Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

5. Mabuk

"Mas, astaga, kamu kenapa?" Flara membantu Zaki yang tersungkur di lantai dengan keadaan mabuk. Baru kali ini Flara melihat Zaki yang seperti ini.

"Kau tahu, aku sangat mencintainya. Tapi dia mengkhianatiku, dia menjalin hubungan dengan mantan kekasihnya di belakangku. Bahkan kesucian yang harusnya dia berikan untukku malah dia berikan pada laki-laki lain. Aku sangat benci padanya. Hahaha." Zaki terus berceloteh dengan mata yang sudah terpejam. Kedua kakinya tak lagi mampu menopanh tubuhnya dengan benar.

"Aku masih suci, mas. Aku nggak melakukan apapun dengan Denan. Bagaimana caraku menjelaskannya ke kamu? Kenapa kamu jadi seperti ini?" gumam Flara menidurkan suaminya di sofa ruang tengah.

Flara menatap wajah suaminya yang terlihat lelah. Entah apa saja yang ia lakukan sejak siang tadi. Wajah yang dahulu memanjakan dirinya kini terlihat juga guratan kekecewaan.

Flara jadi teringat ucapan Denan. Mengetahui dirinya berkhianat saja Zaki sudah menghancurkan dirinya sendiri. Bagaimana jika ia tahu kalau orang tuanya juga pernah berbuat dosa di masa lalunya?

Tak berselang lama, pintu utama terdengar di ketuk. Tanpa ragu dan memikirkan apapun wanita itu berjalan menuju pintu utama.

Matanya terbelalak begitu pintu terbuka dan menampilkan sosok Denan di sana.

"Surprise," kata Denan sumringah.

Flara mendorong tubuh Denan ke teras, tak lupa ia menutup pintu.

"Ada apa, sih? Suamimu udah pulang? Ya udah kita bermalam di luar saja," kata Denan dengan entengnya.

Sungguh Flara sudah muak dengan sikap Denan. Ingin sekali ia melenyapkan pria itu. Apakah ia harus melakukannya? Bukankah drama balas dendam ini akan berakhir ketika Denan tiada? Ya, memang drama ini akan berakhir, tapi dirinya harus rela hidup di bui setelah itu. Ah tidak-tidak, pasti ada jalan lain selain harus ada pertumpahan darah.

"Nggak, mending kamu pulang sekarang! Mau bermain denganku, kan? Kamu mau aku bermain denganku dengan nikmat? Kalau begitu jangan sekarang, Zaki sedang tidak sehat. Kamu mau kita bersenggama tapi pikiran aku di rumah?" Flara berujar dengan santai, tidak se kesal sebelumnya.

Denan menampakkan wajah heran, keningnya mengkerut menjadi beberapa lipatan. Denan bertanya-tanya, kemarin wanita itu begitu tak terima dengan apa maunya, tapi kenapa sekarang berubah? Begitulah kira-kira pertanyaan yang menggelayut di kepalanya.

"Ok, aku kasih kamu keringanan untuk kali ini. Tapi berikan aku sedikit sentuhan bibirmu," pinta Denan mendekatkan wajahnya di wajah Flara.

Dalam hati Flara sedang berpikir bagaimana caranya untuk menolak dengan alasan masuk akal. Wajah Denan yang semakin dekat membuat kepala Flara semakin buntu saja. Justru yang terjadi sekarang adalah nafas Flara yang sudah memburu, tinggal satu gerakan saja bibir meraka akan bertemu.

Pertemuan bibir? Mereka sering melakukan itu beberapa tahun lalu saat status mereka menjadi sepasang kekasih.

Blush

Jantung Flara terasa mencelos, bibir mungil Denan berhasil menerobos pertahanan Flara. Satu detik, dua detik dan

Prank

Beberapa detik-detik setelah pertempuran bibir terdengar suara barang jatuh dari dalam. Sungguh Flara tak memikirkan apapun saat ini selain ia bersyukur karena lepas dari hasrat Denan.

"Aku ke dalam dulu, kamu pulang aja sekarang!" titah Flara berlari ke dalam rumah tanpa menunggu jawaban dari Denan yang nampak kesal karena gangguan yang datang tiba-tiba.

Denan dengan kesal memukul udara, kakinya pun tak mau diam, ia menendang kursi yang terpasang di luar.

"Sialan! Aku usah sangat ingin melakukannya, tapi ada saja gangguan."

Denan dengan terpaksa melenggang pergi dari rumah Zaki.

"Aku ingin minum, hey mana minumanku?" teriak Zaki dari arah dapur.

Flara yang baru sampai segera mendekati suaminya. Menjauhkan dirinya dari pecahan gelas yang sudah berserakan. Dengan susah payah Flara menuntun suaminya menuju kamarnya. Terpaksa ia bawa Zaki ke kamar yang berada di bawah, akan sulit baginya untuk membawa tubuh kekar Zaki ke lantai dua.

Baru saja berhasil menidurkan Zaki di ranjang, tubuh Flara di tarik oleh pria itu hingga tubuh mereka kini saling bersentuhan dengan jarak wajah yang sangat dekat. Bahkan hembusan nafas masing-masing sangat terasa menerpa wajah.

"Kamu mau aku tidur di sini?" tanya Flara

Zaki hanya mengangguk seraya melingkarkan tangannya di sepanjang pinggang istrinya. Berada di pelukan Zaki seperti ini membuat Flara merasa tenang dan nyaman. Tak mau membuang momen berharga ini, Flara tak langsung tidur, ia mengamati setiap inci wajah sang suami yang kini tak bisa lagi ia sentuh seperti dulu.

Saat sedang asyik memandang wajah tampan suaminya, tiba-tiba saja mata pria yang tadinya tertutup rapat terbuka dengan setengah lebar.

Di detik berikutnya, bibir yang sempat di kalah Denan tadi kini tersentuh oleh bibir Zaki. Flara tekejut dan senang dalam waktu bersamaan. Tak apa Zaki tak sadarnsaat melakukannya, yang terpenting ia bisa menghabiskan malam dengan bercumbu mesra.

***

Keesokan harinya.

Bruk

"Au," pekik Flara seraya meletakkan tangannya di punggung.

Entah bagaimana ceritanya Flara bisa terjatuh dari ranjang. Netranya lalu menatap ranjang dan mendapati Zaki yang sudah terduduk di atasnya.

"Berani sekali kamu menyentuhku. Apa yang kamu lakukan semalam sampai aku tertidur di sini?" tanya Zaki dengan marah.

"Kamu semalam mabuk berat, aku nggak bisa bawa kamu ke atas. Makanya aku bawa ke sini aja."

"Terus ngapain kamu tidur-tidur dekat aku?"

"Ya, kan kita suami istri, salahnya di mana?" tanya Flara dengan entengnya seraya berusaha berdiri.

"Jelas salah! Aku sudah bilang aku nggak sudi dekat-dekat denganmu. Lain kali jangan ambil kesempatan dalam kesempitan. Atau aku akan menghabiskan malam dengan wanita di  luar sana. Menjijikkan!" ujar Zaki sembari membersihkan kemeja yang ia kenakan lalu pergi dari sana.

Flara berusaha belajar untuk membiasakan diri dengan kata-kata Zaki yang menyakitkan. Ia meyakini bahwa suatu saat nanti cinta Zaki akan kembali. Satu-satunya cara untuk mewujudkan hal itu adalah dengan membersihkan namanya dan juga mencari cara agar Denan tak melakukan apapun di kemudian hari.

Merasa cukup merenung, Flara pergi ke kamar mandi agar bisa melakukan kewajibannya sebagai istri. Menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh suaminya.

"Mas, kok pakai jas? Mau ngantor? Ini masih hari cuti kamu, loh."

"Bukan urusan kamu. Jangan urus aku, urus diri kamu sendiri!" jawabnya dingin.

"Ya udah, kita makan dulu. Aku udah masak."

"Makan saja sendiri!"

Dengan tatapan tajam dan ekspresi dingin Zaki meninggalkan Flara yang masih mematung. Pria itu meninggalkan istrinya dengan luka yang sedikit demi sedikit akan melebar kemana-mana.

Tak berselang lama setelah kepegian Zaki, pintu utama tiba-tiba saja terbuka dengan sendirinya. Dengan menghembuskan nafas kasar dan tatapan malas, Flara malah melipir ke meja makan. Tak menggubris tamu yang baru saja lancang membuka pintu tuan rumah.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel