##Bab 1. Wanita Yang Menggoda
"Astaga, kok aku apes banget sih? Baru saja tiba di kota ini aku main dikejar preman segala, untung aku bisa melarikan diri," dengan napas tersengal Andi duduk bersembunyi di belakang pagar halaman rumah seseorang, iya dia baru datang dari kampung merantau ke kota ini tetapi baru sesaat dia menginjakkan kakinya di kota yang masih asing baginya, dia malah mendapatkan kesialan yaitu dipalak sekumpulan preman, untungnya dia berhasil melarikan diri dan sekarang sedang bersembunyi dari kejaran mereka
"Huuuhhh... sepertinya sekarang aku sudah aman, mereka tak menemukanku," helanya lega, melihat tak ada tanda-tanda preman-preman tadi yang mengejarnya ada di sekitarnya.
Saat Andi baru saja merasa lega, sebuah benda terbang singgah di kepalanya membuat Andi tampak kaget, setelah diamati oleh Andi ternyata itu sebuah celana dalam perempuan yang habis diterbangkan angin dari atas jemuran dan singgah di atas kepalanya.
"Hehe, wangi juga, pasti pemiliknya perempuan gak asing dari wanginya, heheh, seketika rasa lelahku jadi hilang..." gumam Andi malah jadi keasikan menghirup aroma wangi benda itu.
"Hai... siapa kamu? Kamu pencuri ya? Kenapa kamu di rumah saya...? Tolong... ada pencuri...!" Karena keasikan dengan benda itu Andi sampai tak menyadari seseorang sedang memergokinya dan langsung berteriak memanggil penduduk.
"Sial, ada orang..." panik Andi seketika, sambil bergegas melarikan diri, akan tetapi Andi tidak dapat melarikan diri karena dirinya sudah dihadang tepat di depannya oleh orang yang memergokinya yang ternyata seorang perempuan cantik.
Mata Andi sampai terfokus ke arah celana ketat yang di kenakan wanita itu yang tampak memperlihatkan belahan selangkangannya membuat reaksi hebat pada kejantanan Andi.
"Mbak... mbak... bentar dulu, anda salah paham, saya bukan pencuri, saya di sini...." ungkap Andi segera menjelaskan.
"Kalo bukan pencuri lalu siapa? Dan itu apa yang ada di tanganmu?" kata wanita itu sambil menunjuk ke arah dalaman perempuan yang dipegang Andi, tentunya dalaman yang tadi singgah di kepalanya.
"Ini... bukan apa-apa mbak..." Andi tahu itu akan membuat kesalahpahaman tambah rumit, Andi langsung menyembunyikannya dan dimasukkan ke dalam tasnya.
"Apa itu? Cepat! Lihat kamu menyembunyikannya, baik saya akan berteriak, tolong... ada pencuri....!"
"Baik-baik mbak, plis jangan berteriak, sumpah saya bukan pencuri mbak, begini saya jelaskan ya, tadi itu saya habis dikejar oleh sekelompok preman, dan saya tidak sengaja bersembunyi di sini, dan ini...." jelas Andi, akan tetapi dia bingung harus menjelaskan tentang celana dalam itu dengan cara apa.
"Nah itu celana dalam kan? Kenapa ada padamu? Makin jelas kan kalo kamu memang pencuri," kata wanita itu mengira kalo Andi memang sedang mencuri di rumahnya, karena ada bukti di tangan Andi.
"Plis mbak percaya sama saya, saya baru saja datang dari kampung mbak ke kota ini, saya datang ke sini buat melanjutkan studi saya dan mencari pekerjaan, gak mungkin kan saya datang jauh-jauh hanya untuk mencuri sebuah celana dalam?" ujar Andi terus menjelaskan agar wanita itu percaya.
"Mana? Lihat buktinya...sudah jelas-jelas kamu sedang mencuri celana dalam, kayak yang viral-viral itu kan?" pinta wanita itu sambil terus menuduh Andi pencuri.
"Astaga mbak kok gak percaya banget sih, nih lihat di dalam tas saya cuma ada baju ganti saya dan barang bawaan saya yang lainnya dari kampung," Andi pun mengeluarkan semua isi tasnya tepat di depan wanita itu.
"Hemm, baiklah awas saja kalo kamu berbohong.. saya tidak akan segan-segan melaporkan mu ke polisi" ujar wanita itu akhirnya percaya setelah di berikan beberapa bukti oleh Andi
"Dari tadi kek..." gerutu Andi sembari menggaruk belakang kepalanya yang tidak terasa gatal.
"kamu ngomong apa tadi?," wanita itu tak sengaja mendengar gerutuan Andi, matanya menyipit menatap ke arah Andi.
"Enggak...nggak ada mbak, maaf," spontan Andi berbohong takut masalahnya akan berlanjut.
"Baik mbak, terima kasih sudah mempercayai saya, sekarang saya pergi dulu, saya harus segera mencari tempat penginapan kalau tidak saya gak tahu harus tidur di mana malam ini," ujar Andi sambil memakai kembali tasnya dan bersiap untuk pergi dari situ, untuk mencari kontrakan yang akan dia tempati
"Hai tunggu dulu, tadi kamu bilang kamu sedang mencari kontrakan ya?," tanya wanita itu menghentikan langkah Andi yang bersiap untuk pergi.
Andi pun berhenti dan menoleh ke arah wanita itu, "Iya benar sekali mbak, oh ya apa mbak tahu di mana tempat kontrakan di sekitaran sini, kalau bisa sih yang paling murah?," jawab Andi sambil bertanya balik soal kontrakan, siapa tahu wanita itu tahu dimana kontrakan terdekat, serta termurah.
"Eee, mari ikut saya," ajak wanita itu, Andi pun mengikutinya, karena kelihatan kalo wanita itu ingin menunjukkan sesuatu padanya.
Andi melihat wanita itu malah masuk ke rumahnya bukannya keluar lewat gerbang.
"Eh, sebentar mbak, kok mbak ngajak saya masuk ke rumah Anda?," tanya Andi saat menyadari dirinya malah diajak masuk ke dalam rumah wanita itu.
"Sudah gak usah banyak tanya ikut saja," kata wanita itu, tidak mau berbicara banyak.
"Oh ya, Ini mbak celana dalam anda, ini milik anda kan?, apa buat saya saja?," kata Andi hendak mengembalikan celana dalam yang masih di pegangnya.
"sini enak aja kamu.." wanita itu langsung berbalik dan merebut celana dalam itu dari tangan Andi.
"pantas saja wangi, ternyata pemiliknya perempuan cantik, gak rugi saya menghirup wanginya tadi sebentar hehe, wanginya kayak bau apem inggris, haha kayak orang pernah ke inggris aja" gumam Andi nakal dalam hati, sambil cekikikan.
Dan Andi pun mengikuti wanita itu, tepat saat wanita itu sedang menaiki anak tangga yang memasuki rumahnya Andi yang berjalan mengikutinya dari belakang tak sengaja matanya tertuju kembali ke arah bokong besar wanita itu seketika itu juga Andi dibuat menelan ludah, dalam hati Andi ingin sekali menepuk bahkan meremasnya walaupun hanya sebentar, sebab kelihatannya begitu kenyal.
"Gila ini wanita punya bokong besar banget, kayaknya kenyal deh kalau disentuh hehe.. sentuh gak ya?, bayangin kalo Joniku ku gosok di sana pasti enak haha.., tapi pasti kalo di sentuh, pemiliknya langsung mengamuk" gumam Andi dengan pikiran kotornya, matanya sampai gak bisa dia alihkan ke arah lain.
"Jadi begini...."
"Buuk.." belum selesai wanita itu menyelesaikan perkataannya Andi yang terlalu fokus memperhatikan bokong wanita itu jadi tak sengaja menabraknya yang tiba-tiba berhenti karena mau menunjukkan kepada Andi sebuah kontrakan miliknya.
karena tabrakan tak sengaja itu, burung yang ada di balik celana Andi yang sudah bereaksi ikut terbentur menabrak bokong besar dan kenyal milik Wanita itu.
"Eh, hehe maaf saya tidak sengaja, Anda kok tiba-tiba berhenti," kata Andi malu-malu, tapi Andi juga bahagia akhirnya bisa menyentuh bokong itu ya walaupun hanya sekilas.
"Kamu sengaja ya cari kesempatan?," kesal wanita itu sambil menoleh kebelakang, apalagi dia tadi dengan samar merasakan sesuatu yang keras mendorong bokongnya dari balik celana Andi.
"Astaga bukan begitu, saya benar-benar tidak sengaja, tadi saya tidak memperhatikan jalan," ujar Andi segera menjelaskan, agar wanita itu tidak salah paham.
"Terus kamu lagi memperhatikan apa?," tanya wanita itu sambil matanya mengarah ke celana Andi dimana terdapat sesuatu yang menonjol dari balik sana.
"Bokong Anda... eh maksud saya itu dekorasi rumah Anda bagus-bagus sekali.. ada banyak koleksinya, terdapat gambar-gambar yang indah juga terpajang di dindingnya," kata Andi malah kelepasan untung dia pintar mencari pengalihan.
"Dasar kamu, mencari kesempatan dalam kesempitan, tuh kalau kamu membutuhkan kontrakan, sebenarnya saya salah satu pemilik kontrakan dan di sana kontrakan milik saya, tapi untuk saat ini kamarnya masih penuh, alasan saya mengajakmu melihatnya karena dua hari lagi ada beberapa kamar akan kosong, jadi kamu bisa menempatinya, itu pun kalo kamu mau sebab di tepat saya adanya kontrakan yang paling murah" jelas wanita itu, sambil menunjuk ke arah deretan kamar kontrakan yang terletak di belakang rumahnya.
"Tapi mbak, saya kan butuhnya sekarang, masa saya harus tidur di jalan buat dua malam sementara menunggu kamarnya kosong," kata Andi, kembali menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Makanya dengerin dulu, jadi begini untuk sementara kamu gak papa tinggal di tempat saya dulu, kebetulan rumah ini ada dua kamar yang satunya kebetulan kosong jadi kamu bisa tempati untuk sementara," ujar wanita itu, ternyata membiarkan Andi tinggal di rumahnya ini sementara menunggu penghuni yang akan pergi.
"Wah terima kasih banyak mbak, ternyata Anda baik juga hehe, sudah cantik baik pula, baik deh saya terima deh daripada bingung mau cari kontrakan di mana hehe, belum tentu dapat lagi," ucap Andi langsung menerima tawaran itu.
"Apalagi kalo kamar tidurnya nanti di temani anda, hehe," lanjut Andi tapi dari dalam hati mesumnya.
"Eh kamu jangan senang dulu, walaupun kamu belum resmi menjadi anak kos saya, kamu tetap akan dihitung waktu penginapannya dari malam ini, dan satu lagi selama kamu tinggal di rumah saya ini kamu jangan berani macam-macam awas saja," ujar wanita itu, memberitahu kalo tidak gratis.
"Yah.....saya kira gratis mbak, ternyata pakai uang juga, hemm tapi gak papa deh, kapan lagi kan seatap sama perempuan cantik," kata Andi sambil mengedipkan mata nakal ke arah mbak maya.
"Awas saja kamu kalo berani macam-macam nanti," ancam wanita itu sambil tangan di lipat di depan dada.
"Iya-iya baiklah, galak bener deh, saya janji gak akan macam-macam," janji Andi sambil memegangi kedua kupingnya sebagai isyarat perjanjian.
"Bagus kalau begitu, sekarang kamu lihat kamarmu, letaknya di sana, maaf agak sedikit berantakan jadi kamu perlu rapikan sendiri, saya tidak bisa bantu karena saya baru pulang kerja dan mau mandi," ujar wanita itu lalu melangkah meninggalkan Andi.
"Tunggu dulu mbak, jadi begini saya kan belum tahu nih nama mbak, jadi biar lebih akrab apalagi saya kan akan menjadi penghuni kos milik Anda jadi alangkah baiknya jika saya mengetahui nama mbak," kata Roni dengan sok sopan, menayakan nama perempuan itu.
"Panggil saja Maya," jawab wanita itu yang ternyata namanya adalah Mbak Maya lalu dia lanjut melangkahkan kakinya pergi.
"Kalo saya andi mbak, di ingat ya, biar nanti waktu mendesah anda tidak lupa menyebutnya..."teriak Andi agar wanita itu yang ternyata namanya mbak maya dapat mendengarnya.
mbak maya masuk ke dalam kamar mandi, dia tentu saja mendengar teriakan Andi memberitahukan namanya, dan mbak maya akan mengingatnya.
"Pemuda yang menarik.." gumam Mbak Maya sambil melepas bajunya karena dia akan segera masuk ke dalam bak mandi di mana sudah dia sediakan air hangat di dalamnya.
Kembali ke Andi setelah selesai merapikan kamar yang tadi sedikit berantakan, Andi keluar dari kamar itu untuk mencari toilet di mana di balik celananya ada sesuatu yang mendorongnya untuk mengeluarkan sesuatu, ia Andi kebelet pipis.
"Sebentar toiletnya di mana ya, astaga aku kebelet banget.. rasanya kayak sudah di ujung?," katanya bertanya-tanya pada dirinya sendiri sambil melangkah menelusuri rumah Mbak Maya yang sekarang tempat dia berada untuk mencari toilet atau kamar mandi.
Bukannya ketemu toilet Andi justru nyasar ke dapur, "aelah di mana sih, ini sudah mau keluar gak tahan..." kesalnya, sempat-sempatnya dia sebelum kembali keluar dari dapur dia meraih sepotong daging ayam yang sudah digoreng yang berada di atas piring lalu memakannya.
Setelah cukup lama mencari toilet akhirnya Andi pun menemukannya akan tetapi tepat saat dia hendak membuka pintu Andi mendengar suara desahan dari dalam, dan itu suara seorang wanita yang sedang kenikmatan.
"Sebentar suara apa itu?, kayak suara desahan, jangan-jangan?" pikirnya.
Karena rasa penasarannya Andi pun mengintip dari lubang kunci pintu kamar mandi, dan alangkah terkejutnya Andi saat dia mengintip dia melihat pemandangan yang tak pernah terbayang olehnya, di mana ternyata Mbak Maya sedang olahraga jari di dalam, dan Andi melihat pemandangan gunung-gunung yang bersebelahan yang tentunya bukan gunung yang ada di alam, itu besar tapi tidak tinggi, dan warnanya juga bukan hijau tapi putih ke merah mudaan.
"Hupppp..." kaget Andi sambil menutup mulutnya dengan tangannya sementara celananya seketika terasa ketat, karena ada yang mendorong paksa ingin keluar dari dalam, sepertinya ingin ikut mengintip
Ingin rasanya Andi membuka pintu itu dan membantu Mbak Maya di dalam tapi dia agak ragu dan takut, jadi andi hanya bisa melihat dari luar, dan tentunya sambil memperhatikan semua pemandangan gratis itu yang terlihat begitu mulus tanpa ada cacatnya sedikitpun.
Dan "serr...." Andi yang kebelet pipis dari tadi seketika pipis di celananya tanpa dia sadari karena perasaan gairah yang menggerogotinya setelah melihat apa yang di lakukan mbak maya di dalam.
Ini benar-benar pengalaman yang tak terduga dari Andi, dan Mbak Maya, wanita yang terlihat anggun dan cuek ternyata memiliki sisi gelap yang tak terduga.
