Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

7. Bermalam Dengan Bidadari Club

Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam saat Flara masih mondar-mandir di teras menunggu kepulangan suaminya. Ia rela menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya serta menahan dinginnya malam yang menusuk hingga tulang demi menunggu dan memastikan bahwa Zaki pulang dengan baik-baik saja.

Sementara yang ditunggu malah sedang asyik bersama dua wanita yang menemaninya hingga mabuk. Zaki tak kalah frustasi dengan Flara. Ia muak dengan pernikahan yang ia jalani. Ia ingin meninggalkan Flara namun, entah mengapa ia tak bisa melakukan itu. Ia merasa masih ada alasan untuk bertahan. Jangan tanya apa alasannya, karena Zaki sendiri tak tahu, ia bingung dengan kemauannya sendiri.

Lagi pula jika ia memilih berpisah dari Flara, pasti nama baik kedua orang tua yang selama ini dijaga dan dijunjung tinggi akan hangus karena perkara anaknya yang hanya menjalin hubungan rumah tangga seumur jagung.

"Mau tidur dengan kami, boy?" Salah satu wanita yang berpakaian nyaris telanjang menawarkan diri untuk bercinta.

Zaki tampak berpikir. "Kalian berdua harus puaskan aku malam ini!" katanya kemudian deraya berdiri dan menggandeng keduanya pergi dari club.

Meraka pergi ke hotel terdekat. Senjata masa depan yang harusnya Zaki berikan hanya pada istrinya kini ia memilih untuk membaginya dengan wanita jalang.

"Kamu yakin, kamu kuat kalau kita eksekusi sekarang? Kami biasa bermain lama," ujar Dewi yang berpakaian nyaris telanjang sama seperti halnya Lara.

Zaki mendudukkan keduanya di kaki kanan dan kirinya. Menatap mereka bergantian dengan senyum nakalnya. Sebaik apapun seorang pria, jika di depannya disuguhi makanan nikmat dan lezat tak akan bisa menolak. Jika hal itu terjadi, perlu di pertanyakan kewarasannya dan kenormalannya.

"Apa yang membuat aku tidak kuat? Kalian bisa eksekusi aku sekarang dan esok hari. Aku akan membayar mahal jika kalian mampu memberikan aku kenikmatan yang tidak pernah aku rasakan." Zaki berucap seraya mengecup singkat undukan lemak dari keduanya.

Ranjang empuk hotel yang besar itu kini sudah mulai bergetar lantaran menahan tiga manusia yang berada di atasnya. Zaki yang berada di bawah kungkungan Dewi mulai rakus melahap bibir seksi wanita montok itu.

Sementara itu, tangannya pun tak kalah aktif, jari tangan yang biasa ia gunakan untuk menggenggam tangan mungil Flara kini sedang bermain di lubang surgawi milik Lara. Kedua wanita yang sama-sama haus akan hasrat pun tenggelam bersama suara desahan nikmat yang diciptakan Zaki.

"Aku sebentar lagi sampai, dorong yang lebih kuat dan cepat!" kata Zaki ditengah erangannya.

Pergulatan yang terjadi hingga pagi itu menyisakan lelah yang tiada tara. Zaki bangun lebih dulu di antara kedua wanita yang berada di samping kiri dan kanannya. Ia masih terbaring dengan menatap langit-langit hotel. Mengingat kembali kegiatan melelahkan namun memabukkan itu.

Zaki bangkit dan membersihkan diri, ia menyelesaikan ritual mandinya dengan cepat. Setelah selesai, ia meninggalkan beberapa lembar uang untuk mereka.

Jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi ketika mobil Zaki melaju di jalan raya.

*

"Denan, sudahlah! Ibu tak pernah mengajarimu untuk membalas kejahatan seseorang, tolong berhenti melakukan apa yang kamu rencanakan. Ibu nggak mau kamu nanti tenggelam juga dalam lubang yang kamu buat sendiri. Ibu tidak apa-apa, Ibu ikhlas dengan kondisi ibu. Lebih baik kita fokus saja sama hidup kita, Nak!"

Entah sudah berapa kali bu Salma meminta anaknya untuk berhenti membuat ulah pada keluarga terpandang itu. Meskipun Bu Salma sebenarnya juga sakit hati dan kecewa dengan pria itu, namun beliau tak bisa berbuat apa-apa. Karena jika beliau berontak akan lebih sakit dari yang diterima.

"Ibu ikhlas, aku nggak. Pokoknya aku harus memberikan pelajaran berharga, dan mungkin pelajaran untuk pertama dan terakhir kalinya dariku. Keluarga Zanuar harus menemui ajal sebelum sempat meminta maaf padaku atau Ibu. Aku mau mereka mati dalam keadaan hina di mata semua orang."

"Lalu apa yang akan kamu lakukan setelah itu?"

"Aku akan fokus sama Ibu. Aku akan menikah jika memang aku sudah melakukan apa yang harus aku lakukan." Denan memberikan kecupan singkat di wajah sang ibu lalu beranjak pergi untuk bekerja.

Di tempat lain, Flara masih masih setia menunggu sang suami di teras. Hingga tak berselang lama, terlihat mobil yang sedang melaju memasuki pekarangan rumahnya.

Flara seketika mengembangkan senyum termanisnya menyambit kedatangan suaminya.

"Mas, kamu ke mana saja? Kenapa nggak pulang semalam? Apa semuanya baik-baik saja? Kamu kelihatan lelah."

"Bukan urusan kamu! Mau aku pergi ke mana dan kenapa aku tak pulang, sudah ku bilang jangan urusi aku! Urus saja dirimu sendiri."

"Mas, kamu belum makan, kan? Aku hangatkan makananya dulu, ya. Kamu bersih-bersih dulu." Flara tak menggubris ucapan suaminya. Mau sekeras apapun Zaki menolak perhatiannya, maka sekeras itu juga Flara akan terus berusaha. Tekad yang sudah bulat untuk membuat Zaki jatuh cinta lagi sudah tak bisa di ganggu gugat.

"Makan saja sendiri! Aku tidak perlu bantuan apapun darimu!" Zaki meninggalkan Flara begitu saja di halaman. Saat Zaki melintas, tak sengaja Flara mencium bau parfum yang biasa di pakai untuk wanita.

Flara jadi berpikiran yang tidak-tidak, ia jadi teringat dengan ucapan Denan yang mengatakan bahwa papa mertuanya itu pemain wanita. Apakah karakter seperti itu akan menjadi gen? Akan turun menurun ke karakter anak cucunya nantinya? Batin Flara bertanya-tanya.

"Jangan lupa, Flara. Buah jatuh tak akan jauh dari pohonnya."

"Kamu hanya mencium bau parfum wanita, bukan berarti suamimu pemain wanita juga. Bisa saja dia kemarin bertemu dengan klien-klien wanita dan baunya tertinggal."

"Bau parfum tidak akan tertinggal jika mereka tak saling bersentuhan."

Hati dan logika Flara bertengkar di dalam. Ia ingin curiga tapi hatinya mengatakan sebaliknya. Bingung dengan apa yang ada dalam pemikirannya ia memutuskan untuk bertanya saja pada suaminya.

Flara dengan percaya dirinya berjalan menuju lantai atas. Lantai di mana suaminya itu beristirahat. Ia merasa tak perlu mengetuk pintu terlebih dahulu, toh ini kamar suaminya.

Ceklek

Mata Flara membola begitu pintu terbuka. Sedetik kemudian, ia refleks menutup mulutnya dengan tangan.

"Maaf, nggak sengaja," ujarnya yang di detik berikutnya ia sadar bahwa mereka sudah sah suami istri. "Eh kita, kan udah nikah. Mau lihat juga nggak masalah," imbuhnya masuk ke dalam kamar dan menutup pintu dengan rapat.

"Berhenti di situ!" Zaki memerintah dengan ketua dan tatapan dinginnya.

Refleks Flara juga berhenti melangkah. Sementara Zaki masih meneruskan aktivitanya yang sedang mengganti pakaian. Ia berbalik ke arah Flara setelah semua tubuhnya sempurna tertutupi dengan kain.

"Mau apa kamu ke sini? Tanganmu nggak bisa ketuk pintu? Nggak pernah di ajari sopan santun dan bagaimana etika masuk kamar orang?" cerca Zaki kesal.

"Kita suami istri, kenapa aku harus bertindak seolah-olah aku dan kamu orang lain?"

"Memang, iya kita orang lain. Sudah berapa kali aku bilang kalau status kita hanya di KTP saja. untuk kehidupan sehari-hari, kita hanya orang asing. Sepertinya kalimat itu harus kamu tulis di otak kamu yang dangkal itu!"

"Iya, ok aku minta maaf. Pakaian kotor kamu tadi mana?" Flara menengadahkan kedua tangannya.

"Buat apa?"

"Cuci. Kamu habis ketemu siapa? Kok bau perempuan badannya."

"Bukan urusan kamu!" Zaki menjawab seraya melempar pakaian ke arah Flara.

"Tugas kamu haya seperti ini, membersihkan rumah dan mencuci pakaianku, sama seperti pembantu!" tegas Zaki lalu keluar kamar.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel