Sidang
Sidang yang akan Amel jalani akan berlangsung sebentar lagi, pertemuan dengan Barry kemarin adalah terakhir kali dan setelah itu tidak ada pertemuan diantara mereka berdua. Amel sendiri tidak terlalu peduli dengan hal tersebut, mengenai pernyataan Barry tidak akan membuat Amel berpikir dalam karena bukan hal penting dan fokus utamanya adalah belajar untuk skripsi, Amel tahu Tina tidak akan bermain – main jika Amel melakukan kesalahan sedikit saja.
"Sidang nie ye," goda Vina "barengan sama Willy?."
Amel mengangkat bahu "katanya gitu tapi gak paham juga.”
"Amel good luck ya jangan grogi sama Mbak Tina" ucap Hana memeluk Amel membuat Amel terkejut dengan kehadiran adik kelasnya ini.
Amel mengenal Hana pada saat bimbingan dirumah Tina dimana Hana bermain dengan Yuki dan Doni. Hana sendiri masih kuliah adik kelas Amel. Amel tidak tahu kalau Hana ini adiknya Barry, sedangkan Hana tahu perasaan Barry ke Amel tapi tidak mau terlibat terlalu jauh. Hana mengajak Amel berbicara dan Amel menanggapinya bagi Amel sedikit lebih tenang meski ada Via disampingnya tapi entah karena memang pembawaan Hana yang ceria membuat suasana menjadi santai. Tidak lama waktu Amel masuk menghadapi para penguji, Willy tidak datang karena menyiapkan untuk sidangnya sendiri dan Amel tidak ada masalah.
Amel menjalani sidang dengan lancar karena Tina banyak membantu Amel selama sidang berlangsung, walaupun terkadang memberi pertanyaan yang membuat Amel kaget yang untungnya dapat dirinya atasi karena latihan dengan Tina sebelum jalannya sidang. Amel tidak sadar jika Barry melihat sidang Amel melalui video call yang dilakukan Tina, semua gerakan Amel dapat Barry lihat meski melalui ponsel entah kenapa dirinya merasa untuk segera memiliki Amel.
Barry tersenyum puas melihat Amel bisa melewati sidang dengan lancar walaupun sempat repot menjawab pertanyaan penguji. Hasil yang diharapkan sidang ini juga memuaskan Barry, setelah itu Barry memikirkan kembali bagaimana perasaannya terhadap Amel dan apa Amel mau menerima masa lalunya, pernyataan dirinya yang lalu bukan hal yang main – main pada Amel karena memang hanya Amel yang bisa dekat dengan kembar dan sikap Amel sangat dewasa. Barry sangat tahu jika Amel adalah wanita yang menjadi idola tapi sayangnya ditutupi oleh teman prianya, mereka saling membantu sama lain apalagi jika ada yang menyakitinya.
"Selamat" ucap Vina sambil memeluk Amel yang diikuti teman-teman lain.
Amel terkejut dengan kedatangan Willy tapi reaksi dari Willy hanya mengacak rambut Amel sambil tersenyum. Amel membalas dengan mengusap lengan Willy, teman-teman paham bagaimana hubungan Amel dan Willy yang hanya sebatas teman tidak lebih, entah kenapa Amel tidak bisa memiliki rasa lebih pada Willy begitu juga sebaliknya.
"Terus lo kapan sidang?" tanya Vina menatap Willy yang tengah memandang Amel.
"Setelah ini udah ya gue siap-siap, bye" ucap Willy ketika melihat jam.
Amel menggelengkan kepala melihat kelakuan Willy dan teman – teman yang lain menemani Willy sidang dan meninggalkan Amel bersama Vina. Selepas kepergian mereka Amel membereskan perlengkapan sidang dibantu Vina agar bisa menyusul ke tempat sidang Willy untuk memberikan dukungan pada sahabatnya tersebut.
"Amel bisa bicara?" tanya Tina sambil melangkah keluar mengikuti langkah Amel membuat mereka menghentikan langkah.
"Gue yang bawa aja lo temuin Mrs.Tina sana" ucap Vina yang dianggukin Amel sambil memberikan barang yang dibawanya ke Vina.
Tina yang melihat Amel telah memberikan barang pada Vina dengan menggunakan kode meminta Amel mengikuti langkahnya, Amel mengikuti Tina menuju ruangannya di mana sudah ada Hana, Raffi dan si kembar. Kembar melihat kedatangan Amel serta Tina langsung memeluknya erat membuat Amel sedikit terkejut dengan apa yang mereka berdua lakukan meski begitu tetap membalas pelukan si kembar.
"Tante selamat ya" ucap Yuni dan Doni sambil memeluk Amel erat secara bersamaan.
"Makasih sayang" jawab Amel sambil menciumi mereka satu persatu dengan mencubit pelan membuat mereka tertawa.
"Amel" panggil seseorang dibelakang Amel.
"Papa" teriak Yuki dan Doni yang melepaskan pelukan dari Amel.
Amel bingung ketika Yuki dan Doni memeluk Barry, Barry yang paham dengan kebingungan Amel meletakkan Yuki dan Doni di dekat Hana agar bisa berjalan ke arah Amel. Tubuh Amel kaku karena saat ini berada di ruangan Tina dan disaksikan oleh mereka, Amel tidak mau mereka berpikir negatif atas apa yang terjadi saat ini. Langkah Barry semakin dekat membuat Amel hanya diam meski ingin mundur tapi dirinya tidak bisa lakukan sama sekali, tatapan mereka bertemu seolah berbicara melalui tatapan dan tidak peduli dengan keadaan sekitar.
"Selamat ya," ucap Barry "Yuki dan Doni anakku" menjawab pertanyaan di wajah Amel "Tina bukan ibu mereka dan bukan mantan istri."
Amel masih diam dan tidak sadar jika Tina berada di dekatnya sambil menggenggam tangan Amel "mereka keponakan-keponakanku anak dari istri Barry yang merupakan kakakku," jelas Tina "kamu sudah pernah dengar gosip mengenaiku kan?," tanya Tina dan Amel hanya mengangguk "kakakku meninggal ketika melahirkan karena suatu penyakit dan sebelum meninggal kakak memintaku untuk memberi asi kepada anak-anaknya akhirnya kami berdiskusi melibatkan keluarga Raffi saat itu status kami adalah tunangan dengan persetujuan Raffi serta keluarganya juga keluarga besar kami, aku melakukan terapi payudara dengan diawasi dokter. Ketika mereka lahir ternyata benar kakakku tidak bisa diselamatkan akhirnya aku menyusui si kembar ini. Mereka memanggilku bunda dan Raffi ayah."
Amel mendengarkan cerita Tina dalam diam "lalu apa hubungan denganku?," tanya Amel setelah berhasil menguasai diri dan mencerna cerita Tina dengan menatap mereka semua.
"Aku ingin kamu jadi ibu dari anak-anakku" ucap Barry di depan Hana dan Tina.
Amel menatap Barry mencari maksud dari perkataan namun dari tatapan Barry tampak serius dengan yang dibicarakan. Amel menatap Tina, Hana bahkan Yuki dan Doni seakan mengatakan mereka serius dari pandangan mata mereka semua, Amel tidak tahu harus berbuat apa karena Barry bukan mengatakan sekali tapi ini sudah ketiga kalinya. Amel menatap mereka sekali lagi dengan mrnguatkan diri atas apa yang terjadi saat ini, pandangan Amel mengarah pada Raffi yang hanya tersenyum seolah mendukung apa pun nanti yang Amel katakan. Amel memang dekat dengan Raffi bahkan beberapa kali terlibat dalam proyek yang dikerjakan, bisa dikatakan Amel adalah mahasiswa kesayangan Raffi.
Amel menghembuskan nafas lalu menatap Barry "bapak belum mengenal aku begitu juga sebaliknya, bapak yakin dengan hubungan ini kedepannya?" Amel mencoba memberikan pengertian pada Barry dengan memandang wajah Barry seolah mengatakan apa yang dikatakannya tersebut adalah sejujurnya.
"Kalau aku sudah yakin lalu apa kamu masih meragukan niat baik ini? aku akan datang ke ayah malam ini karena ini sudah ketiga kali aku mengatakan niatku tapi sepertinya kamu menganggap aku hanya bermain – main.”
