Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

3. Pesona Profesor Charles

Masih di dalam ruangan Profesor Charles.

Hening menyelimuti ruangan berpanel kayu itu. Ruang kerja Profesor Charles dipenuhi tumpukan buku, jurnal akademik, dan aroma kopi yang belum sempat disentuh. Di kursi tamu, duduk seorang gadis muda dengan wajah penuh coretan lipstik dan rambut berantakan. Tangannya bergetar, matanya merah karena menangis. Dialah, Cassie.

Profesor Charles duduk di kursi di depannya, menatap gadis itu dengan penuh kekhawatiran. Dia menghela napas panjang, lalu mengambil kotak tisu dan duduk di samping Cassie.

"Biarkan saya bantu," katanya dengan suara rendah, penuh empati.

Cassie hanya bisa mengangguk pelan. Dia belum bisa berkata apapun. Air mata kembali jatuh membasahi pipinya yang masih terlihat noda merah lipstik kasar. Profesor Charles dengan hati-hati mengambil tisu basah dan masih membersihkan wajah gadis itu.

"Apa mereka sering melakukan ini padamu?" tanya Profesor Charles sambil menyeka pipi Cassie dengan lembut.

Cassie ragu. Tapi akhirnya dia menjawab lirih,

"Melisa dan yang lainnya benci aku, karena aku miskin dan aku dapat beasiswa di kampus ini."

Profesor Charles menghentikan gerakannya sejenak, menatap wajah Cassie yang kini terlihat lebih bersih. Mata gadis itu menyimpan luka yang dalam. Sebuah luka yang sudah terlalu lama dipendam.

"Mereka tidak punya hak untuk memperlakukanmu seperti itu. Dan Alan sungguh tidak bisa dibiarkan," ucap Profesor Charles dengan rahang mengeras.

Pria itu benar-benar marah, tapi mencoba tetap tenang di hadapan Cassie.

Gadis itu menunduk. "Aku … aku tak bisa melawan mereka, Pfof. Aku hanya ingin lulus. Aku ingin membuktikan, bahwa aku pantas berada di sini."

Kalimat itu membuat dada Charles terasa sesak. Dia memalingkan wajah sebentar, mencoba menyembunyikan emosi yang mulai menggelora. Lalu dia kembali menatap Cassie.

"Kamu memang pantas berada di sini, Cassie. Kamu diterima bukan karena belas kasihan. Tapi karena kerja keras dan kemampuanmu," ucapnya tegas.

Cassie mengangkat kepalanya, menatap Charles dengan mata basah. Untuk pertama kalinya hari itu, ada sinar harapan di matanya. Profesor Charles tersenyum tipis dan berdiri.

"Tunggu di sini sebentar," katanya.

Sang profesor berjalan ke lemari kecil di sudut ruangan, membuka laci, dan mengambil jaket hangat miliknya. Jaket berwarna abu-abu itu kemudian disampirkan di bahu Cassie.

"Kamu butuh sesuatu yang bisa membuatmu merasa aman," katanya.

Cassie menggenggam ujung jaket itu. Hangat. Tidak hanya karena bahannya, tapi karena perhatian tulus yang dia rasakan dari pria di hadapannya.

"Terima kasih, Prof," ucapnya lirih.

Charles duduk kembali. Dia memperhatikan bagaimana tangan Cassie masih sedikit gemetar.

"Aku akan melaporkan kejadian ini pada dekanat. Tapi itu tergantung padamu. Jika kamu merasa siap untuk bersuara, aku akan mendukungmu sepenuhnya."

Cassie menggigit bibir. Dia sangat bingung. Takut. Tapi juga merasa ada seseorang yang benar-benar berdiri di pihaknya.

"Aku akan pikirkan dulu, Prof. Tapi aku berterima kasih karena Anda telah peduli dengan saya," ujarnya pelan.

Profesor Charles mengangguk.

"Kapanpun kamu ingin bicara, ruangan ini selalu terbuka untukmu."

Hening kembali mengisi ruangan. Cassie menyandarkan punggungnya ke kursi, mencoba menarik napas panjang. Dia menatap ke luar jendela, ke langit London yang mendung.

"Aku lelah, Prof. Semalam aku kerja sampai pagi. Lalu di kampus, aku diperlakukan seperti ini. Rasanya aku ingin menyerah saja."

Profesor Charles menatapnya lama, lalu menjawab dengan suara tenang,

"Kamu boleh merasa lelah. Itu manusiawi. Tapi jangan pernah menyerah, Cassie. Dunia ini keras, tapi jangan biarkan itu mematahkanmu. Kamu lebih kuat daripada yang kamu kira. Jadi semangatlah selalu."

Cassie terdiam. Kata-kata itu menghujam langsung ke hatinya. Tidak ada yang pernah mengatakan itu padanya sebelumnya. Tak ada yang pernah memandangnya lebih dari sekadar gadis miskin penerima beasiswa. Tapi hari ini, seseorang melihat dirinya.

"Prof, Anda kenapa begitu baik padaku?" tanya Cassie dengan nada lirih.

Profesor Charles menatap matanya, dan menjawab dengan jujur, "Karena aku tahu rasanya jadi orang yang diremehkan. Aku pun dulu bukan siapa-siapa. Tapi seseorang pernah mempercayaiku, dan itu mengubah segalanya. Sekarang, giliranku untuk melakukan hal yang sama."

Cassie hanya bisa menatap pria itu dengan mata berkaca-kaca. Dia ingin menangis lagi, tapi kali ini bukan karena takut. Tapi karena rasa hangat yang baru pertama kali dirinya rasakan selama berada di kampus itu.

"Terima kasih, Profesor." gumamnya, nyaris tak terdengar.

Lalu keduanya pun saling bertatapan dalam diam. Tiba-tiba saja Profesor Charles merasakan dadanya bergemuruh tak karuan saat menatap wajah Cassie. Demikian halnya dengan gadis itu. Dia bisa merasakan kedamaian saat berada di dekat sang profesor.

Sementara Profesor Charles semakin tergoda dengan bibir Cassie yang merah merona, sedikit terbuka dan lembab. Sesuatu dalam dirinya sudah tak dapat dikendalikan lagi olehnya.

Sepertinya Cassie juga mulai terbawa suasana. Dia menjadi ingat lamunannya tadi di dalam kelas. Namun saat ini semuanya telah menjadi kenyataan.

“Cassie! Aku sungguh tak tahan lagi! Kamu sungguh menggodaku!” ujar profesor Charles.

Lalu tanpa basa-basi lagi. Sang profesor mulai meraup bibir Cassie dan menciumnya dengan sangat ganas. Sementara gadis itu hanya bisa pasrah membiarkan Charles mengeksplorasi bibir dan rongga mulutnya.

Apalagi ini kali pertama Cassie berciuman. Dan pria beruntung itu adalah Profesor Charles. Pria matang yang selama ini menjadi idolanya.

Seakan sadar dengan kelakuannya yang kelewat batas. Profesor Charles lalu menghentikan semuanya yang membuat Cassie menjadi kaget. Padahal gadis itu juga menginginkan lebih.

“Prof! Kamu kok berhenti?” seru Cassie kecewa.

Lalu dengan cepat Profesor Charles berkata,

“Maaf, Cassie. Aku sudah terlalu maju. Tolong maafkan aku. Jujur aku memang menginginkanmu saat ini. Tapi sepertinya aku telah melewati batasanku.”

Namun tanpa sadar, Cassie malah naik di atas pangkuan sang profesor.

“Aku juga menginginkanmu, Prof! Kamu memang dosenku. Tapi kita sama-sama telah dewasa! Apakah ada yang salah dengan itu?” ujar Cassie sambil memainkan jari-jarinya di dada Charles.

Melihat ada lampu hijau dari Cassie. Pria dewasa itu mulai membuka paksa baju dan penutup kedua bukit kembar sang gadis dan mulai membenamkan wajahnya di sana.

“Ah! Profesor Charles! Oh!” desah Cassie tak tertahankan.

Bagaimana tidak, sang dosen saat ini sedang menyedot dalam-dalam pucuk pink kecoklatan miliknya secara bergantian. Sedangkan tangan Profesor Charles mulai menyelinap masuk ke dalam area lembah indah miliknya dan melakukan gaya gesekan di sana.

“Prof! Oh! Aku … aku! Sudah tak tahan!

Aku …!”

Charles membungkam bibir Cassie dengan melumat tanpa ampun. Sambil mulai mempercepat gaya gesekan di dalam liang indah milik Cassie.

Hingga di suatu ketika,

“Akh!” Cassie mendapatkan pelepasannya.

Tubuh bagian bawahnya bergetar hebat. Seolah-olah mengisyaratkan betapa dahsyatnya permainan Profesor Charles.

Lalu tiba-tiba, pintu ruangan itu diketuk dari luar.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel