BAB 8 HARUS BANGKIT
Bulan ini adalah bulan Agustus, dimana biasanya musim kemarau sudah datang. Awan yang biasanya menutupi matahari pada musim kemarau mereka akan pergi menjauh entah karena bosan atau hanya ingin sedikit menghindar, sehingga membuat matahari lebih terik. Suhu sudah mulai panas dan lembab. Tanah pun juga mulai retak.
Namun tidak untuk saat ini. Meskipun kemarau datang di bulan Agustus tapi Agustus saat ini berbeda dengan biasanya. Agustus sekarang lebih bersahabat, atau malah merupakan tanda awal dari sebuah bencana. Ya, beberapa hari di bulan Agustus hujan datang mengguyur. Tidak hanya rintik-rintik gerimis, namun juga hujan deras dan petir yang menyambar.
Entah apa yang sudah Tuhan rencanakan. Keadaan seperti ini pasti akan sangat membuat para petani merugi. Gagal panen sudah jelas dirasakan oleh mereka begitu juga para pekerja lain yang menggantungkan pekerjaannya pada musim. Pasti akan sangat merugi.
Hari ini dua minggu pernikahanku, yang berarti sudah dua minggu pula aku kehilangan mama. Kematian mama seperti kematian bagi diriku sendiri. Semangat hidupku semakin hari semakin melemah. Entah kenapa aku menjadi sangat egois. Aku menjadi sangat menikmati keterpurukan ini. Mengurung diri di kamar sambil memeluk foto mama adalah pekerjaanku sehari-hari. Aku seperti hidup dalam kematian. Berat sekali menerima kenyataan bahwa mama sudah pergi selamanya. Mama, orang yang selalu berjuang demi kehidupanku, demi masa depanku, pelita hidupku, kini tiada lagi.
Aku berdiri di jendela kamar Endruw. Sejak menikah Endruw memboyongku ke rumahnya. Pernikahan kami tidak seperti pernikahan pada umumnya. Malam pertama kami, Endruw habiskan untuk menghapus air mataku. Begitupun dengan malam-malam selanjutnya. Dia sama sekali belum menyentuhku, dia belum pernah meminta haknya padaku. Bagaimana mau meminta hak? Melihatku yang seperti mayat hidup ini mungkin dia tidak tega.
Setiap hari Endruw mengurusku. Dia tidak pernah meminta haknya dariku, namun dia selalu melakukan kewajibannya terhadapku. Dengan sabar, dia selalu membantuku untuk mandi. Dia pun selalu menyuapkan makanan untukku. Siang hari saat istirahat kantornya, dia sempatkan pulang ke rumah untuk menyuapiku makan siang. Sebenarnya di rumah ada banyak asisten, Siti asisten di rumahku dulu juga dibawa ENdruw ke rumah. Namun untuk mengurusiku, dia selalu melakukannya seorang diri.
Dari luar terdengar deru mesin mobil yang aku yakin bukan mobil Endruw. Terlihat sebuah mobil mewah berwarna putih masuk ke halaman rumah. Itu adalah mobil Rani. Aku ingat bagaimana perjuangan Rani untuk mendapatkan mobil itu, sampai dia harus memacari seorang marketing dari sebuah shorum mobil untuk mendapatkan diskon besar. Aku tersenyum geli saat mengingat peristiwa itu.
Rani turun dari mobil, biasanya dia ke sini dengan teman-teman namun kali ini dia sendiri. Endruw memang meminta Rani dan teman-temanku untuk sering mengunjungiku di rumah agar aku tidak merasa kesepian.
“Hai Firza, apa kabar?” Sapa Rani membuka pintu kamarku.
“Hah cepat sekali anak ini sampai di kamar, bukannya barusan turun dari mobil”, pikirku.
Ternyata Rani lari-lari dari halaman ke kamar, terlihat dari nafasnya yang ngos-ngos an.
“Kamu kenapa Ran?” Tanyaku sambil berjalan mendekati Rani dan mengajaknya duduk di ranjang.
“Aku dikejar sama kucing. Itu kucing kan biasanya anteng di kandangnya kenapa sekarang dikeluarin sih. Aku kan takut banget sama kucing Fir, apalagi kucingnya masih bayi ada tiga lagi. Sumpah, kucing sama tikus enggak ada bedanya, sama-sama kecil”, celoteh Rani.
Aku tersenyum kecil menanggapi celotehan Rani. Kucing itu anak-anaknya Mickey, kucing kesayangan Bunda yang baru saja melahirkan.
“Fir, kamu tau Doni enggak?” Tanya Rani tiba-tiba. Aku menggelengkan kepala pertanda tidak tahu.
“Itu kepala bagian pemasaran yang baru”, jawabnya bersemangat.
“Emang kenapa?” Jawabku masih tetap tenang, tidak bersemangat mendengar cerita Rani.
“Kemarin aku habis nge-date sama dia, kami udah jadian”, ucapnya sambil malu-malu. Aku tersenyum senang mendengar ucapan Rani. Sebenarnya bukan senang karena dia sudah jadian, tapi karena ekspresi wajah malunya itu yang bikin aku begidik karena geli. Bagiku mendengar Rani jadian dengan seorang laki-laki itu sudah biasa. Hampir enam bulan sekali dia ganti pacar, sudah seperti ke dokter gigi saja.
“Ternyata Doni orangnya romantis banget lo Fir. Dia sendiri yang nyiapin makan malam romantis buat aku tadi malam. Dia juga ngasih aku bunga, bunganya wangii banget. Terus dia ngajakin aku dansa, dengan music yang seadanya, terus….”
Hatiku mulai terhenyak, aku teringat pada sosok ENdruw. Laki-laki yang dua minggu ini telah menjadi suamiku. Setelah menikah, aku sama sekali belum berbuat apapun untuknya. Boro-boro makan malam romantis, memberikan senyuman untuknya saja aku belum pernah.
“Eh Fir,, haloo...”, Rani menyentakkan jarinya di depan mataku.
“Iya aku dengerin kok”, kataku sambil geragapan, sedikit malu karena ketahuan melamun.
“Firza sayang..”, Rani berkata sambil menelangkupkan kedua tangannya di pipiku.
“Kamu enggak boleh kayak gini terus. Kamu harus bisa bangkit Fir. Disana mama pasti sangat sedih melihat kamu kayak gini. “
Ucapan Rani membuat air mataku tumpah bagai hujan deras yang jatuh dari langit.
“Kamu harus ingat, kalau kamu sekarang sudah punya suami. Endruw sayang banget sama kamu. Jangan membuat dia sedih hanya karena terus-terusan melihat istrinya seperti ini. Kamu enggak sendiri sayang, kita semua ada disini mendukung kamu. Kita semua ingin melihat kamu seperti dulu, ingin melihat senyum kamu lagi, ingin melihat Firza yang cerewet kayak dulu. Dan aku juga yakin disana mama juga pasti menginginkan hal yang sama.”
Perkataan Rani membuat jantungku berdegup kencang. Aku ingin menolak apa yang Rani katakana, namun hati kecilku berkata bahwa Rani benar. Aku tidak boleh terus-terusan seperti ini. Aku harus bangkit.
Aku memeluk Rani dengan erat. Bagiku dia sudah seperti saudaraku. “Maafkan aku”, kataku lirih di samping telinganya.
“Ngapain minta maaf ke aku, kamu harus minta maaf ke suami kamu. Endruw sangat cemas dengan keadaanmu. Kamu harus bisa membuat dia Bahagia. Katanya ingin jadi istri yang baik nan sholihah..”, ujar Rani meledekku.
Aku tertawa kecil sambil mengusap air mataku. Melihatku sudah bisa tertawa Rani semakin berani meledekku.
“Fir, udah punya lingeri belum?” Tanyanya.
“Ih buat apa?” Tanyaku sembari tersentak kaget.
“Kamu begonya enggak sembuh-sembuh ya Fir, heran dah. Kok bisa ya punya teman macam gini”, ledeknya.
“Apaan sih? Buat apa lingeri?” Bentakku sambil menunjukkan ekspresi menyeringai.
“Buat malam pertama” jawabnya yang seketika membuat wajahku menunduk dan memerah.
