TAWARAN FANTASTIS
Jantung Reta tersentak kaget mendengar teguran dari pria itu. Sekilas pria itu memang tampan dan bertubuh tegap. Namun, pandangan mata pria itu terlalu tajam dan intimidatif untuk Reta. Membuat Reta perlahan memundurkan kursi roda.
Sialnya, bagian roda kursi roda Reta terbentur pinggiran pintu cukup keras. Reta yang dalam kondisi takut dan bingung tak bisa mempertahankan posisi tegapnya di atas kursi roda itu. Tak pelak, dia jatuh bersama dengan kursi rodanya ke arah belakang.
“AKH!” teriak Reta kesakitan.
Dia tak hanya sakit sekarang. Posenya terjatuh sangat buruk. Ditambah lagi, dia menggunakan dress sekarang.
“Hei! Apa-apaan kamu?!!” teriak pria itu ikutan panik.
Pria itu berlari ke arah Reta. Tampak Reta masih berusaha mempertahankan posisi bagian bawah dressnya agar tak semakin turun ke bawah sehingga dalamannya terlihat.
Sementara itu, pria itu membantu Reta bangun dengan cara menggendongnya. Dia membawa Reta duduk di sofa. Baru kemudian, dia membenarkan posisi kursi roda Reta agar kembali seperti semula.
Wajah Reta merah padam. Dia tak hanya takut dan cemas sekarang. Dia pun malu dengan kondisinya saat ini.
“Ada apa ini?” Rumi menatap kaget melihat pria itu mendirikan kursi roda Reta yang tadi terjungkal ke belakang.
Langkah Rumi berlari ke arah pria itu. “Dirga, kok bisa kursi roda teman Mama jatuh begini? Kamu ganggu temennya Mama ya?” oceh Rumi pada anak sulungnya itu.
Di antara keempat anaknya, hanya anak sulungnya yang memiliki sifat dingin dan galak. Perangai Dirga yang seperti itulah yang akhirnya membuat Rumi mudah curiga pada anak sulungnya itu.
“Aku kira dia pencuri,” ujar Dirga jujur. “Tidak ada ucapan permisi atau bunyi bel rumah. Dia tiba-tiba masuk ke dalam ruang tamu kita.”
Rumi mendengkus kesal. Dia memukul lengan Dirga sedikit keras dari biasanya. “Kan dulu Mama udah pernah kasih lihat ke kamu foto-foto Mama sama Reta. Gimana sih?” oceh Rumi kembali mengomeli Dirga.
“Ma, aku mana sempat hapalin muka orang,” balas Dirga membela diri. “Lagipula, dia nggak cantik kok."
“Reta itu cantik!” tegas Rumi membela Reta. “Sana kamu pergi saja ke kantor atau ke mana. Jangan ganggu Reta lagi!”
Rumi mengomel dan mengusir Dirga. Dirga berdecak kesal dan melayangkan pandangan sebal ke arah Reta.
“Jangan melotot ke Reta!” tegur Rumi saat tahu Dirga melototi Reta. “Pergi sana!”
“Hah! Dasar Mama,” Dirga melangkah kembali ke dalam kamarnya tak jauh dari ruang tamu keberadaannya.
Rumi menggelengkan kepala. Dia memijat-mijat keningnya dan duduk di sisi Reta.
“Reta, ada yang luka?” Rumi memeriksa tubuh Reta. “Aduh, ini lenganmu lecet. Bahaya ini.”
“Ah, nggak apa-apa kok. Saya baik-baik aja,” ujar Reta. Dia berusaha menyembunyikan lukanya dari Rumi. “Hanya luka kecil. Ibu Rumi nggak perlu cemas.”
“Tidak. Tidak. Ini kan terluka gara-gara anakku, kan? Aku harus membantu mengobati luka ini,” Rumi bangun dari duduknya. Dia buru-buru melangkah ke dalam mencari kotak P3K.
Reta mengipasi wajahnya. Dia masih merasa gerah karena rasa malu yang teramat sangat.
“Aku pengen cepetan pulang deh rasanya,” ucap Reta setengah ingin menangis. Baru kali ini dia merasa begitu dipermalukan di depan orang asing. Ditambah lagi, orang asing ini adalah seorang pria. “Mau kutaruh di mana mukaku ini.”
“Reta,” Rumi berlari kecil dan kembali mendekati Reta.
Dia duduk dan membuka kotak P3K. Dengan cekatan, Rumi membersihkan luka di lengan Reta dan mengobatinya.
“Maafkan saya,” ujar Reta dengan wajah menunduk malu. “Saya janji tidak akan masuk ke dalam rumah Bu Rumi kalau belum dipersilakan.”
“Reta, yang salah aku. Aku tidak memberitahu anakku soal kebiasaan kita saat bertemu. Padahal, biasanya aku memang sengaja membuka pintu depan rumah lebar-lebar saat membuat janji denganmu. Biar kamu lebih mudah untuk masuk karena bel rumah terlalu tinggi posisinya,” jelas Rumi. “Kamu jangan berpikiran negatif ya? Jangan minder. Marah saja nggak apa-apa. Nanti aku panggil anakku dan kamu bisa memarahinya sekarang.”
“Ah, jangan! Saya tidak berhak marah,” balas Reta dengan kepala menggeleng secepat kilat. “Saya hanya pekerja freelance untuk bangunan rumah Bu Rumi.”
Rumi mengulas senyuman simpul. Dia mengambilkan air minum untuk Reta.
“Ini minum dulu ya, Reta,” Rumi mengangsurkan gelas air itu pada Reta.
“Makasih,” Reta menerimanya. Dia meneguknya perlahan hingga sisa setengah.
Kini Reta merasa lebih lega. Minimal sudah ada Rumi di hadapannya dan Dirga sudah menghilang dari pandangannya. Dirga sangat berbeda dari Rumi. Kesan intimidatif Dirga sangatlah dominan.
Rumi memperhatikan Reta lamat-lamat. Gadis di depannya itu tampak sederhana dan tak marah meski Dirga melakukan hal kasar. Biasanya, semua gadis yang sudah Rumi niatkan untuk dijodohkan dengan Dirga akan kabur begitu melihat kelakuan Dirga.
Senyuman simpul muncul di bibir Rumi. Dia ingin kembali mencoba menjodohkan Reta dengan Dirga.
“Reta, kata dokter, kamu bisa sembuh nggak?” tanya Rumi.
“Sembuh? Maksudnya bisa berjalan lagi?”
“Iya. Apa ada kemungkinan bisa jalan lagi?” balas Rumi. Pandangannya menatap lekat Reta.
Reta mengangguk. “Tapi, harus ikut operasi dan terapi di luar negeri. Saya harus punya banyak uang tapi saya tidak bisa memilikinya. Saya hanya freelancer. Daftar kerja selalu ditolak. Buat hidup dan membiayai orang tua juga susah,” terang Reta dengan jujur.
“Orang tuamu sudah tidak bekerja?”
“Orang tua saya bercerai. Ayah saya sudah menikah dengan selingkuhannya. Ibu saya tidak bisa menerima kenyataan dan harus ditaruh di RSJ karena sudah mulai halusinasi,” jelas Reta. “Ah, maaf. Cerita saya malah seperti curhatan. Saya tidak ada maksud untuk mencurahkan isi hati saya kepada Bu Rumi. Anggap saja yang tadi nggak pernah saya ucapkan.”
Rumi tak segera membalas. Entah mengapa, dia jadi teringat akan nasibnya sendiri.
Rumi memiliki seorang ibu yang depresi karena perceraian orang tua. Dia harus bekerja keras demi ibunya yang ada di RSJ dan adiknya yang sakit kanker perut. Untungnya, Rumi bertemu dengan suaminya, Zidan. Pria itulah yang membantu Rumi hingga bisa bahagia seperti kehidupan saat ini.
“Kamu anak tunggal? Atau punya saudara?” tanya Rumi.
“Saya anak tunggal,” jawab Reta. Dia mengeluarkan draft hasil revisinya. “Ini sudah saya kerjakan. Semoga sesuai dengan keinginan Bu Rumi.”
Rumi menerimanya. Dia menatap Reta lamat-lamat. “Reta, aku mau bantu kamu operasi kaki,” ujar Rumi.
Reta tertegun kaget. Dia paham ucapan Rumi. Namun, dia tak bisa memahami alasan Rumi mengatakan hal seperti itu. Mengingat hubungan Reta dengan Rumi hanya sebatas klien.
“Eh? Gimana?” balas Reta refleks. Dia sangat syok dengan tawaran itu.
“Aku mau bantu kamu operasi kaki. Biar kamu bisa jalan kaki lagi. Mau, kan?”
“Ta-tapi kenapa Bu Rumi menawari saya hal seperti itu? Kan biayanya mahal, Bu. Harus pengobatan di luar negeri dan butuh waktu lama,” terang Reta sedikit terbata.
Rumi menyunggingkan sebuah senyuman simpul. “Ada syaratnya kok,” tutur Rumi. “Kalau kamu mau memenuhi syaratnya, nanti aku urusi semua pengobatan kakimu sampai kamu bisa kembali sembuh. Gimana?”
