Bab 2 Talak
"Al-Alden," ucap Silvi terbata saat melihat suaminya kini berdiri di depan pintu kamar.
Dengan santainya Alden menghampiri mereka. Sejak awal Alden memang sudah curiga jika istrinya ada main dengan Askara. Terlihat gerak-gerik Silvi yang berbeda saat menatap Askara.
Malam itu dengan tidak sengaja, Alden baru saja pulang dari meeting dan melihat Silvi sedang merapikan bajunya keluar dari pintu kamar tamu. Sama persis seperti saat Nadia memergoki mereka malam ini. Hanya saja Alden tidak memiliki bukti untuk mengungkap perselingkuhan mereka berdua.
"Tidakkah kamu ingat malam kemarin Silvi." Alden menatap Silvi tajam.
"Malam kapan Sayang? Aku lupa," jawab Silvi berpura-pura lupa.
Padahal Silvi ingat betul kejadian malam itu, karena kejadian itu hanya berselang tiga malam dari malam ini. Namun, Silvi seolah tidak ingin jika Mayang tahu kelakuannya bersama dengan Askara. Sebab Silvi berharap jika Mayang akan terus membela dirinya.
"Alden, jangan menyudutkan istrimu sendiri. Jelas-jelas Nadia yang bersalah, dia itu hanya lelah bekerja dan suka mencari masalah," ketus Mayang menatap sebal Nadia.
"Benar Al, Nadia hanya lelah. Kamu tahu sendiri bukan, kalau kita ini saudara. Mana mungkin aku mengkhianati Adikku sendiri," ucap Askara masih membela Silvi.
"Iya benar apa kata Ibu dan Mas Askara kalau aku itu tidak mungkin mengkhianati kamu," ucap Silvi sambil tangannya menggelayut di tangan Alden.
"Lepaskan Silvi, jangan sampai aku berbuat kasar padamu," ancam Alden, lalu Silvi melepaskan tangannya.
"Jangan seperti itu Alden. Dia itu istri kamu," ujar Askara terus membela Silvi.
Dalam hati Silvi, dia sangat bahagia karena Askara dan Mayang benar-benar masuk dalam perangkapnya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan jika Askara akan meninggalkannya. Sebab Askara lebih membela dirinya ketimbang Nadia.
Askara menarik tangan Nadia dengan kasar untuk mengajaknya masuk ke dalam kamar. Namun, dengan tegas Nadia menolak. Nadia ingin Askara menjelaskan semuanya malam ini di depan semua orang.
"Apa yang harus dijelaskan Nadia?" ucap Askara, lalu berbisik pada Nadia. "Apa kamu mau membuat rumah tangga Alden hancur? Ha!"
"Kamu sendiri ingin rumah tangga kita hancur Mas, lalu buat apa kamu peduli dengan rumah tangga orang lain," jawab Nadia dengan keras.
Dalam pikiran Nadia, buat apa berbisik-bisik. Lebih baik bicara jelas agar Askara dan Silvi mengakui perselingkuhan mereka di depan Mayang dan Alden. Bahkan saat ini Alden pun sudah tidak percaya lagi dengan Silvi.
Alden menatap tajam ke arah Silvi. Pertanyaan Alden menyudutkan Silvi agar dia berbicara jujur. Silvi akhirnya membuka mulut dan mengakui semuanya.
"Memang benar Al, kalau aku bermain api dengan Kakakmu," jawab Silvi terang-terangan.
"Silvi." Askara tampak kecewa karena Silvi mengakuinya.
"Aku mencintaimu, Mas," jawab Silvi tanpa rasa malu sedikit pun.
"Tapi aku tidak mau kehilangan Nadia, Silvi," jawab Askara beralih menatap Nadia.
"Cinta itu tidak ada lagi setelah ada pengkhianatan," ketus Nadia tanpa peduli lagi apa itu cinta.
Bagi Nadia, cinta yang sudah ternoda tidak akan bisa kembali pulih seperti dulu lagi. Ibarat gelas pecah, meskipun direkatkan, bekas itu akan tetap ada. Jikapun memaafkan, belum tentu hati akan bisa menerima kembali.
"Sudah, sudah. Aku lebih setuju kalau Silvi bersama dengan Askara daripada bersama Nadia. Dia itu hanya wanita mandul dan aku yakin jika Nadia tidak bisa memberikan keturunan untuk Askara," ucap Mayang yang sama sekali tidak peduli dengan perasaan Nadia dan juga Alden.
"Hari ini aku talak kamu Silvi." Lantang Alden.
"Terima kasih Al, kamu telah menceraikan aku," jawab Silvi tersenyum penuh kemenangan. "Kita akan hidup bersama, Mas." Silvi memeluk Askara.
"Al, jangan ceraikan Silvi. Dia ini sedang hamil, Al." Askara menatap Alden penuh harap.
"Dia itu hamil anakmu Mas, lalu buat apa aku mempertahankan dia. Hanya menyusahkanku saja," jawab Alden tegas.
"Apa kamu tidak mau memperjuangkan aku, Mas?" Silvi mengiba pada Askara.
"Askara, lebih baik kamu ceraikan Nadia. Jelas-jelas Silvi yang lebih perhatian sama kamu ketimbang Nadia. Dia itu hanya wanita benalu dalam rumah ini," sinis Mayang melirik ke arah Nadia.
Mendengar hinaan dari Mayang. Nadia merasa sudah tidak tahan lagi, sudah cukup dia bertahan dalam hinaan selama dua tahun ini. Kini saatnya dia membebaskan diri dan merubah nasib hidupnya tanpa bergantung pada Askara.
Alden mendekati Nadia, menguatkan Nadia meski sebenarnya dirinya juga sama-sama rapuh saat ini. Akan tetapi, Nadia lebih sakit ketimbang dirinya. Di mana ibunya selalu saja melontarkan ucapan pedas pada Nadia.
"Mbak," ucap Alden sembari mengelus bahu Nadia.
"Tidak apa-apa Al, Mbak baik-baik saja," jawab Nadia meski kini air matanya mulai menganak sungai.
Sejak tadi mereka bertengkar, Nadia masih bisa menahan tangis. Namun, saat Mayang mengatakan jika Nadia hanya benalu dalam rumah itu. Hati Nadia terasa sakit. Sebab selama ini, Nadia berusaha mandiri dan tidak serta-merta semuanya meminta Askara.
Akan tetapi, bagi Mayang, Nadia hanyalah orang miskin yang numpang hidup di rumahnya. Walaupun Nadia banting tulang, tetap saja Nadia tidak ada harganya dimata Mayang. Sejak awal, Mayang memang tidak pernah setuju jika Askara menikahi Nadia. Namun, demi menjaga nama baiknya. Mayang menyetujui pernikahan mereka.
"Aduh, perutku sakit." Silvi berpura-pura meringis kesakitan demi mendapatkan perhatian dari Askara dan Mayang.
"Ya ampun, Silvi. Kamu kenapa Sayang," ucap Mayang langsung ikut memegang perut Silvi.
"Sakit Bu, perut Silvi tiba-tiba sakit," jawab Silvi dengan wajah melas.
"Askara bantu Silvi masuk ke dalam kamar," pinta Mayang dengan gusar.
"Mas, bantu aku. Sakit sekali, Mas," rengek Silvi sambil terus memegangi perutnya. Sebab Silvi tidak ingin kehilangan Askara.
Aksara menatap Nadia sebelum dia membawa Silvi masuk ke dalam kamar. Meski Askara bermain api dengan Silvi. Namun, dalam hati Askara masih sangat mencintai Nadia.
Nadia sama sekali tidak merasa iba dengan Silvi. Dia yakin jika Silvi hanya berpura-pura. Bahkan saat Askara menatapnya, Nadia malah memalingkan wajahnya.
"Mas buruan, sakit ini." Silvi meraih tangan Askara dengan cepat dan minta digendong.
"Askara!" bentak Mayang, sehingga Askara segera menggendong Silvi.
Dengan berat hati, Askara menggendong Silvi tepat di depan Nadia dan Alden. Nadia sama sekali tidak memperhatikan Askara. Alden pun enggak melihat kemesraan mereka berdua, dan lebih memilih memainkan ponselnya. Askara melangkah mendekati kamar Silvi dan Alden, lalu menurunkan tubuh Silvi.
"Kok kamu antar aku ke sini sih, Mas," ucap Silvi sedikit kesal.
"Lah, memangnya kamu mau tidur di mana?" tanya Askara yang tidak tahu keinginan Silvi saat ini.
"Aku mau tidur di kamar kamu, Mas," jawab Silvi lalu menatap Nadia yang masih berdiri di samping Alden.
"Iya, 'kan Mbak?" tanya Silvi tersenyum mengejek.
