Bab 7
“Mas, bisa tolong aku …,” pinta Vania, “tolong nyalain pompa airnya. Aku mau mandi.”
Martin tersenyum kecut. Keyakinannya bahwa Vania masih mengharapkannya luruh seketika. Jika ia masih ingin mendapatkan dana dengan cuma-cuma, satu-satunya jalan hanya merayu istrinya kembali. Saat ini hanya Vania lah satu-satunya pohon uangnya. Walau entah apa lagi yang bisa diambilnya lagi selain gaji, setelah motornya telah berhasil dijualnya.
“Sebentar, Yang.”
Vania merasakan air dingin membasahi tubuhnya, seakan membawa rasa penat di tubuhnya lepas, tergantikan oleh kesegaran yang membuat pikirannya berangsur tenang.
Ia masih mengingat bagaimana Pak Rega atasan barunya memperlakukannya. Bagaimana lelaki itu membuatnya tersiksa, namun di akhir hari justru dialah yang merawat luka di keningnya.
Sungguh aneh dan tak dapat dipahaminya sampai saat ini. Bahkan di dalam bayangannya saat ini, lelaki itu semacam mempunyai dua kepribadian seperti dalam novel “Dr. Jekyll and Mr. Hyde” yang pernah dibacanya dulu.
Baginya itu cukup menyeramkan. Bagaimana dia bisa menghadapi atasannya jika sifatnya begitu cepat berubah bahkan menjadi kebalikannya. Pantas saja sekretaris-sekretarisnya yang terdahulu tidak ada yang bisa bertahan menghadapinya.
Ah … bagaimanapun ia harus bertahan. Ia tidak bisa mengandalkan Martin, suaminya, yang bahkan lebih suka nongkrong dengan kawan-kawannya dan tidur di siang bolong daripada harus cari duit.
Bahkan Vania juga tidak yakin bahwa bisnis yang barusan digadang-gadangkannya bercuan besar itu benar. Ia tidak tahu kemana selama ini uang yang selalu dipakainya dengan dalih membuka usaha baru itu.
“Nia, sayang. Kamu masih lama?” tanya Martin, “Mas keluar beli rokok dulu, ya.”
Suara Martin menyadarkan dirinya, bahwa ia telah terlalu lama berada di dalam kamar mandi. Tubuhnya menggigil sesaat setelah ia mematikan kran showernya. Udara malam yang masuk melalui ventilasi, seakan menusuk tulang.
Cepat-cepat ia melilit tubuhnya dengan handuk dan berpakaian. Diperhatikannya wajahnya di dalam cermin. Sesekali ia menghela napas dengan berat.
Setelah mengeringkan rambutnya, ia langsung merebahkan tubuhnya. Ia tak peduli bahkan jika Martin tak kembali malam ini, yang dibutuhkannya hanyalah istirahat.
Tidur.
Vania merasakan kehangatan menyelimutinya. Punggungnya terasa begitu hangat, seolah seseorang sedang memeluknya dengan erat. Suatu perasaan nyaman yang sudah begitu lama tak dirasakannya. Hembusan napas hangat seakan menyentuh tengkuknya dengan begitu lembut.
“Vania Larasati, aku akan menemukanmu dimanapun kamu bersembunyi,” bisikan itu terdengar begitu nyata dan terasa dekat, bahkan membuat bulu kuduknya merinding.
“Pak Rega?” lirih Vania. Perempuan itu menelan kasar salivanya. Tubuhnya terasa kaku, seakan tak mampu untuk bergerak, bahkan untuk menoleh ke belakang pun ia terlalu takut.
“Aku benci warna mencolok! Itu seperti topeng badut. Dan aku tidak suka topeng badut yang kamu pakai. Jika sekali lagi kamu berpenampilan seperti itu. Jangan harap kamu bisa muncul lagi di hadapanku,” ucap laki-laki itu mengintimidasi.
“B–baik Pak.” Vania sangat gugup. Apalagi ia tak dapat menebak atasannya itu kali ini sedang berperan sebagai apa. Dr. Jekyll ataukah Mr. Hyde.
Vania menatap Rega yang kini berada di hadapannya. Lengan tangannya terlihat sexy saat bagian lengan bajunya terlipat setengah, seolah sedang memamerkan otot di tangannya. Sementara kancing kemejanya yang setengah terbuka seolah sengaja memamerkan dadanya yang lebar.
“Apa yang bisa saya bantu, Pak?” tanya Vania berusaha tetap profesional sesuai pekerjaannya. Diusirnya semua pikiran kotor yang tiba-tiba muncul di benaknya.
Rega tersenyum lebar dengan tatapan mendamba, seakan sengaja menggoda perempuan di hadapannya. Lelaki itu melambaikan tangannya, seperti sebuah tanda agar Vania lebih mendekat padanya.
Seperti terhipnotis, Vania pun melangkah mendekati Rega. Ia menatap wajah tampan pria jangkung itu dengan dada yang berdegup kencang.
Bagaimana bisa lelaki dengan kepribadian ganda seperti ini, memiliki wajah yang demikian tampan, hangat dan rupawan. Seandainya saja kepribadian baiknya saja yang tersisa, maka bisa dipastikan dia adalah sosok lelaki paling sempurna yang pernah ditemui Vania. Baik, perhatian, penuh kasih, tampan dan juga mapan! Berbanding terbalik dengan Martin, suaminya yang hanya menjadi parasit dalam hidupnya.
Vania menurunkan tatapannya. Kini sepasang matanya justru terpaku pada bibir Rega. Bibir itu terlihat begitu sexy dengan kumis tipis yang tumbuh di sekitarnya. Pemandangan yang membuat pikirannya menjadi tak karuan.
Rega meraih pinggang Vania, membuat jarak di antara mereka hanya tersisa beberapa senti saja. Senyuman indahnya, membuat hati Vania semakin tak menentu. Jantungnya berdebar dalam pikiran yang tak kalah gelisahnya.
Tubuhnya seakan tak bisa lagi dikendalikannya. Bibir itu terlalu sexy untuk diabaikan. Ia seakan tak mampu lagi mengontrol pikiran dan tubuhnya. Vania berjingkat, tanpa sebuah basa-basi, ia mengecup bibir Rega sesaat.
Rasa manis dan hangat langsung merasuk, seakan membakar dan melelehkan gunung es yang sekian lama membekukan hatinya. Ia melepaskan kecupannya, walau kehangatan itu yang dirasakannya hanya beberapa detik saja, namun dapat membuat jantungnya berpacu lebih cepat.
Vania menatap Rega yang masih bergeming. Sungguh, ia sedang menantikan reaksi yang akan diberikan oleh atasannya itu. Mungkin dia akan marah karena kekurang ajarannya dan mengusirnya saat itu juga, tapi ia tak peduli.
“Aku tidak suka perempuan lancang,” ucap lelaki itu.
Vania mengalihkan tatapannya. Turun ke bawah, tempat dimana jakun lelaki itu bergerak dengan begitu sensual di matanya. Naik dan turun dengan cepat beberapa saat lalu.
“Maaf,” ucapnya lirih.
“Maaf? Apa aku pernah memaafkan seseorang yang sudah membuat kesalahan denganku?” gertak Regantara semakin mengintimidasi.
Lelaki itu meraih dagu Vania dengan tangan kanannya dan mendongakkannya hingga sepasang mata mereka kembali bertemu. Ia menatapnya dengan tajam.
Vania semakin terkejut ketika tiba-tiba lelaki itu mendekatkan wajahnya dan menyatukan bibirnya kembali. Ia dapat merasakan hembusan napas lelaki itu di wajahnya, ia dapat merasakan kembali panasnya gairah yang meluap dalam sentuhan Rega. Sentuhan yang sekian lama tak didapatkannya bahkan dari suaminya sendiri.
Seperti yang ada dalam pikirannya, lelaki itu begitu ahli dalam berciuman. Ia dapat merasakan betapa lincahnya lidah itu bergerak menjelajah di dalam mulutnya, menari di antara gigi geliginya dan mengecup dengan begitu liarnya. Ia seakan tak memberikan kesempatan bagi Vania untuk sekedar bernapas.
“Aku benar-benar harus menghukummu, Vania Larasati,” lirihnya di telinga perempuan itu.
Vania menggigit bibir bawahnya, saat lelaki itu dengan nakal menjelajah leher jenjangnya. Seketika rasa hangat dan basah itu terasa di pembuluh nadinya hingga ke ceruk lehernya.
“Apa kamu menyukainya?”
Vania tak menjawab, hanya suara desah yang tanpa sengaja lepas dari bibirnya saat hasrat yang telah lama padam itu kembali terbakar oleh sentuhan-sentuhan panas Regantara. Tangan kekar itu seakan mengobrak-abrik dunia Vania tanpa perlawanan. Tubuh mungilnya dengan mudahnya dikuasai oleh lelaki itu.
“Vania Larasati, apa kamu mencintaiku? Apa kamu mau menjadi kekasihku?”
“Vania Larasati! Apa kamu mendengarku?”
“Vania! Nia! Nia!”
