Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 5 Tidak Ingin Berpisah

Tristan sedang memikirkan apa yang harus dia lakukan, dia sama sekali tidak menyangka bisa bertemu orang yang dikenalnya di Dunia Abadi.

Begitu menoleh, dia melihat sosok Aura yang cantik itu sedang berdiri di belakangnya.

Kalau dibandingkan dengan saat perpisahan sebelumnya, saat ini ekspresi Tetua Terhormat Sekte Dewa itu terlihat lebih hangat, bahkan tatapannya terlihat berbinar.

"Tetua Agung, ternyata kamu juga sudah naik ke sini?"

"Tempat ini adalah Dunia Abadi, aku bukan seorang Tetua Agung lagi. Ke depannya, kamu panggil aku Aura saja atau kalau kamu ingin memberiku nama panggilan juga boleh."

Alasan Aura berusaha mati matian untuk naik ke tempat ini adalah demi bertemu Tristan.

Tanpa diduga, begitu tiba di platform, dia sudah bertemu dengan pria itu. Saat ini, selain senang, dia juga merasa agak malu.

Sebagai Tetua Terhormat Sekte Dewa, selama ini wanita itu terlihat sangat dingin dan arogan. Namun, saat ini dia malah terlihat malu dan agak gugup. Dia segera mengubah topik pembicaraannya.

"Dokter Sakti, kamu memilih ke mana?"

"Aku...."

Mendengar pertanyaan wanita itu, Tristan langsung tidak bisa berkata kata. Setelah tiba di tempat ini, dia sudah dianggap sebagai orang yang tidak berguna dan tidak diinginkan oleh siapa pun, sehingga dia sendiri pun tidak tahu harus pergi ke mana.

"Apa kamu belum memutuskan? Bagaimana kalau kita bersama sama? Lebih baik ada kenalan, kita 'kan bisa saling menjaga."

Ekspresi Aura tetap terlihat dingin, tapi sudah jauh lebih hangat dibandingkan saat berada di Dunia Kultivasi.

Wanita itu menatap Melia dan tiga orang lainnya sambil bertanya, "Dokter Sakti memilih ke mana? Aku akan mengikutinya ke mana pun dia pergi."

"Uh...."

Ekspresi keempat orang itu langsung membeku, untuk sesaat mereka tidak tahu harus memberi jawaban seperti apa. Mereka sama sekali tidak menyangka orang tidak berguna seperti itu memiliki teman yang sangat berbakat.

"Nona, temanmu ini sangat tidak berbakat, tidak ada satu sekte pun yang bersedia menerimanya."

Belando masih sangat kesal dengan Tristan. Selain tidak berguna, pemuda itu sudah menyebabkan dirinya kehilangan satu kuota murid begitu saja. Jadi, dia menjadi orang pertama yang angkat bicara.

"Karena kalian sudah tiba di Dunia Abadi, maka kalian sudah tidak ada hubungannya dengan dunia awam. Jadi, tidak boleh memikirkan teman atau keluarga lagi. Sekarang seharusnya kamu memilih tujuan yang baik untuk dirimu sendiri. Ayo bergabung dengan Sekte Mana, aku jamin kamu akan meraih pencapaian yang sangat besar."

"Apa? Kalian bilang Dokter Sakti sangat tidak berbakat?"

Ekspresi Aura langsung berubah. Setelah terkejut sejenak, wanita itu terlihat emosi.

"Dokter Genius adalah genius bela diri di Dunia Kultivasi. Di usia dua puluhan tahun saja, dia sudah bisa naik ke Dunia Abadi. Kalian mengatakan orang seperti ini sangat tidak berbakat? Bagaimana mungkin? Pasti kalian sudah salah menilai!"

"Nona, jangan emosi dulu, dengarkan penjelasanku."

Melia berkata, "Setelah seseorang naik ke dunia ini, segala sesuatu yang dimiliki oleh orang tersebut sudah menjadi bagian dari masa lalu, termasuk bakat. Setelah mengalami bencana Surga, energi spiritual akan membantu merangsang akar spiritual seseorang. Saat itulah, reiki di dalam tubuh harus segera diubah menjadi inti abadi. Dengan begitu, seseorang baru bisa lanjut berlatih kultivasi. Selain itu, akar spiritual yang baik atau buruk menjadi menentu kecepatan reiki berubah menjadi inti abadi serta kecepatan berlatih kultivasi ke depannya. Selama memiliki bakat, hanya membutuhkan waktu beberapa tahun saja untuk melakukan proses tersebut. Tapi, kalau tidak berbakat, mungkin proses itu tidak akan berhasil dijalani seumur hidup. Karena itulah, tingkatan akar spiritual abadi menjadi kualifikasi utama bagi kami untuk merekrut murid."

Kemudian, dia mengangkat lengannya dan menunjuk Cermin Spiritual yang mengambang di udara, lalu berkata, "Ini adalah Cermin Spiritual dari Kediaman Raja Dewa Kirby dan berfungsi untuk mendeteksi kondisi akar spiritual abadi seseorang. Saat kamu muncul, delapan bintang menyala, artinya kamu adalah orang yang memiliki akar spiritual abadi yang jarang ditemukan. Selain itu, kamu juga memiliki tubuh fisik pedang yang sangat jarang ditemukan. Tapi, saat temanmu muncul, tidak ada satu bintang pun yang menyala, itu artinya dia sangat tidak berbakat. Lebih tepatnya, dia sama sekali tidak cocok untuk berlatih kultivasi di Dunia Abadi."

Begitu wanita itu selesai berbicara, Tristan langsung paham. Dia sudah memahami masalah perubahan reiki. Selain itu, dia juga sudah mengetahui alasan kenapa begitu dia muncul, dia sudah dianggap sebagai orang yang tidak berguna.

Dia mendongak dan melirik Cermin Spiritual itu. Namun, dia sama sekali tidak mengerti kenapa tidak ada satu bintang pun yang menyala.

Mungkin saja Aura memang lebih berbakat darinya, tapi kalau mengatakan bahwa dia sama sekali tidak memenuhi kualifikasi untuk memperoleh satu bintang pun, dia sama sekali tidak memercayainya.

Sebaliknya, Aura jauh lebih percaya diri darinya dan lebih yakin pada dirinya dibandingkan dirinya sendiri.

"Aku tidak percaya! Bagaimanapun juga, Dokter Sakti tidak mungkin adalah orang yang tidak berguna! Aku tidak peduli Cermin Spiritual apa dan bintang berapa ini, aku meyakini bahwa dia adalah genius di atas genius. Siapa pun yang meremehkannya, pasti akan menyesal sendiri!"

Menanggapi ucapan wanita itu, semua orang malah menggelengkan kepala mereka.

Bagaimanapun juga, semua kultivator yang berhasil naik ke Dunia Abadi adalah orang yang sangat berbakat di Dunia Fana, bahkan memiliki berbagai macam bakat. Namun, begitu tiba di Dunia Abadi, orang tersebut menempati posisi terendah.

Adapun mengenai Dokter Sakti, tentu saja semua orang di tempat ini tidak menganggap penting orang seperti itu. Bagaimanapun juga, tubuh fisik makhluk abadi berbeda dengan kultivator. Keterampilan medis Dunia Fana sama sekali tidak berguna di tempat ini.

Melia berkata, "Nona, kamu jangan emosi dulu. Walau kamu tidak percaya, fakta sudah terpapar di depan mata. Cermin Spiritual tidak mungkin salah."

"Tidak mungkin, pasti ada yang salah!"

Aura berkata, "Dokter Sakti adalah genius bela diri yang jarang ditemukan, pasti cermin kalian itu yang gagal mendeteksinya."

Melia berkata, "Mudah saja, kita bisa mengujinya sekali lagi."

Selesai berbicara, dia melambaikan tangannya untuk mengarahkan Cermin Spiritual ke Tristan.

Pandangan semua orang tertuju pada pemuda itu, mereka terlihat kebingungan. Apa mungkin Cermin Spiritual melakukan kesalahan? Namun, hal seperti itu tidak mungkin terjadi. Selama bertahun tahun, tidak pernah terjadi kesalahan.

Setelah mengamati cukup lama, mereka mendapati bahwa Cermin Spiritual tetap tidak bereaksi.

Melia menggelengkan kepalanya dengan tidak berdaya sambil berkata, "Nona, sekarang seharusnya kamu sudah percaya, 'kan? Temanmu ini memang tidak cocok berlatih kultivasi di Dunia Abadi."

"Aku tidak peduli, apa pun alasannya, aku tetap ingin bersama Dokter Sakti."

Aura berkata dengan ekspresi penuh keyakinan, "Kalau benar benar tidak ada orang yang ingin memilihnya, kami berlatih kultivasi secara individual saja. Atau menjadi orang tidak berguna pun tidak masalah!"

Mendengar ucapan wanita itu, Tristan merasa sangat terharu. Sepertinya saat berada di Dunia Kultivasi, dia sudah mengabaikan banyak hal.

Saat ini, mereka jelas jelas sudah berada di Dunia Abadi dan dirinya jelas jelas sudah menjadi orang yang tidak berguna, wanita itu tetap tidak meninggalkannya.

"Aura, sebenarnya kamu tidak perlu seperti ini."

Karena tidak ingin menghancurkan masa depan Aura, Tristan pun berkata, "Kamu tidak perlu memedulikanku. Biarpun aku tidak masuk ke sekte sekte besar itu, percaya padaku, ke depannya aku tetap bisa berlatih kultivasi."

"Tidak bisa seperti itu. Apa pun yang terjadi, aku tidak akan meninggalkanmu, kecuali kamu tidak menganggapku sebagai teman."

Nada bicara Aura sangat tegas, sorot matanya juga membara. Namun, dia tetap tidak mengungkapkan perasaannya. Saat ini, rasa malu menyelimuti hatinya, dia tidak bisa mengatakan bahwa tujuannya naik ke dunia ini adalah demi bertemu pria itu.

Kalau dia tidak bisa bersama pria itu, apa artinya dia naik ke dunia ini?

Dia menoleh menatap pimpinan Empat Sekte Besar, lalu berkata, "Aku akan ke mana pun Dokter Sakti pergi. Kalau ada sekte yang bersedia menerimanya, kami akan sangat berterima kasih. Kalau ingin kami berpisah, hal itu tidak mungkin terjadi."

Melihat wanita yang keras kepala dan arogan itu, Tristan menjadi makin terharu.

Tentu saja dia mengetahui dengan jelas situasi yang dia hadapi saat ini. Kalau tidak ada sekte yang bersedia menerimanya, dengan mengandalkan kemampuan seorang diri untuk berlatih kultivasi, kemungkinan besar dia akan menghadapi berbagai kesulitan. Bagaimanapun juga, dia baru tiba di Dunia Abadi dan belum tahu situasi di tempat ini.

Kalau didukung oleh satu sekte besar, tentu saja berbeda, dia bisa berkembang lebih cepat dalam berlatih kultivasi.

Semua orang di tempat itu langsung tercengang, mereka belum pernah menghadapi situasi seperti penjualan satu paket ini. Kalau mereka menginginkannya, mereka harus menerima Tristan juga.

Biasanya, bagi kultivator yang baru tiba di Dunia Abadi, pasti tidak akan menolak penawaran bagus dari sekte-sekte besar. Mereka baru pertama kali menghadapi orang seperti Aura.

Tentu saja sekte mana pun ingin menerima orang Bakat Delapan Bintang. Namun, tidak ada seorang pun yang bersedia menerima orang tidak berguna tanpa satu bintang pun.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel