Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3 Menyaksikan Keajaiban

Semua ini terjadi begitu tiba tiba, dan kecepatan tangan abadi juga sangat cepat. Sebelum Audrey sempat bereaksi, dia dia sudah ditangkap dan dibawa keluar Aula Nirwana.

"Hentikan sekarang juga!"

Belando meraung marah, mengangkat tangannya dan meninju.

Fandika dan Zillian juga melakukan hal yang sama, menyerang tangan besar abadi itu bersama sama.

Bagaimana pun, ini adalah murid berbakat bintang sembilan. Begitu dia menyelamatkannya, dia mungkin bersyukur dan bergabung dengan sektenya.

Karena itu, mereka bertiga tidak menahan apapun dan menggunakan seluruh kekuatan mereka.

Namun hal yang mengagetkan mereka adalah serangan ketiganya mengenai tangan raksasa itu, namun tidak bergerak sedikit pun, bahkan tidak memberikan pengaruh sama sekali.

Belando dan yang lainnya tiba tiba tampak ngeri. Sebarapa tinggi kultivasi orang ini?

Tepat pada saat ini, suara pedang bergema di langit, dan Melia juga ikut mengambil tindakan.

Cahaya pedang sepanjang satu kaki terbang dari tangannya dan melesat langsung ke arah tangan raksasa itu.

Meskipun cahaya pedang tidak panjang, ia memancarkan gelombang energi yang sangat kuat dan memiliki kekuatan yang mampu menghancurkan langit dan bumi.

Melihat pemandangan ini orang orang di sekitar tercengang. Mereka telah lama mengetahui bahwa Sekte Cahaya Pedang ahli dalam ilmu pedang, dan tetua agung Melia adalah master kedua di bawah Ketua Sekte.

Tapi kemudian pemandangan yang lebih mengejutkan terjadi. Tangan raksasa yang dialiri inti abadi itu pun bergerak, ia hanya mengulurkan satu jari dan menjentikkannya.

Kemudian hanya terdengar suara ding, dan cahaya pedang langsung terbang kembali, berubah menjadi pedang emas dan jatuh ke tanah.

"Ini……"

Saking terkejutnya, semua orang tercengang hingga ketakutan. Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa kekuatan pedang Melia bahkan tidak bisa dibandingkan dengan salah satu jarinya.

Kalau begitu, sebenarnya seberapa kuat pihak lain tersebut? Apakah itu Raja Dewa? Penguasa Abadi? Ataukah itu eksistensi yang lebih kuat?

Terlebih lagi Melia, matanya penuh ketakutan. Momen ini membuatnya sangat menyadari betapa kuatnya pihak lain.

Menghadapi lawan dengan tingkat kultivasi yang begitu kuat, mungkin hanya kakak perempuan seniornya yang bisa menghentikannya secara pribadi, tetapi hal itu jelas tidak mungkin dilakukan sekarang.

Pada saat semua orang tercengang, tangan besar abadi telah menghilang, membawa Audrey pergi bersamanya.

Seketika ada keheningan di dalam ruang besar Aula Nirawana, dan semua orang hanya menyaksikan kegembiraan itu. Lagipula, mustahil bagi murid berbakat bintang sembilan untuk bergabung dengan sektenya.

Mereka sama sekali tidak peduli dengan hilangnya wanita itu. Kalau hilang, hilang saja. Lagi pula, mereka sama sekali tidak menyayangkan hal tersebut.

Tetapi berbeda dengan sekte besar. Mengambil murid berbakat seperti itu di depan mereka tidak hanya akan menyebabkan kerugian besar, tetapi juga membawa aib bagi sekte mereka.

Hal yang paling penting adalah mereka bahkan tidak melihat wajah orang yang merenggut murid berbakat mereka, sehingga mereka tidak tahu siapa yang melakukannya.

Ekspresi Melia adalah yang paling jelek. Awalnya, dia diizinkan datang ke sini karena kepercayaan kakak perempuannya, tetapi pada akhirnya, dia kehilangan murid jeniusnya. Bagaimana dia menjelaskannya ketika dia kembali?

"Sudahlah, Nona Melia, empat sekte utama kita pasti bisa menyelesaikan masalah ini di masa depan. Mari kita lanjutkan sekarang."

Orang yang berbicara adalah Fandika, jika dibandingkan yang lainnya dia terlihat lebih santai.

Meskipun dia sudah kehilangan seorang murid dengan bakat bintang sembilan, dia sudah menyadari bahwa pilihan akhir Audrey jelas bukan dirinya.

Dalam seperti ini, dia sudah ikhlas kehilangan murid berbakat bintang sembilan bintang itu. Lagi pula dia sudah memiliki murid berbakat bintang enam di tangannya, sehingga dia tidak terlalu terpuruk.

Melia menghela nafas: "Baiklah kalau begitu."

Menurut pemikirannya, karena dia telah kehilangan murid berbakat yang sangat sulit ditemukan bahkan hanya bisa dilihat lihat sekali dalam sepuluh ribu tahun, dia tidak sabar untuk segera kembali ke sekte sekarang juga.

Tapi bagaimana pun juga, dia adalah tetua tertua dari sekte tersebut. Kalau dia pergi begitu saja dia akan terlihat seperti orang yang berpikiran sempit. Pada akhirnya, dia pun menahan diri dan duduk kembali.

Orang yang paling kesal adalah Belando. Tadi jelas jelas adalah gilirannya, dan yang muncul adalah seorang jenius yang luar biasa, tapi pada akhirnya direnggut oleh orang lain.

"Apa yang harus kita lakukan sekarang? Kali ini terjadi kejadian yang tdak terduga, giliran berikutnya seharusnya menjadi milikku, Sekte Mana."

"Boleh."

Fandika dan Zillian mengangguk setuju. Sedangkan Melia tidak berbicara, yang dianggap sebagai persetujuan.

Setelah kehilangan talenta bintang sembilan, tidak ada yang percaya bahwa yang berikutnya akan menjadi jenius, jadi tidak ada yang peduli.

Belando merasa sedikit lebih baik sekarang dan berharap dia tidak kecewa lain kali.

Memikirkan hal ini, dia mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Platform dan kemudian dia tertegun. Tanpa diduga, seorang pemuda sudah berdiri di sana.

Baru pada saat itulah orang lain menyadari bahwa orang lain yang telah naik telah tiba.

Tidak heran jika mereka tidak memperhatikan apapun sebelumnya. Pertama, semua perhatian mereka tertuju pada tangan raksasa dan Alina. Kedua orang yang baru tiba itu sama sekali tidak mengeluarkan suara.

Hingga saat ini, cermin spiritual tersebut masih tergantung diam di udara tanpa ada reaksi apapun.

Jangankan sembilan bintang menyala seperti tadi, bahkan satu bintang pun tidak menyala.

"Uh……"

Semua orang langsung tercengang sekarang. Mereka sama sekali tidak menyangka akan menyaksikan keajaiban dua kali berturut turut.

Selama bertahun tahun, sudah tidak ada kejadian sembilan bintang bersinar. Ini adalah sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Tapi sekarang, tidak ada satu bintang pun yang bersinar. Ini belum pernah terjadi sebelumnya. Jika benar, betapa tidak berbakatnya orang ini?

Mungkinkah cermin spiritualnya rusak, atau mungkin dia membutuhkan sedikit waktu lagi?

Semua orang hanya melihatnya, tapi setelah menunggu beberapa saat, masih belum ada reaksi dari cermin spiritual.

Tristan berdiri di tempat itu dengan tenang, merasakan dan mengamati dunia baru yang asing ini.

Tidak seperti Audrey, dia sudah siap mental dengan baik sebelum datang ke tempat ini. Terlebih lagi, sebelumnya dia sudah mengalami banyak kejadian dan menghadapi banya situasi sebelumnya. Karena itulah, dia sama sekali tidak panik.

Ketika semua penonton menatapnya, dia sama sekali tidak peduli, tetapi merasakan dan mengamati perbedaan di dunia baru ini.

Dibandingkan dengan bumi yang sudah tercemar oleh polusi industri, udara di tempat ini sangat bersih. Bahkan Benua Kanala pun tidak bisa dibandingkan dengan tampat ini.

Hal yang terpenting adalah tempat ini dipenuhi dengan energi spiritual abadi yang kaya. Energi seperti ini berbeda dengan bumi dan benua Kanala, bisa dibilang ia adalah energi spiritual dengan tingkatan yang lebih tinggi.

Awalnya, dia masih sangat bersemangat, tetapi kemudian jantungnya berdetak kencang, dan dia menemukan bahwa dia tidak dapat menyerap energi spiritual di tempat ini.

Benar, memang seperti itu. Tidak peduli seberapa banyak dia mengedarkan reiki di dalam tubuhnya, dia sama sekali tidak dapat menyerap sedikit pun energi spiritual abadi.

Saking terkejutnya ini membuat dirinya berkeringat dingin. Jika situasi ini tidak bisa diubah, dia akan menjadi orang yang tidak berguna di dunia abadi.

Di alam bawah, dia memiliki kekuatan yang tak tertandingi, dan dia bisa disebut orang terkuat. Dia bahkan bisa membunuh makhluk yang sudah mencapai Dewa Kehampaan dengan kekuatan yang dimiliki seorang kultivator abadi.

Namun begitu sampai di tempat ini, situasi sangat langsung berbubah. Dia tidak bisa menyerap energi spiritual, itu berbarti kekuatannya sudah tidak berguna lagi. Begitu dia menggunakan energi di dalam tubuhnya dia akan terus berkurang dan tidak dapat dipulihkan sama sekali.

Mungkinkah dengan tingkat kultivasi yang dia miliki, dia tidak dapat menyerap energi spiritual abadi? Namun, tidak mungkin seperti itu. Ketika berada di dunia bawah, dia pernah berlatih kultivasi dengan menggunakan Kristal Abadi, dan efeknya ternyata sangat bagus.

Dengan perasaan penuh keraguan dan kepanikan, dia diam diam mengeluarkan Kristal Abadi dan memegangnya di tangannya, hasilnya membuatnya sangat terkejut.

Sama seperti sebelumnya, Meskipun dia menggunakan Kritas Abadi, dia juga tidak bisa menyerap energi spiritual sedikit pun.

“Eh....ini…kenapa ini?”

Dia tidak panik sama sekali saat naik, tapi sekarang Tristan benar benar panik.

Jika dia kehilangan kultivasinya, maka dia adalah orang yang tidak berguna. Bagaimana dia bisa menghadapi Raja Dewa yang tersembunyi?

Bagaimana menemukan Lili, Naira, Audrey, keyla dan lainnya? Bagaimana cara membuka jalan bagi saudara dan kerabat yang akan menuju ke tempat ini?

Mungkinkah awan itu mengubah tubuh fisikku?

Tristan mencoba menenangkan dirinya sendiri, lalu memikirkan semua perubahan yang telah terjadi sebelum dan sesudah dirinya menuju ke tempat ini.

Pada akhirnya, dia teringat dengan awan tujuh warna itu. Saat benda itu masuk ke dalam tubuhnya, dia sudah merasakan ada yang berbeda dengan tubuhnya. Namun dia tidak menyangka akan membawa perubahan seperti itu.

Bagaimana ini? apa yang harus dilakukan? Bagaimana aku bisa berlatih kultivasi kembali?.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel