Pustaka
Bahasa Indonesia

Hatimu Bukan Sebongkah Batu

131.0K · Tamat
Ayunina Sharlyn
120
Bab
770
View
9.0
Rating

Ringkasan

Patah hati membuat Allan memilih hidup seolah menjadi pertapa. Hanya tinggal di dalam kamar dan rumahnya, enggan bergaul dengan siapapun. Hatinya begitu terluka dikhianati wanita yang dia yakin akan menajdi pendamping hidupnya. Kehadiran Mimi, gadis lulusan SMA, anak sahabat mamanya, yang tinggal di rumahnya karena harus kuliah di kota tempatnya tinggal, memberi warna yang berbeda. Awalnya Allan sangat ketus, dingin, dan tampak tak peduli pada Mimi. Lambat laun, hati Allan menoleh pada gadis periang itu. Namun, hatinya yang mulai terbuka kembali marah, saat Mimi memilih berpacaran dengan teman kampusnya. Allan kembali masuk dalam gua tempatnya bertapa. Saat Mimi akhirnya terluka karena kekasihnya, Bisakah cinta tulus akan hadir buat Allan? Mungkinkah hati yang keras membatu karena luka masa lalu akan dipulihkan? Bagaimana Mimi bersikap ketika melihat Allan kembali terpuruk? Ikuti kisah manis Allan dan Mimi.

RomansaKampusKeluargaCLBKSalah Paham

Biarkan Aku Sendiri

Brraaakkk!!! 

Terdengar suara seperti benda dilempar dengan keras dari arah kamar depan rumah mungil dan cantik itu. Segera Velia mematikan kompor dan lari menuju kamar depan. 

Dia membuka pintu dan masuk ke dalam. Berbagai benda berserakan di lantai. Sedangkan anaknya, Allan, duduk bersandar di dinding, sambil menutup wajahnya dan menangis. 

Perlahan, Velia mendekati Allan, berjongkok di sisinya. Dia sentuh lembut pundak pria muda yang gagah, anaknya satu-satunya itu. 

"Allan ...," panggil Velia lembut. 

"Biarkan aku sendiri, Ma. Biarkan aku sendiri." Allan menjawab panggilan Velia, dengan tangan masih ada di depan wajahnya. 

"Mana bisa aku tinggal kamu dengan keadaan seperti ini? Allan ... ayo, bangun. Jangan begini. Tidak ada gunanya kamu tangisi." Velia tidak tahu harus bagaimana menghadapi Allan. Hatinya terasa tersayat setiap melihat Allan kacau begini.

Sudah hampir setahun, Allan masih belum bisa melupakan kejadian mengerikan yang dia alami. Allan begitu marah dan terluka hingga memilih menutup diri dari semuanya. Bahkan dengan dirinya, ibunya, Allan juga memilih lebih banyak diam. Dunia Allan benar-benar runtuh dan hancur berkeping-keping. Itu yang tampak di mata Velia.

Putranya yang penuh semangat, hanya menjadi penghuni kamar dan rumah ini. Tidak pernah sekalipun dia mau keluar dari pagar rumah mereka. Bahkan ke teras rumah saja bisa dihitung dengan jari. Rumah ini seolah menjadi gua pertapaan Allan.

"Mama ga paham yang aku rasakan. Mama ga akan ngerti." Allan mengusap wajahnya, memandang mamanya yang duduk bersimpuh di sisinya. Gemuruh di dadanya menekan seolah akan meledak setiap ingat luka yang tertoreh di sana.

"Mama tahu, Lan. Dikhianati orang yang kita sayang, itu sangat menyakitkan. Mama sangat tahu. Tapi apa mau tetap begini? Hidup kamu masih berlanjut. Dan ...."

"Mama kalau cuma mau kuliahin aku, mending aku keluar. Aku ga butuh." Nada suara Allan meninggi dan ketus. Allan berdiri, berjalan meninggalkan kamarnya. 

Velia hanya menatapnya dengan gamang. Sedih, kuatir, dan jujur saja, sedikit putus asa menghadapi Allan. Velia berdiri dan mulai membereskan barang-barang yang berserakan di mana-mana itu. Buku-buku, peralatan gambar dan tulis, satu per satu Velia merapikannya lagi. 

"Ya Tuhan ... Beri aku kesabaran yang berlimpah menghadapi Allan. Aku harus berbuat apa agar dia berani menghadapi kenyataan, lalu mau menjalani hidupnya lagi?" bisik hati Velia. Hampir putus asa rasanya berharap Allan bisa Kembali baik seperti dulu.

Selesai dengan kamar Allan, dengan hati yang masih pedih, Velia kembali ke dapur. Dia meneruskan memasak menyiapkan makan siang untuknya dan Allan. 

Untung saja kantornya hanya berjarak dua blok dari rumah. Dia bisa dengan mudah menengok Allan saat ada waktu, setidaknya saat istirahat siang. Setelah kejadian kematian kekasih Allan yang tragis, dan Allan begitu terpuruk, Velia memang minta waktu untuk dia bisa lebih memberikan perhatian pada Allan. 

Baiknya, pimpinan tempat kerja Velia memaklumi. Asal pekerjaan Velia tetap bagus, dia diberi keleluasaan untuk menolong Allan agar bisa pulih. 

Di kamar belakang rumah itu, ada sebuah ruangan yang cukup luas, dengan banyak jendela kaca di sekelilingnya, tetapi gorden kamar itu hampir tak pernah dibuka. 

Allan sekarang ada di ruangan itu yang sebenarnya adalah ruang kerjanya. Semacam galeri kecil tempat Allan membuat karyanya. Allan adalah mahasiswa seni lukis. Dia sudah di semester terakhir waktu dia mengalami tragedi tahun lalu. Karena kejadian itu Allan sudah tidak berpikir menuntaskan studinya. 

Di sisi lain, Allan juga sudah mulai dikenal. Beberapa lukisannya bahkan sudah dijual ke luar negeri. Sayang, sekarang dia lebih banyak memakai ruangan itu untuk melamun dan meratapi nasibnya. 

"Lann ...  All ... lannn ... tolong ...." Suara itu masih sering muncul mengganggu di kepala Allan. 

"To ... loonngg ... aku ... Lan ...." Lagi suara itu datang. 

"Tidak! Kamu pantas mati, Yash! Kamu pantas mati!" Allan mengepalkan kedua tangannya, berkata dengan kesal dan marah.

Dia memandang sebuah lukisan yang masih belum selesai, yang ada di depannya. Masih seperti sketsa hitam putih saja. Seorang gadis terbaring, di dekat sebuah mobil, dengan posisi setengah tengkurap, sebelah tangannya terulur, seolah minta pertolongan. 

"Apa salahku sama kamu, Yash? Apa? Kenapa kamu tega melukai aku seperti ini?" Wajah Allan terlihat begitu kusut. Wajah yang nenunjukkan kepedihan, kekecewaan, dan penyesalan yang dalam.

Kembali bayangan kecelakaan mengerikan itu terpampang di depan matanya. Sebuah mobil dengan cepat menabrak tubuh sintal Yashinta yang tengah menyeberang jalan. Gadis cantik itu berguling-guling di atas aspal beberapa kali. Lalu kepalanya membentur garis pembatas di tengah jalan. 

Bersimbah darah, Yashinta meminta Allan menolongnya. Dan beberapa detik berikut dia tidak bergerak. Nafas Yashinta putus dari raganya. 

"Aahh ... Yash ... Kenapa? Kamu tahu aku sudah siapkan semua untuk masa depan kita. Yash ...." Suara Allan makin lirih. Ya, Allan berjuang dengan semangat menjadi pelukis sebelum tuntas kuliah, bsia menabung untuk persiapan membeli rumah buat Yashinta dan persiapan pernikahan mereka. Allan sangat serius dengan hubungan kasih di antara dia dan Yashinta.

Dia pegang pensil panjang dan mulai menorehkan goresan di atas kanvas. Tapi entah kenapa, rasa sakit dan marah membuat dia tak mampu meneruskan apa yang dia gambar. Dia letakkan lagi dengan kasar, pensil yang dipegangnya. 

Terdengar pintu ruangan itu dibuka seseorang. 

Klekk! 

Allan tahu, mamanya datang mengajak dia makan siang. 

"Aku ga lapar, Ma." Allan berkata tanpa menoleh. Matanya masih menatap lurus ke gambar di depannya.

"Pagi kamu juga ga sarapan. Ayolah. Jangan begini terus. Lan, kamu lihat Mama ... Jangan lihat yang lalu. Lihat Mama ..." Velia yang sudah berdiri di sisi Allan, bicara, sedikit memohon. 

"Nanti aku makan. Mama makan saja dulu." Masih sama, Allan tidak menoleh pada Velia. 

"Huufhh ...." Velia mendesah. "Aku harus kembali ke kantor. Mungkin agak malam baru aku balik pulang. Please, jangan sampai ga makan."

"Hmm ...." Hanya gumaman yang terdengar dari Allan. 

Velia memeluk pundak putranya, mengecup puncak kepalanya, lalu dia keluar dari ruangan itu, meninggalkan rumah, kembali ke kantor tempat dia bekerja. 

Hingga lebih satu jam kemudian, baru Allan bangun dan berdiri, lalu dia ke ruang makan. Dia lihat, mamanya masak ayam bumbu pedas kesukaannya. Mama selalu mencoba membuat Allan nyaman dan senang. 

Ada perasaan bersalah dalam hati Allan. Sungguh, sebetulnya ia tidak mau menyakiti perasaan wanita yang sudah melahirkannya ke dunia ini. Tapi, rasa itu tidak pernah mau pergi. Sekuat apapun ia berusaha untuk melupakan Yashinta, bayangan gadis itu tidak pernah mau pergi.

Allan melangkah kembali ke dalam kamarnya yang kini terlihat rapi. Ia tau, pasti mamanya yang sudah merapikan kamar itu untuknya. Pemuda itu membanting tubuhnya ke atas kasur, ia berusaha untuk memejamkan matanya dan tidur. Allan berharap dengan tidur ia dapat menghilangkan kenangan bersama Yashinta. Tapi, bukan pergi wajah perempuan itu malah datang dalam mimpi.

"Haa ... haa ... Pria bodoh! Siapa yang cinta sama kamu!? Haa ... haa ... Aku cuma mau main-main sama kamu! Allan, Allan ...." Tawa lebar dari gadis berkulit putih dan bersih. Tinggi dan bagus posturnya. 

Sakit, perih, saat gadis yang paling Allan cintai mengucapkan itu dengan senyum dan tawa menyeringai. 

Yashinta. Siapa saja akan mudah jatuh hati padanya. Ramah, cerdas, penuh semangat, berprestasi. Allan merasa sangat beruntung saat Yashinta, primadona kampusnya, mendekatinya. Allan yang awalnya malu melangkah, dengan tangan terbuka menerima Yashinta dan menjalin hubungan asmara dengan gadis itu. 

Hampir dua tahun, semua berjalan menyenangkan. Hari-hari penuh warna, meski sibuk dengan tuntutan akademik, tidak membuat Allan lelah. Semakin dalam cintanya pada Yashinta, saat gadis itu mengatakan akan berikan apapun yang Allan mau. 

"Aku cinta kamu, Lan. Sangat. Aku rela jika kamu minta diriku seutuhnya sekalipun. Karena aku tahu, kamu tidak akan meninggalkan aku." Mesra dan lembut, Yashinta berbisik. 

Allan melambung menembus angkasa rasanya. Yashinta yang memberinya ciuman pertama yang belum pernah dia lakukan. Gadis yang pertama dia cintai. Tapi Allan tidak mau melakukan lebih. Dia ingin menjaga Yashinta sepenuh hati. 

"Kamu takut? Ini pembuktian cinta kita, Lan ...." Yashinta sesekali membuka peluang Allan bisa merenggut dirinya. 

Allan menatap mata indah kekasihnya itu. Dadanya berdegup kencang, saat Yashinta memeluknya erat. Kedua tangan Yashinta melingkar di leher Allan.

"Lan ...." Pesona Yashinta makin kuat.

Makin tajam Allan menghujamkan pandangan pada gadis cantik itu.