Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Syarat yang Tak Boleh Ditawar

Ruangan singgasana terasa begitu dingin, meski udara di luar sedang terik menyengat. Cahaya matahari yang menembus celah jendela berukir tampak seperti bilah pedang emas yang jatuh tepat di antara dua orang yang kini berdiri berhadapan: Raja yang duduk tegak di kursi kebesarannya, wajah kaku tak bergerak, dan Pratama yang berdiri di bawahnya, punggungnya lurus namun bahunya terasa seolah ditindih beban berat batu raksasa. Di sekujur dinding terpajang lukisan leluhur, sepasang mata mereka yang dilukis tampak mengawasi tajam ke bawah, seolah menjadi saksi bisu atas segala keputusan yang akan diambil saat ini—keputusan yang tak hanya mengubah hidup satu orang, tapi bisa mengguncang seluruh tatanan kerajaan.

“Kau sudah mendengar segala pertimbangan para pendeta dan penasihatmu,” suara Raja memecah keheningan, nada bicaranya rendah, tenang, namun tak ada sedikit pun celah untuk dibantah. “Kau tahu betul bahaya apa yang dibawa kehadiran gadis itu. Bukan hanya karena dia berasal dari seberang laut, bukan hanya karena ajaran dan keyakinannya berbeda dari apa yang kami lestarikan turun-temurun. Tapi karena keberadaannya di sisimu telah mengubah hatimu. Kau mulai meragukan aturan, mulai mempertanyakan kebenaran yang sudah mapan, mulai berani berpikir bahwa kehendak pribadi lebih tinggi daripada kewajiban yang kau pikul sejak lahir. Itu adalah ancaman terbesar bagi tahta, bagi tradisi, dan bagi keselamatan seluruh rakyat yang akan kau pimpin kelak.”

Pratama mengangkat wajahnya perlahan, matanya menatap lurus ke arah ayahnya. Ia ingin berbicara, ingin menjelaskan bahwa Larasati bukanlah ancaman, bahwa apa yang tumbuh di antara mereka bukanlah pemberontakan, melainkan cahaya yang baru pertama kali menyinari hidupnya yang gelap dan terkekang. Namun kata-kata itu terasa berat sekali, seolah ada tangan tak kasat mata yang mencekik tenggorokannya. Ia tahu betul: di ruangan ini, kebenaran yang ia rasakan tak akan pernah dianggap sebagai kebenaran. Di sini, kebenaran hanyalah apa yang ditetapkan oleh kekuasaan dan adat istiadat.

Raja mengangkat satu tangan perlahan, menghentikan segala kemungkinan pembelaan. “Aku tidak datang ke sini untuk mendengar alasan atau permohonanmu, Pratama. Keputusan ini sudah bulat, sudah dibahas, dan sudah ditetapkan. Tidak ada ruang untuk negosiasi, tidak ada jalan tengah. Aku memberimu pilihan yang jelas—dua jalan, dan kau harus memilih satu. Tak ada yang lain.”

Ia menjeda sejenak, tatapannya tajam menembus ke dalam jiwa putranya.

“Pilihan pertama: Larasati harus pergi dari tanah ini secepatnya. Ia akan dikawal kembali ke tempat asalnya, dan kau tidak akan pernah lagi bertemu, berbicara, atau berhubungan dengannya dalam bentuk apa pun. Kau kembali menjalani kewajibanmu sebagai Putra Mahkota—menjaga tradisi, mempersiapkan diri naik tahta, dan menikah dengan gadis pilihan keluarga yang sesuai dengan keturunan dan keyakinan kita. Semua hak, kehormatan, dan masa depanmu tetap utuh seperti sedia kala.”

Hening menyelimuti ruangan. Napas Pratama tertahan di dada. Ia tahu betul apa arti pilihan itu: kembali ke sangkar emas yang indah namun mati rasa, kembali menjadi boneka yang bergerak sesuai arahan orang lain, menghapus sepenuhnya satu-satunya hal yang membuatnya merasa hidup dan bernyawa selama ini.

Raja melanjutkan perlahan, setiap kata terasa seperti paku yang dipukulkan satu per satu.

“Pilihan kedua: kau tetap bersamanya. Jika kau memilih jalan itu, maka kau secara sukarela melepaskan segala sesuatu yang kau miliki. Hak atas tahta dicabut seketika. Nama dan gelarmu dikeluarkan dari silsilah keluarga. Segala hak istimewa, kekayaan, perlindungan, dan kedudukanmu hilang sepenuhnya. Kau bukan lagi putra raja, bukan lagi bagian dari keluarga besar ini, bukan lagi penjaga warisan leluhur. Kau menjadi orang biasa—tanpa apa-apa, tanpa perlindungan, tanpa tempat berlindung. Dan ketahuilah… jika kau memilih jalan ini, maka sejak saat itu kau dan dia tidak lagi menjadi bagian dari kita, dan segala sesuatu yang menimpa kalian kelak—bahkan bahaya terbesar sekalipun—bukan lagi tanggung jawab kami. Kami tidak akan melindungi, tidak akan menolong, bahkan mungkin… kami akan menganggap kalian tidak pernah ada.”

Kata-kata terakhir itu diucapkan dengan nada dingin dan tegas, menusuk hingga ke tulang.

“Pilihlah, Pratama. Sekarang juga.”

Keheningan yang berat kembali jatuh, begitu pekat hingga terdengar jelas detak jantungnya sendiri yang berpacu kencang. Di dalam kepalanya, segala sesuatu berputar kacau: bayangan tahta yang megah namun dingin, bayangan Larasati dengan senyum dan tatapannya yang penuh pengertian, kata-kata tentang kebebasan dan arti rumah, bisikan-bisikan mengerikan dari bayangan yang selalu mengikuti, ancaman yang datang dari segala arah.

Ia bisa memilih kembali ke jalan yang sudah disiapkan sejak lahir—aman, terhormat, terjamin masa depannya, namun harus mengubur hati sendiri selamanya. Atau memilih jalan yang tak tahu ke mana ujungnya: penuh bahaya, tanpa perlindungan, diusir dari tanah kelahiran sendiri, namun di sana ada dia, ada kebenaran yang ia yakini, ada kesempatan untuk menjadi manusia yang utuh.

Pratama berdiri diam. Mulutnya terbuka sedikit, seolah ingin bersuara. Namun tak ada satu kata pun yang keluar. Ia hanya menundukkan kepala perlahan, kedua tangannya terkepal erat di sisi tubuh hingga buku jarinya memutih. Ia diam. Sama sekali diam. Tak ada jawaban, tak ada persetujuan, tak ada penolakan. Hanya keheningan panjang yang menggantung di udara, keheningan yang menyimpan segala pertarungan hebat yang sedang berlangsung di dalam jiwanya.

Raja menatapnya lama, kerutan di dahinya semakin dalam, matanya berubah tajam karena ketidaksabaran dan kekecewaan. “Kau diam saja? Diam berarti kau sedang menimbang-nimbang? Atau diam berarti kau sudah membuat pilihanmu tanpa berani mengucapkannya?”

Saat itu juga, pintu besar ruangan terbuka perlahan dari luar. Angin dingin berhembus masuk, membawa kabut tipis yang melayang-layang di lantai. Di celah pintu yang terbuka, tampak sosok samar yang berdiri diam—bukan pelayan, bukan pengawal, bukan anggota keluarga. Wujudnya setengah gelap, sepasang mata merah tua berkilauan menatap tepat ke arah Pratama.

Dan di belakang sosok itu, berdiri seseorang yang sangat Pratama kenal betul: Penasihat Agung, orang yang paling dipercaya ayahnya, orang yang dianggap paling bijaksana dan suci di seluruh kerajaan. Namun saat ini, wajah tua itu tak lagi tampak lembut dan tenang. Ia tersenyum tipis, senyum yang dingin, tajam, dan penuh kemenangan yang mengerikan.

“Diam saja sudah cukup menjadi jawaban, Baginda,” suara Penasihat Agung terdengar lembut namun menusuk, bergema di seluruh ruangan. “Dia sudah memilih. Dan ketahuilah, Pratama… apa yang kau kira hanya sekadar pilihan antara dua jalan hidup, sebenarnya hanyalah jaring yang sudah kami pasang rapat sejak lama. Kau pikir kau bebas menentukan nasibmu sendiri? Kau pikir jika kau melepaskan tahta dan pergi bersamanya, kau akan benar-benar lepas dari kami?”

Ia melangkah maju perlahan, matanya mengunci pandangan Pratama tak berkedip.

“Ingatlah satu hal: darahmu tetap darah kami, meski kau buang gelarmu. Jejakmu tetap ada di tangan kami, meski kau lari ke ujung dunia sekalipun. Dan gadis yang kau perjuangkan itu… dia bukan sekadar wanita biasa. Dia adalah bagian dari rencana besar yang sudah berjalan ratusan tahun. Kau baru saja memilih untuk masuk ke dalam pusaran yang tak ada satu pun yang pernah keluar hidup-hidup. Dan yang paling penting…”

Penasihat Agung berhenti tepat di depan Pratama, lalu berbisik pelan hanya berdua saja, namun suaranya terdengar seperti guntur menggelegar di telinga:

“…kau kira kami akan membiarkanmu pergi begitu saja? Tidak, Nak. Kau akan pergi, kau akan menderita, kau akan lari sejauh mungkin… tapi kau akan tetap menjadi milik kami. Dan kelak, saat anak-anakmu lahir… di sanalah kami akan mengambil kembali segala sesuatu yang seharusnya menjadi milik kami. Karena kau lupa: janji yang diucapkan leluhurmu dulu, baru akan jatuh tuntas pada keturunan ketiga darimu.”

Pratama membeku. Darah di seluruh tubuhnya terasa membeku seketika. Ia baru menyadari: pilihan yang ia pikir adalah kebebasan, ternyata hanyalah langkah pertama menuju jebakan yang jauh lebih besar dan lebih mengerikan dari yang bisa ia bayangkan.

Dan di balik pintu yang masih terbuka, ia melihat sekilas bayangan Larasati berdiri di kejauhan, menatapnya dengan mata penuh air mata dan ketakutan—di belakangnya, sudah berdiri dua orang pendeta bersenjata, menunggu aba-aba untuk membawa gadis itu pergi, atau sesuatu yang jauh lebih buruk lagi.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel