Bab 5
"Mas, tolong senterin kearah lemari dan ikuti saya dari belakang ya?"
"Baik Bu." Hanya itu dan hanya itu saja jawabanku untuk wanita ini.
Sebisa mungkin aku selalu menuruti permintaan wanita ini, demi pekerjaanku. Dengan harapan agar wanita ini membeli rumah yang di tanyakan ini.
Wanita ini mulai melangkahkan kedua kakinya ke arah lemari yang menempel ke tembok, berada di sebelah kiri dari springbednya.
Begitu pun dengan aku, aku mengikutinya berjalan dari belakang sambil tetap memegang senter ponselku.
Wanita ini menengok ke belakang ke arahku.
"Mas, jangan jauh-jauh kayak gitu berdirinya?" Ucap wanita ini yang melihatku berdiri di belakangnya berada dua meter darinya.
"Deketan sini Mas? Biar lemari saya ini menjadi terang."
"Baik Bu." Aku melangkahkan kaki berjalan satu langkah berada di belakang wanita ini.
Wanita ini mengengokkan wajahnya kearah lemari pakaiannya kembali.
Kreeek..! Kedua pintu lemari di buka oleh wanita ini.
Aku tetap standbye menembakan lampu senter ke arah lemarinya.
Kedua telapak tangan wanita ini membuka-buka lipatan pakaiannya. Beberapa rak lemari, Ia buka-buka lipatan pakaiannya itu. Mungkin mencari sarung untukku, atau entahlah..
"Hah! Dimana ya, sarung bekas suami saya ini?" Ucapnya sendiri dengan tangan kanannya yang meraup wajahnya karena keluar keringat.
Dul! Nyel!
"Ouuuh.. Bu..!" Desahku karena Wanita ini langsung menungging kearah lemari hingga belahan bokongnya yang begitu kencannya itu menyentuh mendesak ke pentolan belut bawahku yang terus mengeras ini.
Nyel! Nyel!
"Ouuhh.. Bu.."
Wanita ini malah menggoyangkan bokong kencangnya di pentolan belut hitam bawahku ini secara pelan, dengan posisinya yang tetap menungging kearah lemari membuka tutup lipatan-lipatan pakaiannya itu. Seperti sangat sengaja wanita ini terus memancing gejolak birah*ku yang terus bergemuruh ini.
Dengan segera aku memundurkan kedua kakiku sedikit menjauh dari bokongnya itu.
Sementara wanita itu tetap seperti itu sambil terus mencari sesuatu dari dalam lemarinya. Lingerie yang di pakainya itu pun secara otomatis kembali terlihat di hadapan kedua bola mataku ini.
"Apaan sih ini?" Ucapnya sambil mengeluarkan sebuah benda tumpul berwarna coklat dari dalam lemarinya itu di lantai di sebelah kaki kanannya.
Apa? Benda apaan itu? Aku sangat terkejut kaget melihat benda tumpul yang di keluarkannya itu.
Benda tumpul itu berbentuk buah pisang panjang melengkung lumayan panjang dan besar.
Apakah benda tumpul itu yang di sebut Dildo? Maenan apaan sih itu benda tumpul? Tanyaku di dalam hati sambil menatap benda tumpul yang di keluarkan oleh wanita ini.
Hampir lumayan lama wanita ini menunggingkan bokong di hadapanku sambil terus mencari-mencari sarung untukku.
"Akhirnya, ketemu juga sarungnya Mas." Ucapnya langsung bangkit berdiri, membenahi baju dress tidur tembus pandang dengan tangannya yang memegang sarung. Wanita ini membalikkan badannya ke arahku.
"Loh, koq jauh seh Mas?" Ucapnya sambil berjalan mendekatiku.
"Nih Mas, sarungnya? Kamu langsung ganti saja disini ya? Tidak apa-apa koq. Setelah itu baru kita mencari lilin Mas."
Ucapnya sambil mendaratkan sarung di dada bidang kencangku dengan jari telunjuknya yang mengelus pucuk hitam dada bidangku yang sedang mengencang ini. Semakin meronta mengeras pentolan bawahku ini merasakan jarinya.
Tangan kananku memegang sarung "Makasih Bu. Tapi, bolehkah saya menggantinya di dalam kamar mandi saja Bu?" Ucapku sambil memegang sarung darinya.
"Sangat boleh dong Mas." Ucapnya dengan jari telunjuknya yang bergerak ke arah kanan dan kiri diatas pucuk hitam dada bidangku ini.
("Tolong Bu, jangan memancing gejolak birah* aku terus? Sudah lumayan sangat tersiksa aku ini di buatmu. Sangat tersiksa aku ini menahan gairahku dari tadi Bu!") Kata Hatiku.
Nyel! Wanita ini malah mendekatkan menempelkan belahan gunung kembar kencangnya itu ke dada kencangku. Secara otomatis kedua dada kita berdua saling bertempelan.
Deg! Deg! Deg!
Jantungku semakin bergemuruh saat kupingnya wanita ini mendarat di dada bidangku ini, dengan tangan kirinya yang mendarat secara pelan memegang pentolan bawahku yang gemuk ini. Mungkin suara detupan jantungku yang sedang bergemuruh sangat kencang ini pun sangat terasa di kupingnya wanita ini. Mungkin kerasnya pentolan bawahku ini yang sedang di pegang oleh telapak tangannya pun, sangat terasa di telapak tangannya. Mungkin sebenarnya wanita ini sangat ingin sekali membuka resleting celana bahan ketatku ini, lalu memegang dan mengulumnya. Atau entahlah..
Yang jelas sedari tadi ini aku merasa tersiksa di buatnya.
Tangan kirinya wanita ini mengelus dengan pelan naik turun di pentolan bawahku dengan kupingnya yang terus menempel di dada bidang kencangku.
Apa yang sedang kamu lakukan Bu?
Wanita ini melepaskan tangannya dari pentolan bawahku, Ia berdiri tegak kembali di hadapanku. Ia langsung mendekap memeluk dada kencangku dengan kedua tangannya yang masuk ke sela-sela ketiakku, lalu kedua telapak tangannya itu menempel di kedua pundakku, dadanya di tempelkan di dada bidang kencangku, bawahnya di tempelkan ke pentolan bawahku. Hmm.. Tolong Hentikan!
Dia menjatuhkan dagunya diatas pundakku yang sebelah kanan.
Dag! Dig! Dug! Dag! Dig! Dug! Jantungku ini terus bergemuruh tiada henti dan semakin bergemuruh di buatnya.
"Kenapa Mas, jantung kamu koq terdengar sangat deg-degan kayak begitu?"
Mulut perempuan ini berbisik di telingaku dengan posisi tubuhnya yang memeluk erat menempelkan dada dan bawahnya di tubuhku ini. Suara bisikan wanita ini terdengar sangatlah lembut, muanjah, sangat menggoda. Membuat bulu romaku ini langsung merinding ketika aku mendengar bisikan maut mulutnya wanita ini di telingaku tadi.
Keringatku ini pun langsung mengucur sangat deras dengan sendirinya ketika tubuh kekar gempalku ini menerima sambaran pelukan hangat tubuhnya. Sekujur tubuhku kini basah terkena air hujan bercampur dengan cairan keringatku yang menjadi satu.
Aku hanya berdiam diri mematung membisu tanpa menggerakkan badan maupun tanganku. Kedua bokongnya yang lumayan kencang itu pun terlihat jelas di kedua bola mataku. Hmm..
Hampir lumayan lama wanita ini mendekap tubuhku sangat erat. Mungkin tubuh kekar kencang gempalku ini membuat tubuh langsingnya terasa sangat hangat dan nyaman. Ah entahlah..
Tubuh kekar gempalku ini pun merasa basah bercampur hangat di dekapannya. Pentolan belut hitam bawahku ini teruslah meronta mengencang keras menempel ke bawahnya.
Secara perlahan aku menggerakkan kedua telapak tanganku lalu di daratkan ke samping pinggulnya. Secara perlahan wanita ini semakin mendesakkan gunung kembarnya di dada kencang bidangku, telapak tangan kirinya meraba dari bawah, ke punggung lalu mendekap menempel di punggung kencangku, telapak tangan kanannya mulai meraba dari punggung bagian bawah menelusuri naik keatas lalu berhenti di kepala belut hitamku.
Slurp! "Oouuhh.. Bu.."
Aku mendes*h merasakan sambaran lidah ularnya yang menjulur berputar menjilati leherku ini. Reflek kedua telapak tanganku ini pun memeluk erat tubuhnya yang sedang menempel ke tubuhku. Secara otomatis tubuh kita berdua sangat berdesakan. Bawah kita saling menempel dan berdesakan.
Semakin terangsang merinding bulu romaku ini, pentolan bawahku yang melingkar semakin sangat kencang mengembang menempel ke bawah wanita ini.
