6. Hasrat Tertahan
Di sebuah ruang kerja mewah bertingkat di jantung Kota London, Prof. Charles duduk bersandar di kursi kulitnya. Langit malam terlihat melalui jendela besar di belakangnya, lampu-lampu kota berkerlap-kerlip. Dia pun menatap layar ponselnya, membaca pesan terakhir dari Blake.
“Nona Cassie selamat. Alan berhasil dihalau. Dia sedang dirawat. Saya akan tetap berjaga di sekeliling rumah sakit secara diam-diam.”
Charles mengembuskan napas lega, kemudian meletakkan ponsel itu di meja. Tangannya yang sempat mengepal kini perlahan mengendur.
“Untunglah …” gumamnya lirih.
Tak lama, suara ketukan pelan terdengar di pintu. Seorang pria gagah dengan jas hitam masuk, Blake, bodyguard pribadi sekaligus orang kepercayaannya.
“Tuan, saya datang seperti yang Anda minta,” ujar Blake dengan sopan.
Charles berdiri dan menatapnya dalam-dalam.
“Kamu sudah melakukan pekerjaan luar biasa, Blake. Jika kamu tidak datang secepat itu, entah apa yang terjadi pada Cassie malam itu.”
“Saya hanya menjalankan perintah, Tuan.”
Charles menatap ke jendela, kedua tangannya bersedekap.
“Aku tidak bisa membayangkan jika gadis itu terluka, dia terlalu berharga,” ucapnya pelan, seolah-olah pada dirinya sendiri.
“Dan Cassie tidak tahu siapa yang menjaganya?”
Blake mengangguk.
“Ya, Tuan. Saya menjaga kerahasiaannya, seperti perintah Anda.”
Charles menoleh tajam. “Teruskan. Jangan sampai Cassie tahu siapa aku sebenarnya. Aku ingin dia tetap mengenalku sebagai dosen biasa. Bukan seorang pewaris kerajaan bisnis properti Kota London.”
Blake tampak ragu. “Tapi, Tuan. Suatu saat Nona Cassie mungkin layak tahu siapa yang menyelamatkannya.”
Charles menarik napas. “Belum sekarang. Aku ingin dia percaya jika dunia ini masih punya kebaikan, bahkan tanpa nama besar.”
Sementara itu, di sisi lain kota, di sebuah rumah mewah bertembok tinggi, Alan berdiri di depan jendela kamarnya, menatap kosong ke arah halaman. Wajahnya muram, penuh luka ringan akibat perkelahian dengan Blake malam itu. Tangannya menggenggam surat keputusan pengadilan, bebas tanpa tuntutan, karena kurangnya bukti video dan Cassie yang belum sadar untuk bersaksi langsung.
Namun sayangnya pihak kampus telah mengeluarkan surat skorsing untuknya dalam beberapa waktu kedepan, Alan tidak diperkenankan masuk ke area kampus.
Alan mencibir.
“Hanya karena tidak ada kamera di dalam ruang VIP, mereka tidak bisa menyentuhku,” katanya pelan, penuh amarah.
“Tapi aku ingin lihat sendiri seperti apa kondisi Cassie sekarang.”
Alan lalu membuka laci mejanya, mengambil topi hitam dan masker. Malam itu, dia bertekad akan menyelinap ke rumah sakit tempat Cassie dirawat.
Di Rumah Sakit St. Mary’s London.
Cassie tertidur lemah di ranjang ruang perawatan VIP. Jendela tertutup, lampu remang menyinari wajah pucatnya. Di pojok ruangan, Blake berdiri tenang di balik pintu, menyamar sebagai satpam rumah sakit, namun siap siaga.
Di luar, malam kian larut. Seorang pria bertopi hitam berjalan perlahan menyusuri lorong rumah sakit. Dia berusaha tak mencolok, menunduk, dan menghindari CCTV. Sesekali, pria itu mengamati nomor kamar.
“Ruang tiga ratus lima, tempat Cassie dirawat,” bisiknya.
Sang pria mulai mendekat ke pintu dengan sangat hati-hati. Namun sebelum dia berhasil menyentuh gagang pintu, tiba-tiba ada suara menggelegar.
“Berhenti di situ!”
Suara tegas terdengar. Blake muncul dari bayangan, menodongkan pisau lipat tak terlihat dari balik sabuknya.
Alan membeku, mengenali suara itu. “Kamu! Si pengawal sialan itu?”
Blake melangkah maju, matanya tajam.
“Apa yang sedang kamu pikirkan, Alan? Datang ke rumah sakit, menjenguk wanita yang hampir kamu celakai?”
Alan tertawa sinis.
“Ha-ha-ha. Aku hanya ingin memastikan dia hidup. Bukankah itu wajar? Aku ... pernah mencintainya.”
Blake mendesis,
“Cinta? Apa itu namanya cinta? Kamu memanipulasi, mengurung, dan hampir mencelakai Nona Cassie dengan cara paling menjijikkan!”
Alan mengangkat tangan.
“Tenang. Aku tidak membawa apapun. Aku hanya ingin melihat wajahnya ... sekali lagi.”
Blake tak menurunkan kewaspadaannya.
“Kamu kira karena kamu anak pengusaha ternama di kota ini, kamu bisa seenaknya? Kali ini, aku tak akan membiarkanmu lolos!”
Alan menyeringai. “Sayangnya ... pengadilan sudah mengambil keputusan. Dan selama Cassie belum bisa bersaksi, aku bebas.”
Tepat saat itu, suara pelan dari balik pintu terdengar. Cassie menggeliat.
“Blake?”
Alan kaget.
“Dia bangun?”
Blake segera menghalau Alan untuk menjauh.
“Satu langkah lagi kamu maju, dan aku pastikan kamu tidak keluar dari sini dalam keadaan berdiri!”
Alan menggertakkan gigi, namun akhirnya mundur.
“Ini belum selesai, Blake!” seru Alan sebelum membalik tubuh dan pergi dengan cepat, menghilang ke lorong gelap rumah sakit.
Blake memandang ke arah Alan menghilang, kemudian masuk kembali ke kamar Cassie. Dia melihat gadis itu membuka matanya perlahan.
“Nona Cassie. .. kamu sadar,” ujarnya pelan, penuh kelegaan.
Cassie mengerjap, wajahnya pucat.
“Alan, apakah dia ada di sini?”
Blake mengangguk.
“Ya. Tapi kamu aman sekarang, Nona. Aku sudah mengusirnya. Dia tidak akan menyentuhmu.”
Cassie terdiam sesaat. “Terima kasih ... Blake. Kamu selalu ada saat aku butuh.”
Blake tersenyum tipis. “Itu memang tugasku, Nona.”
Cassie menggenggam selimutnya.
“Tapi, siapa yang menyuruhmu? Aku ingin tahu siapa yang begitu peduli padaku sampai mengirim pengawal pribadi sepertimu?”
Blake terdiam. Dia menunduk, menimbang-nimbang jawabannya.
Namun akhirnya pengawal itu berkata pelan,
“Seseorang yang percaya kamu pantas dilindungi, Nona. Dan Beliau akan terus melindungimu, meski kamu tak pernah tahu namanya.”
Cassie memejamkan mata. Air mata menetes di sudut matanya, entah karena rasa haru atau ketakutan yang masih tersisa.
Di luar, angin malam berhembus pelan.
Dan di kejauhan, Prof. Charles, yang duduk sendiri di ruang kerja rumah sakit lantai atas, memandang ke arah lampu kamar rawat Cassie yang masih menyala.
Dalam hatinya, dia tahu ini belum berakhir. Jika Alan bisa bebas sekali, maka pria itu bisa mencoba lagi mencelakakan Cassie.
Dan Charles bersumpah dia tidak akan membiarkan itu terjadi.
Keesokan harinya.
Langit London siang itu tertutup awan kelabu, namun udara di ruang rawat Cassie terasa hangat. Jendela terbuka sedikit, membiarkan angin sepoi-sepoi menyelinap ke dalam, menggerakkan tirai putih yang menggantung tenang. Cassie duduk bersandar di tempat tidur, mengenakan piyama rumah sakit berwarna biru muda. Pucat di wajahnya mulai memudar.
Ketika pintu diketuk pelan, Cassie mengangkat wajah.
“Masuk,” ujarnya pelan.
Pintu terbuka, dan muncullah Prof. Charles, mengenakan mantel panjang abu-abu dan syal gelap. Di tangan kirinya, dia membawa sekotak pizza hangat, dan di tangan kanannya dua cup minuman cokelat panas dalam kantong kertas.
“Selamat siang, Cassie,” sapa Charles dengan senyum hangat.
Cassie langsung terkejut, tapi senyumnya mengembang.
“Prof Charles? Saya tidak menyangka Anda datang.”
Charles mendekat, meletakkan pizza dan minuman di meja kecil samping tempat tidur. “Tentu saja saya datang. Saya dengar dari pihak kampus bahwa kamu dirawat. Kamu mahasiswa saya, Cassie. Saya tentunya sangat peduli.”
Cassie tersenyum lembut.
“Terima kasih, Prof. Anda jauh-jauh datang hanya untuk menjenguk saya?”
Charles duduk di kursi di sisi tempat tidur, melepas syalnya dan meletakkannya di pangkuannya.
Dia pun menunjuk kotak pizza.
“Bukan hanya menjenguk. Saya tahu makanan rumah sakit tidak enak. Jadi saya pikir, kamu tidak akan menolak pepperoni ekstra keju dan cokelat panas favorit mahasiswi cantik.”
Cassie terkekeh kecil. “He-he-he. Wah, Anda tahu saya suka cokelat panas?”
“Dosen harus peka pada mahasiswinya, bukan?” ujar Charles sambil mengedip singkat, membuat Cassie tertawa pelan.
“He-he-he! Anda selalu so sweet, Prof.”
Cassie lalu membuka kotak pizza dan memotong satu bagian. Aromanya langsung menyebar ke seluruh ruangan.
“Saya sangat menghargai ini, Prof. Tapi, saya sungguh minta maaf kalau kehadiran saya di bar malam itu membuat kampus malu.”
Charles mengangkat alis.
“Jangan berpikir seperti itu, Cassie. Kamu bekerja part-time untuk kebutuhanmu, dan kamu tidak melanggar hukum. Kamu mahasiswi yang rajin dan cerdas. Bahkan kamu adalah salah satu penerima beasiswa terbaik.”
Cassie menunduk, wajahnya sedikit tersipu. “Saya beruntung mendapat beasiswa itu, Prof. Tanpa itu, saya mungkin tak bisa lanjut kuliah di kota ini.”
Charles menatapnya lama, namun dia menahan diri.
Beasiswa itu adalah dari tangannya sendiri. Charles yang diam-diam mencantumkan nama Cassie sebagai prioritas utama di yayasan fiktif yang dirinya dirikan. Tapi tak satupun orang, termasuk Cassie, tahu akan hal itu.
“Keberuntungan berpihak pada orang yang pantas,” ucap Charles tenang.
“Kamu berhak mendapat semua itu, Cassie. Bahkan lebih.”
Cassie mengangkat pandangan, matanya berbinar.
“Prof Charles, Anda selalu begitu mendukung pendidikan saya.
Saya berterima kasih sungguh-sungguh kepada Anda.”
Profesor Charles tersenyum, kemudian mengambil satu gelas cokelat panas dan memberikannya kepada Cassie.
“Minumlah, masih hangat.”
Cassie menerimanya. Uap dari cokelat panas itu menyentuh wajahnya. Dia memejamkan mata sejenak dan menghirup aromanya.
“Ini terasa seperti pelukan,” ujarnya sambil tersenyum.
“Rasa manisnya sungguh menenangkan.”
“He-he-he.”
Charles tertawa pelan.
“Itu memang tujuannya, Cassie.”
Mereka duduk dalam keheningan yang nyaman. Sesekali, Cassie menggigit pizzanya, sementara Charles meminum cokelat panasnya. Suasana ruangan jadi hangat oleh percakapan ringan.
“Prof,” ucap Cassie tiba-tiba.
“Anda yakin saya bisa lulus tepat waktu? Setelah kejadian ini, saya merasa waktu saya akan tersita oleh pemulihan.”
Charles menatapnya serius.
“Cassie, kamu sudah sangat jauh melangkah. Aku yakin kamu akan mengejar semua yang tertinggal. Jika kamu butuh bimbingan tambahan, aku bersedia membantumu.”
Cassie terdiam, hatinya hangat.
“Anda seperti malaikat pelindung bagiku, Prof.”
Charles tertawa.
“Ha-ha-ha. Itu terlalu berlebihan. Aku hanya seorang dosen yang ingin melihat mahasiswinya berhasil.”
“Prof, aku merindukanmu. Sungguh aku tak bisa menahan perasaan ini!” ujar Cassie tiba-tiba.
Gadis itu dengan berani menarik Charles lebih dekat kepadanya dia atas ranjang.
“Aku juga Cassie!” Lalu tanpa Aba-aba. Keduanya terlibat ciuman bibir yang sangat panas.
Lalu dengan beraninya, Charles membuka kancing piyama Cassie, dan tangannya mulai menyelinap masuk ke dalam baju gadis itu dan meremas kedua bukit kembarnya dan memainkan pucuk pink kecoklatan itu.
“Ah, ssshh, Prof! Aku sungguh tak tahan!” desah Cassie.
Saat lidah sang profesor menjilat pucuk bukit kembarnya dan menyedotnya dalam-dalam. Kedua jari Charles juga ikut keluar masuk ke dalam gua sempit milik Cassie. Yang ritmenya semakin lama menjadi sangat cepat.
“Akh!” Cassie mendapatkan pelepasannya.
Lalu dengan semakin berani. Wajah Profesor Charles berada di antara paha Cassie dan melakukan permainan lidah yang begitu lihai.
Sementara kedua tangannya sibuk meremas dua aset kembar milik sang gadis yang menjulang tinggi.
“Akh.” Cassie kembali mendapatkan pelepasannya.
Lalu gadis itu pun memainkan alat tempur sang dosen dengan tangannya, sampai Profesor Charles juga mencapai puncak kenikmatan.
Padahal gadis itu ingin melakukan lebih. Tapi Profesor Charles melarangnya.
“Kamu masih belum sepenuhnya pulih, Cassie.”
Dia pun hanya bisa menuruti apa yang dikatakan sang dosen.
“Aku mencintaimu, Profesor Charles!” ujar Cassie tiba-tiba.
