Pustaka
Bahasa Indonesia

Istri kontrak penebus hutang

141.0K · Ongoing
Vigiani Nurike
138
Bab
4.0K
View
9.0
Rating

Ringkasan

Menjadi istri kontrak bukanlah impian setiap wanita, termasuk Angelina Louis, anak kedua dari dua bersaudara keluarga kaya Louis yang tiba-tiba harus bangkrut karena memiliki banyak hutang. Di saat Angelina merasa putus asa itulah Henry Bastian Campbell datang padanya dan menawarkan sebuah kontrak sebagai istrinya untuk jaminan bisa melunasi semua hutang keluarga Louis. Hidup Angelina berubah sejak saat itu. Ia harus terjebak dalam perjanjian yang membuat hidupnya menderita, karena Henry bersikap semena-mena sebagai suaminya. Tak ada rasa cinta, pernikahan terjadi karena terpaksa. Hingga sampai pada titik puncaknya mengharuskan Angelina pergi dari hidup Henry. Namun, ternyata kisah di antara mereka tak berhenti sampai di situ. Mereka dipertemukan kembali setelah bertahun-tahun lamanya dalam keadaan yang sudah berbeda, dan yang paling mengejutkan, Angelina ternyata memiliki seorang anak yang wajahnya mirip seperti sang mantan suami, Henry Bastian Campbell. Di saat itulah perjuangan Henry dimulai untuk bisa mendapatkan apa yang sudah pria itu sia-siakan dahulu, dan mungkinkah juga anak Angelina adalah anak dari Henry?

PresdirPerceraianKawin KontrakMetropolitanBillionairePernikahanIstriLove after Marriage

Malam pertama

Buka pakaianku sekarang!” Perintah seorang pria bertubuh atletis dengan wajah tampannya yang maskulin menatap tajam padaku dengan pandangan merendah.

“A-apa??” Aku menyahut dengan suara seperti dicekik karena menahan rasa gugup yang luar biasa.

“Apa harus aku ulangi ucapanku tadi? Kau bukan wanita tuli ‘kan?” ejek pria bernama Henry Bastian Campbell yang baru saja resmi menjadi suamiku, seraya tersenyum smirk masih dengan tatapan merendahnya padaku.

“Ta-pi?” Aku masih ragu untuk melakukan perintahnya. Walaupun itu memang sudah menjadi kewajibanku sebagai istrinya. Bukan istri yang sesungguhnya, namun istri kontrak yang hanya dinikahi untuk menebus hutang perusahaan mendiang ayahku yang bangkrut beberapa bulan yang lalu.

“Angelina Louis! Kau bukan wanita bodoh yang tak bisa melakukan hal sepele untuk membuka pakaian seorang pria, kan? Apa perlu aku mengajari bagaimana caranya melakukannya padamu?!” Kilat matanya semakin tajam menatapku.

Melihatnya dengan ekspresi wajah yang berubah mengerikan tentu membuatku mau tak mau terpaksa melakukan apa yang Henry perintahkan. Tanganku yang dingin kini mulai membuka pengait kancing toxedonya dengan gemetar. Masih dengan jelas kulihat pria yang merupakan suamiku itu menatapku tajam. Sampai akhirnya nafasku tercekat saat kancing jasnya kini sudah terlepas sepenuhnya hingga menampilkan otot perutnya yang keras dan menonjol.

“Kenapa kau berhenti? Apa kau baru pernah melihat otot pria telanjang seperti ini?” Seringainya kini masih dengan pandangan mengejek.

“Ini sudah cukup ‘kan?” Aku mencoba mengalihkan pandanganku ke arah lain.

“Tak perlu bersikap sok polos di depanku. Aku tahu kau ini adalah putri dari Gary Louis yang dikenal suka berfoya-foya, namun tidak untuk sekarang.” Henry mengangkat wajahku agar menghadapnya kemudian tersenyum sinis, “Bagiku kau hanyalah wanita penebus hutang! Tidak lebih dari wanita murahan yang menjual tubuhnya hanya untuk uang!” desisnya tajam dan menusuk.

Kalimat menghina Henry tentu sangat menyakitkan terdengar, kata-katanya tak hanya merendahkanku sebagai wanita, namun juga sengaja membuatku terluka. Aku beranikan diriku membalas tatapannya dan berkata, “Aku memang wanita penebus hutang, tetapi bagaimana pun juga sekarang aku adalah istrimu yang sah Henry Bastian Campbell, walaupun itu juga hanya sebatas kontrak!” ucapku dengan berani.

Air muka Henry berubah dengan cepat, secara mengejutkan ia mencengkeram rahangku dengan kasar dan berkata lantang, “Kau sepertinya bangga sekali dengan menyebut ‘istri’ di depanku, Angelina Louis! Jika kau berpikir demikian, maka akan aku perlihatkan apa yang harus dilakukan wanita yang disebut ‘istri’ sesungguhnya sekarang!” Henry mendorong tubuhku hingga jatuh terhempas di ranjang yang tepat di belakangku hingga aku memekik kaget dengan sikapnya yang sangat kasar.

“Apa yang kau lakukan, Henry?!” aku mulai ketakutan melihat sikapnya padaku.

“Masih pura-pura bersikap polos di depanku?” Henry menyeringai melepas sisa pakaian yang masih melekat di tubuhnya di depanku, “Akan aku perlihatkan padamu bagaimana tugas istri saat melayani suami di atas ranjang!”

Glek!

Aku menelan salivaku sendiri dengan susah payah saat mendengarnya. Apakah ini caranya melampiaskan kemarahannya atas apa yang dilakukan ayahku dengan cara menyiksaku seperti ini? Oh, tidak. Tuhan, tolonglah aku. Meskipun aku tahu ini adalah malam pertama kami sebagai suami istri, tapi tetap saja ini adalah hal baru untukku. Aku belum siap melakukannya, apalagi dengan pria yang sama sekali tak aku cintai dan tak memiliki perasaan apa pun padaku. Kami menikah bukan karena cinta, namun karena terpaksa itulah keadaan yang sesungguhnya.

“Aku mohon, Henry. Ini pertama kalinya bagiku. Bisakah kau melakukannya dengan sedikit lembut?” aku menatapnya memohon dengan tubuh yang mulai gemetar.

“Apa? Kau mencoba bernegosiasi denganku sekarang? Jangan harap kau akan mendapatkan perlakukan istimewa dariku!” sahutnya lantang.

Kini Henry berada di atas tubuhku, wajah tampan itu kini berubah mengerikan, tangannya kini mulai melepas gaun pengantin yang aku kenakan dan bahkan merobeknya dengan kasar. Aku berusaha keras memberontak, melindungi tubuhku dengan kedua tanganku sekuat tenaga. Merasa kesal karena penolakanku Henry pun akhirnya menamparku.

Aku menjerit kesakitan, namun ia tak peduli. Matanya seolah buta dan telinganya berlagak tuli saat aku memohon padanya berkali-kali untuk tak memperlakukanku dengan kasar seperti ini.

“Aku mohon Henry, jangan perlakukan aku seperti wanita yang biasa kau tiduri! Aku adalah istrimu bukan jalang!” aku memohon dengan berderai air mata saat pria yang merupakan suamiku itu mulai menyentuh kasar tubuhku yang kini sudah sepenuhnya polos.

Seperti ingin meluapkan seluruh emosinya padaku, Henry melakukannya dengan kasar. Pria rupawan yang dikenal sebagai seorang presdir sempurna itu berubah menjadi seperti iblis dalam sekejap mata. Iblis berkedok manusia yang terlihat sempurna di mata orang lain, namun tidak di mataku.

...

Suara gemericik air mengalir terdengar sayup di telingaku, aku mulai membuka mata ini yang masih terasa berat. Saat aku mulai membuka mata, di saat yang sama itu juga suara pintu dibuka. Aroma maskulin tercium di indra penciumanku ketika sosok yang menjadi mimpi buruk bagiku itu kini berjalan mendekatiku yang masih terbaring lemah dalam keadaan polos di balik selimut yang aku pakai.

“Walaupun kau perawan itu tidak akan membuat pandanganku padamu berubah, karena bagiku kau tetap wanita penebus hutang bukan ISTRI di mataku, Angelina Louis,” ucapnya lantang. Setelah mengucapkan kalimat tak berperasaan itu, dengan sikap cueknya Henry berjalan ke lemari pakaian untuk berpakaian. Aku membuang muka dan hanya bisa terdiam diperlakukan demikian.

“Baiklah, Henry Bastian Campbell. Jika kau hanya menganggapku wanita penebus hutang, aku terima itu. Namun, setelah kontrak kita berakhir aku pastikan kau akan menyesali apa yang sudah kau lakukan padaku!” desisku dalam hati dengan penuh kebencian.

“Kau sudah tahu dengan jelas apa isi kontrak kita, bukan? Jadi aku tak perlu menjelaskannya lagi padamu, bagaimana kau harus bersikap dan peraturan apa saja yang harus kau patuhi selama menjadi istriku!” Henry yang sudah rapi dengan setelan jas kerjanya berkata dengan nada angkuh.

“Aku sudah tahu, tak perlu kau mengingatkannya lagi padaku!” sahutku ketus.

“Bagus! Jadi bersikaplah biasa dan jangan pernah bersikap sok kenal padaku di depan umum!”

“Kau tak perlu khawatir tentang hal itu Tuan Henry Bastian Campbell, aku sama sekali tak berkeinginan untuk mengenalmu lebih jauh selain hanya istri di atas hitam dan putih,” tegasku.

“Aku pegang kata-katamu itu.” Henry tersenyum miring kemudian melangkah pergi menghilang dari pandanganku.

Setelah pria kejam itu pergi, aku yang masih dalam keadaan terbaring lemah, kini menatap langit-langit kamar yang menjadi saksi bisu bagaimana pria bergelar suami itu menyiksaku semalam dengan tanpa perasaan.

Ini bukan akhir dari segalanya. Jadi aku tak perlu merasa duniaku hancur, karena mulai sekarang aku harus menerima takdirku menjadi istri dari pria iblis bernama Henry Bastian Campbell. Setidaknya aku harus bertahan satu tahun ke depan sampai kontrak itu berakhir, setelah itu aku akan menjadi wanita bebas, dan bisa aku pastikan aku akan menghapus nama pria itu dari hidupku untuk selamanya.