Pustaka
Bahasa Indonesia

Hurts

64.0K · Tamat
Shineamanda9
51
Bab
22.0K
View
9.0
Rating

Ringkasan

Sikap kasar Allan Willard terhadap Emily yang tidak berlandaskan, akhirnya berakhir buruk untuk pernikahan mereka yang terjadi akibat perjodohan. Emily, yang masih berumur 19 tahun harus merasakan kehidupan pahit yang tidak pernah ia bayangkan dari sosok yang ia cintai sejak lama. Harapannya buyar, palsu dan menjadikan dirinya harus menjelma sebagai wanita kuat. Akankah Emily, akan terus mencintai Allan..

RomansaAktorBillionaireMenantuLove after MarriageKawin KontrakCinta Pada Pandangan PertamaPengkhianatanKeluargaPernikahan

Prologue

"Allan!"pekik suara seorang gadis terdengar lantang. Pria itu tidak menoleh, ia malas berhadapan dengan siapapun sekarang.

"Allan!"panggilnya lagi sambil melingkarkan tangan di lengan pria tersebut.

"Lepas!!!"sergahnya dengan tepisan kuat, hingga gadis itu jatuh ke lantai sebelum ia sampai di undakan tangga mansion.

"Dengar Emily, apapun alasannya aku- tidak akan pernah mencintai mu, jadi bersikaplah sewajarnya!"peringat Allan sambil menanggalkan suit pernikahannya dan melempar pakaian itu ke arah Emily yang menunduk tanpa menjawab.

"Allan..."bisiknya lirih sambil memungut Suit pria itu dan meremasnya kuat. Mereka baru saja menikah, tanpa pesta, tanpa ciuman dan tanpa kasih sayang.

Semuanya terasa begitu sulit, Emily mendengus melihat Allan sudah melangkah masuk ke dalam ruangan. Ia berdiri, mengikuti langkah pria tersebut. Rumah barunya, tempat dimana nanti ia akan berusaha menjadi istri yang baik.

Tap!!

Namun langkah kaki Emily berhenti mendadak. Ia menelan Saliva dan langsung memalingkan pandangan ke arah lain. "Kenapa kau masih berdiri di sana? Ambilkan aku minuman!"celetuk pria itu dengan nada suara melengking.

Ia bersama wanita lain, berciuman santai di rumahnya. Di hadapan Emily tanpa peduli. "Allan... Aku-"

"Kau tuli?"potong pria itu dengan nada suara yang begitu kasar.

"Sudahlah, bukannya ia harus terbiasa dengan kita di sini?"ucap wanita yang setia melingkarkan tangannya di leher pria itu sangat erat. Ia memicingkan pandangan penuh kemenangan, membuat Emily langsung menunduk kaku. Ia begitu lemah. Polos dan takut.

"Kemari lah, kau harus berkenalan dengan kekasih ku."Allan memerintah membuat mata gadis itu terangkat naik ke arahnya.

"Clarissa. Clarissa Amber!"ulangnya dua kali sambil menyodorkan tangan.

"Kau tidak perlu tahu namanya!"sergah Allan menarik tangan wanita itu sebelum Emily ingin menyambutnya.

"Ayo kita ke kamar,"Allan berbisik, mengecup puncak bahu wanita itu lembut.

"Aku pergi dulu!"

"Kau mau kemana?"bentak Allan saat mendengar Emily seakan malas ingin melihat aksinya bersama Clarissa.

"Aku... Aku..."

"Ambilkan aku minuman dan antar ke kamar ku!"ucap Allan dengan nada suara yang masih lantang. Emily diam lalu menggigit bibirnya begitu kuat.

"Allan hari ini kita baru saja menikah dan kau-"

"Hebat! Kau mau menantang ku, Emily?"tanya pria itu dengan nada suara yang sedikit lambat. Ia melepas pelukan dari Clarissa dan mendekati Emily yang kini menatap matanya dalam.

"Allan.. Hormatilah pernikahan kita. Kau-"

"Kau ingin aku meniduri mu?"Allan berbisik rendah tepat di telinga gadis itu. Emily diam sambil menautkan kedua tangannya. Napas gadis itu mendadak cepat setelah merasakan sentuhan yang sedikit panah di sudut pinggulnya.

"Ayo!!!"Clarissa menarik jemari pria itu, menjauhkannya dari Emily dan segera melangkah menuju kamar.

"Aku tidak suka kau sangat dekat dengan gadis itu, Allan!"

"Kau cemburu?"ungkapnya sambil menatap tegas ke arah Clarissa. Ia menyelami wajah wanita itu dan mencumbunya pelan.

"Tentu, dia sekarang istri mu. Bagaimana aku tidak-"

"Aku akan menceraikannya dalam waktu 3 bulan. Kau tahu kenapa aku harus menikahi gadis polos itu,"ucapan Allan terdengar seperti rayuan. Ia melepas kancing pakaian kekasihnya itu pelan tanpa memalingkan pandangan sedikitpun.

"Kau bisa di percaya?"tanya Clarissa dengan suara parau. Sementara Allan sudah mulai mencium lehernya.

"Sure! Aku akan menikahi mu. Aku mencintai mu!"Allan berbisik. Ia mencium bahu yang kini sudah begitu polos mencoba memancing lebih agar wanita itu segera melayaninya. Gairah pria itu sudah di ujung.

______________

Prankkk!!!

Suara pecahan gelas terdengar nyaring tepat di depan kamar Allan yang masih sibuk dengan Clarissa. Mereka bercinta sejak tadi, tanpa henti.

"Brengsek! Kau mengganggu-"

"Allan apa yang kau lakukan!"bentak Emily nyaring. Ia menelan Saliva begitu kuat lalu melihat pria itu meraih sesuatu untuk menutupi bawahannya. Sementara Clarissa tampak diam dan bersembunyi di bawah selimut.

"Bukan urusan mu! Keluar dan ambilkan minuman lain!"pria itu mendorong kuat tubuh Emily hingga gadis itu langsung terpental ke arah tembok.

"Ahh!!!"

"Sialan! Kau terlalu banyak acting. Cepat!"suara pria itu kembali melengking kuat membuat gadis itu bangkit dan mengepal tangannya kencang.

"Tidak akan!"

"Jangan coba-coba melawan ku, atau aku akan membuat mu benar-benar menderita Emily."

"Aku akan mengatakan semua perlakuan mu-"Emily langsung menggantung kalimatnya saat Allan menarik rambut nya dan membuat kepalanya terdongak ke atas.

"Apa kau bilang?"tanyanya sambil mengeratkan bibir.

"Allan!!"

"Kau boleh mengatakan pada siapapun. Tapi jika sesuatu terjadi pada ibuku, maka bersiaplah. Aku pastikan bukan hanya kau yang menderita, Emily!"ucap pria itu dengan pelan, ia melihat mata Emily yang sayu perlahan berair. Ia bergetar dan dingin.

Brakk!!

Akhirnya Allan melepaskan pautan tersebut dengan mendorong kembali tubuh Emily yang terasa ringan. Ia menajamkan mata lalu memutar tubuhnya segera dan kembali ke kamarnya.

Emily menelan Saliva, ia menunduk dan mengusap air matanya dengan ujung pakaian. Gadis itu menggigit tangannya sendiri, berharap tangisannya tidak pecah. "Kenapa, kau begitu membenciku!" pikir Emily sambil beranjak dari tempatnya. Ia mengambil langkah besar untuk mencari tempatnya sendiri.

"Nona, kamar mu di sana. Semua pakaian mu juga sudah beres!"tegur seorang maid tampak menatapnya kasihan. Ia mengangguk lalu melirik ke arah pintu yang di tunjukkan wanita paruh baya itu.

"Terimakasih."ucapnya sambil menarik napas dan melangkah begitu cepat.