Bab 4 Karyawan Baru
Napasku memburu mengetahui info terakhir yang Bi Inah sampaikan. Tak menyangka mereka tega berbuat licik padaku. Padahal selama ini, apa yang mereka inginkan selalu aku penuhi.
Tidak tahu diri! Dikasih hati minta jantung. Sudah dikasih jantung, minta empedu. Lama-lama nyawaku juga bisa diminta. Dasar parasit!!
Aku harus mencari surat sertifikat itu, mengambilnya kembali. Takutnya sertifikat perkebunan teh sudah atas nama Bang Haris juga. Tidak boleh terjadi, aku harus bertindak cepat.
“Tenang, Non ... tenang ... Bibi yakin Non Laila pasti bisa menemukan surat itu.” Bi Inah menenangkanku. Mungkin di rumah ini, cuma Bi Inah yang dapat aku percaya.
“Kira-kira Bibi tau gak, surat itu disimpan di mana?”
Bi Inah tampak berpikir sejenak. Mungkin ia sedang menduga atau mengingat-ingat sesuatu.
“Kayaknya di kamar Nyonya besar,” cetusnya kemudian.
“Ya sudah nanti coba Laila periksa kamarnya. Tapi, kita harus menunggu Ibu dan Bang Haris gak ada di rumah. Supaya lebih leluasa nyari suratnya.” Wanita yang telah lama mengabdi di rumahku itu mengangguk.
“Iya, Non. Kalau Non perlu bantuan Bibi, bicara aja. Insyaallah Bibi akan bantu.” Aku tersenyum melihat ketulusan Bi Inah.
“Iya, Bi terima kasih. Kalau gitu Laila keluar dulu. Takut mereka curiga. Makasih banyak ya, Bi.”
“Iya, Non.”
Aku beranjak membuka kunci pintu. Melihat ke kanan kiri. Memastikan kalau kedua manusia itu tidak melihatku masuk kamar Bi Inah.
Kuatur napas, dan berjalan setenang mungkin. Bang Haris dan Ibu masih duduk di ruang televisi. Keduanya sedang berbicara serius. Namun obrolannya terhenti saat menyadari kedatanganku.
“Kamu sudah memutuskan pilihan, Laila?” tanya Ibu mertua tidak sabar. Aku duduk menyilangkan kaki. Menyandarkan bahu, bersedekap, menatap Ibu dan Bang Haris bergantian.
“Sudah.”
“Apa keputusanmu?” Kedua mata Ibu berbinar. Aku diam sejenak.
Kalau aku putuskan sekarang, berarti besok mereka harus keluar. Tidak! Aku harus menunda keputusan ini sampai menemukan surat pemindah alihan milik perkebunan.
“Aku gak bisa putuskan malam ini. Mungkin Minggu depan setelah proyek iklan yang aku garap sudah tayang.” Aku sengaja mengundur waktu, supaya kesempatan mencari tahu sertifikat tersebut lebih lama.
“Perusahaan kamu menang tender lagi?” tanya Ibu mertua. Aku mengangguk.
“Oh gak apa-apa. Cuma seminggu kami masih bisa menunggu kok. Ya kan, Har?” Bang Haris hanya mengangguk.
Dasar anak Mami! Bisanya cuma mengangguk dan menggeleng saja!
“Syukurlah kalau Ibu mau sabar,” kataku seraya berdiri hendak ke kamar.
“Ibu harap kamu gak lupa transfer uang 10 persen dari hasil proyek.” Ucapan Ibu Bang Haris mengurungkan langkahku. Membalikkan badan, menatap intens dua makhluk sedarah itu.
“Maksud Ibu?” tanyaku memicingkan mata. Ingin tahu, apakah dugaanku salah atau benar?
“Kok maksud Ibu? Emang udah biasa kan, setiap perusahaan kamu menang tender, kamu selalu transfer ke rekening ibu 10 persen.” Aku tersenyum kecut melipat tangan ke dada. Ternyata benar dugaanku, Ibu masih mengharapkan bagian sepuluh persen dari kemenangan tender. Kalau kemarin-kemarin sih memang selalu aku turuti, tapi sekarang? Sorry! Dasar gak tau malu!
“Maaf, Bu. Mulai hari ini, aku gak akan pernah transfer uang ke rekening Ibu lagi.” Kataku tegas. Memberi penekanan pada tiap kata yang aku ucapkan. Aku berbalik melanjutkan langkah.
“Eh, Laila, Laila. Gak bisa begitu? Enak saja! Ibu ini masih mertua kamu!” Katanya setengah berteriak. Lalu Ibu menghalangi jalanku.
“Kalau Ibu masih mertuaku, harusnya Ibu tidak memberiku pilihan seperti itu!” Aku mulai geram menghadapi wanita tua yang super duper matre.
“Ya gak bisa. Kamu harus tetap memilih dan harus tetap transfer uang sepuluh persen!” ucapnya berapi-api.
Gak tahu malu! Egois! Gak punya hati!!
Aku menghela napas, berusaha tenang.
“Terserah!” balasku menatap tajam wanita yang telah melahirkan Bang Haris itu.
Enak saja, menyuruh aku memilih dicerai atau dipoligami, sedangkan ia tanpa tahu malu masih saja meminta uang. Benar kata Siska, mereka berdua parasit!
Kalau bukan karena surat pemindahan kepemilikan perkebunan, tentu sudah aku depak dua manusia gak tahu diri itu!
***
Esok harinya, seperti biasa pergi ke kantor. Kali ini aku sarapan lebih dahulu, tidak menunggu Bang Haris dan Ibunya. Aku sedang malas bertemu dengan mereka.
Setelah sarapan, bergegas pergi ke kantor. Aku berharap, karyawan baru yang direkrut sudah datang ke kantor.
Membuka pintu ruangan, rupanya di sana sudah ada Siska yang duduk, menungguku.
“Ngapain lu pagi-pagi udah nongkrong di ruangan gue?” tanyaku begitu melewati Siska yang sedang duduk memainkan ponsel.
“Ya elah, masuk ruangan bukannya ngucapin salam. Maen masuk aja!” Aku terkekeh mendengar ucapan Siska.
“Serah gue lah. Ruang-ruangan gue. Lagian mana gue tahu ada kau di mari,” sahutku cuek. Menyimpan tas di atas meja, menarik kursi dan membuka laptop.
“Tuh si pelamar udah dateng!” lapor Siska.
“Rajin amat? Si Rano nyuruh dateng jam segini?” tanyaku tanpa menatap Siska. Fokus ke beberapa email yang masuk.
Siska mengedikkan bahu. “Mau dipanggil sekarang apa ntar aja?”
“Ntar ajalah.” Kulihat arloji, “Jam sembilan lima belas menit. Gak boleh telat, gak boleh cepat! Bilang gitu,” kataku memberi peringatan tegas.
“Wokeh! Gue keluar dulu dah,” ucap Siska. Aku mengangguk. Kemudian sahabatku itu keluar ruangan, membiarkanku berkutat dengan pekerjaan yang sudah menunggu.
***
Tepat pukul sembilan lima belas menit, pintu ruang kerjaku diketuk. Aku pun mempersilahkan masuk.
Pintu terbuka, terlihat sosok laki-laki berkemeja biru salur putih, celana bahan hitam dan sepatu sport.
“Pagi menjelang siang, Bu ...,” sapanya cengengesan.
“Pagi. Silakan duduk.”
Aku mengambil CV lamaran yang Siska letakkan di atas meja.
Membuka selembar kertas, membacanya.
“Nama kamu, Baginda Damar Sakti?” tanyaku sembari membuka lembaran tersebut.
“Iya, Bu. Nama saya Baginda Damar Sakti, berat badan lima puluh sembilan kilogram, tinggi badan seratus tujuh puluh delapan sentimeter, size sepatu empat puluh dua.” Aku mengerutkan kening.
“Gak nanya!”
“Cuma ngasih tau, Bu. Kali aja pas saya ulang tahun Ibu mau ngasih kado sepatu. Hahahah.”
Dih! Apes bener sih nasib aku! Sekalinya menguji calon karyawan, eh dapatnya tengil begini.
“Sekarang, coba perlihatkan kemampuan kreativitas kamu. Pake laptop ini!” titahku menyodorkan laptop padanya.
“Misalnya iklan apa, Bu?” tanya laki-laki itu sambil mengoperasikan laptop. Aku berpikir sejenak. Aha, calon karyawan tengil ini harus aku kerjain.
“Aku kasih waktu dua puluh menit, buat kamu bikin iklan produk celana dalam laki-laki dan perempuan!” Lelaki itu mendongak, menautkan alisnya.
“Kenapa? Gak bisa? Udah pulang sana!”
“Enggak. Bukan gitu. Hm ... apa gak ada contoh produk lain?” Aku menarik napas panjang. Enak saja pakai tawar-tawar segala. Dia pikir apaan?
“Gak ada! Keluar sana! Saya tidak butuh orang yang suka menawar perintah saya!”
“Oke. Saya kerjakan.”
Aku menahan senyum geli. Sukurin, emang enak gue kerjain!
