Bab 9 - Rekayasa
Juan mengerang kesal seraya menendang selimut dari tubuhnya. Suara bel itu mengganggu tidurnya. Orang gila macam apa yang bertamu ke kediaman orang lain saat tengah malam seperti ini?
Ting tong, ting tong.
"Tunggu sebentar! Kau tidak lihat aku sedang jalan?!" teriak Juan kesal.
Tapi bukannya berhenti, suara bel malah terdengar terus-menerus.
Klek.
"Apa kau tidak lihat-"
"Ya, aku sudah lihat." Orang di depan pintu memotong ucapan Juan seraya masuk tanpa permisi. "Aku menumpang tidur di sini. Mungkin untuk beberapa malam."
Juan ternganga di depan pintu apartemen yang belum tertutup seraya memperhatikan Fachmi yang kini menuju kamar tamu. Ya, orang gila yang bertamu ternyata saudara sepupunya, Fachmi. Bahkan dia sama sekali tidak merasa bersalah karena telah mengganggu tidur Juan.
BRAK.
Juan menutup pintu dengan kesal lalu segera menyusul Fachmi. Ternyata lelaki itu sudah tidur telungkup di ranjang, masih lengkap dengan sepatu dan jaket. Tampaknya dia hanya sempat melempar tas yang dia bawa ke sofa dalam kamar.
"Kenapa kau tidak pulang ke apartemenmu sendiri?" tanya Juan seraya menghempaskan diri di samping Fachmi.
"Ada Farrel di sana."
"Ohya?" Rasa penasaran berhasil mengalahkan kantuk Juan. "Apa itu artinya rencanamu berhasil?"
"Entahlah. Yang jelas mereka tidur satu ranjang dan sepertinya dalam keadaan telanjang."
Kening Juan berkerut. "Kalau hanya seperti itu, belum bisa dipastikan rencanamu berhasil atau tidak. Sudah bukan hal aneh jika Farrel meniduri calon istrimu."
Fachmi hanya berdehem sebagai tanggapan.
"Sebaiknya besok aku hubungi Farrel dan mengatakan bahwa kau akan segera pulang. Kita lihat seperti apa reaksinya."
"Apa tidak terlalu cepat? Mereka kenal baru beberapa hari. Bisa saja Farrel belum merasakan perasaan khusus pada Kanza."
Kening Juan semakin berkerut, kebiasaan yang diwarisinya dari sang Papa ketika sedang berpikir keras. "Fachmi, aku penasaran pada satu hal. Jika ternyata semua ini gagal, Farrel tetap tidak memiliki perasaan khusus pada Kanza dan dia bersikeras memisahkan Kanza darimu, lalu apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan memulangkan Kanza pada keluarganya?"
Mata Fachmi yang semula terpejam perlahan terbuka. "Tidak," sahut Fachmi pasti. "Pertama kali melihatnya, aku merasa Kanza cocok untuk Farrel. Karena itu sedari awal aku memang berencana menjodohkannya dengan Farrel. Tapi jika ternyata aku gagal, aku tidak ragu untuk benar-benar menikahinya."
"Walaupun, yah-kau tahu sendiri Kanza sudah menyerahkan diri pada Farrel?"
"Itu akan jadi keuntungan sendiri. Setelah tahu bahwa selama ini Farrel membohonginya, Kanza akan membenci Farrel dan tidak akan sudi dekat dengannya. Jadi tidak ada alasan lagi dia berpaling dariku. Bahkan Farrel juga tidak punya alasan untuk memisahkan kami."
"Tapi, bagaimana jika ternyata Kanza memang sudah tahu bahwa lelaki yang menemaninya beberapa hari ini bukanlah dirimu?"
"Maka aku akan memulangkannya dan tidak akan segan mengatakan pada keluarganya apa yang telah dia lakukan."
Juan mengangguk, tidak lagi merasa resah atas rencana Fachmi. Setidaknya Fachmi sudah memikirkan semua dari berbagai sudut pandang.
"Kenapa kau masih di situ? Tadi kau mengeluh karena aku mengganggu tidurmu. Sekarang kau yang malah mengganggu tidurku. Sana pergi."
Juan melotot kesal ke arah Fachmi namun sepupunya itu sudah memejamkan mata kembali. Dia yang menerobos masuk ke tempat tinggal Juan namun dengan seenaknya mengusir Juan.
"Untung saja kau sepupuku. Jika tidak sudah kulempar kau keluar jendela." Juan menggerutu seraya turun dari ranjang lalu keluar kamar.
Tiba di kamar utama, Juan langsung menghempaskan tubuh dan bersiap tidur kembali. Dia yakin sudah nyaris terlelap selama beberapa detik saat suara bel rumah lagi-lagi terdengar.
Brengsek!
Juan mengumpat tapi kali ini tidak beranjak dari ranjang. Dia mengambil salah satu bantal untuk menutupi telinganya dan memaksa diri segera lelap.
Namun Juan hanya sanggup bertahan selama beberapa menit. Suara bel terdengar dengan ritme yang semakin cepat, menandakan orang gila yang menekannya tengah malam seperti ini mulai tidak sabar.
Geram, Juan bergegas menuju pintu depan. Otaknya sudah siap dengan segala caci-maki yang akan langsung Juan lontarkan begitu pintu terbuka.
Klek.
"Apa kau buta?! Lihat se-"
"Siapa yang kau bilang buta?"
Juan meringis begitu menyadari siapa orang di hadapannya. "Papa."
"Kau tadi belum jawab pertanyaan Papa." Freddy melotot.
Juan memilih jalan aman dengan mengabaikan ucapan Papanya. "Sebaiknya Papa segera masuk. Di luar lumayan dingin." Juan membuka pintu lebih lebar lalu segera menutup kembali setelah sang Papa masuk.
"Kenapa Papa malam-malam datang ke sini? Sedang menangani kasus?"
"Lebih tepatnya baru pulang dari menangani kasus. Mamamu tidak membukakan Papa pintu karena dari awal dia tidak suka pada wanita yang menjadi korban dalam kasus ini. Alasannya karena wanita itu sangat genit pada Papa," jelas Freddy seraya terus masuk menuju kamar utama. "Tapi mau bagaimana lagi? Papa harus bersikap profesional. Tidak boleh menolak kasus hanya karena urusan pribadi." Dia mendesah. "Memang susah menjadi orang yang memiliki kadar ketampanan berlebih."
Juan geleng-geleng kepala mendengar kalimat terakhir sang Papa. Padahal kata-kata sebelumnya terdengar sangat bijak. Namun penilaian tentang bijaknya seorang Freddy langsung hancur setelah mendengar kalimat terakhir itu.
"Kenapa kau mengikuti Papa?" tanya Freddy seraya melepas jaket dan sepatunya lalu menghempaskan diri di ranjang Juan yang empuk.
"Hah?"
"Sudah, sana tidur. Besok hari kerja, kan? Jadi sebaiknya kau tidak terlambat bangun."
"Tapi, Pa-tempatku tidur di situ." Juan mulai kesal.
"Sangat tidak sopan menyuruh Papa tidur di ruang tamu." Freddy melotot.
"Aku tidak menyuruh Papa tidur di ruang tamu. Aku hendak menyuruh Papa tidur di sofa."
"Dasar, anak nakal!" Freddy mengambil salah satu bantal lalu ia lempar ke arah Juan.
Juan buru-buru pergi keluar kamar sebelum yang Papanya lempar berikutnya adalah isi pistol.
"Hhh, siapa yang tuan rumah di sini?" gerutu Juan seraya menghempaskan diri di sofa.
***
Langit masih gelap saat Farrel tersentak kaget lalu pandangannya langsung mengarah ke tengah ruangan. Dia merasa Fachmi baru saja memperhatikannya tidur dari tempat itu. Dan biasanya hal ini bukan sekedar mimpi atau halusinasi.
Tidak jarang Farrel maupun Fachmi merasa seperti ini. Mereka seolah melihat suatu peristiwa dari mata yang lainnya. Seperti ketika masih sekolah, Farrel pernah dikeroyok beberapa preman di tempat sepi. Mendadak Fachmi datang sambil membawa banyak teman lalu menolong Farrel. Padahal tidak ada yang tahu bahwa saat itu Farrel tengah tertimpa musibah. Fachmi hanya merasa ada hal buruk terjadi pada Farrel lalu dia melihat kilasan-kilasan kejadian seolah tengah meminjam mata Farrel.
Kejadian seperti itu tidak hanya sekali atau dua kali. Sudah berkali-kali Farrel dan Fachmi merasakannya. Orang bilang itu adalah ikatan batin saudara kembar. Tapi sayang munculnya tidak bisa dikontrol.
Dan sekarang Farrel dibuat gelisah karena perasaan ini. Dia yakin betul sekejap tadi merasa melihat dirinya sendiri berbaring di ranjang bersama Kanza melalui mata Fachmi. Ya, tepat di tengah ruangan itu Fachmi berdiri. Tapi jika itu benar, seharusnya sekarang Fachmi sudah menyeretnya turun dari ranjang lalu menghajarnya habis-habisan. Bukannya malah menghilang seolah menegaskan bahwa yang Farrel rasakan tadi hanya halusinasi.
Dengan perasaan bingung, Farrel memperbaiki posisi tidurnya seraya merangkul Kanza lebih erat. Wanita dalam dekapannya itu menggeliat, bergeser lebih dekat ke arahnya lalu kembali lelap.
Farrel akui, dia merasa takut sekarang. Bukan takut Fachmi marah lalu menghajarnya jika mengetahui apa yang telah dia lakukan pada Kanza. Melainkan takut dirinya akan kehilangan Kanza setelah semua kebohongannya terbongkar.
Farrel benar-benar tidak mengerti apa yang telah terjadi dengan hatinya. Keberadaan Kanza seolah mengacaukan perasaannya. Seharusnya dia senang jika Fachmi memergoki mereka sekarang lalu memutus hubungan dengan Kanza. Seharusnya Farrel juga tidak peduli jika Kanza membencinya. Tapi mengapa membayangkan semua itu terasa-menyesakkan?
Yakin dirinya tidak akan bisa tidur lagi, Farrel melepaskan pelukannya dari tubuh Kanza lalu beranjak bangun. Tapi baru saja dia hendak turun dari ranjang, jemari lentik yang mulai familiar itu memegang pergelangan tangan Farrel dengan lembut.
"Mau ke mana?" tanya Kanza dengan nada mengantuk.
Farrel menoleh, menatap mata wanita itu yang tidak sepenuhnya terbuka. Jujur, dia semakin merasa aneh saat Kanza seolah tidak merelakannya turun dari ranjang. "Ke kamar mandi," gumam Farrel pelan.
Mata Kanza terbuka semakin lebar, membalas tatapan mata hitam Farrel. "Ada sesuatu yang mengganggumu?"
Farrel tersenyum kecil. Ia angkat tangan Kanza yang tadi menahan kepergiannya, lalu sebuah ciuman lembut ia daratkan di punggung tangan wanita itu. "Tidurlah lagi. Aku hanya sebentar."
Kemudian Farrel buru-buru melarikan diri ke dalam kamar mandi, menjauh dari tatapan bingung Kanza.
***
Farrel belum bisa berhenti merasa gelisah. Dia bahkan tidak sanggup menghabiskan sarapannya padahal Kanza sudah memasakkan makanan kesukaannya. Tentu saja hal itu tidak luput dari perhatian Kanza. Dia ingin mencari tahu tapi ragu karena lelaki itu tampaknya tidak mau berbagi apa yang tengah mengganggunya dengan Kanza.
"Mau aku buatkan makanan yang lain?" tanya Kanza hati-hati setelah Farrel menyudahi sarapannya yang masih banyak tersisa.
Farrel hanya tersenyum kecil lalu menggeleng.
Saat Kanza hendak membenahi meja makan, Farrel membantu tanpa diminta. Padahal biasanya Farrel langsung pergi setelah dia selesai makan dan membiarkan Kanza membereskan sisa makan mereka seorang diri.
"Apa kau sakit?" tanya Kanza ragu.
"Tidak. Kenapa?"
"Sikapmu agak aneh hari ini."
Farrel tersenyum kecil. "Kapan aku tidak aneh?
"Ah, iya juga sih."
"Ckckck, Sayang. Kau terlalu jujur."
"Kau sendiri yang bilang dirimu aneh. Aku hanya membenarkan."
"Ya, itu namanya terlalu jujur."
Tak diduga, Farrel mendaratkan bibirnya di ujung hidung Kanza, membuat debar jantung Kanza meningkat.
"Hmm, biar aku saja yang mengerjakannya." Kanza berkata saat Farrel hendak membantu mencuci piring kotor.
"Ini tidak sulit."
"Kalau begitu aku yang mencuci dan kau yang mengelapnya hingga kering."
"Oh, baiklah. Ternyata kau sangat meragukan kemampuanku dalam pekerjaan dapur."
Kanza tertawa kecil mendengar nada sedih Farrel yang dibuat-buat. "Ya, sangat disayangkan kalau piring bagus ini pecah."
"Nona, kau berhasil melukai perasaanku. Kau terdengar lebih sayang pada benda mudah pecah itu daripada lelaki tampan di sampingmu ini."
"Memang."
Farrel cemberut lalu pindah ke belakang Kanza, memeluk wanita itu dari belakang. "Kalau begitu aku tidak mau membantumu. Aku akan memelukmu saja."
"Terserah." Kanza masih tertawa kecil.
Selesai mencuci piring, Farrel menarik Kanza ke sofa depan tv. Dia duduk bersandar dengan kaki terjulur lalu menarik Kanza agar duduk bersandar di dadanya.
"Bukankah hari ini kita hendak membawa keluar barang-barang dalam kardus itu?" Kanza mendongak menatap Farrel yang tengah memandang lurus ke arah tv. Tapi jelas tidak sedang menikmati tayangannya.
"Besok aku akan meminta bantuan petugas kebersihan untuk membawanya. Sekarang kita bermalas-malasan saja di sini."
Perubahan sikap Fachmi membuat Kanza tidak tenang. Meski ia terus-menerus mengingatkan diri sendiri bahwa lelaki itu tidak mungkin ia miliki, tapi perasaan ingin memiliki itu kerap kali muncul tanpa bisa dicegah. Terutama sejak ia menyerahkan seluruh tubuh dan jiwanya pada Fachmi.
Yah, dirinya memang wanita paling bodoh sejagat raya. Sudah tahu akan terluka jika ada perasaan lebih terhadap Fachmi dalam hatinya, namun dia tetap terbuai. Hingga tanpa sadar sudah terperosok jauh. Jadi, kenapa sekarang dia malah mengeluh?
Drrrttt.
Getaran ponsel dari saku celana Farrel mengalihkan perhatian mereka berdua yang tengah tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Farrel segera meraih ponselnya lalu menerima panggilan telepon yang berasal dari sepupunya.
"Ya, halo. Ada apa, Juan?"
"Kau bilang ingin bertemu kakakmu. Coba tunggu di apartemennya. Aku dapat kabar malam ini dia akan tiba di sana."
DEG.
-------------------------
♥ Aya Emily ♥
