Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Chapter Pertama : Noda Di Pesta Para Milyader

Kamar itu hanya diterangi oleh temaram lampu tidur yang membiaskan warna jingga pucat, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di dinding seolah mengejek keraguan di hati Alex.

Udara terasa berat, sarat dengan aroma hujan yang merembes dari sela jendela dan wangi sampo buah yang manis—aroma milik Elsa yang seolah menjerat paru-parunya.

"Tidak, Elsa ... kau akan membenciku esok pagi."

Suara Alex pecah, parau oleh pergulatan batin yang hebat. Ia memalingkan wajah, menolak untuk menatap sepasang mata hijau yang kini tampak seperti telaga dalam yang siap menenggelamkannya.

Alex berdiri mematung, sementara Elsa duduk di tepi ranjang dengan gaun yang sedikit berantakan, gambaran dari sebuah keputusasaan yang murni.

Tidak mungkin! jerit akal sehat Alex dalam diam.

Bagaimana mungkin ia, seorang pria yang selalu memegang teguh martabat dan garis keturunan, bisa tergelincir ke dalam jurang ini?

Ia menginginkan wanita itu, sebuah pengakuan yang terasa seperti belati yang menyayat nuraninya. Namun, memenuhinya adalah pengkhianatan paling hina yang pernah ada.

Elsa tidak bergerak. Ia justru mengunci tatapan Alex dengan intensitas yang mencekam. Manik-manik hijaunya yang biasanya jernih kini menggelap, memancarkan tuntutan yang liar dan terlarang.

"Dad, tolong ... aku mohon."

Kata itu biasanya adalah sebutan penghormatan, sebuah jangkar yang mengingatkan Alex akan posisinya. Namun malam ini, kata itu terdengar seperti racun yang manis, mengaburkan batas antara kasih sayang seorang ayah mertua dan gairah seorang pria dewasa.

"Tidak, Elsa." Alex menggeleng lebih keras.

Jantungnya berdentum hebat, seolah ingin mendobrak tulang rusuknya. Darahnya mendidih, dipicu oleh dorongan hasrat yang membakar jiwanya tanpa ampun.

Ia merasa seperti seorang prajurit yang sedang mempertahankan benteng terakhirnya, namun tembok pertahanannya mulai retak satu per satu.

Alex berusaha mati-matian menolak perasaan tidak wajar itu. Ia tahu Elsa sedang hancur. Gadis itu baru saja melewati badai frustasi yang hebat, dihina dan dibuang.

Mana mungkin ia mengambil keuntungan dari kerapuhan itu?

Bagaimanapun, wanita yang kecantikannya seolah memudar akibat duka di depannya ini adalah Elsa Swan—istri dari putra kandungnya, menantunya sendiri.

Melihat Alex yang terus berpaling, pertahanan Elsa runtuh. Air mata mulai menggenang, membuat matanya yang hijau tampak seperti kristal yang pecah.

"Apakah aku memang wanita yang menjijikan, persis yang Landon katakan?" suaranya bergetar, nyaris hilang tertelan sunyi. "Bahkan aku tak pantas untuk mendapatkan bahu seorang pria?"

Isakan kecil itu menghantam ulu hati Alex lebih keras daripada pukulan fisik manapun. Ia menarik napas panjang, mencoba mengisi paru-parunya yang terasa sesak.

Dengan langkah berat yang terasa seperti diseret, Alex akhirnya duduk di samping Elsa. Jemarinya yang kasar namun hangat terulur, mengusap jejak air mata di pipi porselen gadis itu.

"Tidak, Elsa. Jangan berkata begitu. Kau gadis yang sempurna," bisik Alex, suaranya melunak. "Bodoh sekali jika Landon menelantarkan mu. Namun aku... aku tidak mungkin melakukannya."

Alex menggantung ucapannya. Kata-kata itu terasa pahit di lidah. Ia segera menarik tangannya kembali, seolah kulit Elsa adalah bara api yang baru saja membakarnya.

Ia merasa telah melangkah terlalu jauh. Saat Elsa menatapnya dengan pandangan menuntut penjelasan, Alex kembali membuang muka.

"Namun apa? Bahkan kau pun tak sudi padaku?" lirih Elsa. Hati yang memang sudah retak itu kini terasa hancur berkeping-keping.

"Bukan begitu, Elsa. Demi Tuhan, bukan begitu."

"Kalau bukan begitu, kenapa kau tak mau melihatku?"

Alex menunduk dalam, menatap jemarinya sendiri yang bertaut erat. Ia tak bisa menjawab. Bagaimana mungkin ia menjelaskan bahwa jika ia menatapnya sedetik saja lebih lama, seluruh kewarasannya akan menguap?

"Dad ..."

Sebuah sentuhan hangat mendarat di bahu Alex. Sentuhan itu ringan, namun efeknya seperti sengatan listrik yang menjalar ke seluruh sarafnya. Perlahan, Alex mengangkat wajahnya, menyerah pada gravitasi yang menarik matanya kembali ke manik hijau Elsa.

"Aku mohon," bisik Elsa di depan wajahnya.

Gadis itu meraih tangan Alex, membawanya ke pipinya yang masih basah, menggosokkannya di sana seolah mencari perlindungan.

Hati Alex gusar, bergejolak hebat antara moralitas yang menjerit dan cinta terlarang yang selama ini ia pendam dalam-dalam. Ia telah jatuh jauh sebelum malam ini, jatuh pada kecantikan dan kepolosan Elsa yang kontras dengan kekejaman dunia Landon.

Kewarasannya benar-benar lenyap saat Elsa, dengan gerakan yang perlahan namun pasti, menariknya mendekat. Tubuh mungil itu merebahkan diri ke atas kasur, seolah-olah menyerahkan seluruh hidupnya ke dalam tangan Alex.

Jari-jemari Elsa yang lentik mulai mengusap pipi Alex, merambat ke rahangnya yang kokoh dan ditumbuhi bulu-bulu halus yang kasar.

Sentuhan itu mematikan. Alex merasa dunianya sedang runtuh, dan ia tidak ingin menyelamatkan diri lagi.

Jari-jemari Elsa yang lentik mulai mengusap pipi Alex, merambat ke rahangnya yang kokoh dan ditumbuhi bulu-bulu halus yang hitam.

Sentuhan itu mematikan. Alex merasa dunianya sedang runtuh, dan ia tidak ingin menyelamatkan diri lagi.

Elsa tersenyum, sebuah senyuman manis namun sarat akan luka. Tanpa ragu, ia melingkarkan kedua lengannya ke tengkuk Alex, menarik pria itu ke dalam pelukannya.

Napas Alex kian memburu, terasa panas menerpa wajah Elsa yang semakin mendekat. Aroma sampo buah itu kini bercampur dengan aroma kulit yang hangat, menciptakan ramuan memabukkan yang merusak logika.

Saat bibir mereka akhirnya bertemu, itu bukan sekadar ciuman. Itu ledakan dari segala hal yang selama ini tertahan—rasa sakit, penolakan, dan gairah yang terlarang.

Di dalam kamar yang kini terasa sangat sempit itu, hanya terdengar suara remasan kain linen dan gesekan kulit yang memanas.

Kegelapan malam di luar jendela seolah menjadi saksi bisu yang menyembunyikan dosa mereka, sementara detak jam di dinding seolah menghitung mundur setiap detik menuju kehancuran yang tak terelakkan.

TIGA BULAN SEBELUMNYA

Hotel California bersinar terang di bawah langit San Alexandria. Jam menunjukkan pukul sembilan malam, dan dentingan gelas kristal memenuhi ballroom mewah yang dihiasi lampu-lampu gantung berlian.

"Pesta yang meriah, CEO! Anda pasti menghabiskan banyak uang untuk menjamu kami."

Landon Parker, pria muda dengan garis wajah yang angkuh dan rahang tegas, tersenyum miring. Ia menggoyangkan gelas sampanye di tangannya dengan elegan.

Baginya, uang hanyalah angka. Group Parker sedang berada di puncak kejayaan, dan pesta ini adalah cara ia menunjukkan dominasinya kepada dunia.

"Ngomong-ngomong, saya dengar Anda sudah menikah di luar negeri. Namun, kami tidak melihat Nyonya Muda Parker di sini."

Senyum di wajah Landon membeku sesaat. Pertanyaan itu seperti duri yang menusuk harga dirinya.

Nyonya Muda Parker?

Pikiran Landon langsung tertuju pada wanita yang ia tinggalkan di rumah. Wanita yang menurutnya adalah sebuah noda dalam kariernya yang gemilang.

"Istriku? Dia sedang tidak berada di San Alexandria saat ini," jawab Landon dengan nada datar yang dibuat sedingin mungkin. "Kegiatannya sangat padat, jadi dia tidak bisa menghadiri pesta kecil ini."

Para tamu mengangguk paham, namun rasa penasaran mereka tidak surut. "Boleh kami tahu latar belakangnya? Mengapa dia begitu tertutup dari media?"

"Iya, kami membayangkan dia pasti wanita yang sangat luar biasa untuk bisa bersanding dengan Anda."

Landon meneguk gelasnya hingga habis, mencoba meredam kemarahan yang mulai mendidih. "Dia baru saja menyelesaikan studi bisnis di Jerman dan sekarang sedang mengejar gelar doktor di Swedia. Dia memang gila sekolah, haha!"

Kebohongan itu meluncur begitu mulus dari lidah Landon. Ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya—bahwa istrinya hanyalah seorang gadis tanpa gelar, dengan penampilan yang menurutnya sangat memalukan.

Di matanya, Elsa adalah aib yang harus dikunci rapat di dalam lemari.

Sementara itu, di lantai bawah, sebuah taksi berhenti. Seorang wanita keluar dengan tergesa-gesa. Ia mengenakan gaun merah tua yang modelnya sudah ketinggalan jaman beberapa musim.

Rambutnya diikat asal, dan kacamata tebal bertengger di hidungnya. Dia Elsa Swan. Ia datang bukan untuk merusak pesta, tapi membawa kabar penting yang tak bisa menunggu esok hari.

Elsa melangkah masuk ke lobi hotel dengan perasaan tidak menentu. Sepatu hak tingginya yang sudah lama tidak dipakai membuatnya merasa canggung.

Saat ia mencapai pintu ballroom, kemegahan di dalamnya membuatnya ciut. Namun, ia harus menemukan Landon.

"Permisi!" gumamnya saat mencoba menerobos kerumunan pelayan.

"Hei, awas!"

PRANG!

Sebuah nampan berisi gelas-gelas anggur jatuh menghantam lantai marmer tepat saat Elsa tersenggol oleh seorang tamu yang sedang terburu-buru.

Dalam sekejap, Elsa tersungkur. Gaun merah kusamnya kini basah oleh tumpahan anggur merah, menciptakan noda gelap yang mengerikan. Kacamata tebalnya miring, hampir terlepas dari wajahnya yang memerah padam.

Hening sejenak. Musik seolah berhenti, dan ratusan mata tertuju padanya.

"Astaga, siapa dia? Penampilannya norak sekali," bisik seorang sosialita sambil menutup mulut dengan kipasnya.

"Dia pasti salah masuk ruangan. Apa dia gelandangan yang menyelinap?"

Elsa mencoba bangkit, tangannya gemetar hebat saat membenarkan letak kacamatanya. Ia merasa seperti binatang buruan yang terjebak di bawah lampu sorot. Ia menunduk dalam, mencoba menyembunyikan wajahnya yang sudah semerah noda di gaunnya.

Di sudut lain, seorang asisten mendekati Landon yang sedang tertawa palsu. "CEO, istri Anda ada di sini."

Gelas di tangan Landon nyaris retak karena genggamannya yang mengeras. Ia menoleh, dan matanya menemukan sosok lusuh yang sedang menjadi tontonan di tengah lantai dansa. Amarah menyambar hatinya seperti petir.

"Bau apa ini? Seperti bau hujan bercampur debu busuk," sindir salah satu tamu di dekat Elsa.

Landon berjalan dengan langkah lebar dan gagah, membelah kerumunan seperti hiu yang mendekati mangsa.

Saat ia sampai di depan Elsa, ia tidak menawarkan tangan untuk membantu. Matanya justru memancarkan kebencian yang murni. Bagi Landon, Elsa bukan hanya merusak malamnya, gadis bodoh itu sudah merusak citranya.

"La—Landon?" suara Elsa mencicit, penuh harapan akan ada pembelaan.

"Security!" suara Landon menggelegar, dingin dan tanpa ampun. "Singkirkan wanita lusuh ini dari pestaku segera!"

Dunia Elsa seolah runtuh. Ia diseret oleh dua petugas keamanan menuju pintu keluar.

Sepanjang jalan, ia bisa mendengar tawa tertahan dan bisikan menghina dari orang-orang yang suaminya baru saja puji. Landon bahkan tidak menoleh sekali pun, ia segera menghilang ke arah ruang VIP.

.....................................

Di depan pintu lift, Landon melempar Elsa dengan kasar hingga gadis itu jatuh terduduk. "Pergi dari sini dan jangan pernah kembali lagi! Kau hanyalah wanita pembawa sial!" bentaknya sebelum berbalik pergi dengan bahu yang naik turun menahan emosi.

Elsa masih terduduk di lantai, menatap sikunya yang berdarah karena benturan. Dua petugas hotel mencoba membantunya berdiri, namun Elsa hanya menggeleng lemah. Ia merasa hampa. Dengan langkah gontai, ia masuk ke dalam lift yang baru saja terbuka.

Di dalam kotak besi itu, hanya ada satu pria lain yang berdiri di sudut.

Elsa tidak memedulikannya. Ia memilih sudut yang paling jauh, membelakangi pria itu, dan membiarkan air matanya tumpah. Isakannya yang pilu memenuhi ruang sempit itu. Ia menangis bukan hanya karena rasa malu, tapi karena sakit hati yang luar biasa dari pria yang ia cintai.

Pria yang berdiri di depannya, Alex Parker, awalnya hanya ingin mengabaikannya. Ia sedang dalam suasana hati yang buruk setelah pertemuan bisnis yang membosankan.

Namun, suara tangis gadis itu begitu menusuk hati—begitu tulus dan penuh penderitaan. Alex menghela napas, lalu memutar tubuhnya.

Ia melihat seorang gadis dengan kacamata retak dan baju yang basah kuyup oleh anggur. Ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sehelai sapu tangan sutra berwarna putih bersih.

"Berhentilah menangis. Itu tidak akan mengubah apa pun," ucap Alex dengan suara bass yang berat namun entah mengapa terdengar menenangkan.

Elsa mengangkat wajahnya. Ia melihat seorang pria yang tampak sangat berwibawa. Meskipun usianya mungkin sudah kepala lima, Alex memiliki aura yang sangat kuat.

Tubuhnya atletis, pakaiannya sangat mewah, dan aromanya—wangi parfum mahal yang segar—seketika menutupi bau anggur yang mengganggu dari pakaian Elsa.

"Terima kasih, Tuan..." lirih Elsa sambil menerima sapu tangan itu.

Alex memperhatikan gadis di depannya dengan tatapan dingin namun tajam. Ada sesuatu pada mata hijau gadis itu, sebuah binar kejujuran yang jarang ia temukan di dunia bisnis yang penuh kepalsuan.

"Apa yang kau lihat?" tanya Alex saat menyadari Elsa sedang menatapnya.

"Maafkan saya, Tuan! Terima kasih untuk sapu tangannya," Elsa buru-buru menunduk, wajahnya kembali merona.

Pintu lift terbuka. Dua orang sekretaris sudah menunggu Alex di luar. "Selamat datang, Tuan Parker!" sambut mereka dengan hormat yang luar biasa.

Alex hanya mengangguk kecil. Sebelum melangkah keluar, ia melirik Elsa sekali lagi—sebuah tatapan yang tidak bisa diartikan. Ia kemudian pergi dengan langkah tegap, meninggalkan Elsa yang masih terpaku di dalam lift.

Siapa pria itu? Mengapa orang asing bisa bersikap lebih manusiawi daripada suaminya sendiri?

Elsa memandangi punggung pria itu hingga menghilang di koridor hotel. Dalam hati, sebuah benih perbandingan mulai tumbuh. Ia sangat mencintai Landon, namun ia mulai bertanya-tanya pada dirinya sendiri.

Sampai kapan ia bisa bertahan menjadi bayangan yang terus diinjak-injak oleh suaminya sendiri? Apakah ia memang tidak pantas untuk dicintai?

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel