Pustaka
Bahasa Indonesia

Kalam Rindu

90.0K · Tamat
Romansa Universe
80
Bab
13.0K
View
9.0
Rating

Ringkasan

“Aku tidak mungkin sanggup dimadu. Jika kamu memang ingin menikahi Bita, aku mundur, Suf.”Yusuf melihat Zahra dengan netra yang membulat. Netra yang agak sipit itu menatap lurus ke arah netra Zahra tajam, setajam ujung kalam yang selama ini menemaninya menggapai cita-cita agar dapat menaikkan taraf hidupnya. Demi apa? Semua demi menikahi Zahra. Dia tidak mengerti mengapa Zahra begitu menggampangkan perjuangan hidupnya selama ini, hanya karena mendengar cerita tidak jelas dari pesantren.“Mundur? Aku tidak mungkin menikahi perempuan lain, jika di dalam otak dan hatiku hanya ada Zahra. Bahkan aku harus selalu beristighfar karena dosa, takut cintaku padamu, melebihi cinta pada Penciptaku sendiri.” Setelah berjuang demi taraf hidup yang lebih baik, pasangan ini didera berbagai masalah tiada henti, sulitnya mendapatkan momongan, sampai perjodohan Yusuf dengan anak-anak Kyai Ghafur yang sangat berminat menjadikannya menantu dan gangguan dari Evan, laki-laki yang selalu mendekati isterinya.

RomansaMetropolitanDokter

Bab 1 Bentuk Pengabdian

Bab 1 Bentuk Pengabdian

Salwa didampingi dua orang ibu dan para suami mereka berjalan tergesa-gesa. Keringat membasahi baju mereka. Waktu sudah hampir pukul tujuh malam, hal itulah yang membuat Salwa memutuskan untuk minta dijemput. Desa ini tidak mempunyai fasilitas listrik sehingga malam terasa begitu kelam. Dan Salwa ragu dimana tepatnya rumah yang harus dia datangi.

Ia baru saja menunaikan salat Maghrib terlebih dahulu. Masyarakat di kampung tempat ia mengabdi hampir melewati satu tahun ini, sudah tahu kalau ia perlu menunaikan salat wajib lima waktu. Karena tidak ada gaung mesjid untuk mengingatkannya maka jam tangan menjadi penunjuk waktu utamanya.

Salwa mempunyai ponsel tetapi sangat tergantung pada ketersediaan daya. Sehingga, ia akan berhemat dan menggunakan ponselnya untuk hal yang sangat penting. Ia baru bisa mengisi daya di pagi hari saat berada di Puskesmas yang alhamdullilah, sudah dilengkapi dengan fasilitas generator listrik.

Salah seorang suami yang mengawal mereka berjalan mendahului, menenteng lampu petromak strongking untuk menerangi jalan tanah yang mereka lalui. Lampu yang memang mereka butuhkan karena kampung di mana mereka berada, masih belum dijangkau oleh penerangan. Ada beberapa rumah dari tokoh di kampung tersebut yang memiliki mesin generator listrik, tapi tidak termasuk pasien yang akan mereka datangi. Sebelum berangkat tadi, Salwa tidak lupa membawa semua peralatan medisnya termasuk senter untuk dipakai di kepalanya nanti.

Mereka terus menembus malam membisu, hingga sampai di depan sebuah rumah sederhana bercat hijau. Dari luar mereka sudah mendengar rintihan kesakitan seorang wanita.

“Mari dokter, langsung saja,” sapa salah satu ibu begitu mereka sampai di rumah penduduk yang dituju. Tanpa lama, Salwa langsung masuk ke dalam kamar di mana seorang wanita yang hampir melahirkan sedang menanti. Selain pasien ada juga seorang ibu tua yang menemani wanita tersebut. Mereka memanggilnya Mama Berta, dukun kampung yang biasa membantu dalam proses persalinan.

Mungkin terdengar aneh tetapi Salwa memang mengajak dukun kampung untuk membantunya. Bahkan sudah Salwa latih setelah tiga bulan ia ditugaskan di sana. Salwa percaya kalau menggunakan kearifan lokal, akan memberikan efek jangka panjang yang lebih baik dalam membantu perubahan cara berpikir dari masyarakat. Khususnya terkait dengan penerapan pola hidup sehat.

Jeritan kesakitan dari wanita tersebut terdengar sangat menyayat hati. Suaminya sedang menanti di luar dengan cemas, kelahiran dari anak pertama mereka.

Salwa belum menikah. Sehingga dalam keadaan seperti ini ia selalu takjub dengan kehebatan perjuangan seorang Ibu melahirkan anak mereka. Pertama ia akan memeriksa dan memastikan keadaan ibu sehat untuk melahirkan normal. Setelah itu barulah dukun kampung terlatih membantunya mengeluarkan si jabang bayi. Jika kondisi sang ibu tidak memungkinkan untuk melahirkan normal, maka mereka akan melakukan koordinasi dengan tim siaga darurat di desa, untuk membawa pasien ke rumah sakit di tingkat kabupaten.

Setelah memeriksa, Salwa berkata pada Mama Berta, “Syukurlah, ibu ini sehat. Tekanan darahnya juga stabil, sehingga ia siap untuk melahirkan secara normal.”

“Baik, Dokter!”

Bismillah, bisik Salwa dalam hati. Dengan bantuan wanita yang sudah menantinya sejak tadi, mereka mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan. Pintu rahim sudah terbuka sejauh 7 cm. Menurut perkiraan Salwa, mungkin enam puluh menit lagi, maka bayi yang dinantikan akan segera merasakan kehangatan dari bumi yang akan menjadi tempat dia menjalani kehidupannya.

*

Dua jam kemudian Salwa sudah kembali berada di rumahnya. Sebuah rumah sederhana yang disediakan para tokoh masyarakat di tengah kampung. Setiap malam, ia selalu ditemani oleh dua orang pemudi yang menempati salah satu kamar yang kosong. Para tokoh adat dan masyarakat tidak menempatkan Salwa pada mess dekat Puskesmas karena alasan keamanan. Kalau ia sudah berkeluarga mungkin akan lain ceritanya. Lagipula, pengalaman akan susahnya mendapatkan tenaga medis di daerah terpencil, membuat Camat dan Kepala Desa benar-benar memastikan Salwa merasa nyaman dan betah mengabdi untuk mereka.

Salwa meninggalkan Mama Berta dan keluarga pasien untuk mendampingi ibu muda yang baru saja ia bantu melahirkan. Salwa memberi wanti-wanti agar sang ibu tidak boleh dirawat dengan cara tradisional selama masa nifasnya.

Dulu, masyarakat percaya kalau wanita yang sudah melahirkan dan bayinya perlu dipanggang dalam rumah bulat. Rumah bulat adalah sejenis rumah tradisional beratap rumbia yang tidak memiliki ventilasi udara kecuali pintu kecil sebagai satu-satunya lubang dari rumah tersebut. Atapnya berbentuk bulat yang bubungannya dipakai untuk menyimpan hasil panen seperti jagung. Fungsinya sebagai dapur sehingga terasa hangat. Tradisi panggang api yang selalu diagung-agungkan pada jaman nenek moyang.

Saat itu, dipercaya dengan memanggang ibu yang baru selesai melahirkan, dipercaya bisa menghilangkan pegal akibat sakit melahirkan. Juga sekaligus menghangatkan bayi jika berada di sana selama empat puluh hari. Terkadang, di kolong tempat tidur ibu dan bayinya, juga ditebar arang sehingga menghangati dari arah bawah.

Kebiasaan yang sudah berlaku turun temurun ini yang kemudian menjadi salah satu praktik yang sudah mulai menghilang. Pemerintah bekerja keras untuk memberikan penyuluhan akan dampak jangka panjang negatif yang bisa berpengaruh pada kesehatan ibu dan anak. Walaupun demikian, Salwa tetap mengingatkan keluarga pasien yang ia tangani tentang hal ini. Salwa tidak mau pasien mudah terpengaruh jika ada kunjungan dari para generasi tua, yang hidup dalam masa perawatan tradisional setelah melahirkan.

Salwa adalah seorang seorang dokter yang sedang menjalankan masa program Pegawai Tidak Tetap (PTT) di daerah Daerah Terpencil dan Perbatasan Kepulauan (DTPK) yaitu Kabupaten Timur Tengah Utara (TTU) di pulau Timor, Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia mengabdi selama delapan belas bulan dan sudah satu tahun ia berada di sana. Ia ditempatkan di salah satu Kecamatan yang berbatasan dengan Oecusse, salah satu wilayah dari negara Timor Leste Daerah perbukitan yang jauh dari angin laut. Sejauh mata memandang hanya hamparan perkampungan di antara tumpukan bukit dan lembah, khas daerah pegunungan.

Sangat berbeda jauh dengan wilayah lainnya di NTT yang berupa padang savana seperti pulau Sumba. TTU ada di pulau Timor sebagai salah satu pulau terbesar dari pulau lainnya. Flobamora merupakan semboyan dari NTT yaitu pulau Flores, pulau Sumba, pulau Timor, dan pulau Alor.

Namun, masih banyak pulau kecil lainnya seperti pulau Sabu dan pulau Rote yang mudah dijangkau dari pulau Timor atau pulau Komodo dan pulau Lembata yang lebih dekat ke fasilitas perhubungan di pulau Flores. Di TTU, masyarakat memelihara sapi, babi, bebek atau ayam. Walau pun ada ikan di pasar untuk dikonsumsi tetapi harganya akan mahal. Sedangkan, untuk kehidupan sehari-hari, selain kacang-kacangan dan sayuran, masyarakat lebih sering mengonsumsi daging dan telur.

Salwa sejak awal sudah jatuh cinta dengan salah satu daerah di Indonesia Timur ini karena berbagai data kesehatan yang telah ia pelajari selama masa kuliah. Walau pilihan lokasinya ditentang oleh keluarga besarnya, Salwa tetap bertekad untuk mengabdi di NTT. Keluarganya khawatir Salwa tidak akan bisa bertahan karena tidak ada masjid, tidak ada apa pun di sana yang mendukung ibadahnya sebagai seorang muslimah.

Begitu ia tiba pada hari pertama, Salwa semakin terpukau pada daerah terisolir di NTT, dengan suasana sepi, dengan penduduknya yang hidup sederhana dan tidak pernah mengkhianati alam mereka. Meski benar seperti perkiraan ibunya, dia satu-satunya penduduk berjilbab di sini.

Namun, setelah dua belas bulan mengabdi tanpa pulang ke kampung halamannya, cinta kasih manusia yang tulus membuat ibadah itu terasa lebih mudah bagi Salwa.

Kadang anak-anak itu mendengar dia membacakan kalam Illahi, tanpa bertanya, hanya mendengar saja dalam sepi. Kemana dia pergi, kemudahan untuk salat wajib lima waktu selalu dia dapatkan. Saat mengobati orang sakit, dan datang waktu Dhuhur, maka air bersih di kendi tersedia. Tempat untuk menghamparkan sajadahnya pun telah disiapkan. Semua tahu dia muslim, dan dia berbeda dari mereka.

Dengan segala keindahan alam dan kepolosan masyarakatnya, meski dalam situasi yang sangat-sangat terbatas dalam hal apapun, Salwa bertekad untuk menghabiskan masa PTT-nya tanpa mengeluh. Justru dia merasa benar-benar menjadi manusia yang sangat berguna. Apalagi setelah ia mengetahui tingginya angka gizi buruk di Kabupaten TTU.

Bersambung