Pustaka
Bahasa Indonesia

Fall (in)Trovert

92.0K · Tamat
Romansa Universe
80
Bab
1.0K
View
8.0
Rating

Ringkasan

Levi, pindah dari sekolah lamanya meninggalkan cinta pertamanya yang sudah dimiliki oleh orang lain.Siapa sangka jika di sekolah barunya, ia menemukan sosok perempuan cantik yang tak mampu membuatnya berpaling. Arindyna, gadis broken home yang sangat tertutup mampu membuat hati seorang Levi kembali terbuka untuk yang kedua kalinya. Namun, apakah kali ini Levi dapat berhasil menaklukkan hati seorang gadis introvert seperti Arindy?

TeenfictionSweet

Bab 1 Gadis Misterius

Bab 1 Gadis Misterius

Portland, adalah kota terbesar di negara bagian Oregon, Amerika Serikat. Kota tua dengan nuansa mediteranian. Juga dengan berbagai julukan yang disematkan pada kota ini.

Begitulah yang pernah dibaca oleh seorang pemuda berparas tampan yang kini tengah berdiri di dalam boks telepon. Pernyataan dalam artikel tersebut kini bisa ia rasakan secara langsung.

Ia rasakan udara yang sejuk dan bersih memenuhi rongga pernapasannya. Salah satu impresi yang mengesankan baginya yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Kota Portland.

Pemuda itu memasukkan koin ke dalam mesin dan meraih gagang telepon. Ia menempelkannya ke daun telinga kanannya. Kakinya mengetuk-ngetuk sembari menunggu teleponnya tersambung pada penerima. Cukup lama. Ia berpikir sepertinya orang yang ia telepon pasti sedang sibuk dengan pekerjaannya.

"Hello?"

Pemuda itu segera menegakkan tubuhnya begitu mendengar sapaan dari seberang sana.

"Halo, Pa."

"Ah... Levi, anakku tersayang. Apa kau sudah sampai di Portland?"

Pemuda bernama Levi itu mengangguk. Sadar kalau ia tidak sedang berhadapan langsung dengan papanya, ia segera berkata, "Iya, aku sudah sampai. Maka dari itu aku menelepon Papa."

"Syukurlah kalau begitu. Apa kau sudah di apartemen?"

"Belum. Sedang perjalanan."

"Baiklah. Jaga dirimu baik-baik di sana. Oh ya, papa sudah siapkan mobil di sana. Apa kau butuh supir pribadi untuk–"

"Tidak perlu," sela Levi memotong ucapan papanya. "Biar aku sendiri saja."

"Begitu, ya? Ya sudah. Semoga harimu menyenangkan. Maaf, papa tidak bisa menemanimu di sana. Papa berharap kau betah di sana. Dengan tempat tinggalmu dan juga sekolahmu yang baru. Papa tutup, ya, teleponnya. Papa harus kembali bekerja. See you!"

Sambungan telepon terputus bahkan sebelum Levi sempat mengucapkan salam perpisahan. Ia tersenyum miris. "See you, too."

Levi mengembalikan gagang telepon tersebut ke posisi semula. Ia pun keluar dari boks telepon. Ia berdiri di sisi jalan dengan kepala tertunduk. Ia pandangi secarik kertas bertuliskan alamat apartemen yang akan ia tinggali.

Tepat ketika ia menoleh ke kanan, ia temukan sebuah taksi yang akan melintas. Langsung saja ia mengangkat tangannya untuk menghentikan taksi tersebut. Taksi berwarna kuning itu berhenti di depannya. Ia segera membuka pintu dan memasukkan koper kecil berisi barang bawaannya dari Canada.

"Kau mau pergi ke mana, Tuan Muda?"

Levi menunjukkan kertas tadi ke supir taksi. "Bisakah kau antar aku ke tempat ini?"

Supir taksi itu menatap kertas tersebut. Ia sempat tertegun beberapa saat. Alamat yang tertera di kertas itu merujuk pada kawasan apartemen elite yang ada di Portland. Pria itu menatap Levi sekilas. 'Sepertinya dia anak orang kaya', batinnya.

Tak lama kemudian pria berambut putih itu mengangguk dengan senyuman. "Tentu."

Levi tersenyum lega. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi penumpang.

Taksi pun melaju, mengantarkan Levi ke tempat tinggal barunya.

Levi menatap pemandangan dari kaca mobil. Benar-benar kota yang asri. Sejauh mata memandang, banyak ia jumpai tanaman berbunga di sisi jalan. Kian menambah estetika kota Portland.

Levi berharap ia bisa hidup nyaman di sini. Terbiasa dengan lingkungan barunya. Juga terbiasa tanpa kehadiran gadis yang ia kenal di Canada sebelumnya. Gadis yang pernah mengisi ruang di hatinya. Apakah ia bisa melupakannya?

Orang bilang, cinta pertama itu adalah hal yang sulit untuk dilupakan. Kehadirannya sangat melekat dalam ingatan. Memenuhi sebagian jiwa dalam diri.

Levi tersenyum pahit. Sayangnya, cinta pertamanya itu hanya menganggapnya sebatas teman. Tidak lebih. Ia sudah jatuh dalam pelukan orang lain. Dan itu bukan Levi. Padahal bisa dibilang, Levi yang lebih dulu mengenal Kirana. Ya, Kirana adalah gadis yang ia sukai dan menjadi pertama di masa remajanya.

Kirana adalah salah satu dari sekian alasan kepindahannya dari Canada ke Portland. Agar Levi bisa melupakannya.

"Kita sudah sampai, Tuan."

Levi tersadar dari lamunannya. Ia menatap bangunan tinggi yang ada di dekat taksi dari kaca. Jadi, ini apartemen yang akan ia tempati. Sama seperti bayangannya tentang Kota Portland, kawasan apartemennya ini juga terlihat asri.

"Terima kasih sudah mengantarku. Ini uangnya."

"Wah, ini kelebihan, Tuan."

Levi tersenyum tulus. "Simpan saja kembaliannya. Sekali lagi terima kasih."

"Ouh... kau anak muda yang baik. Terima kasih, semoga kebaikanmu terbalas dengan yang lebih baik pula."

Levi terkekeh pelan.

Ia pun menurunkan koper kecilnya dari taksi. Menariknya menuju apartemen. Langkahnya terhenti ketika seseorang menegurnya. Levi membalikkan badan. Ia temukan seorang wanita paruh baya yang tengah berjalan ke arahnya.

"Apa kau Levi?"

Levi mengangguk ragu. "Kau–"

"Ah, aku Mia. Salah satu pengelola apartemen di sini." Mia mengulurkan tangan kanannya pada Levi. Levi menyambutnya dengan senyuman.

"Nice to meet you. Suatu kehormatan bisa melayanimu."

"Nice to meet you, too."

"Baiklah, mari kuantar kau ke apartemenmu."

Mia berjalan diikuti Levi di belakangnya. Mia memandu Levi dan menjelaskan bagian-bagian dari apartemennya. Levi mendengarkan sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Jujur, ia merasa agak berlebihan dengan pelayanan ini. Pasti ini permintaan dari papanya.

"Baiklah, kalau begitu. Semoga kau betah tinggal di sini. Jika kau perlu bantuan kau bisa menghubungiku. Ini, kartu namaku. Dan ini kunci mobilmu." Mia mengakhiri penjelasannya.

Levi menerima kartu nama Mia dan sebuah kunci mobil. Ternyata papanya benar-benar sudah menyiapkan mobil untuknya.

"Kalau begitu aku permisi. Semoga harimu menyenangkan."

"Terima kasih, Mia."

Seperginya Mia dari ruangan, Levi mendudukkan dirinya di sofa. Matanya terarah ke jendela. Sinar matahari siang menelusup masuk ke dalam ruangannya.

Hari ini adalah hari yang baru baginya. Ia harus memulai semuanya dari awal. Beradaptasi adalah tugasnya sekarang.

Tangannya bergerak membuka koper. Niat hati ingin mengambil minum yang ada di dalam sana, tangannya justru menyentuh benda lain. Ia merabanya. Dahinya berkerut menebak benda apa itu. Ia pun menarik benda tersebut. Levi dibuat tertegun beberapa saat.

Benda itu adalah pigura kecil. Berisikan foto tiga orang remaja. Di posisi tengah ada Kirana yang diapit oleh Levi dan temannya ketika di Canada bernama Vero. Mereka sama-sama tersenyum menghadap kamera.

Levi tersenyum mengingat momen itu. Matanya terpusat pada gambar Kirana.

"Apa kabarmu, Kirana?"

***

"Ini dia kelasmu, Levi."

Levi ikut menghentikan langkahnya dan mengikuti arah pandang Mr. Kev–guru yang mengantarnya ke kelas.

Ya, Levi sekarang sudah berada di sekolah barunya. Ia berangkat sendirian dengan mengendarai mobil. Pertama kali menginjakkan kaki di sekolah ini, ia langsung menjadi pusat perhatian siswa-siswi yang ada di sini. Tentu, kehadirannya di sini begitu asing. Namun, mereka belum tahu saja kalau ia adalah anak dari orang penting di sekolah ini.

"Kalau begitu, masuklah. Pelajaran akan dimulai sebentar lagi. Dan mulailah bergabung bersama teman-teman barumu."

"Terima kasih, Mr. Kev."

"Sure."

Levi menatap kepergian Mr. Kev. Ia menatap ragu pintu kelas di depannya? Haruskah ia masuk sekarang?

Beberapa siswa menatap ke arahnya dan itu membuat Levi agak terganggu. Bisakah mereka berhenti menatapnya seperti itu?

Levi menghembuskan napasnya.

"Okay, Levi. Mari kita mulai semuanya dari awal."

Levi mengangkat kakinya memasuki ruang belajarnya yang baru. Suara riuh yang sempat Levi dengar dari kelasnya ini mendadak senyap ketika ia masuk.

Levi mengedarkan pandang dan benar saja, ia kembali menjadi pusat perhatian. Semua mata tertuju ke arahnya. Pun dengan bisikan-bisikan yang Levi yakin berisi tentangnya.

Levi mencoba tidak menghiraukan semua itu dan berjalan mencari bangku yang masih kosong. Matanya terjatuh pada sebuah meja dengan bangku kosong yang berada di dekat jendela kelas. Ia berjalan ke sana.

"Permisi, Nona. Apakah... tempat ini ada yang menduduki?" tanyanya kemudian pada seorang gadis yang duduk di dekat bangku kosong itu.

Gadis itu menoleh dan tertegun beberapa saat ketika matanya bertemu dengan mata Levi.

Merasa tak mendapat respons apapun, Levi melambaikan tangannya di depan wajah sang gadis. "Halo?"

Gadis itu tersentak dan segera memasang senyum ramahnya. "Ah, maaf-maaf aku... tidak konsen. Ya, bangku itu kosong. Kau... anak baru, ya?"

Levi mengangguk dan tersenyum. Siapapun yang melihat Levi dalam keadaan tersenyum pasti langsung beranggapan kalau pemuda itu adalah orang yang baik dan ramah. Jangan lupakan juga paras tampannya.

"Perkenalkan...," Gadis itu mengulurkan tangannya, "namaku Disha. Kalau kau perlu bantuan, aku bisa membantumu."

Levi membalas jabatan tangan Disha. "Aku Levi. Leviathan Louis. Terimakasih tawarannya."

Levi pun menaruh tasnya. Ia tak langsung duduk di bangkunya. Tiba-tiba saja ia ingin pergi ke toilet. Jadi, ia memilih keluar dari kelas.

Selesai dari toilet, ia memilih untuk berjalan-jalan melihat keadaan sekolah barunya. Sembari menunggu bel masuk berbunyi.

Langkah Levi terhenti ketika telinganya menangkap suara samar. Levi menoleh ke arah lorong di sebelah kirinya. Lorong itu sepertinya merujuk pada sebuah tempat. Penasaran, Levi berjalan melewati lorong tersebut. Langkahnya kembali terhenti ketika suara itu kembali terdengar. Kini, lebih jelas. Seperti suara perempuan yang tengah menangis.

Seketika bulu kuduk Levi meremang. Bayangan sosok di film horor tiba-tiba saja terlintas di pikirannya. Namun, ia segera menggeleng kuat. Levi terus berjalan mencari asal suara itu.

Lorong habis dan ia berada di sebuah tempat sepi. Tempat yang sepertinya jarang dijamah. Di sana terdapat tembok tinggi dan juga pohon besar yang rindang. Levi pikir ini adalah bagian belakang sekolah.

Suara tangisan itu semakin terdengar jelas. Tatapan Levi langsung terjatuh pada pohon besar rindang itu. Ia mendongak tapi tak ia temukan apapun. Ia pun berjalan mendekati pohon. Terkejutnya ia ketika menemukan sesosok gadis yang duduk berselonjor di balik pohon. Tubuh gadis itu bergetar karena menangis. Pakaiannya terlihat lusuh dengan rambut panjang tergerai agak berantakan.

Levi termenung di tempat. Entah mengapa, melihat gadis itu mengingatkannya pada sosok Kirana.

Levi terkejut ketika tiba-tiba gadis itu mengangkat wajahnya. Tak hanya Levi saja yang terkejut, gadis itu juga. Gadis itu dengan cepat menghapus air matanya. Ia berdiri dan hendak pergi dari sana. Namun, Levi dengan cepat menahan langkahnya dengan menarik tangannya.

"Auw!" Gadis itu mengaduh ketika telapak tangannya digapai Levi.

Levi segera melepas pegangannya. "Maaf."

Mata Levi memicing ketika menemukan guratan-guratan di telapak tangan gadis itu.

"Tanganmu..."

Gadis itu langsung berlari meninggalkan Levi. Hal itu membuat Levi terheran.

"Hei! Tanganmu terluka, harus diobati!"

Sayangnya, teriakan Levi tidak dihiraukan sama sekali. Pemuda itu menghela napasnya.

"Gadis yang misterius."