gila!

Kalau bisa mengangkat tiga-empat ratus kati dengan tangan kosong, maka nanti kalau berkelahi, cukup tarik lengan lawan dan banting langsung ke tanah?

Sungguh luar biasa!

Tak akan ada lagi yang bisa menindasnya!

Saat sedang bersemangat, tiba -tiba ia merasakan sepasang mata tajam setajam elang sedang menatapnya. Ia cepat -cepat mendongak.

Bertemu langsung dengan tatapan Feng Changye, hatinya mencelos!

Tak bisa menjelaskan kenapa bisa memecahkan cangkir teh dengan tangan, ia pun langsung berubah menjadi ratu drama, menangis tersedu dan malah balik menyalahkan.

“Yang Mulia, betapa kejamnya hati Anda! Jika Anda memang berniat menyiram hamba dengan air panas sampai mati, kenapa tidak langsung saja menyiramkan air mendidih ke tubuh hamba? Mengapa berpura -pura memberi teh, tapi malah memakai cangkir rusak untuk menyakiti kedua tangan hamba?”

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel