Bab 10 Apa Yang Harus Ku Lakukan, Mas?
"Mbak, aku beneran hamil? Ada dede bayi di dalam sini?" Tak dapat menyembunyikan raut ragunya, Anin terus bertanya. Mengguncang pegelangan tangan Asih.
Asih mengangguk.
Perempuan muda ini terpana.
Kepala menunduk, memandang tak putus perut yang berlapis selimut. Kedua tangan singgah di sana, saling menyilang, dan mengusap pelan. Manik bening menelaga, meneteskan satu butiran di setiap sudut. Segaris lengkung yang terbit di bibir kian melebar.
“Non harus jaga kesehatan. Sekarang, ada makhluk mungil di sini.”
Asih menyentuh bahu Anin dan satu tangan yang lain menempel di perut nan rata.
"Selamat ya, Non. Semoga Non Anin dan dede bayi selalu sehat dan dilindungi Allah."
"Terima kasih, Mbak." Dengan mata berkaca-kaca Anin memeluk Asih.
Dua perempuan berbeda status ini berangkulan. Beberapa menit saling diam, larut dengan pemikiran masing-masing.
Asih melepaskan rangkulan, meraih dan menyodorkan mangkuk yang belum tersentuh. Anin menggeleng, kembali membekap mulutnya.
“Non Anin harus makan.”
Calon ibu muda ini menggeleng dengan tangan yang tak lepas dari mulut.
“Nggak suka sopnya? Mau diganti roti bakar?”
Anin menggangguk cepat.
Asih tersenyum. Segera bangkit dari ranjang dan berjalan menunju pintu meninggalkan Anin yang masih berbaring.
“Tunggu ya, Non.”
Setelah Asih keluar, Anin meraih telphon genggamnya yeng tergeletak di meja samping ranjang. Mencari nama seseorang yang ingin dihubungi untuk memberikan kabar gembira.
“Nomor yang anda tuju berada di luar jangkauan.”
Anin tertegun usai mendengar jawaban panggilannya. Wajah cantik itu menekuk. Tangan mungilnya meninju dan menarik rempel yang terdapat di pinggiran bantal. Tanpa dikomando air mata merebak, membentuk dua aliran yang mengalir deras. Sedu-sedan tak dapat ditahan membuat tubuh mungil itu berguncang.
“Non kenapa?” Asih menatap majikan mudanya penuh tanya.
Anin hanya menggeleng. Merebahkan badan memunggungi Asih yang termangu.
“Non makan dulu! Kasihan dede bayinya. Pasti lapar.” Menyadari mood ibu hamil ini sedang tidak baik, Asih berusaha membujuk.
Anin bangkit dari duduknya. Menyingkirkan selimut yang membungkus. Dengan enggan, ia menyambut piring kecil yang disodorkan Asih.
“Terima kasih, Mbak.”
Setelah berucap, tanpa suara Anin menikmati isi piringnya yang menguarkan aroma mentega dan coklat. Pelan-pelan memasukkan satu demi satu potongan ke mulut. Entah karena perut yang kosong atau memang makanan kesukaan, setangkup roti bakar tandas dalam sekejap. Menyerahkan piring kosong pada Asih, berganti segelas susu hangat. Tanpa penolakan, minuman itu pun berpindah melewati tenggorokan.
Tampak raut puas di wajah Asih menyaksikan istri anak majikannya menyantap habis hidangan yang disajikan.
“Non Anin mau saya antar ke dokter?”
“Nggak usah, Mbak. Nunggu Mas Andre pulang.”
“Ya sudah. Non istirahat dulu! Saya ada di bawah, kalau butuh sesuatu.”
“Terima kasih, Mbak.”
Asih pun berlalu dari kamar.
Sepeninggal Asih, Anin mencoba menghubungi lelakinya. Lagi-lagi suara yang sama menyahuti panggilan. Gigi Anin bertaut, rahang mengeras dengan napas kasar berhembus dari hidung. Perempuan muda ini mengembalikan gawainya ke tempat semula. Menimbulkan suara sedikit nyaring akibat berbenturan dengan kayu. Kedua tangan mungil mengepal, meninju ranjang meluapkan kekecewaannya.
Berbagai prasangka terlintas membayangi pikiran. Sehat atau sakitkah sang kekasih?
Lelah! akhirnya tubuh mungil itupun terlelap.
***
Kehamilan semester awal membuat tubuh Anin lemah dan tak bergairah. Hari-hari pun dihabiskan di kamar, bergulung di bawah selimut. Ketanggapan dan kecakapan Asih sangat membantu. Dengan setia, ia mengurus semua keperluan Anin. Rutin memeriksa keadaan dan mengantarkan makanan.
“Kenapa makannya belum disentuh, Non?”
Anin hanya menoleh saat Asih mengajukan tanya. Ditariknya selimut sebatas bahu dan membalikkan badan memunggungi Asih. Emosi yang tak stabil membuat nafsu makannya semakin menguap.
“Non mau apa?”
Tak ada jawaban. Tubuh di balik selimut berguncang.
Asih tercenung. Bingung mengambil sikap menghadapi perubahan hormon wanita hamil di hadapannya.
“Semalam Non minta sarapan dengan nasi goreng. Kenapa masih utuh?”
Hanya isakan dan sedu sedan yang menjawab pertanyaan Asih.
“Non!”
Asih mendekat. Bersimpuh di lantai berhadapan dengan wajah yang berurai air mata.
“Mas Andre kemana, tiga hari tanpa kabar dan tidak bisa dihubungi.”
“Sabar Non, mungkin Mas Andre sibuk.”
“Hmm, Upik Abu hendak jadi Cinderella.”
Seseorang masuk dari pintu yang terbuka lebar. Berdiri di ujung ranjang dengan kedua tangan mendekap di dada. Tatapannya tajam, menguliti Anin yang betah di dalam selimut.
“Enak ya malas-malasan, tidur, dan dilayani. Berasa jadi nyonya besar dan seenaknya main perintah.”
Tak ada sahutan. Anin hanya diam dan menunduk dalam menghindari tertangkapnya raut nan pias. Ia begitu ketakutan, bayang-bayang angkara Ratih bermain di pelupuk mata.
“Terbukti kamu hanya memanfaatkan anakku. Menikmati semua fasilitas yang ada di rumah ini. Jangan harap aku akan diam, secepatnya Andre akan meninggalkanmu.”
Anin tersentak, diangkatnya kepala mencari maksud dari ucapan sang mertua.
“Di sini, akulah yang jadi nyonya rumah. Yang membayar gaji dan upah untuk tenagamu. Tak’ku izinkan kamu melayani perempuan udik ini. Biarkan dia memenuhi kebutuhan sendiri.”
Asih menunduk, tak punya nyali membantah ucapan sang majikan yang diarahkan padanya.
Ratih mengarahkan telunjuk pada Anin. Wajahnya semakin memerah.
“Kamu, jangan berharap bisa seenaknya tidur dan makan di rumah ini. Tidak ada yang gratis, semua didapatkan dengan bekerja! Jangan karna Andre membelamu, bisa seenaknya di sini. Sampai kapanpun, aku tak’kan mengakui pernikahan kalian. Camkan dan ingat!” kata-kata sindiran terus meluncur mulus.
Setelah membombardir Anin dengan amarahnya, perempuan paruh baya itu melenggang keluar. Menyisakan sebongkah daging yang terluka. Perih dan tak berdarah.
Asih menatap sayu. Tak ada yang bisa ia lakukan. Sebagai asisten rumah tangga, ia hanya bisa mematuhi perintah sang majikan. Tanpa bicara, wanita yang mulai terpikat dengan kelembutan istri tuan mudanya, melangkah keluar. Meninggalkan Anin yang masih tergugu dengan tangisnya.
“Mas pulang, aku takut.”
Lirih Anin sembari menelungkupkan badan dan membenamkan wajah di bantal.
Dering rangkaian pesan masuk mengalihkan perhatian Anin yang larut akan tangis. Diraih telpon pintar tersebut. Beberapa pesan gambar masuk dari nomor yang tidak terdaftar.
Tangan mungil itu bergetar. Jantung berdetak semakin kencang membuat napas terasa berat dan tercekat di tenggorokan. Digulir satu persatu foto yang terpampang di layar. Berharap bahwa laki-laki yang sedang melakukan akad bukanlah si kekasih hati. Sia-sia, berapa kali pun memandang gambar itu, wajah di sana tak berubah. Benar! Seseorang yang menjabat tangan pria paruh baya dan duduk bersanding dengan wanita lain adalah suaminya.
“Tak mungkin.”
Kepala itu terus menggeleng kuat. Andre sangat mencintainya. Itu yang selalu diyakini. Tak mungkin, lelakinya berkianat.
“Mas Andre!”
Lagi-lagi keyakinan terbantahkan dengan fakta yang terpampang nyata.
“Mas, apa yang harus aku lakukan?”
Rangkaian kata dan pertanyaan tak terjawab. Hanya kamar beserta isinya menjadi saksi hati yang terluka.
“Apakah nasib anak ini akan sama denganku. Tumbuh dan besar di panti asuhan?”
Anin semakin hancur. Seandainya ancaman mertua terbukti, kemana ia akan pergi? Benarkah Andre akan meninggalkannya. Mengingat, ada wanita lain yang mempunyai hak yang sama dengannya.
Pemikiran Anin membuat perutnya bergejolak. Segera berlari ke kamar mandi. Menumpahkan semua cairan yang mendesak tenggorokan.
Anin meringis. Sesuatu terasa menjalari tubuh dan menyentak ulu hati. Kepala berdenyut nyeri, napas tercekat di tenggorokan. Pelan-pelan kesadaran pun menurun. Meluruhkan tubuh lemahnya di lantai nan dingin.
***
