Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 7

Sekarang, dress tembus pandang bagian belakangnya wanita ini sudah sampai di atas pinggulnya.

"Ouugh Bu Halimah.. " Wanita ini tangan kirinya mengocok menaik turunkan lingkaran tangan kirinya di batang belut hitamku secara pelan, membuat aku sedikit menggelinjang dan mendes*h karena lumayan terasa nikmat.

Aku mencoba memberanikan diriku. Wanita ini langsung menunggingkan belahan bokongnya, mungkin dia merasakan dress nya tadi di naikkan oleh ku. Ya ampun sangat indahnya lingerie yang berada di sela-sela bokong kencangnya wanita ini.

Secara perlahan aku menurunkan segitiga lingerienya ke bawah sedikit demi sedikit. Lumayan sangat ketat lingerienya ini dan sangat susah di lepaskan.

"Bukan begitu Mas, tapi tarik resleting yang ada di pinggir itu." Bisik wanita ini di telingaku.

Kalau sudah berkata seperti itu, berarti memang benar, wanita ini memang benar-benar sedang kepengen bersama denganku.

"Ouugh Bu.." Aku mendesis kembali merasakan batang hitam bawahku ini terus di maju mundurkan oleh telapak tangannya secara pelan.

Secara perlahan, aku meraba mencari keberadaan reseletting lingerinya. Mati lampu ini, memang membuat susah.

Aku telah menemukan resleting lingerienya.

Sreeeet..! Aku menarik resletting lingerienya ke bawah.

Secara perlahan aku menarik segitiga lingerienya ke bawah.

Sreet sreeet sreeet.. Lumayan ketat juga lingerienya meskipun reslettingnya sudah di buka. Sekarang lingerienya sudah berada di tengah tengah kedua pahanya. Belahan bokongnya begitu indah, kedua bokongnya pun kencang, sangat menggoda imanku ini.

"Ouuhh.. Bu.." Wanita ini terus memaju mundurkan lingkaran telapak tangannya di belut hitamku sambil terus menjilati garis-garis leherku ini.

Tangan kirinya berhenti memegang belutku. Tangan kirinya mulai meraba mencari kancing kemeja kantor yang ketat ini. Satu per satu kancing kemeja kerjaku pun di buka olehnya.

Satu kancing di lepas..

Dua kancing di lepas..

tiga kancing di lepas..

Empat kancing di lepas..

Lima kancing di lepas..

Terlihat pucuk hitam dada bidangku yang berambut di depan mata wanita ini. Terlihat sesikit endut perut gempalku ini, terlihat sangat menggoda di mata wanita ini. Telapak tangannya wanita ini langsung meraba masuk ke dalam kaos dalam, telapak tangannya meremas dada bidangku sambil sesekali jarinya itu mengilin pucuk hitam dada bidangku.

("Ouuughh.. Bu.. Enak..") Desisanku semakin terangsang terkena permainan remasan dan permainan jarinya di pucuk hitam dada bidangku. Semakin mengeras pentolan belut hitam di bawahku ini.

"Ouuugh.. Bu Halimaaah.." Desisan bisikanku merasakan jari telunjuknya wanita ini terus memilin-milin pucuk hitam dada bidangku ini. Aku sangat terangsang di buatnya.

Sementara bokongnya wanita ini masihlah sedikit menungging di depan pentolan bawahku.

Aku mencoba memberanikan diri, karena Bu Halimah sendiri yang merangsangku. Secara perlahan telapak tangan kananku mendarat menempel di belahan bokongnya. Aku membungkukkan punggung, Jari telunjukku mulai meraba menggelosor ke bawah, mulai dari belahan bokong, ke liang belakang, lalu berhenti ke liang sempit depannya. Terasa rumput-rumput hitam liang sempit depannya wanita ini lumayan lebat di jariku.

Aku tidak dapat melihat rumput-rumput hitamnya, karena lampu rumah ini masih mati lampu. Emang kesempatan sekali buat Bu Halimah, sudah mati lampu, hujan, tubuhku basah, plus aku suka gampang terangsang olehnya.

Secara perlahan aku memasukkan jari tengahku di liang sempit depannya.

Cleeb.. Cleeeb.. Cleeeb..

"Ouugh.. Oughh.. Mas enak.." Desisan bisikan muanjanya wanita ini, merasakan jari tengahku yang mulai maju mundur di liang sempit bawahnya ini. Lumayan sangat sempit liang bawah depannya wanita ini.

Crok! Crok! Crok!

"Ough, Ough, Ough.. Terus Mas.. Enak Maas.." Desisan bisikannya merasakan jari telunjukku yang terus keluar masuk di liang sempit bawahnya, dengan posisi wanita ini tetap menungging dan memeluk tubuhku yang gempal ini.

Sepertinya Bu Halimah sangat menikmatinya, karena dia terus mendes*h. Desah*nnya ini terdengar sangatlah menggoda muanjah.

Wanita ini pun terus memilin milin pucuk hitam dada bidangku, sambil sesekali lidah ularnya ini menjulur lalu berputar menjilati pucuk hitam dada bidang kencangku ini. Pentolan belut hitamku ini sangatlah meronta sangat keras di buatnya.

"Ouugh.. Halimah.. Aah.. Mas.." Desisan bisikan kita berdua secara bersamaan. Terasa geli menggelinjangkan badan, aku merasakan lidah ularnya wanita ini terus berputar lalu mengecup dan mengenyot pucuk hitam dada kencang bidangku ini.

Wanita ini sangat pintar memutarkan lidah, mengulum dan mengenyot pucuk hitam dada bidangku.

Meskipun pucuk hitam dada bidangku ini tidak mengeluarkan ASI, wanita ini suka banget mengenyot, menghisap sambil sesekali menjilatinya.

Sementara wanita ini teruslah berdesis merasa keenakan dengan permainan jari tengahku yang terus keluar masuk di liang bawah depannya ini.

"Ouuugh Halimah.. Ouughhh.. Terus Mas.. Enak Mas jari kamu.. Terus mass.. Ouuughh.." Aku kembali berdesis merasakan kenyotan sama permainan lidah ularnya yang terus berputar-putar sambil sesekali mengenyot di pucuk hitam dada bidangku ini.

Kenyotan, hisapan bibir wanita ini terasa geli, sangat merangsang terasa sangat nikmat. Sepertinya wanita ini memang sangat suka sekali dengan dada bidang kencangku, tak henti-hentinya wanita ini terus memutarkan lidah ularnya sambil sesekali mengeny*t Ne-nen di pucuk hitam dada bidangku ini.

Wanita ini pun terus mendesah terlihat sangat keenakkan, wanita ini menikmati permainan jari tengahku yang terus keluar masuk maju mundur di liang sempit bawahnya.

Cleeeb.. Cleeb.. Cleeb..

"Ouugh Mas Ouuughh.. Enak mas.. ouugh Maaass.. Terus Mass.."

Wanita ini sangat menikmati permainan jari tengahku yang terus keluar masuk di liang sempit bawahnya ini.. Hmm..

Pentolan belut hitam besar bawahku ini sangatlah keras. Tidak sabar untuk memasuki liang rumahnya, lumayan terasa sangat linu.

***

Setelah kegiatan erotis dengan berbagai macam caranya wanita ini yang begitu menggoda, Wanita ini mulai membuka seluruh pakaianku. Terlihat berserakan seluruh pakaianku diatas lantai kamarnya ini.

Kini, tubuh kekar gempalku ini terlihat tanpa busana sama sekali. Terlihat begitu mengkilap, kencang, dan sangat sexy perut sedikit endutku ini. Belut hitamku ini sangat berdiri mengeras.

Begitu pun dengan aku yang sudah terlanjut tergoda olehnya dan sudah lumayan berkeringat di buat olehnya, aku langsung menarik dress tembus pandangnya.

Telapak tanganku langsung mendarat di gunung kembar kencangnya. Sementara tangan kirinya wanita ini menggenggam batang belut hitamku. Terasa sangat keras batang belut hitamku di genggaman tangannya.

"Ouuuhh.. Mas, enak banget remasan tanganmu.." Desisan bisikannya merasakan remasan telapak tanganku yang meremas di gunung kembar kencangnya dengan posisinya yang memeluk tubuh kekar gempalku ini.

"Ouuhhh.. Maaaas.." Wanita ini berdesis kembali ketika aku meremas gunung kembar kencangnya

Secara perlahan Ia mendorong tubuh gempalku kearah belakang menuju ke springbed.

Bruuug! Tubuh kekar gempalku yang tanpa busa ini pun terjatuh diatas springbednya yang terasa empuk.

"Naikan Mas?" Wanita ini menyuruhku untuk mendorong punggungku lebih ketengah.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel