Pustaka
Bahasa Indonesia

Karena Anak Hatiku Melunak

30.0K · Ongoing
Stephanie12
29
Bab
153
View
9.0
Rating

Ringkasan

Tanti tinggal dengan Ibu tiri dan kakak tirinya yang jahat. Secara terang-terangan, ibu tiri dan kakak tirinya yang jahat menjual keperawanan Tanti pada seorang pria kaya raya dengan alasan untuk membayar hutang almarhum ayahnya. One night stand yanh terjadi antara Tanti dan Darian mengakibatkan kehamilan. Namun ibu tiri dan kakak tirinya tidak menerima kehamilannya dan mengusirnya paksa. Enam tahun kemudian, Tanti bertemu dengan Darian di rumah sakit. Pada saat Tanti berada di bagian administrasi untuk menanyakan biaya rumah sakit. Rasa penasaran Darian bertambah, tatkala ia tahu keberadaan Tanti karena Ade. Ade di rawat di rumah sakit karena penyakit sumsum tulang belakang. Lebih terkejut lagi pada saat ia iseng tes DNA Ade, dan mengetahui bahwa Ade darah dagingnya. Darian pun berniat ingin memperbaiki kesalahannya di masa lalu. Bahkan ia bersedia mendonorkan sum-sum tulang belakangnya demi kesembuhan Ade. Tanti alami dilema, karena ia tidak ingin bertemu dengan Darian lagi. Di satu sisi, hanya Darian yang bisa mendonorkan sum-sum tulang belakang untuk Ade. Apakah yang akan di lakukan oleh Tanti, untuk kesembuhan Ade? Apakah akhirnya ia menerima bantuan Darian?

One-night StandTuan MudaRomansaSweetMenyedihkanDewasaBaper

Miris

Tanti berusaha menolak pada saat ia di paksa untuk menjual keperawanannya oleh Mirna, sang ibu tiri dan Tika sang kakak tiri. Akan tetapi, sekuat apapun Tanti menolak, ia tidak berhasil karena tidak bisa melawan para bodyguard yang bertubuh tinggi besar.

"Bu, aku nggak mau melakukan yang ibu perintahkan! Kenapa nggak ibu minta Mbak Tika saja yang menjual keperawanannya?" tolak Tanti memberontak pada saat dua body guard mencekal paksa lengannya, satudari sisi kanan dan satu dari sisi kiri.

Mendengar apa yang barusan dikatakan oleh Tanti, membuat Mirna tersulut emosi dan ia menampar keras salah satu pipi Tanti hingga memerah, “Jaga bicaramu ya! Ibu menjual keperawananmu untuk membayar semua hutang mendiang ayahmu pada saat masih hidup! Ibu sudah lelah terus menerus di kejar oleh rentenir!"

Seorang mucikari yang di perintah oleh seorang CEO untuk mencari seorang anak perawan sudah tidak ingin berlama-lama, karena CEO tersebut sudah tidak sabar.

"Sudah, nggak usah ada drama lagi! Pelangganku sudah tidak sabar untuk merasakan kenikmatan perawan desa ini!  Nanti beliau akan mentransfer sisa uangnya jika memang gadis yang kamu tawarkan ini benar-benar masih perawan!" ucap Bondo melotot.

Mirna pun tidak berani membantah karena ia sudah menerima uang transferan sebesar lima ratus juta. “Baiklah, Tuan Bondo. silahkan bawa saja anak tiri saya. Dijamin dia masih orisinil belum tersentuh sama sekali."

Bondo tidak ingin berlama-lama, ia meminta para anak buahnya menyeret paksa Tanti ke dalam mobil, bahkan Tanti diperlakukan sangat kasar. Kedua tangannya diikat dibelakang punggungnya dan mulutnya ditutup dengan lakban hitam, serta mata Tanti di tutup pula dengan kain sehingga Tanti tidak berdaya dan tidak bisa melihat ke mana dia akan dibawa.

Tanti benar-benar tak berdaya, hanya derai air mata yang saja yang terus-menerus menetes. 

Beberapa menit kemudian, sampailah mobil yang di tumpangi oleh Tanti di sebuah apartement mewah. Bondo meminta dua anak buahnya membawa Tanti masuk.

Terdengar perbincangan antara Bondo dengan CEO tersebut. “Masukkan dia ke dalam kamarku, cepat! Dan sisa pembayarannya akan segera aku transfer jika memang ia masih perawan."

Tanti di seret paksa dan di dorong masuk ke sebuah kamar mewah. Bahkan dengan kondisi masih terikat, ia terpelanting jatuh tepat di atas ranjang. Bondo dan dua anak buahnya segera pergi dari apartement tersebut.

Darian yang sudah tidak sabar karena badannya terasa panas akibat minuman keras yang telah di campuri oleh obat perangsang langsung menghampiri Tanti. Darian benar-benar sudah hilang kendali.

Dia pun melepas ikatan pada tangan Tanti, dan juga membuka penutup mata serta lakban hitam yang menutupi mulut Tanti. Kini Tanti bisa melihat pria yang akan merenggut mahkotanya.

Pria yang masih sangat muda dan tampan, memiliki alis tebal, hidung mancung dan rahang yang tegas.

"Tuan, saya mohon lepaskan saya. Jangan nodai saya."

Dengan derai air mata, Tanti memohon memelas pada Darian. Ia menangkupkan kedua tangannya di dada.

Permintaan Tanti sama sekali tidak di dengar oleh Darian. Justru ia merobek paksa baju yang saat ini di kenakan oleh Tanti, hingga terlihat tubuh mulusnya yang semakin menambah gejolak hasrat pada Darian.

Terjadilah apa yang sama sekali tidak pernah Tanti bayangkan selama hidupnya.

“Tolong. Jangan, Tuan.” Tanti memohon, menggelengkan kepalanya dengan tangisan yang membasah di wajah. Namun, Darian sudah hilang akal dan tidak bisa lagi menguasai dirinya.

“Aku sudah membayarmu. Kau hanya harus patuh padaku!” 

Dengan kasar, Darian merenggut mahkota Tanti.

“Ah. Tidak! Tolong lepaskan aku!” Teriakan Tanti tidak digubris oleh laki-laki itu. Darian terus saja memaksakan kehendaknya yang telah dilingkupi oleh hawa napsu yang sudah tidak terbendung lagi.

“Ah, sialan!” Darian memejamkan matanya, merasakan pada miliknya yang juga sakit dan sulit menembus dinding di dalam sana.

“Ah, sakit!” teriak Tanti dengan suara yang keras. Bak dibanting tubuhnya dan dipatahkan tulangnya, di bagian intinya terasa sakit saat dirobek paksa oleh laki-laki yang tidak dia kenali sama sekali. Biadab!

Setelah puas, Darian tertidur pulas tanpa ada rasa berdosa sama sekali.

Tanti menangis setelah kejadian rudapaksa itu. Dia memeluk selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos dan sakit. Ditatapnya pria yang ada di sampingnya dengan rasa marah. Tangannya terkepal, ingin sekali dia membunuh laki-laki ini karena merenggut kehormatannya. Akan tetapi, dia sadar. Dirinya akan semakin kotor jika melakukan hal itu.

Tanti memutuskan untuk pergi. Dia meraih jaket milik Darian untuk menutupi bagian atas tubuhnya karena bajunya telah robek.

Satu bulan kemudian ....

Tanti merasakan mual dan juga pening kepalanya. Mirna merasa curiga dengan kondisi Tanti. Ia lekas membawa Tanti ke bidan, dan mendapati bahwa Tanti positif hamil. Sontak saja Mirna tidak ingin menanggung malu, apa lagi Tanti hamil tidak ada suami.

"Tika, tolong kamu kemasi semua pakaian Tanti sekarang juga!" 

Tanpa ada kata, Tika langsung mengemasi semua pakaian Tanti dalam sebuah koper kecil dan melemparkannya tepat ke hadapan Tanti.

Tanti merasa heran. “Bu, kenapa semua bajuku di masukkan kedalam koper?"

"Dasar bodoh, belum paham juga hah? Kami ingin sekarang juga kamu angkat kaki dari rumah ini, karena kami tidak ingin menanggung malu atas kehamilanmu yang tanpa suami!" oceh Mirna seraya mencengkeram rahang Tanti.

Tanti merasa kesakitan atas apa yang dilakukan oleh ibu tirinya. Dia berusaha meminta belas kasihan pada Mirna dan kakak tirinya. “Bu, Mbak Tika. Kalian juga yang memaksaku waktu itu untuk menjual keperawananku, bukan? Kenapa aku justru di usir dari rumahku ini?"

Mirna tidak ingin mendengar banyak keluh kesah atau permohonan Tanti, tanpa ada satu katapun, ia mendorong tubuh Tanti ke pelataran rumah. Sedangkan Tika melempar koper tersebut. Ibu dan anak ini langsung menutup pintu dari dalam.

Tanti tidak tinggal diam, ia pun lekas mengetuk pintu rumah itu tapi tidak di buka juga. Sementara kondisi sedang hujan lebat dan terdengar petir menyambar.

“Bu. Ibu!”

Tidak ada sahutan dari dalam.

“Kak Tika. Tolong bukakan pintunya. Tolong buka. Aku mau ke mana lagi kalau pergi dari rumah ini?” Tangis Tanti berderai, hatinya sakit dengan apa yang dia dapatkan saat ini. Perlakuan ibu dan kakak tirinya sungguh keterlaluan.

Akhirnya, dalam kondisi terguyur air hujan, Tanti melangkah pergi dengan menyeret kopernya.

Tanti tidak tahu lagi dia harus pergi ke mana. Dia tidak memiliki saudara di kota ini.

“Tanti?” teriak seseorang di antara hujan yang mengguyur. Tanti menoleh dan menemukan Arin, sahabatnya memanggil.

“Ngapain kamu di sini?” Arin melihat Tanti dengan bingung. Namun, Tanti hanya menangis dan akhirnya Arin menyuruhnya untuk ikut ke rumahnya.

Dia mendapatkan pertolongan dari Arin, dan ia di izinkan tinggal di rumah yang hanya tinggal bersama ibunya.

Berbeda situasi di rumah Darian. Sejak kejadian itu, ia teringat pada Tanti.

Darian tidak bisa tidur dengan nyenyak. Dia juga tidak bisa mengalihkan pikirannya dari kejadian di malam itu.

"Ya Allah, sebulan sudah berlalu tapi aku ingat terus dengan gadis manis yang telah aku ambil keperawanannya secara paksa. Semua ini gara-gara pengaruh alkohol yang telah di campur obat perangsang. Siapa sebenarnya yang telah mencampuri minumanku dengan obat waktu itu ya?" gumam Darian kesal. Dia merasa bersalah setelah mengingat kejadian malam itu yang telah membuatnya merenggut kesucian seorang wanita.

Untuk menebus rasa bersalahnya, ia meminta salah satu asisten pribadinya untuk mencari tahu siapa yang telah menaruh obat itu dan mencari dimana rumah Tanti lewat informasi dari Gondo. Tetapi gagal, karena Tanti sudah pergi dari rumah tersebut.

Rasa dosa dan penyesalan terus saja menghantui pikiran Darian. Bahkan ia sampai tidak fokus dalam bekerja karena memikirkan Tanti.

*******

Beberapa bulan kemudian....

Kehamilan Tanti sudah terlihat besar, tetapi ia masih bekerja di cafe. Pemilik cafe tidak tega memecat Tanti setelah mengetahui cerita miris yang telah dialami oleh Tanti. Awalnya Tanti malu untuk bercerita, tapi dia juga tidak ingin dicap buruk dengan pemikiran orang lain terutama atasannya. 

Tanti terlihat sangat letih, ia pun duduk sejenak. Hal ini membuat Arin merasa iba.

"Tanti, apakah kamu baik-baik saja? Apakah sudah waktunya kamu melahirkan?"

Tanti mencoba tersenyum. “Aku baik-baik saja, hanya saja agak lelah. Mungkin karena kandungku sudah memasuki umur sembilan bulan. Aku belum ada tanda-tanda melahirkan, kok. Eh, sudah ya. Aku mau bersihin cangkir dan piring."

Tanti tidak ingin terlihat lemah di hadapan Arin, setelah sejenak melepas lelah ia segera ke depan untuk membersihkan semua piring dan gelas di meja-meja cafe tersebut.

Pada saat ia berjalan, tidak sengaja ia menabrak seseorang. Hingga salah satu cangkir yang masih ada isinya tertumpah ke baju orang itu.

"Aduh. Maaf. Maafkan sa—“

Tanti menghentikan perkataannya pada saat melihat orang yang ada di depannya. Ia pun ketakutan dan lekas berlari untuk bersembunyi. Sementara itu Darian terpaku melihat wanita berperut besar itu.

"Astaga. Bukankah itu orang yang selama ini aku cari?" Darian mencoba untuk mengingat, tap jika bukan, kenapa wanita itu harus lari?

Tanti dengan cepat bersembunyi, meninggalkan cangkir yang tadi dia pegang di meja dekat Darian berdiri.

“Astaga. Ada dia di sini!” Dada Tanti berdebar kencang. Dia benci dengan laki-laki itu dan tidak ingin bertemu dengannya.

Darian berusaha mencari keberadaan Tanti tapi sebelum usahanya berhasil, seorang wanita menghampirinya.

“Ternyata Anda ada di sini, Tuan Darian. Tuan Rocky sudah menunggu,” ucap seorang wanita, sekretaris pribadi Darian yang telah lama menaruh hati padanya.

Darian kesal, dengan sangat terpaksa dia menghentikan pencariannya terhadap Tanti karena ia tidak ingin mengecewakan klien barunya.

Masih ketakutan, Tanti meminta izin pulang sebelum waktunya dengan alasan kurang enak badan.

“Apa yang dia lakukan? Apa dia akan membawa anakku?” Pikiran Tanti sudah sampai pada hal yang jauh. Apa lagi kan?

Sesampainya di rumah Arin, ia berpamitan pada ibunya Arin untuk mencari tempat tinggal yang lain. Ia juga menceritakan perihal yang barusan terjadi padanya.

Tanti sangat ketakutan, terlintas lagi di dalam pikirannya kejadian beberapa bulan yang lalu. 

Sementara Darian juga terbayang pada Tanti terus. Bahkan ia penasaran dengan kehamilan Tanti.

"Ya Allah, apakah anak yang di kandungnya anakku? Alangkah berdosa aku jika memang hal itu benar," batin Darian.

Setelah urusannya dengan kliennya selesai, ia memutuskan untuk bertanya ke pemilik cafe tentang Tanti. Darian mendapatkan informasi tentang tempat tinggal Tanti yakni di rumah Arin.

Dengan bantuan anak buahnya, Darian berhasil menemukan rumah Arin. Namun, ia kecewa karena Tanti sudah tidak ada di rumah Arin. Bahkan baik Arin maupun ibunya mengatakan tidak tahu menahu tentang kepergian Tanti.

"Apakah kalian tidak berbohong pada saya? Tolong beri tahu dimana sekarang Tanti berada?" pinta salah satu anak buah Darian menatap sendu pada Arin dan ibunya.

Arin dan ibunya tetap mengatakan tidak tahu karena Tanti pergi tidak pamit sama sekali.

Lagi-lagi Darian sangat kecewa karena gagal bertemu dengan Arin.