7. Kegilaan Tak Terduga
Selama dua puluh delapan tahun hidup di dunia yang terbiasa memandangnya sebelah mata, Rena tak pernah merasa terhina lebih dari ini. Perkataan Andreas Pramoedya yang masih terngiang-ngiang di telinganya seolah menjadi tikaman tajam yang mengoyak harga dirinya hingga tak tersisa, melucuti kehormatannya sampai ke titik paling rendah dan hina.
Rena tahu, tindakan lancang mendengarkan pembicaraan privasi orang lain, apalagi jika menyangkut bagian yang begitu sensitif bagi pemiliknya, bukan hal terpuji dan mungkin dianggap jauh dari kata sopan. Tapi selancang apapun perilaku yang diperlihatkan Rena barusan, bukan alasan yang tepat bagi seseorang seperti Andreas memuntahkan kalimat penghakiman penuh hinaan semacam itu. Bahkan menganggapnya sebagai manusia menjijikkan setara dengan kotoran di pinggir jalan.
Ia hanya tidak sengaja melakukan satu kesalahan menyinggung ranah pribadi pria itu, tapi respon yang justru ia terima harus mengantarkannya pada penghinaan terendah yang menelanjangi seluruh harga dirinya bulat-bulat.
Menggenggam erat gelas minuman keempat di tangannya, emosi dan kesakitan itu masih terus setia menyesaki dada Rena. Pembicaraan singkat bersama Andreas tadi, semakin melengkapi hari buruk melelahkan di hidupnya. Kemelut masalah keluarga, hutang, dan pinjaman saja sudah cukup mengundangnya dalam drama panjang tanpa jalan keluar. Lalu sekarang muncul pemeran baru berupa sosok Andreas Pramoedya untuk melengkapi semua malapetaka itu.
Rena menatap nanar cairan mojito mocktail yang sedari tadi bergantian membantu meredam emosinya. Rasa segar perasan limau bercampur dinginnya daun mint membantu memberinya sedikit ketenangan, membuat gadis itu betah berdiam diri di pinggir meja prasmanan.
Semakin sering ia meneguk gelas demi gelas rasa ketagihan dari campuran plain soda dan sari buah minuman tersebut, maka kepalanya perlahan semakin terasa ringan. Memberi sedikit kelegaan dari sakit kepala yang sudah seminggu ini mengusik lelap tidurnya.
Padahal Rena hanya berencana meminum satu gelas mocktail sebagai penyegar dari rasa panas yang tengah membakar dadanya. Tapi entah kenapa keinginan itu tak mau berhenti di sana, begitu ia merasakan ada sensasi lain yang memberi perasaan ringan dan melayang saat menyentuh gelas kedua. Mojito mocktail ini seperti alkohol candu yang membantu memberi kelegaan yang Rena cari. Meskipun ia sendiri belum pernah mencicipi langsung bagaimana rasa dari minuman haram tersebut.
Baru saja bergerak ingin mengambil gelas kelima untuk kembali ia teguk, tangan seseorang sudah lebih dulu menyerebot dengan paksa minuman yang nyaris ia sentuh, diikuti omelan protes panjang menyertai di belakangnya. "Astaga, Ren. Apa-apaan sih? Kamu ngapain minum bergelas-gelas cocktail sampai kelihatan teler gitu! Dan demi Tuhan, sejak kapan juga kamu bisa minum alkohol?"
Dari sudut mata, Rena bisa melihat muka tertekuk Mala yang kini mendadak muncul di sampingnya, mengomel panjang lebar seraya menyingkirkan gelas minuman itu jauh-jauh dari jangkauannya. Perasaan melayang ringan yang mendominasi kepala Rena, membuat gadis itu tidak bisa menghiraukan perkataan Mala secara jelas. Ia bahkan mati-matian menopang setengah beratnya di pinggiran meja prasmanan karena penglihatan yang perlahan mulai terasa berputar, menciptakan sensasi bergelombang seperti di atas kapal.
"Ya ampun. Jangan bilang kamu nggak bisa membedakan mojito mocktail biasa dengan mojito cocktail yang ada campuran rum-nya? Makanya jadi kebablasan begini, kan. Astaga, Rena, ya ampun, Rena. Otak kamu dipakai di mana, sih?"
Ocehan Mala masih terus bergema di telinganya. Rena yang merasa tubuhnya perlahan dibopong tertatih kembali ke meja bundar tempat mereka duduk, hanya membiarkan saja Mala tenggelam dalam omelannya. Karena pusing di kepala yang mulai terasa nyata, menghalau semua bentuk kesadarannya terhadap suasana sekitar, termasuk keinginan untuk menyela kalimat-kalimat protes Mala.
"Lho, Rena kenapa, Mala?" Suara Mas Tian yang bisa samar Rena tangkap saat mereka telah sampai ke tempat duduk, menyapa di sela rasa pusingnya.
"Insiden human error nggak disengaja mungkin, Mas. Dia kelepasan minum mojito cocktail sampai empat gelas dan malah berakhir setengah teler begini. Padahal minum bir alkohol di bawah empat persen aja dia nggak pernah. Lah, sekarang malah langsung nekat minum rum." Mala menjawab pertanyaan itu, sambil merapikan ponsel dan seluruh barang bawaan Rena yang terletak asal di atas meja. Memasukan semua benda kembali ke dalam tas pemiliknya.
"Aku pinjam mobil Mas Tian buat antar Rena pulang duluan ke kontrakannya, ya, Mas? Kalian berdua nggak apa-apa aku tinggal sementara?" tambah Mala lagi. Menatap bergantian Mas Tian dan Anisa yang masih duduk memperhatikan di tempatnya.
"Santai aja. Lagian acaranya juga tinggal makan-makan dan live music, kok." Mas Tian tanpa ragu menyerahkan kunci mobil cooper yang ia kantongi, dan dengan segera langsung diterima oleh Mala. "Hati-hati di jalan. Jangan ngebut, pastikan Rena langsung istirahat, kasihan dia kelihatan tersiksa begitu."
Mengangguk sekilas pada kedua rekan kerjanya, Mala bergegas menuntun Rena berjalan keluar dari aula acara, melewati meja resepsionis convention hall tempat pesta perusahaan berlangsung. Hingga akhirnya mereka berhasil sampai di parkiran, tempat di mana mobil merah marun milik Mas Tian berada.
Saat hendak membantu Rena menduduki jok penumpang bagian depan, Mala spontan menepuk jidatnya sendiri begitu menyadari bahwa ponsel miliknya tertinggal di meja undangan. Saking terlalu sibuk mengurusi semua barang-barang penting Rena, ia justru melupakan benda penting miliknya sendiri. Mala memerlukan benda pipih itu untuk menjaga komunikasi dengan si pemilik mobil jika saja nanti ia harus terjebak macet di jalan nanti.
"Ren, kamu tunggu sebentar di sini, jangan ke mana-mana. Aku masuk dulu ke dalam lagi buat ambil barang yang ketinggalan. Oke?" peringat Mala sambil menyerahkan botol air mineral yang masih tersegel rapi di atas dashboard mobil Mas Tian. Berharap minuman tersebut dapat membantu meredakan sedikit rasa pusing di kepala Rena.
Mengangguk pelan, Rena membiarkan kepergian Mala yang dengan segera berbalik arah menuju gedung tempat acara. Menunggu temannya itu dalam keheningan di ruang sempit ini. Ditemani sebotol air mineral yang belum ingin disentuhnya sedikitpun.
Rasa pusing mengganggu itu, menahan ruang gerak nyaman Rena. Meskipun ia masih memiliki kendali pada setengah bagian kesadaran yang tersisa, namun tusukan-tusukan kecil di kepala yang mengusiknya, membuat dirinya hanya terduduk tak berdaya di jok penumpang.
Memandang pelataran parkir yang cukup sunyi dari balik kaca depan, Rena menyandarkan diri di kursi jok senyaman mungkin. Menarik napas dalam-dalam menyatu bersama sepi yang mengukung. Hingga baru lima menit waktu terlewat, gadis itu kembali dibuat terkesiap halus saat matanya tak sengaja menangkap siluet seseorang yang berjalan melintas di depan mobil tempatnya berada.
Meski penerangan remang-remang karena pelataran parkir terletak cukup jauh dari pintu masuk gedung hall, tapi mata Rena tak bisa meluputkan begitu saja sosok yang sedari tadi menjadi kekacauan tambahan yang menjatuhkan ego dan harga dirinya.
Perlahan, tangan gadis itu kembali terkepal kuat, begitu rekaman kalimat-kalimat menyakitkan itu terputar lagi memenuhi kepalanya. Seolah tak ingin berhenti mengusik terus tiada henti.
"Lagi-lagi bedebah memuakkan."
"Manusia-manusia sampah seperti kalian, benar-benar memuakkan."
"Sampah."
"Memuakkan."
"Bedebah."
Mata Rena terpejam sejenak dengan helaan napas yang terembus gusar. Semakin ditekan, amarah itu justru semakin berkobar ingin menyala lebih terang. Lalu entah mendapat dorongan dari mana, atau memang kewarasannya sudah nyaris tertutup oleh efek alkohol dari cocktail sialan yang dikatakan Mala tadi, Rena bergegas turun keluar dari jok duduknya. Meraup kasar botol air mineral yang masih tertutup segel tersebut, dan melangkah mantap menuju sumber dari salah satu kekacauannya.
Dengan susah payah menyeret langkah dari rasa pening dan pandangan berputar, Rena menyusul berjalan tak jauh di belakang punggung tegap yang masih belum menyadari kehadirannya. Dan ketika sosok itu sudah berniat membuka pintu depan pengemudi dari Alphard hitam miliknya yang terparkir, sapaan Rena berhasil mengurungkan keinginan tersebut.
"Selamat malam Pak Andreas Pramoedya yang terhormat," seru Rena cukup kuat untuk menarik atensi laki-laki itu.
Andreas yang secara tiba-tiba mendengar salam seseorang datang menghampirinya, mau tak mau menarik kembali tangan yang sudah menyentuh daun pintu mobil, dan secara otomatis membalikkan badan menghadap ke arah sumber suara.
Kerutan di dahi pria itu terpampang jelas begitu mendapati wajah yang tak terlalu asing di ingatannya malam ini. Beberapa langkah dari tempat ia berpijak, perempuan berperawakan kurus tinggi dengan rambut ikal hitam sebahu yang tadi ia temui di dekat lorong penghubung toilet convention hall, terlihat berdiri di depannya, dengan senyum lebar terulas yang tak segan perempuan itu tunjukkan.
"Saya hanya ingin mengembalikan apa yang tadi tidak sengaja Bapak tinggalkan sebelum pergi."
Kerutan di dahi Andreas makin bertambah mendengar ucapan itu.
"Saya tidak merasa meninggalkan apa-apa. Jadi tidak perlu repot-repot," cetus pria itu tak acuh, lalu segera kembali berbalik hendak membuka pintu mobil. Namun, sebelum gerakan itu terlaksana, detik selanjutnya ia justru sudah lebih dulu merasakan tamparan air yang dilemparkan telak menyirami wajahnya. Sisa-sisa tetes air itu bahkan juga tampak mengalir membasahi bagian depan kemeja dan dasi yang ia kenakan.
Pelakunya? Tentu saja adalah perempuan aneh yang berdiri beberapa langkah darinya tersebut.
"Apa-apaan kam---"
"Etika," potong wanita itu. Kali ini senyum lebar yang tadi ia tampilkan di depan Andreas sudah sirna tak berbekas, berganti menjadi tatapan tajam nan lekat yang sarat akan emosi mendalam. "Etika dan tata krama yang sempat anda buang tadi, saya hanya ingin mengembalikannya. Setidaknya anda masih memerlukan itu untuk menjadi manusia yang lebih beradab ke depannya."
Tanpa rasa gentar, wanita itu balas menantang netra hitam Andreas. Tanpa terintimidasi sedikitpun, ia menunjukkan semua luka dan kebenciannya. "Jadi tolong, lainkali pastikan mulut sampah anda harus bekerja sinkron dengan otak anda terlebih dulu, sebelum mengeluarkan kata-kata apapun. Bersikaplah dengan lebih layak sebagaimana orang-orang berpendidikan dan berakhlak harusnya bersikap."
