Bab 4
"Nis, Papa menyuruh kamu datang ke kantor. Bukan sekedar untuk memperkenalkan kamu sama Andre, tetapi Papa ingin supaya kalian berjodoh." Papa mengungkapkan tujuannya, sehingga menyuruhku untuk datang ke kantor.
"Maksud Papa, apa?" tanyaku, tidak mengerti.
"Maksud Papa, kamu kan belum punya calon suami, sedangkan Nak Andre, sedang mencari calon istri. Kenapa, kalian tidak disatukan saja? Papa ingin, agar kalian kelak menjadi pasangan suami istri." Papa, menerangkan keinginannya tersebut.
Saat mendengar, perkataan Papa barusan. Membuatku, seakan mendengar petir di siang bolong. Ucapan Papa begitu mengagetkanku, sampai-sampai aku dibuat bengong olehnya.
"Maksud Om Syamsul, saya dijodohkan dengan anak Om?" tanya Andre, tidak kalah syok dariku.
"Apa, jadi aku mau dijodohkan, Pah?" tanyaku, kemudian secara refleks.
"Iya, Papa mau menjodohkan kalian. Anisa, kamu juga belum punya calon, kan?" tanya Papa, malah balik bertanya kepadaku.
"Kenapa Papa tidak konfirmasi dulu sama, Anisa?" Bukannya menjawab, aku malah protes kepada Papa.
Aku meminta jawaban dari Papa, kenapa tidak bilang dulu sebelumnya, kalau Papa akan menjodohkanku dengan Andre.
"Papa pikir, kamu akan setuju dengan keputusan Papa. Kamu kan belum ada calon," ungkap Papa, sambil merubah posisi duduknya. Ia bersender ke dinding sofa, sambil melihat ke arahku.
"Enggak, gitu juga kali, Pah. Sekarang, Anisa sudah punya calon, baru saja kami ketemuan." Aku sengaja berbohong, supaya Papa tidak menjodohkanku dengan Andre, si jutek super dingin ini.
"Jadi Anisa, sudah punya calon? Siapa, nak? Dia orang mana?" tanya Papa.
"Iya, Pah, namanya Bagas. Dia kerja di kantor cabangnya Papa, satu kantor dengan Ratna." terangku.
"Apa, jadi calonmu karyawan Papa? Dia bekerja di bagian apa?" tanya Papa lagi.
"Ia, hanya karyawan biasa, Pah. Tapi, Anisa, suka sama dia. Dia juga sama, menyukai Anisa." Aku memberitahu Papa, status pekerjaan Bagas.
"Nisa, jadi, dia cuma karyawan biasa! Apa kamu, enggak salah pilih? Kamu, lebih memilih si Bagas yang hanya karyawan biasa, dibanding Andre yang seorang Pengusaha?" Papa bertanya lagi, tentang keputusanku itu.
"Ya sudah, Om, tidak apa-apa. Kalau memang Anisanya, sudah punya calon. Biar Andre, cari calon sendiri aja. Karena sepertinya, Anisa juga tidak suka sama Andre." Andre berkata, dengan wajah pilu.
Entah kenapa dia berkata seperti itu, seharusnya dia juga senang mendengarnya. Bukankah, Andre, juga tidak menyukaiku? Semua itu terlihat, dari sikapnya yang acuh dan dingin kepadaku.
"Tuh, Pah, lihat! Andrenya aja, tidak masalah, kalau Anisa tidak memilih dia." Aku berkata, sambil menunjuk Andre.
"Nisa, yang sopan, dong sama orang! Maafin, kelakuan Anisa ya, Nak Andre! Maafin, Om juga tidak tahu, kalau ternyata Anisa telah mempunyai calon." Papa meminta maaf kepada Andre, sepertinya Papa sangat menyesal, jika aku tidak berjodoh dengan Andre.
"Iya, tidak apa-apa Om. Mungkin kami menang belum berjodoh, Om. Kalau sudah berjodoh, pasti akan ada jalan untuk bersatu. Bagaimana pun caranya, hanya Allah yang tahu," sahut Andre, ia berkata dengan sangat bijak menurutku.
"Sekali lagi, Om minta maaf ya, Nak Andre."
"Iya Om, tidak apa. Santuy saja Om, tidak usah sungkan dan jangan terlalu dipikirkan. Nanti, Om Syamsul, malah sakit lagi." Andre berkata dengan begitu peduli, kepada Papa.
"Terima kasih, Nak Andre. Om, suka sama kamu, karena memang kamu orangnya baik. Biarpun kamu sudah menjadi pengusaha di usia mudamu, tetapi kamu tidak pernah sombong. Om, suka itu," ungkap Papa.
Om, bisa aja. Jangan terlalu memuji om, nanti aku malah terbang." Andre merendah,di hadapan Papa.
Bisa-bisanya ya, orang ini begitu hangat bila berbicara sama Papa. Sedangkan kepadaku dinginnya minta ampun.
"Anisa, kalau memang kamu sudah punya calon. Tolong, suruh calon suamimu itu untuk menemui, Papa! Papa, ingin berkenalan sama dia," pinta Papa.
Teg!
Aku begitu kaget mendengarnya, lebih kaget dari saat mendengar mau dijodohkan dengan Andre tadi.
"I-iya, Pah," sahutku ragu.
'Bagaimana ini? Papa ternyata malah meminta aku untuk membawakan calon suamiku, kehadapannya. Kenapa juga aku bilang, kalau aku sudah punya calon?
Tapi kalau tidak bicara begitu, aku akan di jodohkan sama Andre.
Bagaimana ini, kalau ternyata Bagas tidak menyukaiku? Apa aku harus cari calon suami bayaran aja, ya? Untuk menutupi semuanya ini, supaya bisa berpura pura memiliki jodoh di hadapan Papa.
Bersambung ...
